Pertemuan kami

Aku aina, usiaku kini 22 tahun, aku menikah muda dengan seorang pria yang jatuh cinta padaku sejak aku belia, usia kami hanya terpaut 3 tahun saja. Banyak rintangan yang telah kami hadapi untuk sampai dititik ini, titik dimana kami hidup bahagia, dikelilingi oleh orang-orang yang kami sayangi dan juga menyayangi kami.

Di usia belia, aku tidak pernah menyangka bahwa kehidupanku setelah dewasa akan berputar 180°, mengingat masa kecilku dulu penuh dengan penderitaan. Aku merasa hidupku tak pernah diinginkan oleh siapapun hingga akhirnya ryan datang padaku membawa kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Aku berjanji kepada Tuhan bahwa aku akan mencintainya seumur hidupku, aku akan selalu berusaha menjadi istri yang bisa dibanggakan olehnya, karena berkat dirinyalah aku bisa bertahan sampai detik ini, hingga menemukan kebahagiaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Kini aku hidup bagaikan seorang putri yang tinggal di sebuah istana yang begitu megah dengan pangeran tampan yang baik hati, semua impianku sejak kecil telah terwujud, bahkan harapanku untuk memiliki seorang ibu yang begitu menyayangiku telah menjadi kenyataan. Kebahagiaan begitu sempurna, meski masih terganjal tentang bagaimana nasib kak aidil saat ini.

***

"Sayang kau sudah siap?" tanya suamiku saat melihatku sedang merias diri.

"sudah sayang, kau duluan saja ke mobil, aku segera menyusul" sahutku tersenyum. Aku ingin berdandan secantik mungkin untuk suamiku, setiap saat adalah berharga maka aku tak akan menyia nyiakan kebahagiaan sekecil apapun.

Sore itu ryan mengajakku untuk pergi mengunjungi ibu dan juga kakakku aini. Kami memang sering berkunjung seminggu sekali dan kali ini kami datang untuk mengajak mereka pergi makan malam di sebuah restoran. Kami juga mengajak mama dan papa namun kami berangkat terpisah. Mama dan papa langsung menuju restoran sedangkan aku dan suamiku pergi menjemput ibu, zidan dan kak aini.

Menjelang malam kami semua sudah berkumpul di restoran favorit kami, kami semua bercengkrama dan bersenda gurau dengan zidan adikku, kami juga membicarakan banyak hal sambil memesan makanan favorit kami masing-masing, saat itu aku bertanya kepada kak aini tentang bagaimana pekerjaannya, namun seperti yang sudah kubayangkan tentu saja kak aini diperlakukan dengan sangat baik, kak aini terlihat sangat bahagia, sama seperti aku dulu yang diperlukan begitu baik oleh semua orang yang ada di sekeliling ryan. Aku merasa tenang dan bersyukur melihat perubahan pada diri kak aini, dalam hati aku berdoa semoga kak aini mendapatkan jodoh yang baik seperti aku yang mendapatkan ryan. Aku sangat berharap kak aini hidup bahagia setelah apa yang dilaluinya selama ini.

Ditengah percakapan kami tiba-tiba mama mengatakan sesuatu yang membuat jantungku berdegup kencang.

"Aina dan bu rahmi, maaf sebelumnya kalau aku lancang. Aku pernah melihat foto aidil bersama aina dan aini, aku melihatnya ketika dulu masuk ke kamar aina, apa kalian ingat saat aina marah dan aku berusaha merayunya? saat itu aku masuk ke dalam kamarnya, tak sengaja aku melihat foto aina bersama kedua kakaknya" ucap mama terlihat berhati-hati.

"Ah tidak apa-apa, memangnya ada apa bu?" tanya ibuku kepada mama.

"Begini.. tadi saat kami hendak kemari, diperjalanan aku melihat seseorang yang sangat mirip dengan aidil, saat itu saya hendak mengambil fotonya tapi sayang jalanan sedang sangat ramai sehingga kami kehilangan jejaknya" lanjut mama.

"Sungguh ma? di mana itu?" aku menyahut sambil beranjak dari tempat dudukku.

"Mama melihatnya di perempatan jalan, dia sedang duduk di sebuah emperan toko, maaf sekali, tapi penampilannya sangat berantakan. maaf sekali harus berkata seperti ini, namun dia terlihat seperti seorang ODGJ"

"Ah mungkin mama salah, kakakku sehat-sehat saja ma" sahutku kembali duduk dengan perasaan yang begitu sakit, dadaku rasanya seperti dihantam oleh suatu benda yang begitu keras, namun aku berusaha menyembunyikannya dengan senyum kecil.

