...Jadilah Obat Bagi Dirimu Sendiri. Jangan Meminta orang Lain Untuk Menjadi Obat Bagi Mu...
...☘️...
Lingkungan Pesantren tampak sejuk dan Asri, selain karena berada di daerah pedesaan juga karena tempat tersebut tergolong daerah pegunungan.
Perjalanan menuju Pesantren tidak begitu jauh, hanya butuh waktu kurang dari 1 jam, mereka telah sampai pada tempat tujuan.
“Nduk kamu ikut Umi ya, Umi tunjukan kamar mu” Ajak Umi Amina
Setibanya mereka di Pesantren Umi Amina lantas membawa Khadijah untuk beristirahat di kamarnya. Mendengar ajakan Umi Amina Khadija hanya menurut dan mengekor di belakangnya.
Sejujurnya Umi dan Abah cukup bahagia dengan keberadaan Khadijah, pasalnya mereka tidak memiliki anak perempuan. Ketiga anak mereka merupakan laki-laki semua Mas Umar, Mas Ali, dan Mas Aziz, begitu kerap Khadijah memanggilnya.
Dua anak Abah Hasim dan Umi Amina telah menikah.
Mas Umar memilih tinggal di Kairo Bersama istrinya, tentu karena pekerjaan yang juga berada di sana, sementara Mas Ali memilih tinggal di ibukota Bersama sang istri, juga karena alasan pekerjaan yang ada di Jakarta.
Sementara Mas Azis merupakan anak terakhir Abah Hasim dan Umi Amina yang belum menikah.
Berjalan bersama Umi Amina menuju kamar yang ingin di tunjukkan nya. Khadijah meneliti setiap ruang di rumah ini, masih sama seperti terakhir kali Khadijah kesini, terlihat begitu Asri dan bersih. Ventilasi yang cukup banyak membuat udara rumah ini begitu terasa segar.
“Ini kamar Mas Umar, sementara kamarmu belum jadi, kamu di sini dulu ya Nduk”
“Iya Umi”
Khadijah tidak lupa mengangguk kan kepala dan mengulas senyum terbaiknya.
Khadijah merasa mulai betah tinggal di sini, suara santri-santri diluar sana yang tengah murojaah begitu terdengar merdu, membuat Khadijah lupa akan kesedihan yang tengah di rasakan.
Jujur saja suasana pesantren semacam ini sudah tidak lagi Khadijah rasakan sejak dirinya lulus MA (Madrasah Aliyah), karena Khadijah memilih meneruskan Kuliah di Malang dengan jurusan Kedokteran.
Khadijah masih berkeliling melihat kamar yang tampak sepi dan tidak terlihat satu barang pun milik Mas Umar tertinggal di sana.
Kasur yang tampak bersih karena sepertinya sebelum Khadijah datang, Abah telah meminta seseorang untuk membersihkannya.’Pikir Khadijah’
“Umi tinggal ya, Nanti kalau ada apa-apa kamu bisa cari Umi”
Umi Amina bergegas keluar dari kamar Khadijah, membiarkan keponakanya untuk beristirahat, meski hanya sekedar untuk merebahkan tubuhnya.
**
Suara Adzan berkumandang .
Sendakala juga telah menampakkan pesonanya, suasana desa nan asri membuat Khadijah lupa jika dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya.
Seperti kebiasaan sebelumnya, dan memang sudah sejak lama, semua penghuni Pesantren akan melaksanakan sholat berjamaah di masjid, tidak terkecuali Khadijah dan seluruh keluarga Abah Hasim.
Masjid yang hanya satu satunya, menjadi Masjid yang di gunakan untuk aktifitas santri putra dan putri.
Namun meski di gunakan bersama, tetap di dalamnya ada pembatas dinding sebagai pemisah antara santri putra dan santri putri. Sudah begitu sejak dulu dan bahkan sejak sebelum Khadijah belajar di pesantren itu.
Meski sudah mengalami beberapa kali renovasi namun gaya dan bentuknya masih sama saja 'batin Khadija'
Bersama Umi Amina, Khadijah berjalan keluar rumah menuju masjid yang letaknya tidak begitu jauh.
Khadijah mengedarkan pandanganya, melihat ke sekeliling pesantren yang masih tampak sama dengan saat dulu dia tinggal, bedanya hanya dulu dia tinggal di asrama, dan sekarang dia tinggal di rumah Abah dan Umi, itu saja.
Terdapat beberapa bangunan baru pula tampaknya, dan Khadijah tidak tahu tempat apa itu.
**
Selepas magrib menjadi waktu paling di nanti bagi para santri, selain waktunya untuk beristirahat, juga saat itu merupakan waktu bagi mereka untuk mendapatkan amunisi untuk perut mereka.
Bagi para satri yang memang tinggal di Asrama, mereka akan mendapatkan jatah makan tiga kali dalam sehari, sarapan Pagi di jam 8 atau saat santri telah selesai dengan kegiatan pagi, Siang selepas Sholat Dzuhur , dan Malam selepas Sholat Magrib.
