...Jangan Bandingkan Hidupmu Dengan Hidup Orang Lain. Pun, Tidak Ada Perbandingan Antara Matahari dan Bulan, Karena Mereka Akan Bersinar Saat Waktunya Tiba. ...
...☘️...
Khadijah mendongakkan kepalanya, menatap sekilas wajah Aksara yang sepertinya kini menjadikan Khadijah sasaran dari kemarahannya.
"Tanggung jawab ?. Maksud bapak apa ?"
Khadijah yang tidak tahu apa maksud dari ucapan Aksara lantas dengan polosnya bertanya.
Namun belum juga Khadijah mendapatkan jawabannya, Umi Aminah lebih dulu menarik lengan Khadijah dan membawanya berdiri tepat di belakangnya.
"Maaf Pak. Ini hanya ke salah pahaman saja, Dijah tidak tahu apa-apa, Maafkan dia"
Umi Amina yang menyadari situasi kembali tidak terkendali lantas mencoba untuk kembali meredam semua nya. Dan membawa Khadijah untuk berdiri di belakangnya.
Namun bukan menjadi baik, justru suasana kembali tegang tatkala Aksara menampakkan senyum seringainya.
"Lepaskan dia" Titah Aksara.
Telunjuk Aksara mengarah pada Azis yang saat ini tengah di apit oleh para bawahan Aksara.
Tidak hanya Azis saja yang terkejut dengan ucapan Aksara namun para bawahan Aksara pun tidak kalah terkejut mendengar ucapan bos besarnya.
Bagaiman bisa Aksara meminta melepaskan orang yang sudah berbulan-bulan menjadi incaran mereka begitu saja.
"Kalian tidak salah dengar, lepaskan dia !" titah Aksara untuk yang kedua kalinya.
Mendengar ucapan tersebut dua orang bawahan Aksara langsung melepaskan Azis begitu saja tanpa kembali bertanya.
Semua mata tampak tertuju pada Aksara, termasuk Abah dan Umi Amina. Mereka tidak menyangka jika Aksara akan merubah pikirannya.
Hingga senyum umi Amina terlihat lebar menghiasi bibirnya, begitu juga Abah yang terdengar mengucap syukur karena rasa lega di hatinya.
Namun ternyata ada harga dari senyuman mereka.
Aksara tidak begitu saja dan secara cuma-cuma melepaskan Azis begitu saja.
Aksara bukan laki-laki bodoh yang mau saja menerima kata damai dari lawan bicaranya.
"Bawa dia !"
Kini ekor mata Aksara melemparkan pandanganya pada Khadijah.
Mendengar titah Aksara Virendra Brawijaya sontak membuat mata Khadijah melebar sempurna.
'Apa ini' Batin khadijah
Mungkin tidak hanya Khadijah, namun juga Umi dan Abah serta Azis pula yang tampak tidak percaya.
'Kenapa Khadiah, Kenapa justru dia yang akhirnya dibawa oleh Aksara'
Semua orang tampak bingung, begitu juga Khadijah yang saat ini sudah menatap Umi Amina dengan mata berkaca-kaca.
"Pak Aksa. Apa maksud bapak ?"
Azis mencoba mencari kebenaran dari ucapan Aksara sebelumnya.
" Apa kau keberatan?"
Dengan membenarkan jas yang dia kenakan, Aksara terdengar dingin menjawab pertanyaan Azis sebelumnya.
"Aku membebaskanmu, tapi sebagai jaminan nya, dia akan ikut denganku, sampai kalian bisa melunasi semua kerugian perusahaan"
Tidak sedikitpun terlihat keraguan di wajah Aksara. Tatapan tajam nya cukup menegaskan jika dia tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Tapi pak !. Khadijah tidak tahu apa-apa"
Azis mencoba bernegosiasi dengan mantan bos besarnya, namun sepertinya sia-sia saja, siapa yang tidak mengenal Aksara Virendra Brawijaya, dia tidak akan pernah merubah keputusan yang telah dia ambil. Apapun itu resiko nya.
Entah sejak kapan namun sudut mata Khadijah seketika melelehkan cairan bening di sana, entah kesalahan apa yang sudah dia buat sehingga dalam sekejap saja dia mendapatkan ganjaran nya.
"Bawa dia !"
Untuk yang kedua kalinya Aksara memerintahkan bawahannya untuk membawa Khadijah, sekalipun harus memaksa.
Begitu pula Khadijah, melihat dua orang bertubuh besar menghampirinya, sungguh membuat nyalinya ciut begitu saja.
Pikiran Khadijah melayang seketika, memikirkan dia akan tinggal dengan laki-laki yang tidak pernah dia kenal sebelumnya dan laki-laki tersebut tentu bukan mahram nya.
Membayangkan entah sampai kapan Khadijah akan menjalani hukuman atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Cukup membuat Khadijah ingin pingsan saja.