"Maafkan mama jika telah menyinggungmu aina, mama hanya ingin membantu kalian mencari aidil, mama selalu mengingat-ingat wajah yang ada di foto itu, dan kemanapun mama pergi mama akan selalu mencari sosok itu berharap agar mama bisa melengkapi kebahagiaanmu, maaf kalau mama terlalu lancang" lanjut mama begitu sedih.

"Tidak apa ma, aku mengerti.. hanya saja rasanya tidak mungkin kak aidil menjadi seperti itu" ucapku memelas.

"Aina bagaimana kalau kita cari saat perjalanan pulang nanti?" usul ibu saat melihat kegundahanku.

"Tapi bu..."

"Aina, kau tahu sendiri di dunia ini sesuatu hal kadang terjadi secara tiba-tiba dan tanpa disangka-sangka, jadi bukan tidak mungkin kalau yang dilihat mama rahayu itu benar kak aidil" jelas ibu meyakinkan.

"Betul aina.. lagipula penampilan yang berantakan belum tentu dia seorang ODGJ, mungkin saja karena dia hidup terlunta-lunta di jalanan, kau ingat bukan bahwa kak aidil sudah tak memiliki siapapun lagi selain kita berdua dan juga ibu" kak aini meyakinkanku untuk berfikir lebih positif.

"itu benar.. tapi.."

"Sudahlah, itu makanan sudah datang, lebih baik kita makan terlebih dahulu baru kita fikirkan selanjutnya" lanjut kak aini.

Aku tahu hati kak aini pasti lebih sakit daripada aku, aku bisa melihat kesedihan yang begitu mendalam terukir jelas diwajah teduhnya.

"Baiklah" akupun menyerah untuk berdebat dan menghela nafas panjang.

Pesananpun datang, hidangan-hidangan lezat tersaji dihadapan kami. Hidangan lezat ditempat favorit kami untuk berkumpul, namun entah kenapa tidak seperti biasanya, makanan kali ini terasa sangat hambar. Aku benar-benar tidak bisa menikmati apapun yang ada dihadapanku saat ini.

Mungkin mama dan ibu melihat kegelisahanku, begitu pula dengan kakakku aini, dia terlihat paling gelisah dan seperti ingin menangis.

"Sayangku aina dan aini.. maafkan mama. Mama menyesal telah membawa percakapan yang tidak nyaman ini diwaktu yang tidak tepat" ucap mama menyesal.

"Tidak ma, mama tidak salah, hanya saja kami berdua sangat merindukan kak aidil, kami tidak bisa membayangkan jika memang itu adalah kak aidil.. kami takut ma.. namun di sisi lain kami juga bahagia karena akhirnya kami bisa bertemu dengannya.. Tapi kalau benar itu kakak, apa yang harus kami lakukan ma?" tangisku akhirnya pecah, air mataku tumpah, ryan segera menghampiri dan memelukku.

"Tapi tolong jangan terlalu berharap besar nak, mama ini sudah tua dan mama hanya melihat melalui foto, mama juga tidak begitu yakin, hanya saja mama fikir lebih baik mama mengatakannya daripada menyesal nantinya"

"Bagaimana kalau setelah makan kita datang ke lokasi yang mama sebutkan? dengan syarat sekarang kau makanlah dulu dengan baik.. tenang saja, aku akan melakukan apapun demi kak aidil, aku akan membantumu menemukannya" ryan berusaha menenangkanku, ia kemudian mencium keningku.

"Baiklah" lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas.

Malam itu akhirnya kami semua menyantap hidangan kami masing-masing, meski dengan rasa yang tak karuan aku berusaha bersikap biasa saja di depan mama dan ibu, kami sedikit bercengkrama dan bercanda, untunglah ada zidan yang mencairkan suasana, dia dengan segala tingkah lucunya selalu berhasil menghibur kami yang tengah risau.

Makan malam telah selesai, seperti yang dijanjikan oleh ryan kami pun bergegas pergi menuju tempat yang mama katakan. Sepanjang jalan aku terus berdoa, kami menelusuri lokasi sekitar perempatan jalan, tempat dimana mama melihat kak aidil, aku menyapukan pandanganku ke segala arah berharap kakakku ada di salah satu sudut kota ini.

