BAB 3. NASIHAT ABAH

...Mati Itu Pasti. Tanpa Menunggu Kata Tapi...

...☘️...

7 hari sudah kepergian orang tua Khadijah.

Banyak sanak saudara yang masih terlihat berada di kediaman Khadijah, sekedar untuk menghibur dan membantu kerepotan Khadijah, karena selama 7 hari itu pula diadakan acara khataman dan tahlilan.

“Nduk…”

Melihat Khadijah yang masih larut dalam kesedihannya, Abah Hasim lantas mendekat dan menghiburnya.

“Kamu kenapa ?”

Sudut bibir Khadijah terangkat keatas, meski tertutup oleh cadar yang di kenakan nya, namun Abah Hasim tahu jika Khadijah tengah tersenyum pada dirinya.

“Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan, Ndak baik” ujar Abah Hasim mengingatkan.

“Enjih Abah”

Khadijah mengangguk patuh.

Khadijah berusaha ikhlas dan membenarkan ucapan Abah nya. Meski masih selalu terbayang kedua orang tuanya, dan masih begitu merindukan kehadiran mereka.

Abah Hasim lantas duduk dan mendekat pada keponakannya. Melihat Khadijah dengan wajah sedihnya, Abah Hasim lantas memberikan wejangan pada nya.

“Nduk”

Panjang lebar Abah Hasim berbicara.

Sesungguhnya setiap orang pasti akan mendapati kematian nya. Tidak ada satu orang pun yang tahu kapan ia akan mati. Kita pernah ditinggalkan oleh orang terdekat kita, kelak kita juga akan meninggalkan orang-orang terdekat kita.

Merasakan kesedihan atas meninggalnya seseorang adalah hal yang normal dan manusiawi. Bahkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pun pernah merasakan kesedihan yang mendalam, ketika beliau kehilangan istri tercinta, paman yang selalu menemani beliau, dan sahabat-sahabatnya yang telah gugur. Sampai-sampai pada masa itu dalam kitab sirah disebut sebagai ‘amul huzni atau sebagai Tahun kesedihan, karena dalam waktu satu tahun Nabi ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya.

Namun meski manusiawi, bukan berarti seseorang boleh untuk melampiaskan kesedihan atas wafatnya seseorang dengan meluapkan secara berlebihan. Sampai-sampai ia menangis selama berhari-hari tanpa berhenti. An-Niyahah (ratapan) adalah tangisan dan rengekan seperti suara rengekan burung merpati. Perbuatan tersebut dilarang sebab hal itu menunjukkan penentangan (rasa tidak puas) terhadap takdir.

Menangisi orang yang sudah wafat sambil menampar-nampar wajahnya sendiri, merobek pakaiannya, bahkan sampai menggoyang-goyangkan jasad yang sudah terbujur kaku tentu tidak dibenarkan. Seseorang juga dilarang untuk terus meraung membicarakan kebaikan-kebaikan dan jasa si mayit selama masih hidup sebelumnya. Hal ini seperti yang Rasul sampaikan dalam sabda beliau,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

‏‏‏

“Bukan dari golangan kami orang yang menampar-nampar wajah, merobek robek pakaian, dan menyeru dengan slogan jahiliyah.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Hikmah dari larangan seseorang untuk meratapi orang yang sudah meninggal terlalu berlebihan adalah sebagai bentuk pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah di hadapan Allah. Tidak ada manusia yang kuat dan mampu untuk melawan takdir Allah.

Larangan tersebut juga sebagai bentuk pencegahan agar seseorang tidak menunjukkan sikap menolak takdir Allah. Karena kematian adalah salah satu takdir Allah yang tidak bisa diganggu dan dicegah. Boleh jadi dengan kematian seseorang adalah suatu hal yang baik bagi orang yang meninggal, dan justru yang harusnya diratapi adalah orang yang masih hidup untuk memikirkan nasib mereka selama hidup apakah akan selamat atau tidak.

“Begitu Yo Nduk. Jadi sudah cukup Nangis nya” Ujar Abah Hasim

‘Astaghfirullah’ batin Khadijah dalam hati.

Jujur Khadijah memang sedang lemah imannya, meski tanpa di beri tahu Abah, sebenarnya Khadijah sendiri tahu, Namun lemahnya hati membuat Khadijah larut dalam kesedihan berulang kali. Khadijah cukup beruntung masih ada Abah dan Umi yang selalu setia menemani.

