...Padahal Hanya Dunia. Wahai Diri Yang Tidak Tahu Diri ...
...☘️...
Gelap semakin menyapa, Kabut malam semakin menambah dingin suasana, Ditemani rintik hujan yang selalu setia membersamai.
Tidak ingin semakin membuat Khadijah gelisah, Dirga memilih fokus dan menambah laju kecepatan nya dalam berkendara. Beruntung perjalanan kali ini malam hari, sehingga Dirga tidak harus bergelut dengan kemacetan.
Jarak tempuh yang harus di lalui keduanya kurang lebih 2 sampai 3 jam dari kota Malang menuju Jombang.
Suasana tampak sepi dan sunyi tatkala Khadijah dan Dirga hanya saling diam saja. Selain diam Dirga juga menangkap mata sayu Khadijah, tatapan nya jauh kedepan, entah apa yang saat ini tengah Khadijah pikirkan, ‘batin Dirga’.
Setelah cukup lama berkendara, mobil yang dikemudikan Dirga telah sampai pada tujuannya, tidak sulit menemukan rumah tingga orang tua Khadijah yang telaknya memang berada di pusat kota Jombang.
Khadijah tampak masih diam, Dirga sendir dapat membaca kesedihan dan kebingungan di mata gadis yang ada di sampingnya.
“Ayo kita turun”
Ajak Dirga pada akhirnya.
Tangis Khadijah luruh seketika, kembali dia berusaha menguatkan hati dan batinya, mesi sejujurnya sangat berat bagi Khadijah.
Sungguh sakit hati yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, kehilangan orang tua merupakan kerugian terbesar bagi manusia yang memahaminya.
Sebagai muslimah tentu Khadijah tahu jika orang tua terlebih itu ibu nya telah berpulang, makan hilanglah satu keberkahan besar dalam hidupnya yaitu ‘Doa Ibu’.
Khadijah meyakini jika berkat doa ibu nya lah harapan terbesar dalam hidupnya saat ini bisa di raih nya.
Melihat banyaknya orang berkerumun di rumah nya, tentu membuat Khadijah kembali merasakan sesak di dada, sesuatu yang tidak pernah Khadijah harapkan sebelumnya.
Kematian memang sudah bagian dari takdir dan pasti akan datang pada siapa saja yang bernyawa, Namun Khadijah tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi secepat ini, terlebih Khadijah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya secara bersamaan.
Gontai langkah kaki Khadijah berjalan masuk menuju rumahnya, tempat dimana akan menjadi saksi pertama kali Khadijah mengenal sosok ibu bapaknya hingga hari ini pula untuk yang terakhir kali Khadijah melihatnya.
Air mata itu tidak kuasa Khadijah tahan lagi, tatkala dua manik mata Khadijah melihat pada dua keranda yang tentu berisi kedua orang tuanya disana.
Sejujurnya ingin Khadijah meronta dan memohon agar orang tuanya kembali, namun agaknya keinginan nya terlalu tinggi, harapannya sia-sia saja, karena Takdir Allah telah memilih nya.
Dalam kesedihan, Khadijah hanya bisa menangis dan meluapkan segala rasa di depan jenazah Bapak Ibu nya, menyadari jika ini merupakan terakhir kali dan Khadijah sungguh sangat tidak rela melepas keduanya.
“Pak… Bu…”
Bergetar suara Khadijah menahan tangis yang selalu saja membuatnya tak kuasa menahan kesedihan nya.
“Dija ndak mau di tinggal sendiri Pak Bu…”
Tidak hanya suara namun tubuh Khadijah pun bergetar dengan tangisan yang tidak bisa tertahan, pilu dan terdengar menyakitkan.
“Ikhlas yo Nduk, Bapak ibu sudah tenang disana”
Usapan lembut dari sosok pria paruh baya yang sebelumnya menyambut kedatangan Khadijah. Laki-laki yang Khadijah panggil Abah. Merupakan paman dan kakak kandung Bapak nya.
Sejujurnya Khadijah sendiri tidak ingin meratapi, hanya saja naluri sebagai anak membuatnya berharap orang tuanya akan kembali.
“Abahh… Umi… Nanti Dija gimana kalau tidak ada mereka”
Untuk saat ini Khadijah membiarkan kedewasaan dalam dirinya hilang begitu saja, Khadijah sudah seperti anak kecil yang tidak bisa ditinggal pergi orang tuanya. Sungguh karena setelah ini dia hanya kan sendiri.
“Ada Abah dan Umi nduk, Kamu yang sabar yo”
Umi Aminah yang sejujurnya juga bersedih atas kepergian kedua adik iparnya, mencoba menenangkan Khadijah.