Malam semakin larut, kami semua hampir menyerah untuk menemukan kak aidil, lalu kami semua memarkirkan mobil kami di sebuah taman untuk beristirahat sebentar, kami keluar dari mobil dan kembali berunding, malam itu terasa dingin dan sunyi padahal lalu lalang kendaraan tidak pernah berhenti, aku tak berhenti menyapukan pandanganku berharap didetik terakhir aku menemukan secercah harapan.

Ditengah keheningan tiba-tiba zidan berteriak sambil menunjuk ke satu arah, tatapannya lurus ke sebuah perosotan, kami yang kaget sontak melihat ke arah dimana zidan menatap, setelah dilihat baik-baik ternyata di bawah perosotan itu ada sosok manusia yang duduk menatap kearah kami sambil menyeringai, rambutnya sangat gimbal dan panjang, tubuhnya gelap, tak terlihat apapun selain matanya yang terus-menerus berkedip dan giginya yang menyeringai. Entah mengapa bukannya merasa takut justru harapanku semakin besar, aku secepat kilat menghampiri sosok itu dan betapa kagetnya aku saat kutatap baik-baik wajahnya, ternyata benar itu adalah kak aidil.

"Tidaaaakkk" aku berteriak sambil berjalan mundur menutup mulutku.

"Ada apa aina?" tanya kak aini sambil berjalan menghampiriku. Suamiku dan yang lainnya pun bergegas menghampiriku.

Kak aini segera membalikkan wajahnya ke arah sosok itu, ia berjalan mendekatinya dan menatap wajahnya dengan seksama, tak lama kemudian kak aini mematung dan menyebut sebuah nama.

"Kak aidil? kak.. kakak...??? Benarkah ini kau?"

Namun tak ada jawaban dari sosok itu, sosok pria dengan pakaian compang-camping, berkulit hitam legam, dengan rambut yang gimbal dan panjang. Pria itu hanya menatap kami dalam diam, kemudian tak lama pria itu kembali tersenyum menyeringai, giginya tampak jelas, lalu dia mulai terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Astaga"

Ibu pun mulai bersuara, kami semua sontak melihat kearahnya.

"Aina ibu yakin itu adalah aidil" ucap ibu lirih.

Aku dan kak aini yang tak mempercayai pemandangan ini pun segera sadar, kemudian secara bersamaan kami berlari menghambur kepelukan kak aidil. Namun kak aidil justru semakin tertawa terbahak-bahak, ia bahkan menjambak rambut kak aini, dia berusaha menyingkirkan kami dari pelukannya, kemudian dia bangkit berdiri sambil berteriak dan meracau sendiri. Dia benar-benar bertingkah selayaknya orang gila, orang gila yang tak memiliki akal dan tak memiliki rasa malu.

Melihat pemandangan itu aku dan kak aini menangis sejadi-jadinya, begitu pula dengan ibu, ibu yang saat itu menggendong zidan berusaha mendekati aidil dan manggil-manggil namanya.

"Aidil apa yang terjadi padamu nak?"

"Aidil ini semua salah ibu kau menjadi seperti ini, maafkan ibu.. apa yang telah terjadi hingga kau seperti ini? apa kau tidak mengingat kami?"

Namun lagi-lagi kak aidil hanya tertawa, dia hendak berlari pergi, dengan pakaian yang sungguh kotor, bau dan sobek di mana-mana. Kami bingung apa yang harus kami lakukan saat itu, aku yang tidak tahan melihat kak aidil menangis meraung-raung, aku terus-menerus memanggil namanya dan memohon agar dia mengingatku.

"Kakak ini aku aina, aku adik kesayanganmu, aku adik yang selalu kau bawakan makanan saat aku masih kecil, aku adik yang selalu kau manjakan dan aku adik yang selalu kau rindukan. Kakak aku mohon Ingatlah.. ini aku kak.." ucapku marah sambil berusaha meraih tangannya.

Tak ada reaksi sama sekali. Kakak malah bergegas pergi sambil tertawa terbahak-bahak. Kemudian dia berjalan menghampiri sebuah tong sampah dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Kak aidil kemudian memperlihatkan makanan basi yang dia genggam kepada kami seperti hendak menawari kami untuk makan, ia menatap barang kotor itu sambil tertawa dan memasukannya ke dalam mulutnya. Melihat itu lagi-lagi aku menjerit.

"Tidak kak, aku mohon.." aku menangis hendak berlari menghampiri kak aidil.

"aina, tenangkan dirimu" ryan segera meraih tanganku dan menahanku agar tetap berada didekatnya.

"Bagaimana bisa aku tenang saat melihat kakakku seperti ini ryan?"