“Terima kasih Bah..”

Khadijah mulai kembali menyeka dan membersihkan sisa-sisa Air mata. Anggukan kepala menjadi jawaban Abah Hasim atas ucapan Khadijah sebelumnya.

“Lalu setelah ini apa Nduk rencana mu”

Melihat Khadijah mulai tenang, Abah Hasim memulai membuka topik baru diantara mereka. Dan gelengan kepala menjadi jawaban Khadijah atas pertanyaan Abah Hasim pada diri nya.

Abah Hasim lantas tersenyum pada Khadijah. Hal ini memang berat untuk di putuskan secepat ini, dan Abah Hasim memahami.

“Ndak papa, besok pagi saja kita bicara lagi”

Abah Hasim menepuk pundak Khadijah dan memintanya untuk beristirahat, karena tentu Khadijah juga Lelah setelah 7 hari menyiapkan tahlilan bagi kedua Almarhum orang tuanya. Meski dibantu oleh sanak saudara dan para tetangga, namun bukan berarti Khadijah lantas bersantai saja.

“Enjih Abah”

Setelah cukup berbincang Bersama keponakannya, Abah Hasim beranjak dari duduknya dan meninggalkan Khadijah di kamarnya.

Sementara Khadijah sendiri yang juga merasa Lelah, memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Belum sempat Khadijah merebahkan tubuhnya, Khadijah kembali di kagetkan dengan suara notifikasi ponsel nya.

Bip Bip

Bunyi pesan suara dari ponsel Khadijah yang mengisyaratkan ada pesan masuk ke dalam ponselnya.

Dengan sisa tenaga, Khadijah meraih ponsel nya dan melihat sebuah nama yang jelas tertera disana ‘Mas Dirga’ Batin Khadijah.

Khadijah lantas membuka pesan Whatsapp yang di kirim oleh Dirga dari ujung telepon sana.

“Assalamualaikum Dirga, apa kabar?”

Begitulah pesan singkat yang Dirga kirim pada Khadijah.

“Waalaikumsalam Mas Dirga. Alhamdulillah Kabar Baik”

Balas Khadijah.

“Alhamdulillah. Syukurlah kalau begitu. Oya maaf kemarin tidak sempat berpamitan saat pulang”

Kembali Dirga mengirim pesan balasan untuk Khadijah.

“Tidak papa Mas, Khadijah malah yang seharusnya berterima kasih. Mas Dirga sudah mengantarkan Dijah pulang kerumah”

Balas Khadija

“Tidak masalah Dija ❤️ ” Balasan Dirga pada Khadijah.

Melihat Emoticon cinta dalam pesan singkat yang di kirim oleh Dirga, sejujurnya cukup Mengejutkan bagi Khadijah.

Namun Khadijah memilih untuk diam dan tidak menanyakan apa maksud dan tujuan dari emoticon sayang tersebut.

Setelah cukup saling berbalas pesan, Khadija memilih untuk mengakhiri obrolan diantara keduanya.

Malam semakin larut menyisakan seberkas cahaya rembulan yang menembus jendela kamar Khadijah.

Meski mata enggan terpejam namun benar apa kata Abah, Khadijah tidak bisa terus memikirkan kesedihan di hatinya.

**

Pagi hari.

Sinar surya mulai menyapa, indahnya mentari yang menyinari bumi sungguh membuat Khadijah merasa bersyukur atas nikmat nafas yang masih diberi.

Khadijah terbiasa melakukan Sholat Duha setelah selesai dengan urusan dapur nya. Hal ini biasa Khadijah lakukan ketika di Kos. Hidup di kota orang dengan mengandalkan beasiswa tentu juga tidak mudah bagi Khadijah.

Beruntung Khadijah sangat pandai dalam memperhitungkan keuangan. Sehingga meski bajet tipis dia tidak pernah Boncos bahkan Khadijah masih sempat menabung dari sisa-sisa uang pemberian orang tuanya.

Beruntung hingga hari ini masih ada Umi Amina yang menemani Khadijah. Semalam setelah selesai Acara Tahlilan dan Khataman semua saudara telah pulang ke kota masing-masing.

“Nduk”

Masih dengan mukena yang membalut tubuhnya, Khadijah melihat sosok umi Amina berdiri diambang pintu kamarnya.

“Iya Umi?” Jawab Khadijah sembari merapikan Mukena dan sajadah nya.

