BAB 5. PUTRA ABAH HASIM

...Jadilah Obat Bagi Dirimu Sendiri. Jangan Meminta orang Lain Untuk Menjadi Obat Bagi Mu...

...☘️...

Lingkungan Pesantren tampak sejuk dan Asri, selain karena berada di daerah pedesaan juga karena tempat tersebut tergolong daerah pegunungan.

Perjalanan menuju Pesantren tidak begitu jauh, hanya butuh waktu kurang dari 1 jam, mereka telah sampai pada tempat tujuan.

“Nduk kamu ikut Umi ya, Umi tunjukan kamar mu” Ajak Umi Amina

Setibanya mereka di Pesantren Umi Amina lantas membawa Khadijah untuk beristirahat di kamarnya. Mendengar ajakan Umi Amina Khadija hanya menurut dan mengekor di belakangnya.

Sejujurnya Umi dan Abah cukup bahagia dengan keberadaan Khadijah, pasalnya mereka tidak memiliki anak perempuan. Ketiga anak mereka merupakan laki-laki semua Mas Umar, Mas Ali, dan Mas Aziz, begitu kerap Khadijah memanggilnya.

Dua anak Abah Hasim dan Umi Amina telah menikah.

Mas Umar memilih tinggal di Kairo Bersama istrinya, tentu karena pekerjaan yang juga berada di sana, sementara Mas Ali memilih tinggal di ibukota Bersama sang istri, juga karena alasan pekerjaan yang ada di Jakarta.

Sementara Mas Azis merupakan anak terakhir Abah Hasim dan Umi Amina yang belum menikah.

Berjalan bersama Umi Amina menuju kamar yang ingin di tunjukkan nya. Khadijah meneliti setiap ruang di rumah ini, masih sama seperti terakhir kali Khadijah kesini, terlihat begitu Asri dan bersih. Ventilasi yang cukup banyak membuat udara rumah ini begitu terasa segar.

“Ini kamar Mas Umar, sementara kamarmu belum jadi, kamu di sini dulu ya Nduk”

“Iya Umi”

Khadijah tidak lupa mengangguk kan kepala dan mengulas senyum terbaiknya.

Khadijah merasa mulai betah tinggal di sini, suara santri-santri diluar sana yang tengah murojaah begitu terdengar merdu, membuat Khadijah lupa akan kesedihan yang tengah di rasakan.

Jujur saja suasana pesantren semacam ini sudah tidak lagi Khadijah rasakan sejak dirinya lulus MA (Madrasah Aliyah), karena Khadijah memilih meneruskan Kuliah di Malang dengan jurusan Kedokteran.

Khadijah masih berkeliling melihat kamar yang tampak sepi dan tidak terlihat satu barang pun milik Mas Umar tertinggal di sana.

Kasur yang tampak bersih karena sepertinya sebelum Khadijah datang, Abah telah meminta seseorang untuk membersihkannya.’Pikir Khadijah’

“Umi tinggal ya, Nanti kalau ada apa-apa kamu bisa cari Umi”

Umi Amina bergegas keluar dari kamar Khadijah, membiarkan keponakanya untuk beristirahat, meski hanya sekedar untuk merebahkan tubuhnya.

**

Suara Adzan berkumandang .

Sendakala juga telah menampakkan pesonanya, suasana desa nan asri membuat Khadijah lupa jika dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya.

Seperti kebiasaan sebelumnya, dan memang sudah sejak lama, semua penghuni Pesantren akan melaksanakan sholat berjamaah di masjid, tidak terkecuali Khadijah dan seluruh keluarga Abah Hasim.

Masjid yang hanya satu satunya, menjadi Masjid yang di gunakan untuk aktifitas santri putra dan putri.

Namun meski di gunakan bersama, tetap di dalamnya ada pembatas dinding sebagai pemisah antara santri putra dan santri putri. Sudah begitu sejak dulu dan bahkan sejak sebelum Khadijah belajar di pesantren itu.

Meski sudah mengalami beberapa kali renovasi namun gaya dan bentuknya masih sama saja 'batin Khadija'

Bersama Umi Amina, Khadijah berjalan keluar rumah menuju masjid yang letaknya tidak begitu jauh.

Khadijah mengedarkan pandanganya, melihat ke sekeliling pesantren yang masih tampak sama dengan saat dulu dia tinggal, bedanya hanya dulu dia tinggal di asrama, dan sekarang dia tinggal di rumah Abah dan Umi, itu saja.