"Tapi kali ini tak ada yang bisa kau lakukan aina, kita harus mendekatinya secara perlahan, kita tidak tahu bagaimana kejiwaannya saat ini, dan terlebih lagi kita tidak tahu apakah itu benar-benar kak aidil atau bukan" lanjut ryan sambil terus menahan tubuhku agar tak berlari mendekati kak aidil.

"Aku yakin itu kakak, aku sangat yakin, aku mengenal senyum dan tawanya, dan aku mengenal sorot matanya" ucap kak aini sambil menatap ryan dengan tatapan yang penuh arti.

"maafkan ibu, tolong maafkan ibu, jika ibu tidak menjadi wanita yang jahat maka aidil tidak akan menjadi seperti ini, andai saja ayah masih hidup pasti kalian tidak akan menjadi seperti ini" ucap ibu menangis bersimpuh dihadapan kami.

Saat ibu menyebut nama ayah tiba-tiba kak aidil berbalik dan marah, dia berteriak dengan sorot mata tajam yang menakutkan.

"Ayah.. ayah.. ayah.. ayah.. hahahahahahaha" ucapnya saat itu.

"Kakak apakah kau masih ingat dengan ayah kita?" kak aini bertanya penuh pengharapan.

"Ayah hahahahahahaha.. Hahahahahahahaha" tawa kak aidil semakin terbahak, namun wajahnya menyiratkan luka yang amat dalam.

Tanpa diduga kak aidil membanting tong sampah yang begitu besar sehingga isinya berserakan dijalanan, beberapa warga yang mendengar keributan itu datang menghampiri kami dan bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Perlahan kamipun menceritakan apa yang sedang terjadi saat itu, lalu salah satu warga bercerita bahwa kak aidil sudah berkeliaran di tempat ini hampir satu tahun lamanya, setiap malam kak aidil selalu berteriak menyebut nyebut ayah. Dia menangis, tertawa, dan kadang kak aidil memanggil ayah dalam diam.

Menurut warga meskipun sering seperti itu namun kak aidil sangat baik dan sering membantu warga, meski tak bisa diajak berkomunikasi, meski penampilannya berantakan dan terlihat tidak waras, namun warga menduga bahwa kak aidil adalah pria yang lembut sebelum ia menjadi seperti ini, warga sudah mencoba untuk pembantunya memberikan tempat tinggal yang layak, memberi makan bahkan mengganti bajunya namun kak aidil selalu menolak, kak aidil selalu takut setiap kali warga hendak membawanya ke dalam sebuah rumah.

Kami kemudian menceritakan bahwa kami bertiga adalah kakak beradik yang ditinggal meninggal oleh ayah dan ibu kami, tentu saja kami tak menceritakan tentang bagaimana ibu tiri kami, kami hanya menceritakan bahwa kami ditinggalkan oleh orang tua kami saat kami masih kecil. Mendengar itu warga pun menatap kami dengan iba, kemudian mereka menawarkan bantuan untuk membawa kak aidil kembali kerumah.

Tak butuh waktu lama akhirnya kami semua sampai di rumah ibu. Ibu memaksa kami untuk membawa kak aidil kerumahnya. Ibu berjanji untuk merawat dan menyembuhkan kembali kak aidil apapun yang terjadi. Ibu terus menangis sepanjang jalan menyesali perbuatannya di masa lalu.

Saat turun dari mobil dan menuntun kak aidil untuk masuk kedalam rumah tiba-tiba kak aidil memberontak dan berteriak, kak aidil terus-menerus berusaha melepaskan diri dari pegangan warga dan beberapa kali pula mencoba melarikan diri.

Saat warga sudah kewalahan untuk memegangi kak adil akupun berlari memeluknya, aku menangis dan terus menerus memanggil namanya, lalu keajaiban terjadi, kak aidil tiba-tiba tersenyum sambil menatapku, ia memelukku dan mengusap rambutku.

"Kak ayo ikut denganku pulang ke rumah, kakak tidak perlu takut lagi, sekarang semuanya baik-baik saja, ini aku kak.. tolong ingat aku" ucapku terisak.

