...Untuk keburukan yang saat ini menimpamu, Dan untuk rasa sakit yang sampai saat ini belum sembuh, Percayalah bahwa semua luka akan kering pada masanya, Selama kau gantungkan harapanmu hanya Kepada Nya...
...☘️...
Melihat sudah tidak ada lagi peluang dari kesempitan yang selalu menyudutkan. Khadijah kembali memilih untuk pasrah.
Hingga dua orang bawahan Aksara mendekat dan ingin meraih pergelangan tangannya.
"Stop !!"
Khadijah menghentikan langkah keduanya. Dan mengangkat kedua telapak tangannya.
"Saya bisa jalan sendiri"
Kalimat yang pada akhirnya keluar dari mulut Khadijah.
Dengan mata yang kembali berkaca-kaca, karena Kata sudah tidak lagi bisa mewakili rasa.Pada akhirnya Khadijah telah siap jika memang dirinya akan menebus semua kesalahan yang tidak pernah di lakukan nya, hanya satu alasan Khadijah. Khadijah tidak ingin nama orang tua nya yang telah tidak ada turut di bawa dan di jadikan sasaran atas kemarahan Aksara.
Melihat begitu saja Khadijah menyerahkan dirinya, Umi Amina lantas menangis sejadi-jadinya, dia tidak rela jika Khadijah harus di bawa begitu saja.
"Dijah. Jangan lakukan ini !"
Umi berharap jika semua bisa kembali, namun agaknya harapannya terlalu tinggi, Khadijah hanya bisa pasrah.
Tidak hanya Umi Amina, namun juga Abah yang sesaat terdiam dengan rasa tidak percaya.
"Tunggu !!"
Langkah Aksara dan bawahannya terhenti, tatkala Abah kembali mengehentikan mereka.
Aksara yang sudah berdiri di ambang pintu, lantas memutar badan nya dan kembali menatap Abah dengan tatapan dingin nya.
"Jika Memnag Pak Aksa ingin membawa Khadijah. Saya akan merelakannya. Tapi sebelum itu ada satu permintaan saya !"
Semua mata tampak tertuju pada Abah, Begitu juga Aksara yang tidak menyangka masih ada saja keberanian Abah untuk menghentikan langkah nya.
Namun mendengar ucapan Abah , tidak lantas membuat Aksara murka, justru dia ingin mendengar permintaan apa yang masih berani Abah minta dari dirinya.
"Tolong Muliakan Khadijah sebelum pak Aksa membawa nya"
Deg.
Dua Bola mata Khadijah membulat sempurna, mendengar kalimat Abah, yang jelas dia tahu apa maksud nya.
Begitu juga dengan Umi Amina dan Azis yang berdiri di belakang Abah, keduanya tampak saling pandang, tidak percaya dengan apa yang di katakan Abah Hasim pada Aksara.
Namun berbeda dengan Khadijah, Umi dan Azis yang tahu maksud nya. Aksara justru menautkan kedua alisnya, dan benar saja Aksara tidak paham dengan apa yang sebenarnya diminta Abah Hasim pada dirinya.
"Pak Ustadz !. Kalau bicara yang pasti-pasti saja !"
"Katakan apa keinginan Anda !!"
Dengan tatapan dingin dan nada bicara tegas nya Aksara katakan itu pada Pendiri sekaligus pemimpin pesantren Darul Qur'an.
"Nikahi Khadijah !"
Jika tadi Khadijah, kini justru Aksara yang membulatkan kedua bola mata nya. Menatap tidak percaya pada lawan bicaranya.
Sungguh ucapan Abah mampu membuat Aksara terdiam untuk sesaat.
Aksara lantas menghela nafas panjang dan mengendurkan dasi yang dia kenakan. 'Menikah' batin Aksara.
"CK"
"Apa lagi ini pak Ustadz?"
Aksara yang memang tidak paham agama hanya tertawa atas permintaan Abah Hasim sebelumnya.
"Saya tidak bercanda Pak Aksa !. Nikahi Khadijah sebelum Anda membawa nya !"
Tegas dan jelas Abah mengatakan itu pada Aksara, dan seketika ucapan tersebut kembali membuat kepala Aksara berdenyut kencang rasa nya.
"Abahh ???"
Belum juga Aksara menjawab permintaan Abah, panggilan Khadijah seketika mengalihkan pandangan Abah pada nya.
Jelas di dalam pelupuk mata Abah, betapa Khadijah sangat tidak percaya dengan apa yang sebelumnya dia katakan pada Aksara.