"Tunggu !!"
Belum sampai dua orang bawahan Aksara menyeret paksa Khadijah, Abah lebih dulu menghentikan tindakan mereka.
Dalam kebingungan, Abah tidak bisa membiarkan begitu saja Khadijah menanggung semua beban.
Apa pun resiko nya, Abah tetap akan menghentikan tindakan nekat Aksara yang akan membawa Khadijah.
"Masalah ini tidak ada kaitannya dengan Khadijah, jadi jangan pernah anda libatkan dia dalam masalah putra saya !!"
Sempat terlihat hilang kewibawaan di wajah Abah. Namun saat ini Khadijah melihat betapa gagah Abah mempertahankan dirinya, Agar Aksara tidak membawa paksa dirinya.
Mendengar ucapan Abah, keheningan seketika mendominasi suasana.
Sama dengan Abah. Aksara pun sama, sedikitpun tidak terlihat ketakutan di wajah nya, Aksara masih tetap diam, seolah tengah menantikan kejutan apa yang ingin di perdengarkan.
"Masalah ini bermula dari kesalahan putra saya. Jadi saya sudah ikhlas dan rela jika Anda membawa nya"
"Saya mohon jangan libatkan Khadijah"
Meski dengan mata berkaca-kaca namun Abah sudah benar-benar yakin dengan ucapanya, 'Menyerahkan Azis dan membiarkan putranya mempertanggung jawabkan semua perbuatannya' .
Mungkin memang berat, namun ini merupakan keputusan yang bijak dari sosok Abah yang sudah tidak bisa melihat kesulitan di mata Khadijah.
Mendengar ucapan Abah, Aksara hanya terlihat mengulas senyum kecil di bibir nya. Tidak sampai situ saja, Aksara juga hanya terlihat menganggukkan kepala.
"Jika di pikir-pikir kesalahan tidak bermula dari Azis saja Pak Ustadz!"
"Jika Pak Hakim tidak membawa putra anda masuk kedalam perusahaan saya, maka semua ini tidak akan terjadi"
"Jadi jangan salahkan saya jika dia !. Harus mempertanggungjawabkan kesalahan Orang tuanya !!"
Deg.
Deras sudah Air mata Khadijah, bahkan cadar yang tengah dia kenakan kini sudah basah.
"Umi.." Lirih Khadijah di tengah rasa takutnya.
"Abah"
Mendengar ucapan Aksara Abah dan Umi Amina hanya bisa terdiam seribu bahasa. Sungguh mereka tidak menyangka jika Aksara akan berfikir sampai ke sana.
"Maaf pak !. Tapi saya bukan barang yang bisa anda jadikan jaminan !!"
Dalam ketakutan, Khadijah mencoba meneguhkan keyakinan jika memang dia tidak harus melakukan semua. 'Ini bukan kesalahan nya' pikir Khadijah.
"Maaf !!. Tapi saya menolak Perintah anda !!"
Entah keberanian dari mana , namun Khadijah berusaha mempertahankan dirinya. Karena sejatinya memang ini bukan kesalahan yang harus dia pertanggung jawabkan.
Melihat Khadijah dengan suara tinggi, serta derai air mata yang membasahi pipi. Bukan merasa iba, justru hal itu membuat Aksara ingin tertawa.
Aksara mungkin tengah berfikir jika keluarga Abah tengah memainkan sandiwara, dan Aksara tidak akan masuk kedalam perangkap mereka.
"Maaf keputusan saya tidak bisa diganggu gugat"
Meski telah di rugikan, tapi Aksara tidak lupa untuk menyelipkan kata maaf dalam kalimatnya pada lawan bicara yang tentu usianya lebih tua dari dirinya 'Abah Hasim' .
"Bawa Dia !!"
Untuk yang kesekian kalinya Aksara memerintahkan bawahannya untuk membawa paksa Khadijah.
Sementara Azis yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya menyesali perbuatan nya yang ternyata begitu merugikan keluarganya, tidak hanya Abah dan Umi Amina saja, namun juga ternyata Khadijah pun harus turut menanggung nya.
"Saya Mohon Pak Aksa !. Jangan bawa Khadijah, bawa saja saya !!"
Azis begitu memohon belas kasihan mantan bos nya, namun nyatanya usahanya hanyalah sia-sia saja. Aksara tetap pada pendiriannya.
***
Yuk... Komen nya mana dong. Jangan Lupa Favorit nya ya, supaya ada Notif ketika update Bab baru kakak 🤗🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Anonymous
Kasihan Khodijah anak itu baik sekali shlekhah
2024-02-04
0
Dewi Pratysta
visualnya thor
2023-12-21
2
Budyparyanti
sungguh malang nasib khadijah....harus jadi sandra tuk kesalahan yg tak di lakukan dan dia sendiri tak tahu masalah xa...
2023-12-19
1