Terdapat beberapa bangunan baru pula tampaknya, dan Khadijah tidak tahu tempat apa itu.

**

Selepas magrib menjadi waktu paling di nanti bagi para santri, selain waktunya untuk beristirahat, juga saat itu merupakan waktu bagi mereka untuk mendapatkan amunisi untuk perut mereka.

Bagi para satri yang memang tinggal di Asrama, mereka akan mendapatkan jatah makan tiga kali dalam sehari, sarapan Pagi di jam 8 atau saat santri telah selesai dengan kegiatan pagi, Siang selepas Sholat Dzuhur , dan Malam selepas Sholat Magrib.

Ya. Jatah makan memang selalu di bagikan di saat-saat yang telah di tentukan, dan sudah menjadi kebiasaan sejak dulu.

Santri sendiri tidak dilarang untuk membawa makanan atau membeli makanan dan di simpan dalam Asrama, karena berkaitan dengan makanan Abah dan Umi membebaskannya.

Khadijah cukup bahagia, selain banyak teman,di sini Khadijah juga bisa sedikit menghibur diri dengan membantu kegiatan para santri mengaji.

Mengingat Khadijah yang juga merupakan santri berprestasi, cukup membuat Abah Hasim percaya pada Khadijah dalam membantu para santri putri dalam belajar mengaji.

Perjalanan pulang dari Masjid kini Khadiah ditemani Abah. Karena Umi Amina telah lebih dulu pulang karena sebuah urusan.

“Abah”

Dibawah temaram cahaya rembulan, Khadijah berjalan bersama Abah Hasim. Selesai dengan kegiatan kajian malam keduanya bersama berjalan pulang.

“Iya Nduk” jawab Abah.

Suara parau pria paruh baya disamping Khadijah selalu membuatnya ingat akan sosok Almarhum orang tua nya.

“Kamu mau tanya apa?” Ujar Abah

Khadijah tampak mengulas senyum di balik cadar yang tengah dia kenakan. Keduanya lantas duduk bersama di teras rumah utama.

“Nggak Bah"

Khadijah kembali tersenyum. Sejujurnya tidak begitu penting, hanya saja sepertinya Khadijah begitu penasaran.

"Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan Dijah"

Khadijah lantas mengulas senyum dibalik cadar nya.

"Dijah cuma mau tanya Mas Azis saja Bah."

"Kok rasa-rasanya, sejak Dijah disini Dijah belum melihat keberadaan Mas Azis?”

Khadijah tampak menanyakan keberadaan saudara sepupunya yang merupakan anak ke tiga Abah Hasim dan Umi Amina.

Dari pertanyaan yang dia tanyakan pada Abah, agaknya Khadijah melihat perubahan di wajah pria paruh baya di samping nya. Hingga helaan nafas berat pun Khadijah dengar keluar dari mulutnya.

“Mas mu itu kemarin baru di pecat.”

Mendengar penuturan Abah Hasim, jujur saja Khadijah sedikit terkejut, ‘dipecat’ batin Khadijah, namun tidak sampai hati Khadijah bertanya lagi apa masalahnya.

“Lalu sekarang Mas Azis dimana Bah?”

Pertanyaan yang pada akhirnya keluar dari mulut Khadijah.

“Di Malang.

"Baru 3 bulan yang lalu dia dapat kerja baru”

Mendengar jawaban Abah Hasim, Khadijah hanya mengangguk-angguk kan kepala nya saja. Jujur saja Khadiah memang tidak tahu.

“Abah itu bener-bener bingung sama Mas mu itu”

Raut sedih jelas terlihat di wajah Abah Hasim, dan Khadijah pun sedikit banyak paham apa yang tengah di rasakan oleh Abah nya itu.

Dari dulu Azis memang berbeda dari dua saudara lainya. Jika Umar dan Ali sibuk belajar untuk mencari beasiswa. Lain halnya dengan Azis yang justru sibuk main sana sini.

Dalam dunia kerja pun sama, Umar dan Ali memilih mendedikasikan dirinya di pesantren untuk mengabdi dan mengajar, meski bukan di pesantren milik Abah Hasim. Hal-hal semacam itu juga tidak berlaku bagi Azis.

Saat dua kaka nya sibuk belajar dan bekerja, Azis justru lebih suka hura-hura, kelayapan, tidak jelas arah dan tujuan nya.

Beruntung berkat orang tua Khadijah Azis bisa di terima bekerja di perusahaan besar AVB yang di gawangi oleh CEO muda bernama Arkana Virendra Brawijaya. Itu semua juga berkat Rekomendasi dari Orang tua Khadijah saat itu.

