BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.

...Padahal Hanya Dunia. Wahai Diri Yang Tidak Tahu Diri ...

...☘️...

Gelap semakin menyapa, Kabut malam semakin menambah dingin suasana, Ditemani rintik hujan yang selalu setia membersamai.

Tidak ingin semakin membuat Khadijah gelisah, Dirga memilih fokus dan menambah laju kecepatan nya dalam berkendara. Beruntung perjalanan kali ini malam hari, sehingga Dirga tidak harus bergelut dengan kemacetan.

Jarak tempuh yang harus di lalui keduanya kurang lebih 2 sampai 3 jam dari kota Malang menuju Jombang.

Suasana tampak sepi dan sunyi tatkala Khadijah dan Dirga hanya saling diam saja. Selain diam Dirga juga menangkap mata sayu Khadijah, tatapan nya jauh kedepan, entah apa yang saat ini tengah Khadijah pikirkan, ‘batin Dirga’.

Setelah cukup lama berkendara, mobil yang dikemudikan Dirga telah sampai pada tujuannya, tidak sulit menemukan rumah tingga orang tua Khadijah yang telaknya memang berada di pusat kota Jombang.

Khadijah tampak masih diam, Dirga sendir dapat membaca kesedihan dan kebingungan di mata gadis yang ada di sampingnya.

“Ayo kita turun”

Ajak Dirga pada akhirnya.

Tangis Khadijah luruh seketika, kembali dia berusaha menguatkan hati dan batinya, mesi sejujurnya sangat berat bagi Khadijah.

Sungguh sakit hati yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, kehilangan orang tua merupakan kerugian terbesar bagi manusia yang memahaminya.

Sebagai muslimah tentu Khadijah tahu jika orang tua terlebih itu ibu nya telah berpulang, makan hilanglah satu keberkahan besar dalam hidupnya yaitu ‘Doa Ibu’.

Khadijah meyakini jika berkat doa ibu nya lah harapan terbesar dalam hidupnya saat ini bisa di raih nya.

Melihat banyaknya orang berkerumun di rumah nya, tentu membuat Khadijah kembali merasakan sesak di dada, sesuatu yang tidak pernah Khadijah harapkan sebelumnya.

Kematian memang sudah bagian dari takdir dan pasti akan datang pada siapa saja yang bernyawa, Namun Khadijah tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi secepat ini, terlebih Khadijah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya secara bersamaan.

Gontai langkah kaki Khadijah berjalan masuk menuju rumahnya, tempat dimana akan menjadi saksi pertama kali Khadijah mengenal sosok ibu bapaknya hingga hari ini pula untuk yang terakhir kali Khadijah melihatnya.

Air mata itu tidak kuasa Khadijah tahan lagi, tatkala dua manik mata Khadijah melihat pada dua keranda yang tentu berisi kedua orang tuanya disana.

Sejujurnya ingin Khadijah meronta dan memohon agar orang tuanya kembali, namun agaknya keinginan nya terlalu tinggi, harapannya sia-sia saja, karena Takdir Allah telah memilih nya.

Dalam kesedihan, Khadijah hanya bisa menangis dan meluapkan segala rasa di depan jenazah Bapak Ibu nya, menyadari jika ini merupakan terakhir kali dan Khadijah sungguh sangat tidak rela melepas keduanya.

“Pak… Bu…”

Bergetar suara Khadijah menahan tangis yang selalu saja membuatnya tak kuasa menahan kesedihan nya.

“Dija ndak mau di tinggal sendiri Pak Bu…”

Tidak hanya suara namun tubuh Khadijah pun bergetar dengan tangisan yang tidak bisa tertahan, pilu dan terdengar menyakitkan.

“Ikhlas yo Nduk, Bapak ibu sudah tenang disana”

Usapan lembut dari sosok pria paruh baya yang sebelumnya menyambut kedatangan Khadijah. Laki-laki yang Khadijah panggil Abah. Merupakan paman dan kakak kandung Bapak nya.

Sejujurnya Khadijah sendiri tidak ingin meratapi, hanya saja naluri sebagai anak membuatnya berharap orang tuanya akan kembali.

“Abahh… Umi… Nanti Dija gimana kalau tidak ada mereka”

Untuk saat ini Khadijah membiarkan kedewasaan dalam dirinya hilang begitu saja, Khadijah sudah seperti anak kecil yang tidak bisa ditinggal pergi orang tuanya. Sungguh karena setelah ini dia hanya kan sendiri.

