...Ini Hanya Tentang Perjalanan. Jangan Dipikirkan Endingnya. Tapi Nikmati Prosesnya...
...☘️...
Suasana malam yang seharusnya tenang dan tentram, namun tidak dirasakan oleh Abah Hasim dan keluarganya, justru malam ini begitu terasa kelam, hanya ada ketegangan dan kepanikan.
"Mas Azis jangan diam saja"
"Katakan sesuatu mas !"
"Jika Mas Azis diam mereka akan menganggap ini sebuah kebenaran !!"
Khadijah masih berbaik sangka, jika semua kejadian ini hanya lah kesalahpahaman semata.
Namun seketika wajah Khadijah berubah pucat, tatkala laki-laki di hadapan Abah melemparkan sebuah dokumen yang berisikan semua bukti kejahatan kakak nya.
Sejumlah mutasi uang ke beberapa rekening yang jelas atas nama kakak nya. Tidak hanya itu saja namun juga sepertinya Kakaknya telah mempergunakan uang tersebut untuk kegiatan haram di luar sana.
Beberapa salinan tiket perjalanan ke Hongkong juga turut menjadi bukti atas tindakan kriminal kakak nya.
Dan sepanjang yang Khadijah tahu, Azis telah menggelapkan uang perusahaan dan dia pergunakan untuk judi di sebuah kasino terkenal di Hongkong.
Khadijah yang awalnya berjongkok di depan Umi Amina, kini hanya bisa tertunduk lemas, tidak percaya jika inilah kebenaran dan merupakan jawaban dari pertanyaan yang selama ini selalu Khadijah simpan dalam-dalam.
Dan ini pula lah yang menjadi alasan diam nya Umi dan Abi saat ini, keduanya terlihat hanya bisa tertunduk dengan rasa malu nya.
Khadijah begitu paham dengan perasaan keduanya, memikirkan bagaimana cara mereka mengganti uang itu saja rasa-rasanya sudah begitu memusingkan kepala, belum lagi jika nanti banyak santri yang mengetahui masalah ini.
"Bagaimana Pak Ustadz apakah ada penawaran lain?"
Sosok laki-laki di hadapan Abah Hasim lantas kembali bertanya.
"Em. Atau begini ! pesantren ini saja sebagai gantinya, meski saya pikir ini tidak akan cukup untuk mengganti kerugian saya, tapi tidak masalah karena mungkin hanya ini yang kalian punya !!"
"Pak Aksara !!, Saya mohon jangan libatkan pesantren Abah saya !"
Setelah sekian banyak kata dan perdebatan yang ada, barulah Khadijah mendengar kakak nya memohon pada lawan bicara nya. Azis terlihat begitu tidak berdaya berhadapan dengan mantan Bos besarnya tersebut.
Sosok Laki-laki yang terlihat berbeda dari laki-laki lain nya. Secara Fisik dan wajah bisa dibilang diatas standar ketampanan orang-orang Indonesia, juga dia terlihat begitu mencolok jika di bandingkan dengan yang lainya.
Belakangan di ketahui jika dia merupakan sosok nomer 1 di tempat Azis bekerja, itu berarti dia juga yang merupakan Bos di tempat orang tua Khadijah bekerja.
' Aksara Virendra Brawijaya'
CEO sekaligus pemegang saham tertinggi di perusahaan AVB. Perusahaan yang bergerak di bidang Properti, tidak hanya di Indonesia namun AVB juga telah melebarkan sayapnya di berbagai negara di belahan dunia, yang diantaranya ada di Dubai, Australia dan yang terdekat adalah Malaysia.
"Saya mohon pak"
"Saya akan mempertanggung jawabkan semua kesalahan saya"
"Tolong jangan libatkan Pesantren ataupun orang tua saya"
Azis begitu memohon dan berharap pada belas kasihan dari mantan Bos besarnya tersebut.
Mendengar permohonan dari Azis, agaknya hanya terlihat senyum seringai di bibirnya Aksara. Mungkin saja dia juga sudah begitu kecewa dan tidak lagi ingin mempercayai ucapan lawan bicara nya.
"CK"
"Baiklah !. Jika begitu saya pastikan kamu akan mendekam dalam waktu yang lama !!"
Mendengar ucapan Aksara spontan Abah dan Umi Amina saling pandang, keduanya tidak kuasa menahan kesedihan dalam dada. Membayangkan putra Sulungnya akan berada di balik jeruji besi.
"Pak Saya Mohon, Tidak bisakah Bapak memberi kesempatan pada kami " mohon Abah pada Aksara.
Tidak seperti Abah yang Khadijah kenal sebelumnya, Jika biasanya Abah selalu bijaksana dan penuh wibawa, namun kini, Abah seolah orang bersalah yang memohon belas kasihan atas nama putra nya, memohon pada sosok laki-laki yang umurnya saja terpaut jauh dengan dirinya.
"CK"
"Maaf pak Ustadz, Bukan saya meremehkan"
"Tapi kesempatan apa yang pak Ustadz minta ?"
