...Kokoh Lah Dalam Kebenaran. Meski Kau Hanya Sendirian...
...☘️...
Meski semua serba dalam suasana terpaksa, namun Umi Amina tidak lantas membiarkan Khadijah terus larut dalam kesedihan nya.
"Nduk. Pakai ini"
Umi Aminah menyodorkan sebuah gaun panjang dengan hiasan manik-manik yang menambah daya tarik. Jujur saja Gaun itu sangat cantik dalam benak Khadijah.
"Ini Baju Mba Aisya Saat dulu Menikah dengan Mas Umar" ujar Umi Amina.
Khadijah lantas menerima gaun di tangan Umi Amina, untuk sesaat Khadijah hanya bisa memandangi gain cantik ini dengan senyum pahit di hati.
Khadijah pun juga wanita biasa dia bukan dewa, manusiawi jika dalam hatinya dia menginginkan pernikahan yang akan berujung bahagia di mulai dengan cinta.
Namun Khadijah sadar harapan tetaplah harapan, karena semua takdir telah tertulis dalam genggaman Tuhan.
Dengan menyeka sisa-sisa air mata, Khadijah beranjak dari dudu nya, berjalan menuju kamar mandi dan mulai mengganti baju gamisnya dengan gaun cantik pinjaman Mba Aisya.
Tidak mengapa jika gaun ini hasil dari pinjam, yang terpenting adalah sakralnya pernikahan dan sebuah ikatan yang sebentar lagi akan di resmikan. 'Pikir Khadijah'.
Setelah mengganti pakaian nya, Khadijah lantas berjalan keluar, disana sudah Ada Umi yang menanti.
"Kamu cantik sekali Nduk, Persis seperti ibu mu dulu"
Puji Umi Amina pada Khadijah, Meski belum di rias namun Khadijah memang telah cantik dari sana nya. Kulit putih nan bersih, hidung mbangir dan ada lesung pipi di sisi kanan kiri, Bulu mata lentik serta rambut hitam panjang yang kini di ikat asal saja.
Mendengar pujian Umi Amina, Khadijah hanya mengulas senyum kecil di bibirnya.
Entah harus bahagia atau bersedih, rasanya Khadijah sudah tidak bisa memikirkannya.
Umi Amina lantas membantu keponakannya untuk berhias, mengenakan sedikit bedak dan lipstik serta menambahkan sedikit blush-on di pipi Khadijah agar terlihat lebih segar.
"MashaAllah. Mirip sekali kamu Nduk dengan Ibu mu"
Untuk yang kesekian kali Umi Amina memuji Khadijah.
Mendengar Umi mengatakan jika dirinya mirip dengan Almarhum ibunya, seketika luruh kembali Air mata Khadijah, membayangkan jika kedua orang tuanya berada di sini tentu mereka menjadi orang pertama yang akan begitu bahagia, ataukah sebaliknya. 'Entah lah'.
Sementara Umi yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya berusaha menguatkan Khadijah dengan mengusap lembut puncak kepala nya.
"Kenakan cadarmu kembali, Acara mungkin tinggal sebentar lagi"
Lembut Umi Amina meminta itu pada Khadijah.
Melihat Khadijah masih menundukkan wajahnya, Umi tahu jika Khadijah mungkin saja belum siap, dan umi Amina tidak melarang Khadijah untuk menangis, karena hanya itu cara satu-satunya untuk melegakan suasana hati yang sedang tidak baik-baik saja.
"Minta sama Allah Nduk, Semoga Semua selalu dalam keberkahan dan lindungannya"
Khadijah hanya bisa menganggukkan kepala nya. Jujur memang itu yang tengah Khadijah pikirkan dalam hatinya, apa pun itu awalnya, Khadijah hanya berdoa dan berharap jika Aksara memang jodoh yang telah di tentukan untuk dirinya.
Segar dalam ingatan Khadijah saat Almarhum ibunya membekali dia dengan sebuah doa yang selalu diajarkan untuk Khadijah.
Di mana doa ini dulu pernah dibaca oleh Nabi Musa as ketika menghadapi Fir’aun. Dalam doa ini berisi permohonan agar dilapangkan, dimudahkan dalam suatu urusan, serta dilancarkan lidahnya dalam berucap.
قَالَرَبِّاشْرَحْلِيْصَدْرِيْۙ وَيَسِّرْلِيْٓاَمْرِيْۙ وَاحْلُلْعُقْدَةًمِّنْلِّسَانِيْۙ يَفْقَهُوْاقَوْلِيْۖ
Rabbish rahli sadri. Wayassirli amri. Wahlul uqdatam millisani. Yafqahu qauli.