Orang tua Khadijah yang telah bekerja lama di perusahaan AVB sehingga bisa mudah saja merekrut Azis sebagai pekerja di sana.

Karena sebab itu pula lah Khadijah sedikit terkejut dengan pemecatan yang terjadi pada kakak sepupunya.

“Sabar Bah. Kita doakan saja Mas Azis agar cepat sadar”

Meski masih ada banyak pertanyaan di kepala Khadijah, untuk sesaat dia berusaha meredam nya. Mengingat wajah Abah yang sudah tidak baik-baik saja ketika membicarakan soal putra sulungnya.

**

Terpopuler

Comments

Budyparyanti

Budyparyanti

kq di awal di jelaskan kalau aziz yg terakhir tapo di padt ini aziz justru anak sulung....mana yg benar neh thor😁

2023-12-19

0

Kustri

Kustri

py tho perusahaan koq gitu, yg berhub dgn bp'a dija smua diputus😩😤

2023-12-08

3

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

wah apa ada hubungan penghentian beasiswa Khadijah dengan dipecatnya si Azizi ini yah,,,

2023-09-09

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. KABAR DUKA
2 BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.
3 BAB 3. NASIHAT ABAH
4 BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN
5 BAB 5. PUTRA ABAH HASIM
6 BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH
7 BAB 7. TUMPANGAN
8 BAB 8. BERTEMU
9 BAB 9. KEMBALI PULANG
10 BAB 10. AKSARA VIRENDRA BRAWIJAYA
11 BAB 11. PERTANGGUNG JAWABAN
12 BAB 12. MENERIMA TAWARAN
13 BAB 13. PERSIAPAN
14 BAB 14. IJAB QOBUL
15 BAB 15. JAKARTA
16 BAB 16. KESAN PERTAMA
17 BAB 17. TERNYATA
18 BAB 18. MEMASAK
19 BAB 19.IBU RUMAH TANGGA
20 BAB 20. PERASAAN DIRGA
21 BAB 21. TAMPARAN
22 BAB 22. PERHATIAN
23 BAB 23. KABAR ABAH
24 BAB 24. KANTOR
25 BAB 25. PERDEBATAN
26 BAB 26. KEPANIKAN
27 BAB 27. PERTEMUAN
28 BAB 28. BERBELANJA BERSAMA
29 BAB 29. CERITA LAMA
30 BAB 30. MEMINTA IZIN
31 BAB 31. TERKEJUT
32 BAB 32. KAMAR AKSARA
33 BAB 33. PENYESALAN
34 BAB 34. TEDUH
35 BAB 35. MALU
36 BAB 36. VISUAL
37 BAB 37. PULANG
38 BAB 38. RUMAH SAKIT
39 BAB 39. Dirga Dan Aksara
40 BAB 40. PULANG
41 BAB 41. DATANG
42 BAB 42. MENGINAP.
43 BAB 43. AISYAH
44 BAB 44. KAMAR KHADIJAH.
45 BAB 45. KERINGAT DINGIN
46 BAB 46. WAKTU SUBUH
47 BAB 47. PAGI
48 BAB 48. OBROLAN PAGI
49 BAB 49. KABAR BAHAGIA.
50 BAB 50. MARISSA
51 BAB 51. TERKEJUT
52 BAB 52. KETEGASAN
53 BAB 53. APARTEMEN
54 BAB 54. MALAM
55 BAB 55. LINGERIE
56 BAB 56. MENGAGUMI
57 BAB 57. SKIN TO SKIN
58 BAB 58. PAGI MENYAPA
59 BAB 59. BERHALANGAN
60 BAB 60. SARAPAN
61 BAB 61. TAMU TAK DI UNDANG
62 BAB 62. PERSETUJUAN
63 BAB 63. GODAAN
64 BAB 64. ISI HATI AKSARA
65 BAB 65. DUA WANITA
66 BAB 66. PERMINTAAN MARISSA
67 BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH
68 BAB 68. MAKAN MALAM
69 BAB 69. MALAM PERTAMA
70 BAB 70. BINCANG
71 BAB 71. KABAR BAHAGIA
72 BAB 72. PETUALANG PAGI
73 BAB 73. MANDI KE DUA
74 BAB 74. RUMAH MAMA
75 BAB 75. BERULAH
76 BAB 76. SALAH PAHAM
77 BAB 77. BERTEMU
78 BAB 78. MAAF
79 BAB 79. RENCANA AKSARA
80 BAB 80. PINDAH
81 BAB 81. BERSIAP
82 BAB 82. MASA LALU
83 BAB 83. PELAKU
84 BAB 84. PECI
85 BAB 85. KEJUTAN
86 BAB 86. BERBADAN DUA
87 BAB 87. SURGA ISTRI
88 BAB 88. RUMAH SAKIT
89 89. PAHALA MEMINTA
90 BAB 90. MUAL
91 BAB 91. KABAR BAIK
92 BAB 92. DEPRESI
Episodes