Kemudian aku menggenggam tangannya dan membawanya masuk kedalam rumah, kakak terus-menerus menyapukan pandangannya ke setiap sudut rumah, lalu dia menatapku kembali dan aku hanya bisa mengangguk berusaha meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

"Kak, kakak mandi ya.. ini suamiku ryan, kakak tidak ingat dia? dia orangnya sangat baik sekali, kakak akan nyaman bersamanya"

Seperti memahami kata-kataku kakak hanya diam dan patuh. Ryan meraih tangannya dan mengajaknya kedalam kamar mandi, sedangkan ibu segera mengambil beberapa pakaian milik mendiang ayah untuk dipakai oleh kakak. Setelah satu jam berkutat dengan tubuh kotornya akhirnya kini kakakku terlihat seperti seorang pria normal, melihatnya mengenakan pakaian ayah membuat kami semua merenung dan kembali ke masa lalu.

Meski kini wajah dan tubuhnya terlihat seperti pria normal pada umumnya namun kakak tetap tak bisa diajak berkomunikasi, beberapa kali aku mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi namun kakak hanya tertawa terbahak-bahak, kami semua miris melihat keadaan ini. Aku ingin menangis dan menjerit, namun aku sadar bahwa tangisan tak dapat menyelesaikan masalah apapun. Aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan kakak.

Malam itu akhirnya kami semua menginap di rumah ibu, kami benar-benar tidak tidur, kami hanya berdiskusi tentang banyak hal, kami saling bercerita menumpahkan rasa sedih kami yang bercampur aduk dengan rasa bahagia karena telah menemukan secercah harapan.

Setelah berdiskusi sepanjang malam akhirnya kami semua memutuskan bahwa kak aidil akan dirawat oleh ibu dan kak aini. Sebenarnya aku terus-menerus memaksa agar kak aidil tinggal bersamaku, namun melihat kak aidil yang enggan keluar dari rumah dan sering mengamuk, rasanya tidak mungkin aku bisa menjaganya seorang diri.

"Sayang sepertinya kak aidil tidak ingin keluar dari rumah ini, kita biarkan saja dia di sini, lagipula ibu dan kak aini bersedia merawatnya, kita pun tentu saja bisa ikut merawat kak aidil, kita bisa pulang pergi kemari setiap hari dan kita juga bisa membawa kak aidil berobat kapanpun, atau bagaimana kalau kita saja yang membawa dokternya datang kemari untuk mengobati kak aidil? Bukankah seperti itu lebih mudah? kau tidak tinggal bersamanya bukan berarti kau tidak bisa mengobatinya" lagi-lagi ryan menengahi pikiranku yang selalu buntu.

Apa yang dikatakan suamiku memang benar, aku beruntung memiliki suami yang selalu memperbaiki pemahamanku tentang segala sesuatu, akhirnya kami putuskan bahwa kak aidil akan tinggal bersama ibu dan kak aini.

***

Beberapa bulanpun berlalu, aku sudah memanggil banyak dokter untuk mengobati kak aidil, aku bahkan sudah mendatangi paranormal paranormal yang banyak direkomendasikan oleh para sesepuh, namun sayangnya kabar baik tak juga menghampiri kami. Kak aidil masih tetap dengan prilakunya yang tak lazim.

Pada akhirnya kami semua hanya bisa pasrah, beruntungnya ibu dengan sabar dan telaten mengurus kak aidil, begitu pula dengan kak aini. Mama dan papa pun tak hentinya berkunjung untuk melihat perkembangan kondisi kak aidil, begitu pula suamiku, setiap hari dia rela pulang pergi mengantarku demi untuk meredam segala kekhawatiranku.

Menurut beberapa dokter, trauma kak aidil sangatlah berat sehingga mengganggu kejiwaannya seperti ini, tidak ada cara lain selain menerima kondisinya saat ini dan berdoa semoga suatu saat keajaiban akan datang.

Mendengar penuturan dokter saat itu akhirnya kami memutuskan untuk tidak lagi memaksakan kak aidil agar sembuh, bagi kami kehadirannya sudah lebih dari cukup dan memang benar meski dengan kejiwaannya yang seperti saat ini, kebaikan dan kelemahlembutannya tidak pernah hilang. Meski terkadang mengamuk tanpa sebab namun seringnya justru kak aidil membantu ibu dan kak aini mengerjakan beberapa pekerjaan rumah.

Begitulah bagaimana kami semua memulai kembali kehidupan kami sebagai sebuah keluarga. Dengan kakak yang selalu kami banggakan, kak aidil yang kusayangi, kak aidil yang lemah lembut dan penuh perhatian. Kak, aku berharap kau akan sembuh dan menjadi kakakku yang seutuhnya sama seperti dulu.

Terpopuler

Comments

Vicky23

Vicky23

knp Rahmi GK mendapat karma atas kejahatannya ya ? 🤦🤦🤦

2023-08-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!