“Ada Abah dan Umi nduk, Kamu yang sabar yo”

Umi Aminah yang sejujurnya juga bersedih atas kepergian kedua adik iparnya, mencoba menenangkan Khadijah.

Umi Aminah sadar jika ini tidak lah mudah, dan untuk sesaat keduanya membiarkan Khadijah melepaskan kerinduan Bersama Almarhum orang tuan yang esok pagi akan segera di kebumikan.

Pelukan hangat Umi Aminah menjadi penenang bagi Khadijah.

Sementara dari kejauhan, Dirga hanya bisa menatap dan memandangi kesedihan yang dirasakan Khadijah.

Khadijah tertunduk lemas tak berdaya, dengan mushaf kecil di tangannya, Khadijah mulai membekali orang tuanya dengan doa, berharap jika apa yang di bacakan akan sedikit meringankan beban mereka ketika berada di alam kubur nya.

Jika dulu orang tua nya yang selalu membekali Khadijah dengan doa-doa dan harapan besar nya, maka saat ini giliran Khadijah lah yang akan membekali kedua orang tua nya dengan doa, untuk mengiringi perjalanan Panjang tanpa tujuan untuk kembali pulang.

Dalam suasana duka masih terus Khadijah menitihkan air mata nya, namun lembut suara Khadijah membaca mushaf diatas tangannya, membuat semua orang yang mendengarnya turut larut dalam lantunan ayat suci Al-Quran bacaannya.

**

Pagi Hari.

Kerumunan tetangga, sanak, dan saudara kembali memadati kediaman Almarhum orang tua Khadijah.

Memandikan, Mengkafani, dan Menyolatkan telah di lakukan malam tadi, namun hingga saat ini masih ada sanak saudara yang akan kembali menyolatkan jenazah Almarhum orang tua Khadijah.

Manik mata Khadijah terlihat sayu, selain karena sedang sedih tentu karena setelah semalaman mata itu tidak terpejam, Khadijah hanya duduk menunggu di pusaran kedua orang tuanya, sembari berdoa dan menitipkan harapan untuk dipertemukan kembali di Jannah nya.

“Nduk”

Abah Hasim menyentuh pundak Khadijah dengan lembut. Senyuman dan anggukan Abah Hasim menjadi pertanda jika waktunya telah tiba.

Menyadari hal itu, sudut mata Khadijah kembali berkaca-kaca. Betapa tidak dia begitu merasakan sesak di dada nya, karena setelah ini dia tidak akan lagi bisa melihat kedua orang tuanya.

Kenangan masa kecil muncul begitu saja di benak Khadijah, menyadari betapa waktu sangat cepat berlalu.

“Abahh….”

Bergetar suara Khadijah, jujur meski berat namun Khadijah telah ikhlas dan rela Yang Maha Kuasa memanggil kedua orang tuanya.

“Bapak ibu mau di berangkatkan sekarang”

Lembut Abah Hasim berkata pada keponakan yang sudah dianggapnya seperti anak nya.

Anggukan kepala, dan tangis yang membasahi pipi, menjadi bukti jika Khadijah sudah benar-benar ridho dan rela untuk mengantar kedua orang tuanya hingga ke tempat peristirahatan terakhir mereka.

“Sabar ya Nduk, kita doakan saja bapak dan ibu agar tenang di sana” Umi Aminah menimpali.

Khadijah di papah Umi Aminah dan beberapa saudara lainya. Berjalan menuju luar rumah yang tampak lebih ramai dari kemarin malam saat Khadijah datang.

Diluar rumah, Khadijah melihat beberapa orang perangkat desa dan tokoh agama tengah bersiap memberangkatkan jenazah orang tuanya. Menyampaikan kabar duka, dan ucapan bela sungkawa pada keluarga yang di tinggalkan.

Hingga berakhir pada 12 orang pria mengangkat keranda jenazah orang tua Khadijah, 6 orang pada setiap keranda yang di bawa. Sungguh lemah dan sakit sekali rasanya, hingga Khadijah hanya bisa kembali menitihkan Air mata nya.

Pemandangan pertama yang Khadijah lihat ini, tentu juga merupakan pemandangan terakhir kali bagi dirinya menemani dan mengantarkan kedua orang tua nya hingga tempat peristirahatan terakhirnya.

Laillah Ha Illawlloh….

Laillah Ha Illawlloh….

Laillah Ha Illawlloh….

Kalimat yang terdengar mengiringi langkah kaki orang-orang pengantar jenazah kedua orang tua Khadijah hingga tujuan terakhir mereka ‘Pemakaman’.

