...Besok lagi, Tolong bedakan ya, Siapa yang datang disaat waktu luang, dan siapa yang meluangkan waktu untuk datang...
...☘️...
Satu Minggu sudah berlalu.
Semua urusan Khadijah di kampusnya juga telah selesai. Mungkin saja tinggal menunggu jadwal praktikum selanjutnya.
Tugas skripsi juga telah usai, hanya perbaikan di beberapa sisi saja, hingga menunggu jadwal ujiannya.
Beruntung berkat kecerdasan nya, Khadijah bisa menyelesaikan target kuliah nya tepat waktu, dibanding beberapa teman lainya, yang tentu saat ini masih sibuk dengan tugas-tugas mereka.
Setelah membereskan beberapa barang, Khadijah memutuskan sore ini akan langsung kembali pulang ke Jombang, seperti pesan Abah dan Umi Aminah sebelumnya.
"Kamu nggak di sini aja, kita kan bisa jalan-jalan dan seneng-seneng Dijah"
Alma menyesalkan keputusan Khadijah yang ingin segera pulang ke Jombang, pasalnya waktu luang seperti saat ini jarang keduanya dapatkan. Dan saat ini juga sudah merupakan ujung perkuliahan, karena sebentar lagi mereka akan menjalankan tugas Coas nya di wilayah masing-masing, dan mungkin saja Khadijah dan Alma tidak lagi bersama.
"Aku sih pingin Ma, cuma mubazir aja waktunya kalau cuma untuk main-main"
Dengan lembut Khadijah menolak ajakan Alma.
Selain karena alasan tidak ingin berfoya-foya juga karena di pesantren Khadijah lebih menemukan kenyamanan nya.
Berbaur dan belajar bersama adik-adik santri di pesantren, merupakan kenikmatan tersendiri bagi Khadijah saat ini.
"Ya sudah kalau gitu. Kamu mau aku antar sampai terminal ?"
Meski sedikit kecewa pasalnya Khadijah telah menolaknya, namun tidak lantas membuat Alma mengabaikan Khadijah begitu saja.
"Emang gak merepotkan ?" tanya Khadijah pada akhirnya.
"Ya nggak lah Dijah"
Alma begitu bersemangat untuk mengantarkan sahabatnya.
***
Perjalanan pulang kali ini di lakukan pad sore hari. Dan sengaja Khadijah memilih waktu sore, selain karena lebih cepat juga karena perjalanan lebih menyenangkan bagi Khadijah.
Sama seperti keberangkatan, pulang kali ini juga akan Khadijah tempuh kurang lebih dua jam perjalanan.
Dengan menumpang PO Bus Puspa Indah jurusan Malang Jombang.
Sepanjang perjalanan Khadijah mengisi waktu luang dengan membaca beberapa berita di smartphone miliknya.
Sengaja kepulangan kali ini Khadijah tidak memberikan kabar pada Abah dan Umi, selain karena tidak ingin merepotkan juga sudah pasti Khadijah akan tiba di Jombang saat kajian malam, jadi Khadijah tidak ingin mengganggu kegiatan Abah. 'Pikir Khadijah'.
Setelah cukup lama berkendara, tibalah saatnya pemberhentian terakhir bus yang di tumpangi Khadijah.
Karena tidak memberikan kabar pada Abah, Khadijah memilih untuk memesan jasa Taxi online untuk mengantarkan nya hingga ke pesantren Darul Qur'an.
Tidak butuh waktu lama Taxi yang Khadijah pesan telah berada tepat di hadapannya.
"Mba Khadijah ?"
"Iya pak "
Khadijah lantas masuk kedalam mobil dan bersiap melanjutkan perjalanan yang masih kurang lebih 15 menit menuju pesantren.
Memasuki area persawahan Khadiah merasa lega, karena tidak lama lagi dia akan tiba di pesantren.
"Sudah sampai mba"
Senyum terkembang di balik cadar yang Khadijah kenakan.
"Terima kasih pak"
Tidak lupa Khadijah memberikan uang bayaran dan dan sedikit tips untuk pak supir .
Suasana pesantren begitu terasa saat Khadijah keluar dari taksi sebelumnya.
Hiruk pikuk santri di malam hari membuat Khadijah merasa senang melihatnya, ada yang pergi ke koprasi, ada yang sekedar Murojaah dan ada yang juga sekedar menikmati udara malam hari sembari berbincang bersama teman.
Pemandangan berbeda Khadijah lihat dari rumah utama, banyak mobil-mobil dari luar kota sepertinya, 'Batin Khadiah' .
Mungkin sedang ada santri susulan baru 'pikir Khadijah'
Tanpa pikir panjang Khadijah langsung saja memutar langkah kakinya, menuju pintu samping rumah, karena tidak sopan saja rasanya jika dia menerobos masuk sementara di ruang tamu Abah dan Umi tengah menerima tamu.