Keduanya lantas duduk bersama di pinggiran tempat tidur kamar Khadijah, seberkas senyum Umi Amina mengingatkan Khadijah pada senyum ibu nya yang telah tiada.

“Sudah selesai sholat nya?”

“Sudah Umi”

Umi Amina terlihat tersenyum dan menghela nafasnya, entah mengapa Khadijah merasa ada sesuatu yang penting yang ingin Umi Amina katakana pada nya.

“Umi hanya ingin menyampaikan pesan Abah mu Nduk”

Umi Amina tampak serius dalam ucapannya, dan spontan Khadijah pun mendekatkan posisi duduknya dengan Umi Amina, tidak ingin melewatkan setiap detai informasi yang di sampaikan Umi Amina dari Abah Hasim paman nya.

**

Terpopuler

Comments

Aiur Skies

Aiur Skies

👍🏻

2024-01-17

0

Kustri

Kustri

eh, penasaran sebab ortu dija meninggal apa yaa🤭

2023-12-08

3

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

apa yah yang akan disampaikan si abahnya

2023-09-09

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. KABAR DUKA
2 BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.
3 BAB 3. NASIHAT ABAH
4 BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN
5 BAB 5. PUTRA ABAH HASIM
6 BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH
7 BAB 7. TUMPANGAN
8 BAB 8. BERTEMU
9 BAB 9. KEMBALI PULANG
10 BAB 10. AKSARA VIRENDRA BRAWIJAYA
11 BAB 11. PERTANGGUNG JAWABAN
12 BAB 12. MENERIMA TAWARAN
13 BAB 13. PERSIAPAN
14 BAB 14. IJAB QOBUL
15 BAB 15. JAKARTA
16 BAB 16. KESAN PERTAMA
17 BAB 17. TERNYATA
18 BAB 18. MEMASAK
19 BAB 19.IBU RUMAH TANGGA
20 BAB 20. PERASAAN DIRGA
21 BAB 21. TAMPARAN
22 BAB 22. PERHATIAN
23 BAB 23. KABAR ABAH
24 BAB 24. KANTOR
25 BAB 25. PERDEBATAN
26 BAB 26. KEPANIKAN
27 BAB 27. PERTEMUAN
28 BAB 28. BERBELANJA BERSAMA
29 BAB 29. CERITA LAMA
30 BAB 30. MEMINTA IZIN
31 BAB 31. TERKEJUT
32 BAB 32. KAMAR AKSARA
33 BAB 33. PENYESALAN
34 BAB 34. TEDUH
35 BAB 35. MALU
36 BAB 36. VISUAL
37 BAB 37. PULANG
38 BAB 38. RUMAH SAKIT
39 BAB 39. Dirga Dan Aksara
40 BAB 40. PULANG
41 BAB 41. DATANG
42 BAB 42. MENGINAP.
43 BAB 43. AISYAH
44 BAB 44. KAMAR KHADIJAH.
45 BAB 45. KERINGAT DINGIN
46 BAB 46. WAKTU SUBUH
47 BAB 47. PAGI
48 BAB 48. OBROLAN PAGI
49 BAB 49. KABAR BAHAGIA.
50 BAB 50. MARISSA
51 BAB 51. TERKEJUT
52 BAB 52. KETEGASAN
53 BAB 53. APARTEMEN
54 BAB 54. MALAM
55 BAB 55. LINGERIE
56 BAB 56. MENGAGUMI
57 BAB 57. SKIN TO SKIN
58 BAB 58. PAGI MENYAPA
59 BAB 59. BERHALANGAN
60 BAB 60. SARAPAN
61 BAB 61. TAMU TAK DI UNDANG
62 BAB 62. PERSETUJUAN
63 BAB 63. GODAAN
64 BAB 64. ISI HATI AKSARA
65 BAB 65. DUA WANITA
66 BAB 66. PERMINTAAN MARISSA
67 BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH
68 BAB 68. MAKAN MALAM
69 BAB 69. MALAM PERTAMA
70 BAB 70. BINCANG
71 BAB 71. KABAR BAHAGIA
72 BAB 72. PETUALANG PAGI
73 BAB 73. MANDI KE DUA
74 BAB 74. RUMAH MAMA
75 BAB 75. BERULAH
76 BAB 76. SALAH PAHAM
77 BAB 77. BERTEMU
78 BAB 78. MAAF
79 BAB 79. RENCANA AKSARA
80 BAB 80. PINDAH
81 BAB 81. BERSIAP
82 BAB 82. MASA LALU
83 BAB 83. PELAKU
84 BAB 84. PECI
85 BAB 85. KEJUTAN
86 BAB 86. BERBADAN DUA
87 BAB 87. SURGA ISTRI
88 BAB 88. RUMAH SAKIT
89 89. PAHALA MEMINTA
90 BAB 90. MUAL
91 BAB 91. KABAR BAIK
92 BAB 92. DEPRESI
Episodes