"Kalaupun pun kalian berniat mengangsur, mau lunas berapa tahun pak Ustadz?"
Aksara terlihat menggelengkan kepalanya, di iringi dengan tawa kecil di bibirnya.
Sementara Khadijah yang mendengar penuturan Abah, meski dinilai tidak masuk akal, namun hal itu lumrah dilakukan oleh orang tua pada anaknya, Khadijah yakin tidak hanya Abah saja, tapi hal itu tentu juga akan banyak di lakukan oleh orang tua di luar sana.
Namun Khadijah juga membenarkan ucapan Aksara sebelumnya, jika di cicil pun rasa-rasanya akan butuh waktu yang sangat lama untuk melunasi uang sebanyak itu.
Suasana tampak hening setelah tidak adanya kesepakatan diantara kedua belah pihak.
"Bawa dia !" Titah Aksara.
Beberapa orang yang sebelumnya memegang Azis kini bersiap menyeretnya keluar dan membawa nya pergi.
Umi dan Abah hanya bisa meratapi dan menyesali semua yang terjadi, segala upaya dan usaha telah mereka lakukan demi menebus kesalahan Azis pada perusahaan.
Namun Abah dan Umi sadar kesalahan putranya tetap harus mendapatkan ganjarannya.
Melihat kesedihan di wajah Abah dan Umi Amina, Khadijah begitu tidak tega melihatnya. Terlebih dalam kasus ini nama baik Pesantren menjadi taruhannya.
Entah keberanian dari mana Khadijah begitu nekat menghadang langkah Aksara yang akan meninggalkan kediaman Abah dan Umi Amina. Jujur saja Khadijah masih tidak rela jika masalah ini harus berakhir di jeruji besi.
"Saya mohon Pak. Beri kami kesempatan"
Mungkin saja saat ini Khadijah sudah merelakan harga diri dan rasa malu nya, berlutut di hadapan seorang Aksara Virendra Brawijaya.
Melihat keberanian Khadijah, Aksara terlihat biasa saja. Meski mungkin ini juga baru pertama kalinya ada seorang wanita yang berani menentang dirinya.
Terlebih wanita yang berani menentang Aksara adalah wanita seperti Khadijah, wanita yang selalu dianggap lemah. Wanita yang menutupi dirinya dengan baju besar dan cadar, bagi Aksara mungkin saja Khadijah tengah menutupi kekurangan dalam dirinya, atau mungkin saja memainkan peran cosplay ninja.
Khadijah sedikit memundurkan badanya, tatkala menyadari tatapan tajam dari Aksara yang cukup membuatnya bergidik ngeri.
Entah apa yang tengah di bicarakan, namun Khadijah menangkap seorang asisten membisikan sesuatu pada Aksara. Bahkan Khadijah juga melihat senyum yang tidak bisa di artikan dari sosok laki-laki dihadapannya.
Tidak mendapatkan tanggapan dari permohonan Khadijah sebelumnya, justru saat ini Khadijah kembali mendengar tepuk kan tangan dari Aksara.
"Jadi kamu anak Pak Hakim rupanya ?"
"Gadis yang bisa kuliah karena beasiswa perusahaan ?"
Deg.
Khadijah tampak tidak percaya Aksara menyebutkan nama orang tuanya dalam masalah ini. Untuk sesaat Khadijah terdiam dalam lamunan dan rasa takut nya.
Meski wajahnya selalu menunduk, namun Khadijah tahu jika Aksara saat ini tengah menertawakan dirinya, entah karena sebab apa.
"Kamu tahu kenapa beasiswa mu di cabut ?"
Mendengar pertanyaan Aksara, Khadiah hanya bisa menggeleng dengan menundukkan wajahnya.
"Karena Orang tuamu lah. Koruptor ini ada di perusahaan ku !!"
Aksara berbicara dengan menunjuk Azis sebagai sasarannya.
Tidak sampai di situ Aksara kembali menatap tajam Khadijah.
"Bukankah seharusnya kau juga bertanggung jawab jika begitu ?" Tegas Aksara pada Khadijah.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Hairiah Kamilah
kayaknya djijah bakalan jd istri aksara
2023-12-08
3
Mami Pihri An Nur
Makanya,, Dr dulu aku krja diluar negeri mjkn atw klrga mjkn ku minta sm aku minta pmbntu Bru Dr klrga ku atw tmnku, aku sllu jwb tdk mau, krn aku takut ky gitu, aplgi mjkn ku baik tp jua blm tentu baik bgi orng lain,, krn nasib kita itu tak sma, walaupun kita Satu mjkn kdng kita tak senasib baik
2023-10-12
0
AR Althafunisa
Kan begitu, kita bekerja dengan baik terus ngajak orang lain untuk bekerja di tempat kita bekerja. Dan akhirnya orang yang kita ajak, klo ga mempermalukan karena pekerjaannya yg buruk klo ga kitanya yg dijatuhkan 😌
2023-10-10
0