BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN

...Mungkin Bukan Hari Ini. Tapi Suatu Saat Nanti...

...☘️...

Masih dalam suasana serius perbincangan Khadijah dengan Umi Amina. Keduanya tampak serius.

"Nduk"

"Ada beberapa pesan dari Abah yang ingin Umi sampaikan padamu Dijah"

Entah apa yang ingin Umi Amina katakan, yang jelas Khadijah sudah sangat siap untuk mendengarkan nya.

“Sekarang ini kan kamu sudah ndak ada siapa-siapa, dan wali Dija sekarang itu Abah"

Mendengar penuturan Umi Amina, Khadijah lantas mengangguk kan kepala nya. Karena semua ucapan wanita paruh baya di sampingnya merupakan benar adanya.

"Abah ingin Dija tetap bahagia”

“Abah berpesan pada Umi, agar Dija tinggal di pesantren saja bersama kami”

Dija menimang kembali ucapan Umi Amina, ada benarnya juga apa yang di Katakan Umi Amina, selain Dija yang tidak akan kesepian ketika di Pesantren, Khadijah juga bisa kembali memperdalam ilmu agama nya. ‘pikir Khadijah’.

“Tapi kamu pertimbangkan saja dulu, Abah dan Umi ndak memaksa”

Abah dan Umi Amina tentu tidak ingin memaksa. Khadijah sendiri juga sudah dewasa dalam pandangan Umi Amina dan Abah Hasim, dan keduanya tidak ingin Khadijah merasa terpaksa atas usulan Abah dan Umi sebelumnya, tentu keputusan sepenuhnya di serahkan pada Khadijah.

Masih memikirkan ucapan Umi Amina sebelumnya, Khadijah mencoba mengambil sisi baik dari ajakan Abah dan Umi nya.

Tentu semua sudah atas pertimbangan matang dan demi kebaikan Khadijah juga. Khadijah sendiri tidak ingin membuat Abah dan Umi lama menunggu keputusan darinya.

Lagi pula mahasiswa tingkat akhir seperti Khadijah, sudah tidak banyak kuliah kecuali praktikum, dan konsul Skripsi saja. Disaat masa pandemi seperti ini kuliah juga lebih banyak Daring.

“Baik Umi, Insyaallah Dija ikut Umi dan Abi saja”

Sudut bibir Khadijah terangkat keatas. Khadija cukup yakin dengan ucapannya.

Untuk hal-hal semacam ini memang Khadijah tidak butuh waktu lama untuk berfikir, karena tentu saran orang tua adalah untuk kebaikan dirinya.

“Baiklah, kalau begitu kamu siapkan semua keperluan dan barang-barang mu ya Nduk, nanti atau besok Abah akan jemput kita” ujar Umi Amina

Khadijah lantas menganggukkan kepala nya, apa pun itu keputusan Abah dan Umi, Khadijah menurut saja.

Setelah cukup berbincang dengan Umi Amina, Khadijah dan sang Umi pun lantas sarapan Bersama, menikmati masakan sederhana hasil tangan Khadijah.

“Kamu pandai masak Nduk” Puji Umi Amina

Khadijah tersipu mendengar pujian dari Umi Amina. Jujur saja rasanya Khadijah sendiri tidak begitu percaya diri dengan rasa masakannya.

7 hari tinggal bersama, mungkin ini pertama kali Umi Amina mencicipi masakan Khadijah. Bukan tanpa alasan, hanya saja hari-hari sebelumnya saudara lain Khadijah yang menyiapkan makanan untuk mereka.

Sarapan telah usai, Sudah tidak ada juga kegiatan lainya di rumah. Sementara beberapa tugas mata kuliah telah menunggu Khadijah.

Di teras rumah. Khadijah memulai dengan membuka Laptopnya. Mengecek beberapa email yang masuk kedalam akun email nya. Benar saja disana banyak terdapat email masuk yang salah satunya dari perusahaan tempat ayahnya bekerja.

Email yang jarang Khadijah dapatkan selain karena alasan beasiswa yang dia daftarkan pada perusahaan tempat Bapaknya dulu bekerja.

Khadijah sedikit penasaran dengan email tersebut. Sebuah email yang dikirim kurang lebih dua hari yang lalu.