Updated 92 Episodes

1
BAB 1. KABAR DUKA
2
BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.
3
BAB 3. NASIHAT ABAH
4
BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN
5
BAB 5. PUTRA ABAH HASIM
6
BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH
7
BAB 7. TUMPANGAN
8
BAB 8. BERTEMU
9
BAB 9. KEMBALI PULANG
10
BAB 10. AKSARA VIRENDRA BRAWIJAYA
11
BAB 11. PERTANGGUNG JAWABAN
12
BAB 12. MENERIMA TAWARAN
13
BAB 13. PERSIAPAN
14
BAB 14. IJAB QOBUL
15
BAB 15. JAKARTA
16
BAB 16. KESAN PERTAMA
17
BAB 17. TERNYATA
18
BAB 18. MEMASAK
19
BAB 19.IBU RUMAH TANGGA
20
BAB 20. PERASAAN DIRGA
21
BAB 21. TAMPARAN
22
BAB 22. PERHATIAN
23
BAB 23. KABAR ABAH
24
BAB 24. KANTOR
25
BAB 25. PERDEBATAN
26
BAB 26. KEPANIKAN
27
BAB 27. PERTEMUAN
28
BAB 28. BERBELANJA BERSAMA
29
BAB 29. CERITA LAMA
30
BAB 30. MEMINTA IZIN
31
BAB 31. TERKEJUT
32
BAB 32. KAMAR AKSARA
33
BAB 33. PENYESALAN
34
BAB 34. TEDUH
35
BAB 35. MALU
36
BAB 36. VISUAL
37
BAB 37. PULANG
38
BAB 38. RUMAH SAKIT
39
BAB 39. Dirga Dan Aksara
40
BAB 40. PULANG
41
BAB 41. DATANG
42
BAB 42. MENGINAP.
43
BAB 43. AISYAH
44
BAB 44. KAMAR KHADIJAH.
45
BAB 45. KERINGAT DINGIN
46
BAB 46. WAKTU SUBUH
47
BAB 47. PAGI
48
BAB 48. OBROLAN PAGI
49
BAB 49. KABAR BAHAGIA.
50
BAB 50. MARISSA
51
BAB 51. TERKEJUT
52
BAB 52. KETEGASAN
53
BAB 53. APARTEMEN
54
BAB 54. MALAM
55
BAB 55. LINGERIE
56
BAB 56. MENGAGUMI
57
BAB 57. SKIN TO SKIN
58
BAB 58. PAGI MENYAPA
59
BAB 59. BERHALANGAN
60
BAB 60. SARAPAN
61
BAB 61. TAMU TAK DI UNDANG
62
BAB 62. PERSETUJUAN
63
BAB 63. GODAAN
64
BAB 64. ISI HATI AKSARA
65
BAB 65. DUA WANITA
66
BAB 66. PERMINTAAN MARISSA
67
BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH
68
BAB 68. MAKAN MALAM
69
BAB 69. MALAM PERTAMA
70
BAB 70. BINCANG
71
BAB 71. KABAR BAHAGIA
72
BAB 72. PETUALANG PAGI
73
BAB 73. MANDI KE DUA
74
BAB 74. RUMAH MAMA
75
BAB 75. BERULAH
76
BAB 76. SALAH PAHAM
77
BAB 77. BERTEMU
78
BAB 78. MAAF
79
BAB 79. RENCANA AKSARA
80
BAB 80. PINDAH
81
BAB 81. BERSIAP
82
BAB 82. MASA LALU
83
BAB 83. PELAKU
84
BAB 84. PECI
85
BAB 85. KEJUTAN
86
BAB 86. BERBADAN DUA
87
BAB 87. SURGA ISTRI
88
BAB 88. RUMAH SAKIT
89
89. PAHALA MEMINTA
90
BAB 90. MUAL
91
BAB 91. KABAR BAIK
92
BAB 92. DEPRESI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!