...Mungkin Bukan Hari Ini. Tapi Suatu Saat Nanti...
...☘️...
Masih dalam suasana serius perbincangan Khadijah dengan Umi Amina. Keduanya tampak serius.
"Nduk"
"Ada beberapa pesan dari Abah yang ingin Umi sampaikan padamu Dijah"
Entah apa yang ingin Umi Amina katakan, yang jelas Khadijah sudah sangat siap untuk mendengarkan nya.
“Sekarang ini kan kamu sudah ndak ada siapa-siapa, dan wali Dija sekarang itu Abah"
Mendengar penuturan Umi Amina, Khadijah lantas mengangguk kan kepala nya. Karena semua ucapan wanita paruh baya di sampingnya merupakan benar adanya.
"Abah ingin Dija tetap bahagia”
“Abah berpesan pada Umi, agar Dija tinggal di pesantren saja bersama kami”
Dija menimang kembali ucapan Umi Amina, ada benarnya juga apa yang di Katakan Umi Amina, selain Dija yang tidak akan kesepian ketika di Pesantren, Khadijah juga bisa kembali memperdalam ilmu agama nya. ‘pikir Khadijah’.
“Tapi kamu pertimbangkan saja dulu, Abah dan Umi ndak memaksa”
Abah dan Umi Amina tentu tidak ingin memaksa. Khadijah sendiri juga sudah dewasa dalam pandangan Umi Amina dan Abah Hasim, dan keduanya tidak ingin Khadijah merasa terpaksa atas usulan Abah dan Umi sebelumnya, tentu keputusan sepenuhnya di serahkan pada Khadijah.
Masih memikirkan ucapan Umi Amina sebelumnya, Khadijah mencoba mengambil sisi baik dari ajakan Abah dan Umi nya.
Tentu semua sudah atas pertimbangan matang dan demi kebaikan Khadijah juga. Khadijah sendiri tidak ingin membuat Abah dan Umi lama menunggu keputusan darinya.
Lagi pula mahasiswa tingkat akhir seperti Khadijah, sudah tidak banyak kuliah kecuali praktikum, dan konsul Skripsi saja. Disaat masa pandemi seperti ini kuliah juga lebih banyak Daring.
“Baik Umi, Insyaallah Dija ikut Umi dan Abi saja”
Sudut bibir Khadijah terangkat keatas. Khadija cukup yakin dengan ucapannya.
Untuk hal-hal semacam ini memang Khadijah tidak butuh waktu lama untuk berfikir, karena tentu saran orang tua adalah untuk kebaikan dirinya.
“Baiklah, kalau begitu kamu siapkan semua keperluan dan barang-barang mu ya Nduk, nanti atau besok Abah akan jemput kita” ujar Umi Amina
Khadijah lantas menganggukkan kepala nya, apa pun itu keputusan Abah dan Umi, Khadijah menurut saja.
Setelah cukup berbincang dengan Umi Amina, Khadijah dan sang Umi pun lantas sarapan Bersama, menikmati masakan sederhana hasil tangan Khadijah.
“Kamu pandai masak Nduk” Puji Umi Amina
Khadijah tersipu mendengar pujian dari Umi Amina. Jujur saja rasanya Khadijah sendiri tidak begitu percaya diri dengan rasa masakannya.
7 hari tinggal bersama, mungkin ini pertama kali Umi Amina mencicipi masakan Khadijah. Bukan tanpa alasan, hanya saja hari-hari sebelumnya saudara lain Khadijah yang menyiapkan makanan untuk mereka.
Sarapan telah usai, Sudah tidak ada juga kegiatan lainya di rumah. Sementara beberapa tugas mata kuliah telah menunggu Khadijah.
Di teras rumah. Khadijah memulai dengan membuka Laptopnya. Mengecek beberapa email yang masuk kedalam akun email nya. Benar saja disana banyak terdapat email masuk yang salah satunya dari perusahaan tempat ayahnya bekerja.
Email yang jarang Khadijah dapatkan selain karena alasan beasiswa yang dia daftarkan pada perusahaan tempat Bapaknya dulu bekerja.
Khadijah sedikit penasaran dengan email tersebut. Sebuah email yang dikirim kurang lebih dua hari yang lalu.
‘Tumben. Apa isi nya’ pikir Khadijah
Meski berada di urutan bawah, namun Khadijah memilih untuk membuka email tersebut terlebih dahulu, daripada email baru di atasnya.
Lembaran file terpampang nyata, Kop surat yang jelas menunjukan perusahaan tempat Almarhum Bapaknya dulu bekerja. Jeli mata Khadijah membaca setiap kata yang tertera disana.