Updated 92 Episodes

1
BAB 1. KABAR DUKA
2
BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.
3
BAB 3. NASIHAT ABAH
4
BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN
5
BAB 5. PUTRA ABAH HASIM
6
BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH
7
BAB 7. TUMPANGAN
8
BAB 8. BERTEMU
9
BAB 9. KEMBALI PULANG
10
BAB 10. AKSARA VIRENDRA BRAWIJAYA
11
BAB 11. PERTANGGUNG JAWABAN
12
BAB 12. MENERIMA TAWARAN
13
BAB 13. PERSIAPAN
14
BAB 14. IJAB QOBUL
15
BAB 15. JAKARTA
16
BAB 16. KESAN PERTAMA
17
BAB 17. TERNYATA
18
BAB 18. MEMASAK
19
BAB 19.IBU RUMAH TANGGA
20
BAB 20. PERASAAN DIRGA
21
BAB 21. TAMPARAN
22
BAB 22. PERHATIAN
23
BAB 23. KABAR ABAH
24
BAB 24. KANTOR
25
BAB 25. PERDEBATAN
26
BAB 26. KEPANIKAN
27
BAB 27. PERTEMUAN
28
BAB 28. BERBELANJA BERSAMA
29
BAB 29. CERITA LAMA
30
BAB 30. MEMINTA IZIN
31
BAB 31. TERKEJUT
32
BAB 32. KAMAR AKSARA
33
BAB 33. PENYESALAN
34
BAB 34. TEDUH
35
BAB 35. MALU
36
BAB 36. VISUAL
37
BAB 37. PULANG
38
BAB 38. RUMAH SAKIT
39
BAB 39. Dirga Dan Aksara
40
BAB 40. PULANG
41
BAB 41. DATANG
42
BAB 42. MENGINAP.
43
BAB 43. AISYAH
44
BAB 44. KAMAR KHADIJAH.
45
BAB 45. KERINGAT DINGIN
46
BAB 46. WAKTU SUBUH
47
BAB 47. PAGI
48
BAB 48. OBROLAN PAGI
49
BAB 49. KABAR BAHAGIA.
50
BAB 50. MARISSA
51
BAB 51. TERKEJUT
52
BAB 52. KETEGASAN
53
BAB 53. APARTEMEN
54
BAB 54. MALAM
55
BAB 55. LINGERIE
56
BAB 56. MENGAGUMI
57
BAB 57. SKIN TO SKIN
58
BAB 58. PAGI MENYAPA
59
BAB 59. BERHALANGAN
60
BAB 60. SARAPAN
61
BAB 61. TAMU TAK DI UNDANG
62
BAB 62. PERSETUJUAN
63
BAB 63. GODAAN
64
BAB 64. ISI HATI AKSARA
65
BAB 65. DUA WANITA
66
BAB 66. PERMINTAAN MARISSA
67
BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH
68
BAB 68. MAKAN MALAM
69
BAB 69. MALAM PERTAMA
70
BAB 70. BINCANG
71
BAB 71. KABAR BAHAGIA
72
BAB 72. PETUALANG PAGI
73
BAB 73. MANDI KE DUA
74
BAB 74. RUMAH MAMA
75
BAB 75. BERULAH
76
BAB 76. SALAH PAHAM
77
BAB 77. BERTEMU
78
BAB 78. MAAF
79
BAB 79. RENCANA AKSARA
80
BAB 80. PINDAH
81
BAB 81. BERSIAP
82
BAB 82. MASA LALU
83
BAB 83. PELAKU
84
BAB 84. PECI
85
BAB 85. KEJUTAN
86
BAB 86. BERBADAN DUA
87
BAB 87. SURGA ISTRI
88
BAB 88. RUMAH SAKIT
89
89. PAHALA MEMINTA
90
BAB 90. MUAL
91
BAB 91. KABAR BAIK
92
BAB 92. DEPRESI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!