Usapan lembut selalu Umi Amina berikan pada Khadijah, meski tidak mengatakan apa pun, Umi Amina tahu Khadijah sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitar nya.

Rombongan pengiring jenazah telah tiba di pemakanan, termasuk Khadijah yang juga telah berada disana.

Abah Hasim yang didapuk sebagai pemangku agama sekaligus wali Khadijah mulai memimpin prosesi pemakaman.

Doa tidak lupa dia panjatkan untuk mengantarkan kepergian Adik sekaligus adik ipar nya.

Sekuat tenaga Khadijah kembali menahan air matanya, namun rasa-rasanya begitu sulit bagi Khadijah, terlebih ketika melihat gundukan tanah diatas kuburan Bapak ibu nya sedikit demi sedikit mulai meninggi dan semakin menutupi.

**

Terpopuler

Comments

Aiur Skies

Aiur Skies

letaknya ✌

2024-01-17

0

Hasrie Bakrie

Hasrie Bakrie

Al fatiha tuk almarhum dan almarhumah, semoga Husnul khotimah 🤲😭

2024-01-17

0

Yumna Ghaisani

Yumna Ghaisani

jadi teringat kmbli k2 orang tuaku yg telah berpulang ke Rahmatullah

2024-01-06

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. KABAR DUKA
2 BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.
3 BAB 3. NASIHAT ABAH
4 BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN
5 BAB 5. PUTRA ABAH HASIM
6 BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH
7 BAB 7. TUMPANGAN
8 BAB 8. BERTEMU
9 BAB 9. KEMBALI PULANG
10 BAB 10. AKSARA VIRENDRA BRAWIJAYA
11 BAB 11. PERTANGGUNG JAWABAN
12 BAB 12. MENERIMA TAWARAN
13 BAB 13. PERSIAPAN
14 BAB 14. IJAB QOBUL
15 BAB 15. JAKARTA
16 BAB 16. KESAN PERTAMA
17 BAB 17. TERNYATA
18 BAB 18. MEMASAK
19 BAB 19.IBU RUMAH TANGGA
20 BAB 20. PERASAAN DIRGA
21 BAB 21. TAMPARAN
22 BAB 22. PERHATIAN
23 BAB 23. KABAR ABAH
24 BAB 24. KANTOR
25 BAB 25. PERDEBATAN
26 BAB 26. KEPANIKAN
27 BAB 27. PERTEMUAN
28 BAB 28. BERBELANJA BERSAMA
29 BAB 29. CERITA LAMA
30 BAB 30. MEMINTA IZIN
31 BAB 31. TERKEJUT
32 BAB 32. KAMAR AKSARA
33 BAB 33. PENYESALAN
34 BAB 34. TEDUH
35 BAB 35. MALU
36 BAB 36. VISUAL
37 BAB 37. PULANG
38 BAB 38. RUMAH SAKIT
39 BAB 39. Dirga Dan Aksara
40 BAB 40. PULANG
41 BAB 41. DATANG
42 BAB 42. MENGINAP.
43 BAB 43. AISYAH
44 BAB 44. KAMAR KHADIJAH.
45 BAB 45. KERINGAT DINGIN
46 BAB 46. WAKTU SUBUH
47 BAB 47. PAGI
48 BAB 48. OBROLAN PAGI
49 BAB 49. KABAR BAHAGIA.
50 BAB 50. MARISSA
51 BAB 51. TERKEJUT
52 BAB 52. KETEGASAN
53 BAB 53. APARTEMEN
54 BAB 54. MALAM
55 BAB 55. LINGERIE
56 BAB 56. MENGAGUMI
57 BAB 57. SKIN TO SKIN
58 BAB 58. PAGI MENYAPA
59 BAB 59. BERHALANGAN
60 BAB 60. SARAPAN
61 BAB 61. TAMU TAK DI UNDANG
62 BAB 62. PERSETUJUAN
63 BAB 63. GODAAN
64 BAB 64. ISI HATI AKSARA
65 BAB 65. DUA WANITA
66 BAB 66. PERMINTAAN MARISSA
67 BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH
68 BAB 68. MAKAN MALAM
69 BAB 69. MALAM PERTAMA
70 BAB 70. BINCANG
71 BAB 71. KABAR BAHAGIA
72 BAB 72. PETUALANG PAGI
73 BAB 73. MANDI KE DUA
74 BAB 74. RUMAH MAMA
75 BAB 75. BERULAH
76 BAB 76. SALAH PAHAM
77 BAB 77. BERTEMU
78 BAB 78. MAAF
79 BAB 79. RENCANA AKSARA
80 BAB 80. PINDAH
81 BAB 81. BERSIAP
82 BAB 82. MASA LALU
83 BAB 83. PELAKU
84 BAB 84. PECI
85 BAB 85. KEJUTAN
86 BAB 86. BERBADAN DUA
87 BAB 87. SURGA ISTRI
88 BAB 88. RUMAH SAKIT
89 89. PAHALA MEMINTA
90 BAB 90. MUAL
91 BAB 91. KABAR BAIK
92 BAB 92. DEPRESI
Episodes

