...Jangan terlalu keras memikirkan sesuatu yang diluar Kendali Mu...
...☘️...
Senja di ibukota memang datang lebih lambat daripada kota lain di Indonesia. Itu sebab nya pula meski magrib sudah tiba waktunya, namun langit masih terlihat terang saja.
Makan malam telah tiba.
Seperti sebelumnya formasi sama, dan saat ini diantara mereka sudah ada Dirga.
Suasana tampak canggung tatkala diantara mereka masih setia dengan saling diam nya. Bahkan sepertinya hanya Mbok Nah saja yang terlihat mendominasi suasana, berjalan kesan kemari untuk menuangkan minuman untuk semua majikan nya.
"Mbok"
"Iya Buk ?"
Semua orang tampak menatap Bu Gita yang tiba-tiba membuka suara nya.
"Makanya kok beda ya dadi biasanya"
Mendengar pertanyaan majikannya, mbok nah yang panik hanya menundukkan wajahnya dengan sesekali melihat kearah Khadijah.
"Bukan. Maksudnya ini kok lebih enak dari biasanya, mbok nah dapat resep baru ?"
Menyadari ketakutan di wajah asisten rumah tangga nya, Bu Gita lantas meralat kalimatnya.
"Oh. Itu Bu"
Mbok Nah sedikit ragu untuk mengatakan jika memang bukan dia yang menyediakan makanan. Sementara Khadijah sendiri juga bingung ingin mengatakan apa.
"Menantu baru mama yang buat semua masakan ini"
Masih sibuk dengan makanan dalam mulutnya, Dirga menjawab rasa penasaran dari mama nya.
"Oh ya ?"
Bu Gita begitu takjub mendengar ucapan putranya, tidak menyangka jika masakan yang sebelumnya dia puji merupakan masakan hasil karya menantu nya.
"Benar itu Dijah ?"
Merasa sungkan Khadijah hanya menganggukkan kepala saja dengan mengulas senyum di balik cadar yang dia kenakan.
"CK. Aksa bisa belikan yang jauh lebih enak untuk mama"
Jujur saja Aksara tidak begitu menyukai basa-basi diantara mereka, terlebih itu pada Khadijah.
"Beli itu sudah biasa Aksa, Kalau hasil buatan tangan orang yang kita cinta itu namanya istimewa"
Bu Gita membungkam ucapan putra nya yang berusaha mengendurkan hari Khadijah, Bu Gita sadar Aksara masih butuh waktu untuk menerima Khadijah dalam kehidupan nya 'Batin Bu Gita'.
"Sudah-sudah jangan berdebat di meja makan !"
Pak Lukman tampak menengahi perbincangan yang sudah tidak lagi membuat nyaman.
Semua orang kembali fokus dengan makanan masing-masing, meski membenci, namun tidak di pungkiri jika Aksara sendiri juga memuji kepiawaian Khadijah dalam mengolah makanan.
"Ma. Pa. Aksa pergi dulu ya"
Belum selesai dengan makanan di piring nya, sebuah pesan mengharuskan Aksara meninggalkan acara makan malam bersama keluarganya.
"Di habiskan dulu dong sayang" pinta Bu Gita.
"Nanti aja ma !"
Aksara hanya meraih gelas minuman, meneguknya sedikit dan bergegas meninggalkan meja makan.
"Aksa !"
Panggilan Bu Gita pun dia abaikan begitu saja, padahal Bu Gita hanya ingin mengingatkan putranya jika dia juga harus berpamitan pada Khadijah.
***
Waktu menunjukan pukul 21.33
Sudah cukup malam dan Khadijah belum melihat Aksara pulang. Khawatir ?. Mungkin saja, meski bagaimana pun bentuk pernikahan mereka namun Khadijah tidak pernah menganggap jika pernikahan ini sebatas mainan saja.
Meski tengah menahan rasa sakit di perutnya Khadijah tetap menanti kedatangan suami nya.
Semua anggota keluarga di rumah ini memang tidur di lantai dua, hanya Khadijah saja yang berada di lantai satu karena letak kamar tamu memang berada di lantai satu, tidak sendiri sejujurnya, beberapa asisten rumah tangga lainya termasuk Mbok Nah juga berada di sana.
"Kamu sedang apa Dijah ?"
Sebuah suara yang Khadijah yakini merupakan suara Dirga. Benar saja dari ujung anak tangga Khadijah melihat Dirga sudah berjalan menghampirinya.
"Mas Dirga!"
Dirga pun mendekat i Khadijah, meski dari dulu Khadijah juga selalu menjaga jarak dengan dirinya, namun untuk saat ini rasanya Dirga hanya ingin berbicara empat mata.
Mungkin ini kesempatan yang tepat, sementara penghuni rumah lainya sedang lelap dalam istirahatnya. 'Pikir Dirga'
"Aku baru tahu jika keluarga mu terlibat masalah dengan Ka Aksa"
Mungkin tidak untuk di tanggapi, sejujurnya Dirga hanya ingin di dengarkan dan di mengerti.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya Dijah"
"Aku pun bisa membantu mu jika hanya uang itu"
Dirga kembali mengatakan isi hatinya, dan Khadijah masih terus diam dengan menundukkan wajahnya.
"Kenapa harus Ka Aksa ?. Kenapa tidak aku saja ?"
Deg.
'Apa maksudnya?' batin Khadijah.
Entah apa maksudnya, namun mendengar ucapan Dirga, Khadijah pun lantas mendongakkan kepala nya, menatap sekilas wajah laki-laki yang berdiri tidak jauh dari tempat nya.
"Aku sudah lama mencintaimu Dijah, tidak kah kau merasakan itu ?"
"Aku tidak mengutarakan perasaanku karena aku ingin selalu menjaga mu"
Mungkin benar jika saat ini Dirga hanya ingin mengutarakan isi hatinya, karena sejujurnya Khadijah sendiri tidak memiliki jawaban atas perasaan Dirga pada dirinya.
Antara terkejut dan tidak percaya, Khadijah benar-benar tidak menduga Dirga akan mengatakan hal itu pada dirinya, meski dia tahu saat ini Khadijah telah menjadi Kakak ipar nya.
"Maaf Mas Dirga. Sepertinya obrolan ini cukup sampai di sini"
Jujur saja , Khadijah tidak ingin semakin menambah masalah yang nantinya justru akan berujung fitnah.
Sadar akan posisi dan status istri, Khadijah memilih menghindari obrolan dengan Dirga yang sudah menjadi adik iparnya.
Karena mau di bicarakan seperti apa pun kenyataan akan tetap sama.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sugiharti Rusli
iya betul menghindari fitnah lebih baik Dijjah
2023-09-09
5
Becky D'lafonte
omg dirga ungkapin perasaannya,,, tp percuma soalnya sudah jd ipar
2023-08-22
3
Bunda Titin
sadar Dirga semua udh terlambat ........mungkin krn Khadijah bkn jodohmu jd jlnmu untuk menuju ke sana selalu terlambat..........ikhlaskan Khadijah untuk kakakmu bagaimanapun bentuk rmh tangga mereka..........,🙏😔
2023-08-10
1