"Abah ?. Apa maksud Abah dengan meminta dia menikahi Dijah ?"
Dengan mata berkaca-kaca Khadijah bertanya, jujur saja dia tidak menyangka jika ini keputusan yang benar-benar akan dia terima.
Meski lirih namun Aksara dapat mendengar dengan jelas Khadijah bertanya itu pada Abah nya.
Abah hanya diam dengan menganggukkan kepala, meski Abah tahu Khadijah menuntut jawaban atas pertanyaannya, namun Abah hanya berusaha membuat keadaan tidak semakin buruk kedepannya.
Melihat diamnya Abah, Khadijah lantas hanya bisa kembali menundukkan wajahnya, menyimpan derai air mata yang seolah tidak pernah ada habis nya.
Khadijah percaya tidak mungkin Abah melakukan ini jika bukan tanpa alasan di dalam nya. Untuk masalah ini mungkin menurut dan pasrah menjadi solusi bagi Khadijah.
Kini semua mata tertuju pada Aksara yang masih saja diam sejak terakhir kali Abah mengatakan keseriusannya meminta Aksara menikahi Khadijah.
Harapan agar Aksara menolak permintaan Abah mungkin saja ada dalam benak dan pikiran Khadijah. Namun Khadijah pun tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya berdoa dan mengikuti alur dari Sang Maha Kuasa.
"Baiklah !"
"Saya akan menikahi dia !"
"Hari ini. Dan saat ini Juga !"
Tegas dan begitu jelas Aksara mengatakan kesungguhan nya untuk menikahi Khadijah di hadapan Abah dan Umi Amina.
Mendengar kesungguhan Aksara, jujur saja membuat Abah dan yang lainya tidak percaya, jika Aksara akan begitu saja menerima tanpa memikirkan terlebih dahulu tawaran Abah sebelum nya.
Sementara Khadijah semakin pula menundukkan kepala nya, menyadari jika orang seperti Aksara Memang tidak pernah main-main dalam ucapannya.
Melihat reaksi diam nya Abah, lantas membuat Aksara kembali bertanya.
"Bagaimana pak Ustadz?"
"Apa tawaran tadi hanya rencana pak Ustadz untuk mengelabuhi saya saja ?"
Aksara memang selalu berpikir dari sudut pandangnya saja tanpa memikirkan bagaimana pandangan agama. Hal itu tentu karena dia yang memang minim akan pengalaman agama.
"Tidak. Saya juga tidak pernah mempermainkan Sakralnya sebuah ikatan"
Tidak hanya Aksara saja yang berbicara dengan keyakinan di wajah nya, namun Abah pun juga sama tidak sedikitpun terlihat keraguan di wajah tua Abah Hasim.
"Baiklah. Jika begitu"
"Nikahkan Kami !"
"Karena saya tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu !"
Terdengar enteng dan mudah sekali Aksara mengatakan semua itu pada lawan bicara nya.
Mendengar ucapan yang bernada tantangan dari Aksara sekaligus calon menantu nya, Abah hanya bisa menghembuskan nafasnya dalam-dalam saja.
Karena sejatinya Abah menikahkan Khadijah bukan sebagai penebusan dosa atau jaminan atas kesalahan putranya, namun lebih pada menjaga Maruah Khadijah agar terhindar dari segala fitnah.
"Kami perlu melakukan persiapan. Saya harap Anda bisa meluangkan sedikit waktu untuk menunggu !"
Abah sudah dengan keyakinan penuh di hatinya, mengatakan jika dia siap untuk menikahkan Khadijah dengan Aksara.
Melihat Khadijah dengan kebingungan dan kepanikan, Umi Amina lantas membawanya masuk kembali dan membawa Khadijah menuju kamarnya.
Hening.
Setibanya di kamar, Khadijah lantas meluapkan semua rasa di dalam dada Umi Amina. Khadijah tidak membutuhkan apa pun selain doa dan pelukan Umi Amina untuk dirinya.
"Umi .."
Bergetar suara Khadijah memikirkan pernikahan ini akan menjadi seperti apa nanti nya.
Sungguh semua terjadi diluar kendali Manusia, Khadijah meyakini jika semua terjadi memang karena takdir Allah yang telah menggariskan semua untuk diri nya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Anonymous
Semoga Khotijah bahagia sampai janahnya
2024-02-04
2
Budyparyanti
bismillah ....semoga kedepan xa khadijah bernasib baij,karna hanya Allah lah yg menggenggam hati setiap insan
2023-12-19
3
Hairiah Kamilah
gara2 aziz
2023-12-08
0