‘Tumben. Apa isi nya’ pikir Khadijah

Meski berada di urutan bawah, namun Khadijah memilih untuk membuka email tersebut terlebih dahulu, daripada email baru di atasnya.

Lembaran file terpampang nyata, Kop surat yang jelas menunjukan perusahaan tempat Almarhum Bapaknya dulu bekerja. Jeli mata Khadijah membaca setiap kata yang tertera disana.

Hingga mata Khadija tertuju pada sebuah kalimat di sana.

Deg.

Hati dan pikiran Khadijah seolah belum bisa percaya dengan apa yang baru saja di lihat dan di baca.

‘Pemberhentian Subsidi Pendidikan’ Batin Khadijah

Belum juga Khadijah lupa atas kesedihan karena kepergian orang tuanya, kini Khadijah kembali harus di hadapkan realita nyata dalam kehidupannya.

Cairan bening seketika menggenang di pelupuk mata indah Khadijah, ‘Pemberhentian Subsidi Pendidikan’ itu berarti Khadijah tidak lagi akan mendapatkan beasiswa untuk pendidikannya.

Mengingat biaya Pendidikan yang tidak lah murah , sungguh membuat Khadijah bingung sesaat. Sementara masih tersisa dua semester lagi, ‘pikir Khadijah’.

Jika harus kuliah sambil bekerja juga rasanya tidak mungkin bagi Khadijah, pasalnya tugas kuliah dan tugas Akhir saja sangat menyita waktu nya.

Lelah bergelut dengan pikirannya, Khadijah memilih untuk pasrah.

Khadijah percaya jika kesulitan yang dia tengah hadapi saat ini tentu Allah juga telah menyiapkan solusi.

Khadijah jelas mengingat nasihat ayah dan ibu nya dulu, Tawakal (berserah diri), sesuatu yang selalu di ajarkan oleh keduanya, sebuah keyakinan dan pegangan dalam menjalani kehidupan.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Serta barangsiapa yg bertawakal kepada Allah, maka Dialah yang Mencukupinya” (QS. Ath-Thalaq: 3).

“Nduk, kamu kenapa”

Melihat Khadijah yang tengah termenung dalam lamunannya, Umi Amina lantas mendekati dan bertanya.

Khadijah pun hanya mengangkat sudut bibirnya, jujur dia memang sedang bingung, namun Khadijah bisa apa juka Allah telah menentukan jalan hidupnya. Hingga hanya senyuman lah yang mampu Khadijah berikan pada Umi Amina.

“Beasiswa Dija Umi”

Umi Amina tampak menautkan kedua alisnya, belum paham dengan arah pembicaraan Khadijah.

Beberapa kali Khadijah berusaha menguasai dirinya, dan setelah cukup tenang Khadijah mulai kembali berbicara pada Umi Amina.

“Dija sudah tidak lagi mendapatkan beasiswa dari kantor Bapak”

Umi Amina lanas menghembuskan nafasnya, Umi paham apa yang sedang di rasakan keponakanya.

“Kamu yang sabar ya Nduk, Nanti kita bicarakan sama Abah mu”

Sadar jika saat ini tidak ada orang lain selain Abah dan Umi yang menjadi wali, Khadijah memilih untuk menurut pada keduanya.

Khadijah pun sudah pasrah jika pada akhirnya dia tidak bisa melanjutkan kuliah nya.

Sementara Umi yang memang tidak bisa mengambil keputusan sendiri, memilih untuk mendiskusikan masalah Khadijah bersama Abah.

“Kamu siap-siap sekarang yo Nduk, Abah mau jemput kita sekarang”

Tidak ingin terus larut dalam kesedihannya, Khadijah lantas menutup kembali laptop miliknya, dan memilih untuk bergegas menyiapkan sisa barang yang masih tersisa di rumahnya, karena barang-barang Khadijah lainya berada di rumah Kos Malang.

Sebelum nanti benar-benar Khadijah akan meninggalkan rumah ini, Khadijah ingin sekali menyimpan memori setiap sudut yang begitu banyak kenangan tentang dirinya dengan Almarhum kedua orang tuanya.

Banyak kenangan yang tentu tidak bisa begitu saja khadijah lupakan, terutama tentang rumah ini. Rumah peninggalan Almarhum kedua orang tuanya.

