...Mati Itu Pasti. Tanpa Menunggu Kata Tapi...
...☘️...
7 hari sudah kepergian orang tua Khadijah.
Banyak sanak saudara yang masih terlihat berada di kediaman Khadijah, sekedar untuk menghibur dan membantu kerepotan Khadijah, karena selama 7 hari itu pula diadakan acara khataman dan tahlilan.
“Nduk…”
Melihat Khadijah yang masih larut dalam kesedihannya, Abah Hasim lantas mendekat dan menghiburnya.
“Kamu kenapa ?”
Sudut bibir Khadijah terangkat keatas, meski tertutup oleh cadar yang di kenakan nya, namun Abah Hasim tahu jika Khadijah tengah tersenyum pada dirinya.
“Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan, Ndak baik” ujar Abah Hasim mengingatkan.
“Enjih Abah”
Khadijah mengangguk patuh.
Khadijah berusaha ikhlas dan membenarkan ucapan Abah nya. Meski masih selalu terbayang kedua orang tuanya, dan masih begitu merindukan kehadiran mereka.
Abah Hasim lantas duduk dan mendekat pada keponakannya. Melihat Khadijah dengan wajah sedihnya, Abah Hasim lantas memberikan wejangan pada nya.
“Nduk”
Panjang lebar Abah Hasim berbicara.
Sesungguhnya setiap orang pasti akan mendapati kematian nya. Tidak ada satu orang pun yang tahu kapan ia akan mati. Kita pernah ditinggalkan oleh orang terdekat kita, kelak kita juga akan meninggalkan orang-orang terdekat kita.
Merasakan kesedihan atas meninggalnya seseorang adalah hal yang normal dan manusiawi. Bahkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pun pernah merasakan kesedihan yang mendalam, ketika beliau kehilangan istri tercinta, paman yang selalu menemani beliau, dan sahabat-sahabatnya yang telah gugur. Sampai-sampai pada masa itu dalam kitab sirah disebut sebagai ‘amul huzni atau sebagai Tahun kesedihan, karena dalam waktu satu tahun Nabi ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya.
Namun meski manusiawi, bukan berarti seseorang boleh untuk melampiaskan kesedihan atas wafatnya seseorang dengan meluapkan secara berlebihan. Sampai-sampai ia menangis selama berhari-hari tanpa berhenti. An-Niyahah (ratapan) adalah tangisan dan rengekan seperti suara rengekan burung merpati. Perbuatan tersebut dilarang sebab hal itu menunjukkan penentangan (rasa tidak puas) terhadap takdir.
Menangisi orang yang sudah wafat sambil menampar-nampar wajahnya sendiri, merobek pakaiannya, bahkan sampai menggoyang-goyangkan jasad yang sudah terbujur kaku tentu tidak dibenarkan. Seseorang juga dilarang untuk terus meraung membicarakan kebaikan-kebaikan dan jasa si mayit selama masih hidup sebelumnya. Hal ini seperti yang Rasul sampaikan dalam sabda beliau,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Bukan dari golangan kami orang yang menampar-nampar wajah, merobek robek pakaian, dan menyeru dengan slogan jahiliyah.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Hikmah dari larangan seseorang untuk meratapi orang yang sudah meninggal terlalu berlebihan adalah sebagai bentuk pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah di hadapan Allah. Tidak ada manusia yang kuat dan mampu untuk melawan takdir Allah.
Larangan tersebut juga sebagai bentuk pencegahan agar seseorang tidak menunjukkan sikap menolak takdir Allah. Karena kematian adalah salah satu takdir Allah yang tidak bisa diganggu dan dicegah. Boleh jadi dengan kematian seseorang adalah suatu hal yang baik bagi orang yang meninggal, dan justru yang harusnya diratapi adalah orang yang masih hidup untuk memikirkan nasib mereka selama hidup apakah akan selamat atau tidak.
“Begitu Yo Nduk. Jadi sudah cukup Nangis nya” Ujar Abah Hasim
‘Astaghfirullah’ batin Khadijah dalam hati.
Jujur Khadijah memang sedang lemah imannya, meski tanpa di beri tahu Abah, sebenarnya Khadijah sendiri tahu, Namun lemahnya hati membuat Khadijah larut dalam kesedihan berulang kali. Khadijah cukup beruntung masih ada Abah dan Umi yang selalu setia menemani.
“Terima kasih Bah..”
Khadijah mulai kembali menyeka dan membersihkan sisa-sisa Air mata. Anggukan kepala menjadi jawaban Abah Hasim atas ucapan Khadijah sebelumnya.
“Lalu setelah ini apa Nduk rencana mu”
Melihat Khadijah mulai tenang, Abah Hasim memulai membuka topik baru diantara mereka. Dan gelengan kepala menjadi jawaban Khadijah atas pertanyaan Abah Hasim pada diri nya.