Updated 92 Episodes

1
BAB 1. KABAR DUKA
2
BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.
3
BAB 3. NASIHAT ABAH
4
BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN
5
BAB 5. PUTRA ABAH HASIM
6
BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH
7
BAB 7. TUMPANGAN
8
BAB 8. BERTEMU
9
BAB 9. KEMBALI PULANG
10
BAB 10. AKSARA VIRENDRA BRAWIJAYA
11
BAB 11. PERTANGGUNG JAWABAN
12
BAB 12. MENERIMA TAWARAN
13
BAB 13. PERSIAPAN
14
BAB 14. IJAB QOBUL
15
BAB 15. JAKARTA
16
BAB 16. KESAN PERTAMA
17
BAB 17. TERNYATA
18
BAB 18. MEMASAK
19
BAB 19.IBU RUMAH TANGGA
20
BAB 20. PERASAAN DIRGA
21
BAB 21. TAMPARAN
22
BAB 22. PERHATIAN
23
BAB 23. KABAR ABAH
24
BAB 24. KANTOR
25
BAB 25. PERDEBATAN
26
BAB 26. KEPANIKAN
27
BAB 27. PERTEMUAN
28
BAB 28. BERBELANJA BERSAMA
29
BAB 29. CERITA LAMA
30
BAB 30. MEMINTA IZIN
31
BAB 31. TERKEJUT
32
BAB 32. KAMAR AKSARA
33
BAB 33. PENYESALAN
34
BAB 34. TEDUH
35
BAB 35. MALU
36
BAB 36. VISUAL
37
BAB 37. PULANG
38
BAB 38. RUMAH SAKIT
39
BAB 39. Dirga Dan Aksara
40
BAB 40. PULANG
41
BAB 41. DATANG
42
BAB 42. MENGINAP.
43
BAB 43. AISYAH
44
BAB 44. KAMAR KHADIJAH.
45
BAB 45. KERINGAT DINGIN
46
BAB 46. WAKTU SUBUH
47
BAB 47. PAGI
48
BAB 48. OBROLAN PAGI
49
BAB 49. KABAR BAHAGIA.
50
BAB 50. MARISSA
51
BAB 51. TERKEJUT
52
BAB 52. KETEGASAN
53
BAB 53. APARTEMEN
54
BAB 54. MALAM
55
BAB 55. LINGERIE
56
BAB 56. MENGAGUMI
57
BAB 57. SKIN TO SKIN
58
BAB 58. PAGI MENYAPA
59
BAB 59. BERHALANGAN
60
BAB 60. SARAPAN
61
BAB 61. TAMU TAK DI UNDANG
62
BAB 62. PERSETUJUAN
63
BAB 63. GODAAN
64
BAB 64. ISI HATI AKSARA
65
BAB 65. DUA WANITA
66
BAB 66. PERMINTAAN MARISSA
67
BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH
68
BAB 68. MAKAN MALAM
69
BAB 69. MALAM PERTAMA
70
BAB 70. BINCANG
71
BAB 71. KABAR BAHAGIA
72
BAB 72. PETUALANG PAGI
73
BAB 73. MANDI KE DUA
74
BAB 74. RUMAH MAMA
75
BAB 75. BERULAH
76
BAB 76. SALAH PAHAM
77
BAB 77. BERTEMU
78
BAB 78. MAAF
79
BAB 79. RENCANA AKSARA
80
BAB 80. PINDAH
81
BAB 81. BERSIAP
82
BAB 82. MASA LALU
83
BAB 83. PELAKU
84
BAB 84. PECI
85
BAB 85. KEJUTAN
86
BAB 86. BERBADAN DUA
87
BAB 87. SURGA ISTRI
88
BAB 88. RUMAH SAKIT
89
89. PAHALA MEMINTA
90
BAB 90. MUAL
91
BAB 91. KABAR BAIK
92
BAB 92. DEPRESI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!