Entah kapan Khadijah akan menempatinya kembali, mungkin satu tahun lagi, lima atau bahkan sepuluh tahun lagi ?. 'Entah lah'.

Khadijah hanya berharap suatu hari nanti dia akan membawa kembali memori masa kecilnya bersama keluarga nya sendiri di rumah ini.

**

Terpopuler

Comments

Ai Siti Rahmayati

Ai Siti Rahmayati

mudah-mudahan Dijah bisa kuliah lagi

2023-12-14

3

Adiba Shakila Atmarini

Adiba Shakila Atmarini

sedih bngt bcax..

2023-12-10

0

Aisyah Ajamu

Aisyah Ajamu

Lokor Harahap

2023-12-08

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. KABAR DUKA
2 BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.
3 BAB 3. NASIHAT ABAH
4 BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN
5 BAB 5. PUTRA ABAH HASIM
6 BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH
7 BAB 7. TUMPANGAN
8 BAB 8. BERTEMU
9 BAB 9. KEMBALI PULANG
10 BAB 10. AKSARA VIRENDRA BRAWIJAYA
11 BAB 11. PERTANGGUNG JAWABAN
12 BAB 12. MENERIMA TAWARAN
13 BAB 13. PERSIAPAN
14 BAB 14. IJAB QOBUL
15 BAB 15. JAKARTA
16 BAB 16. KESAN PERTAMA
17 BAB 17. TERNYATA
18 BAB 18. MEMASAK
19 BAB 19.IBU RUMAH TANGGA
20 BAB 20. PERASAAN DIRGA
21 BAB 21. TAMPARAN
22 BAB 22. PERHATIAN
23 BAB 23. KABAR ABAH
24 BAB 24. KANTOR
25 BAB 25. PERDEBATAN
26 BAB 26. KEPANIKAN
27 BAB 27. PERTEMUAN
28 BAB 28. BERBELANJA BERSAMA
29 BAB 29. CERITA LAMA
30 BAB 30. MEMINTA IZIN
31 BAB 31. TERKEJUT
32 BAB 32. KAMAR AKSARA
33 BAB 33. PENYESALAN
34 BAB 34. TEDUH
35 BAB 35. MALU
36 BAB 36. VISUAL
37 BAB 37. PULANG
38 BAB 38. RUMAH SAKIT
39 BAB 39. Dirga Dan Aksara
40 BAB 40. PULANG
41 BAB 41. DATANG
42 BAB 42. MENGINAP.
43 BAB 43. AISYAH
44 BAB 44. KAMAR KHADIJAH.
45 BAB 45. KERINGAT DINGIN
46 BAB 46. WAKTU SUBUH
47 BAB 47. PAGI
48 BAB 48. OBROLAN PAGI
49 BAB 49. KABAR BAHAGIA.
50 BAB 50. MARISSA
51 BAB 51. TERKEJUT
52 BAB 52. KETEGASAN
53 BAB 53. APARTEMEN
54 BAB 54. MALAM
55 BAB 55. LINGERIE
56 BAB 56. MENGAGUMI
57 BAB 57. SKIN TO SKIN
58 BAB 58. PAGI MENYAPA
59 BAB 59. BERHALANGAN
60 BAB 60. SARAPAN
61 BAB 61. TAMU TAK DI UNDANG
62 BAB 62. PERSETUJUAN
63 BAB 63. GODAAN
64 BAB 64. ISI HATI AKSARA
65 BAB 65. DUA WANITA
66 BAB 66. PERMINTAAN MARISSA
67 BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH
68 BAB 68. MAKAN MALAM
69 BAB 69. MALAM PERTAMA
70 BAB 70. BINCANG
71 BAB 71. KABAR BAHAGIA
72 BAB 72. PETUALANG PAGI
73 BAB 73. MANDI KE DUA
74 BAB 74. RUMAH MAMA
75 BAB 75. BERULAH
76 BAB 76. SALAH PAHAM
77 BAB 77. BERTEMU
78 BAB 78. MAAF
79 BAB 79. RENCANA AKSARA
80 BAB 80. PINDAH
81 BAB 81. BERSIAP
82 BAB 82. MASA LALU
83 BAB 83. PELAKU
84 BAB 84. PECI
85 BAB 85. KEJUTAN
86 BAB 86. BERBADAN DUA
87 BAB 87. SURGA ISTRI
88 BAB 88. RUMAH SAKIT
89 89. PAHALA MEMINTA
90 BAB 90. MUAL
91 BAB 91. KABAR BAIK
92 BAB 92. DEPRESI
Episodes