Artinya: “ Wahai Tuhanku, lapangkanlah bagiku dadaku, dan mudahkanlah bagiku urusanku, dan lancarkanlah lidahku supaya mereka faham ucapanku." (QS. Taha: 25 -28).
Tidak lupa Doa tersebut saat ini Khadijah Langit kan dalam hati nya.
Saat ini mungkin di bilang sudah bukan waktunya untuk orang bersenang senang apa lagi menggelar pesta bahagia.'Pikir Khadijah'
Namun semua ini nyata dan terjadi pada dirinya, Khadijah akan menikah hari ni dan saat ini pula. Meski waktu telah menunjukan pukul 22. 45.
Nyatanya tidak menyurutkan niat Aksara untuk mempersunting Khadijah, 'Apa karena cinta ?' , tentu saja tidak.
Aksara hanya mengikuti kemauan Abah sebagai syarat untuk membawa Khadijah, entah akan seperti apa nantinya tentu belum Aksara pikirkan semuanya.
"Kita keluar sekarang, Abah sudah menunggu kita"
Kalimat Umi Amina kembali mengagetkan dan membuyarkan lamunan Khadijah, Meski begitu pada akhirnya Khadijah hanya mengangguk dan menurut saja.
Dengan di bantu Umi Amina, Khadijah keluar dari kamar. Mengenakan Gaun panjang dengan hiasan Manik-manik di beberapa bagiannya sungguh membuat tampilan Khadijah lebih mempesona dibanding sebelumnya.
'Apakah Aksara akan menyukainya ?'
Tentu saja tidak, jangankan menyukai, melirik Khadijah saja sepertinya tidak.
Begitu juga Khadijah yang saat ini hanya bisa berpasrah, entah setelah menikah status akan berubah atau justru setelah menikah kebahagiaan akan musnah ?' Entah lah' .
Melihat betapa dingin dan datarnya wajah Aksara, sudah cukup menjelaskan pad Khadijah jika pernikahan nya nanti tidak lah akan mudah.
Khadijah diminta Abah untuk duduk tepat di samping Aksara, dengan Abah berada tepat di depan mereka.
Sementara Umi Amina setia menemani Khadijah di belakangnya.
Tidak banyak orang yang Abah undang, mengingat waktu juga sudah hampir tengah malam.
Hanya beberapa Orang yang Abah minta datang sebagai saksi nikah, Sementara Wali Khadijah juga adalah Abah.
Abah sendiri yang akan menikahkan Khadijah. Juga merupakan Wali nikah Khadijah. Mengingat ayah kandung Khadijah sudah tidak ada. Dan Khadijah sendiri tidak memiliki saudara kandung laki-laki.
Wali nikah dalam akad nikah Islam dikatakan jumhur ulama sebagai rukun yang tak bisa dilewatkan, lantaran mempengaruhi keabsahan pernikahan tersebut.
Muhammad Bagir dalam buku Fiqih Praktis 2 menjelaskan maksud perwalian nikah, yakni hak yang diberikan oleh syariat kepada seseorang wali untuk melakukan akad pernikahan atas orang yang diwakilkan
Merupakan wali yang diambil berdasarkan keturunan, atau yang punya hubungan nasab dengan pengantin perempuan. Mayoritas ulama mengurutkan wali nasab dari paling berhak dan masih hidup, karena yang terdekat adalah amat utama.
"Sudah siap Nduk ?"
Sekilas Abah menatap lekat wajah Khadijah. Meski tidak tega namun ini sudah menjadi keputusan nya.
Daripada membiarkan Khadijah tinggal dan hidup bersama laki-laki yang jelas bukan Mahram nya, lebih baik Abah menikahkan keduanya, 'Meski terpaksa'.
Anggukan kepala.menjadi jawaban Khadijah atas pertanyaan Abah.
Khadijah terus saja berusaha menyeka air mata nya, meski telah berusaha untuk menahannya, namun sepertinya Khadijah memang sangat ingin mengeluarkan nya.
Setelah bertanya pada Khadijah, Abah lantas mengarahkan pandangan pada Aksara.
"Apakah Nak Aksara sudah siap ?"
'Nak' kata yang disematkan Abah dalam panggilannya pada calon menantu nya.
Meski dengan wajah biasa dan cenderung datar saja. Aksara mengatakan
"Siap !!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Budyparyanti
sungguh suasana pernikahan yg tak di inginkan
2023-12-19
2
AR Althafunisa
semoga ada titik kebaikan di hati Aksara dan menerima Khadijah sebagai istrinya 🤧
2023-10-10
2
Sugiharti Rusli
seperti judulnya yah, ini memang takdir yang harus Khadijah jalanin entah akan berakhir seperti apa pernikahan yang mereka jalanin kelak,,,
2023-09-09
1