"Jangan harap dia bisa bebas begitu saja. Saya pastikan dia akan mendekam dalam waktu yang cukup lama"
Jelas di telinga Khadiah sebuah kalimat intimidasi yang cukup membaut dirinya merinding mendengarnya.
'Mendekam ?. Penjara ?' batin Khadijah.
Batin khadijah bergejolak memikirkan kalimat yang baru saja menelusup masuk dalam telinga nya. Siapa yang mengatakan itu, untuk siapa kalimat itu dan kenapa mereka mengatakan itu ?. 'Batin Khadijah' .
"Saya tidak memiliki penawaran lain selain kembalikan semua yang sudah kamu curi dari perusahaan"
Deg.
Entah mengapa mendengar kalimat itu, sekelebat Pikiran Khadijah mengarah pada Kakak sepupunya Azis.
Benar saja setelah benar-benar menajamkan penglihatannya, bahkan Khadijah menempelkan telinganya di sisi dinding, Khadijah jelas mendengar tangisan Umi Amina di dalam sana.
Tanpa ba bi bu Khadijah langsung saja menerobos masuk untuk menenangkan Umi Amina.
Khadijah lantas duduk berjongkok di hadapan sang Umi yang terlihat begitu kalut dengan situasi yang di hadapi. Jelas umi merasa sedih, orang tua mana yang tidak akan sedih melihat putra nya terlibat masalah.
"Umi ada apa ?" Panik Khadijah.
"Dijah"
Mendengar pertanyaan Khadijah umi lantas memeluknya, terasa bergetar tubuh Umi Amina dalam pelukan Khadijah.
Setelah cukup tenang, dan umi Amina telah melepaskan pelukannya, Khadijah lantas mengendarakan pandanganya, meneliti setiap.wajah yang jujur saja baru pertama kali ini dia temui .
'Siapa mereka' batin Khadijah.
Namun seketika Khadijah paham jika kedatangan mereka ada kaitannya dengan Azis yang terlihat babak belur di beberapa bagian wajah nya.
Tidak sampai di situ, bahkan Azis tengah di apit oleh dua orang ber jas hitam dengan perawakan gempal di sisi kanan dan kiri nya.
Khadijah melihat Kakak sepupunya tampak lesu dengan wajah yang tertunduk lemah, sementara itu ada pula Abah Hasim yang juga tidak kalah lesu. Meski wajah tuanya berusaha menjelaskan tidak ada apa-apa namun tetap saja menyangkut putra Bungsunya agaknya Abah tidak bisa berdiam diri saja.
"Abah. Ada apa ini ?"
Khadijah yang memang tidak tahu apa-apa lantas mencari ada masalah apa, sehingga orang-orang ber jas hitam ini berada di rumah mereka.
Khadijah belum mendapatkan jawaban, namun seketika telinganya menangkap tepuk tangan dari seseorang yang duduk tepat di depan Abah Hasim .
"Luar biasa sekali rupanya, Datang lagi satu orang penyelamat rupanya"
Khadijah lantas mendongakkan wajahnya, menatap pada sosok yang tengah duduk di sana, sepertinya dia bos nya, 'Pikir Khadijah'.
"Dia !!. Telah menggelapkan uang perusahaan sebesar 25 milyar !!"
Tunjuk laki-laki di hadapan Abah Hamzah pada Azis.
Mendengar ucapan tersebut, seketika dua bola mata Khadijah terasa akan lepas dari tempatnya, bagaimana tidak, Khadijah begitu terkejut mendengar nya.
Bahkan Umi dan abah hanya bisa menundukkan wajahnya karena rasa malu nya.
"Apa benar begitu mas ?"
Dalam keheningan , Khadijah lantas mulai bertanya pada kakak Sepupu nya. Khadijah masih berharap jika ini hanya kesalahan saja, yang bisa di selesaikan dengan kata Damai saja. 'pikir Khadijah'
Namun bukan jawaban, yang Khadijah dapatkan justru keheningan, Azis sama sekali tidak terlihat membuka mulutnya, justru kini terlihat semakin menunduk dari sebelumnya.
"Mas Katakan sesuatu , Jangan diam saja ?"
"Mereka mungkin saja salah ?"
Khadijah yang tidak percaya hanya berusaha membujuk Kakak nya agar mau mengatakan jika semua ini tidak lah benar.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Budyparyanti
waw.....nominal yg sangat fantastis....tapi untuk apa di gunakan oleh azis....
2023-12-19
1
Kustri
pasti difitnah
2023-12-08
0
Tati Suwarsih
banyak banget uang...buat apa?
2023-12-08
2