Ya. Jatah makan memang selalu di bagikan di saat-saat yang telah di tentukan, dan sudah menjadi kebiasaan sejak dulu.
Santri sendiri tidak dilarang untuk membawa makanan atau membeli makanan dan di simpan dalam Asrama, karena berkaitan dengan makanan Abah dan Umi membebaskannya.
Khadijah cukup bahagia, selain banyak teman,di sini Khadijah juga bisa sedikit menghibur diri dengan membantu kegiatan para santri mengaji.
Mengingat Khadijah yang juga merupakan santri berprestasi, cukup membuat Abah Hasim percaya pada Khadijah dalam membantu para santri putri dalam belajar mengaji.
Perjalanan pulang dari Masjid kini Khadiah ditemani Abah. Karena Umi Amina telah lebih dulu pulang karena sebuah urusan.
“Abah”
Dibawah temaram cahaya rembulan, Khadijah berjalan bersama Abah Hasim. Selesai dengan kegiatan kajian malam keduanya bersama berjalan pulang.
“Iya Nduk” jawab Abah.
Suara parau pria paruh baya disamping Khadijah selalu membuatnya ingat akan sosok Almarhum orang tua nya.
“Kamu mau tanya apa?” Ujar Abah
Khadijah tampak mengulas senyum di balik cadar yang tengah dia kenakan. Keduanya lantas duduk bersama di teras rumah utama.
“Nggak Bah"
Khadijah kembali tersenyum. Sejujurnya tidak begitu penting, hanya saja sepertinya Khadijah begitu penasaran.
"Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan Dijah"
Khadijah lantas mengulas senyum dibalik cadar nya.
"Dijah cuma mau tanya Mas Azis saja Bah."
"Kok rasa-rasanya, sejak Dijah disini Dijah belum melihat keberadaan Mas Azis?”
Khadijah tampak menanyakan keberadaan saudara sepupunya yang merupakan anak ke tiga Abah Hasim dan Umi Amina.
Dari pertanyaan yang dia tanyakan pada Abah, agaknya Khadijah melihat perubahan di wajah pria paruh baya di samping nya. Hingga helaan nafas berat pun Khadijah dengar keluar dari mulutnya.
“Mas mu itu kemarin baru di pecat.”
Mendengar penuturan Abah Hasim, jujur saja Khadijah sedikit terkejut, ‘dipecat’ batin Khadijah, namun tidak sampai hati Khadijah bertanya lagi apa masalahnya.
“Lalu sekarang Mas Azis dimana Bah?”
Pertanyaan yang pada akhirnya keluar dari mulut Khadijah.
“Di Malang.
"Baru 3 bulan yang lalu dia dapat kerja baru”
Mendengar jawaban Abah Hasim, Khadijah hanya mengangguk-angguk kan kepala nya saja. Jujur saja Khadiah memang tidak tahu.
“Abah itu bener-bener bingung sama Mas mu itu”
Raut sedih jelas terlihat di wajah Abah Hasim, dan Khadijah pun sedikit banyak paham apa yang tengah di rasakan oleh Abah nya itu.
Dari dulu Azis memang berbeda dari dua saudara lainya. Jika Umar dan Ali sibuk belajar untuk mencari beasiswa. Lain halnya dengan Azis yang justru sibuk main sana sini.
Dalam dunia kerja pun sama, Umar dan Ali memilih mendedikasikan dirinya di pesantren untuk mengabdi dan mengajar, meski bukan di pesantren milik Abah Hasim. Hal-hal semacam itu juga tidak berlaku bagi Azis.
Saat dua kaka nya sibuk belajar dan bekerja, Azis justru lebih suka hura-hura, kelayapan, tidak jelas arah dan tujuan nya.
Beruntung berkat orang tua Khadijah Azis bisa di terima bekerja di perusahaan besar AVB yang di gawangi oleh CEO muda bernama Arkana Virendra Brawijaya. Itu semua juga berkat Rekomendasi dari Orang tua Khadijah saat itu.
Orang tua Khadijah yang telah bekerja lama di perusahaan AVB sehingga bisa mudah saja merekrut Azis sebagai pekerja di sana.
Karena sebab itu pula lah Khadijah sedikit terkejut dengan pemecatan yang terjadi pada kakak sepupunya.
“Sabar Bah. Kita doakan saja Mas Azis agar cepat sadar”
Meski masih ada banyak pertanyaan di kepala Khadijah, untuk sesaat dia berusaha meredam nya. Mengingat wajah Abah yang sudah tidak baik-baik saja ketika membicarakan soal putra sulungnya.
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Budyparyanti
kq di awal di jelaskan kalau aziz yg terakhir tapo di padt ini aziz justru anak sulung....mana yg benar neh thor😁
2023-12-19
0
Kustri
py tho perusahaan koq gitu, yg berhub dgn bp'a dija smua diputus😩😤
2023-12-08
3
Sugiharti Rusli
wah apa ada hubungan penghentian beasiswa Khadijah dengan dipecatnya si Azizi ini yah,,,
2023-09-09
0