Hingga mata Khadija tertuju pada sebuah kalimat di sana.
Deg.
Hati dan pikiran Khadijah seolah belum bisa percaya dengan apa yang baru saja di lihat dan di baca.
‘Pemberhentian Subsidi Pendidikan’ Batin Khadijah
Belum juga Khadijah lupa atas kesedihan karena kepergian orang tuanya, kini Khadijah kembali harus di hadapkan realita nyata dalam kehidupannya.
Cairan bening seketika menggenang di pelupuk mata indah Khadijah, ‘Pemberhentian Subsidi Pendidikan’ itu berarti Khadijah tidak lagi akan mendapatkan beasiswa untuk pendidikannya.
Mengingat biaya Pendidikan yang tidak lah murah , sungguh membuat Khadijah bingung sesaat. Sementara masih tersisa dua semester lagi, ‘pikir Khadijah’.
Jika harus kuliah sambil bekerja juga rasanya tidak mungkin bagi Khadijah, pasalnya tugas kuliah dan tugas Akhir saja sangat menyita waktu nya.
Lelah bergelut dengan pikirannya, Khadijah memilih untuk pasrah.
Khadijah percaya jika kesulitan yang dia tengah hadapi saat ini tentu Allah juga telah menyiapkan solusi.
Khadijah jelas mengingat nasihat ayah dan ibu nya dulu, Tawakal (berserah diri), sesuatu yang selalu di ajarkan oleh keduanya, sebuah keyakinan dan pegangan dalam menjalani kehidupan.
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Serta barangsiapa yg bertawakal kepada Allah, maka Dialah yang Mencukupinya” (QS. Ath-Thalaq: 3).
“Nduk, kamu kenapa”
Melihat Khadijah yang tengah termenung dalam lamunannya, Umi Amina lantas mendekati dan bertanya.
Khadijah pun hanya mengangkat sudut bibirnya, jujur dia memang sedang bingung, namun Khadijah bisa apa juka Allah telah menentukan jalan hidupnya. Hingga hanya senyuman lah yang mampu Khadijah berikan pada Umi Amina.
“Beasiswa Dija Umi”
Umi Amina tampak menautkan kedua alisnya, belum paham dengan arah pembicaraan Khadijah.
Beberapa kali Khadijah berusaha menguasai dirinya, dan setelah cukup tenang Khadijah mulai kembali berbicara pada Umi Amina.
“Dija sudah tidak lagi mendapatkan beasiswa dari kantor Bapak”
Umi Amina lanas menghembuskan nafasnya, Umi paham apa yang sedang di rasakan keponakanya.
“Kamu yang sabar ya Nduk, Nanti kita bicarakan sama Abah mu”
Sadar jika saat ini tidak ada orang lain selain Abah dan Umi yang menjadi wali, Khadijah memilih untuk menurut pada keduanya.
Khadijah pun sudah pasrah jika pada akhirnya dia tidak bisa melanjutkan kuliah nya.
Sementara Umi yang memang tidak bisa mengambil keputusan sendiri, memilih untuk mendiskusikan masalah Khadijah bersama Abah.
“Kamu siap-siap sekarang yo Nduk, Abah mau jemput kita sekarang”
Tidak ingin terus larut dalam kesedihannya, Khadijah lantas menutup kembali laptop miliknya, dan memilih untuk bergegas menyiapkan sisa barang yang masih tersisa di rumahnya, karena barang-barang Khadijah lainya berada di rumah Kos Malang.
Sebelum nanti benar-benar Khadijah akan meninggalkan rumah ini, Khadijah ingin sekali menyimpan memori setiap sudut yang begitu banyak kenangan tentang dirinya dengan Almarhum kedua orang tuanya.
Banyak kenangan yang tentu tidak bisa begitu saja khadijah lupakan, terutama tentang rumah ini. Rumah peninggalan Almarhum kedua orang tuanya.
Entah kapan Khadijah akan menempatinya kembali, mungkin satu tahun lagi, lima atau bahkan sepuluh tahun lagi ?. 'Entah lah'.
Khadijah hanya berharap suatu hari nanti dia akan membawa kembali memori masa kecilnya bersama keluarga nya sendiri di rumah ini.
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Ai Siti Rahmayati
mudah-mudahan Dijah bisa kuliah lagi
2023-12-14
3
Adiba Shakila Atmarini
sedih bngt bcax..
2023-12-10
0
Aisyah Ajamu
Lokor Harahap
2023-12-08
0