Updated 92 Episodes

1
BAB 1. KABAR DUKA
2
BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.
3
BAB 3. NASIHAT ABAH
4
BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN
5
BAB 5. PUTRA ABAH HASIM
6
BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH
7
BAB 7. TUMPANGAN
8
BAB 8. BERTEMU
9
BAB 9. KEMBALI PULANG
10
BAB 10. AKSARA VIRENDRA BRAWIJAYA
11
BAB 11. PERTANGGUNG JAWABAN
12
BAB 12. MENERIMA TAWARAN
13
BAB 13. PERSIAPAN
14
BAB 14. IJAB QOBUL
15
BAB 15. JAKARTA
16
BAB 16. KESAN PERTAMA
17
BAB 17. TERNYATA
18
BAB 18. MEMASAK
19
BAB 19.IBU RUMAH TANGGA
20
BAB 20. PERASAAN DIRGA
21
BAB 21. TAMPARAN
22
BAB 22. PERHATIAN
23
BAB 23. KABAR ABAH
24
BAB 24. KANTOR
25
BAB 25. PERDEBATAN
26
BAB 26. KEPANIKAN
27
BAB 27. PERTEMUAN
28
BAB 28. BERBELANJA BERSAMA
29
BAB 29. CERITA LAMA
30
BAB 30. MEMINTA IZIN
31
BAB 31. TERKEJUT
32
BAB 32. KAMAR AKSARA
33
BAB 33. PENYESALAN
34
BAB 34. TEDUH
35
BAB 35. MALU
36
BAB 36. VISUAL
37
BAB 37. PULANG
38
BAB 38. RUMAH SAKIT
39
BAB 39. Dirga Dan Aksara
40
BAB 40. PULANG
41
BAB 41. DATANG
42
BAB 42. MENGINAP.
43
BAB 43. AISYAH
44
BAB 44. KAMAR KHADIJAH.
45
BAB 45. KERINGAT DINGIN
46
BAB 46. WAKTU SUBUH
47
BAB 47. PAGI
48
BAB 48. OBROLAN PAGI
49
BAB 49. KABAR BAHAGIA.
50
BAB 50. MARISSA
51
BAB 51. TERKEJUT
52
BAB 52. KETEGASAN
53
BAB 53. APARTEMEN
54
BAB 54. MALAM
55
BAB 55. LINGERIE
56
BAB 56. MENGAGUMI
57
BAB 57. SKIN TO SKIN
58
BAB 58. PAGI MENYAPA
59
BAB 59. BERHALANGAN
60
BAB 60. SARAPAN
61
BAB 61. TAMU TAK DI UNDANG
62
BAB 62. PERSETUJUAN
63
BAB 63. GODAAN
64
BAB 64. ISI HATI AKSARA
65
BAB 65. DUA WANITA
66
BAB 66. PERMINTAAN MARISSA
67
BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH
68
BAB 68. MAKAN MALAM
69
BAB 69. MALAM PERTAMA
70
BAB 70. BINCANG
71
BAB 71. KABAR BAHAGIA
72
BAB 72. PETUALANG PAGI
73
BAB 73. MANDI KE DUA
74
BAB 74. RUMAH MAMA
75
BAB 75. BERULAH
76
BAB 76. SALAH PAHAM
77
BAB 77. BERTEMU
78
BAB 78. MAAF
79
BAB 79. RENCANA AKSARA
80
BAB 80. PINDAH
81
BAB 81. BERSIAP
82
BAB 82. MASA LALU
83
BAB 83. PELAKU
84
BAB 84. PECI
85
BAB 85. KEJUTAN
86
BAB 86. BERBADAN DUA
87
BAB 87. SURGA ISTRI
88
BAB 88. RUMAH SAKIT
89
89. PAHALA MEMINTA
90
BAB 90. MUAL
91
BAB 91. KABAR BAIK
92
BAB 92. DEPRESI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!