Abah Hasim lantas tersenyum pada Khadijah. Hal ini memang berat untuk di putuskan secepat ini, dan Abah Hasim memahami.
“Ndak papa, besok pagi saja kita bicara lagi”
Abah Hasim menepuk pundak Khadijah dan memintanya untuk beristirahat, karena tentu Khadijah juga Lelah setelah 7 hari menyiapkan tahlilan bagi kedua Almarhum orang tuanya. Meski dibantu oleh sanak saudara dan para tetangga, namun bukan berarti Khadijah lantas bersantai saja.
“Enjih Abah”
Setelah cukup berbincang Bersama keponakannya, Abah Hasim beranjak dari duduknya dan meninggalkan Khadijah di kamarnya.
Sementara Khadijah sendiri yang juga merasa Lelah, memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Belum sempat Khadijah merebahkan tubuhnya, Khadijah kembali di kagetkan dengan suara notifikasi ponsel nya.
Bip Bip
Bunyi pesan suara dari ponsel Khadijah yang mengisyaratkan ada pesan masuk ke dalam ponselnya.
Dengan sisa tenaga, Khadijah meraih ponsel nya dan melihat sebuah nama yang jelas tertera disana ‘Mas Dirga’ Batin Khadijah.
Khadijah lantas membuka pesan Whatsapp yang di kirim oleh Dirga dari ujung telepon sana.
“Assalamualaikum Dirga, apa kabar?”
Begitulah pesan singkat yang Dirga kirim pada Khadijah.
“Waalaikumsalam Mas Dirga. Alhamdulillah Kabar Baik”
Balas Khadijah.
“Alhamdulillah. Syukurlah kalau begitu. Oya maaf kemarin tidak sempat berpamitan saat pulang”
Kembali Dirga mengirim pesan balasan untuk Khadijah.
“Tidak papa Mas, Khadijah malah yang seharusnya berterima kasih. Mas Dirga sudah mengantarkan Dijah pulang kerumah”
Balas Khadija
“Tidak masalah Dija ❤️ ” Balasan Dirga pada Khadijah.
Melihat Emoticon cinta dalam pesan singkat yang di kirim oleh Dirga, sejujurnya cukup Mengejutkan bagi Khadijah.
Namun Khadijah memilih untuk diam dan tidak menanyakan apa maksud dan tujuan dari emoticon sayang tersebut.
Setelah cukup saling berbalas pesan, Khadija memilih untuk mengakhiri obrolan diantara keduanya.
Malam semakin larut menyisakan seberkas cahaya rembulan yang menembus jendela kamar Khadijah.
Meski mata enggan terpejam namun benar apa kata Abah, Khadijah tidak bisa terus memikirkan kesedihan di hatinya.
**
Pagi hari.
Sinar surya mulai menyapa, indahnya mentari yang menyinari bumi sungguh membuat Khadijah merasa bersyukur atas nikmat nafas yang masih diberi.
Khadijah terbiasa melakukan Sholat Duha setelah selesai dengan urusan dapur nya. Hal ini biasa Khadijah lakukan ketika di Kos. Hidup di kota orang dengan mengandalkan beasiswa tentu juga tidak mudah bagi Khadijah.
Beruntung Khadijah sangat pandai dalam memperhitungkan keuangan. Sehingga meski bajet tipis dia tidak pernah Boncos bahkan Khadijah masih sempat menabung dari sisa-sisa uang pemberian orang tuanya.
Beruntung hingga hari ini masih ada Umi Amina yang menemani Khadijah. Semalam setelah selesai Acara Tahlilan dan Khataman semua saudara telah pulang ke kota masing-masing.
“Nduk”
Masih dengan mukena yang membalut tubuhnya, Khadijah melihat sosok umi Amina berdiri diambang pintu kamarnya.
“Iya Umi?” Jawab Khadijah sembari merapikan Mukena dan sajadah nya.
Keduanya lantas duduk bersama di pinggiran tempat tidur kamar Khadijah, seberkas senyum Umi Amina mengingatkan Khadijah pada senyum ibu nya yang telah tiada.
“Sudah selesai sholat nya?”
“Sudah Umi”
Umi Amina terlihat tersenyum dan menghela nafasnya, entah mengapa Khadijah merasa ada sesuatu yang penting yang ingin Umi Amina katakana pada nya.
“Umi hanya ingin menyampaikan pesan Abah mu Nduk”
Umi Amina tampak serius dalam ucapannya, dan spontan Khadijah pun mendekatkan posisi duduknya dengan Umi Amina, tidak ingin melewatkan setiap detai informasi yang di sampaikan Umi Amina dari Abah Hasim paman nya.
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Aiur Skies
👍🏻
2024-01-17
0
Kustri
eh, penasaran sebab ortu dija meninggal apa yaa🤭
2023-12-08
3
Sugiharti Rusli
apa yah yang akan disampaikan si abahnya
2023-09-09
1