Umi Aminah sadar jika ini tidak lah mudah, dan untuk sesaat keduanya membiarkan Khadijah melepaskan kerinduan Bersama Almarhum orang tuan yang esok pagi akan segera di kebumikan.
Pelukan hangat Umi Aminah menjadi penenang bagi Khadijah.
Sementara dari kejauhan, Dirga hanya bisa menatap dan memandangi kesedihan yang dirasakan Khadijah.
Khadijah tertunduk lemas tak berdaya, dengan mushaf kecil di tangannya, Khadijah mulai membekali orang tuanya dengan doa, berharap jika apa yang di bacakan akan sedikit meringankan beban mereka ketika berada di alam kubur nya.
Jika dulu orang tua nya yang selalu membekali Khadijah dengan doa-doa dan harapan besar nya, maka saat ini giliran Khadijah lah yang akan membekali kedua orang tua nya dengan doa, untuk mengiringi perjalanan Panjang tanpa tujuan untuk kembali pulang.
Dalam suasana duka masih terus Khadijah menitihkan air mata nya, namun lembut suara Khadijah membaca mushaf diatas tangannya, membuat semua orang yang mendengarnya turut larut dalam lantunan ayat suci Al-Quran bacaannya.
**
Pagi Hari.
Kerumunan tetangga, sanak, dan saudara kembali memadati kediaman Almarhum orang tua Khadijah.
Memandikan, Mengkafani, dan Menyolatkan telah di lakukan malam tadi, namun hingga saat ini masih ada sanak saudara yang akan kembali menyolatkan jenazah Almarhum orang tua Khadijah.
Manik mata Khadijah terlihat sayu, selain karena sedang sedih tentu karena setelah semalaman mata itu tidak terpejam, Khadijah hanya duduk menunggu di pusaran kedua orang tuanya, sembari berdoa dan menitipkan harapan untuk dipertemukan kembali di Jannah nya.
“Nduk”
Abah Hasim menyentuh pundak Khadijah dengan lembut. Senyuman dan anggukan Abah Hasim menjadi pertanda jika waktunya telah tiba.
Menyadari hal itu, sudut mata Khadijah kembali berkaca-kaca. Betapa tidak dia begitu merasakan sesak di dada nya, karena setelah ini dia tidak akan lagi bisa melihat kedua orang tuanya.
Kenangan masa kecil muncul begitu saja di benak Khadijah, menyadari betapa waktu sangat cepat berlalu.
“Abahh….”
Bergetar suara Khadijah, jujur meski berat namun Khadijah telah ikhlas dan rela Yang Maha Kuasa memanggil kedua orang tuanya.
“Bapak ibu mau di berangkatkan sekarang”
Lembut Abah Hasim berkata pada keponakan yang sudah dianggapnya seperti anak nya.
Anggukan kepala, dan tangis yang membasahi pipi, menjadi bukti jika Khadijah sudah benar-benar ridho dan rela untuk mengantar kedua orang tuanya hingga ke tempat peristirahatan terakhir mereka.
“Sabar ya Nduk, kita doakan saja bapak dan ibu agar tenang di sana” Umi Aminah menimpali.
Khadijah di papah Umi Aminah dan beberapa saudara lainya. Berjalan menuju luar rumah yang tampak lebih ramai dari kemarin malam saat Khadijah datang.
Diluar rumah, Khadijah melihat beberapa orang perangkat desa dan tokoh agama tengah bersiap memberangkatkan jenazah orang tuanya. Menyampaikan kabar duka, dan ucapan bela sungkawa pada keluarga yang di tinggalkan.
Hingga berakhir pada 12 orang pria mengangkat keranda jenazah orang tua Khadijah, 6 orang pada setiap keranda yang di bawa. Sungguh lemah dan sakit sekali rasanya, hingga Khadijah hanya bisa kembali menitihkan Air mata nya.
Pemandangan pertama yang Khadijah lihat ini, tentu juga merupakan pemandangan terakhir kali bagi dirinya menemani dan mengantarkan kedua orang tua nya hingga tempat peristirahatan terakhirnya.
Laillah Ha Illawlloh….
Laillah Ha Illawlloh….
Laillah Ha Illawlloh….
Kalimat yang terdengar mengiringi langkah kaki orang-orang pengantar jenazah kedua orang tua Khadijah hingga tujuan terakhir mereka ‘Pemakaman’.
Usapan lembut selalu Umi Amina berikan pada Khadijah, meski tidak mengatakan apa pun, Umi Amina tahu Khadijah sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitar nya.
Rombongan pengiring jenazah telah tiba di pemakanan, termasuk Khadijah yang juga telah berada disana.
Abah Hasim yang didapuk sebagai pemangku agama sekaligus wali Khadijah mulai memimpin prosesi pemakaman.
Doa tidak lupa dia panjatkan untuk mengantarkan kepergian Adik sekaligus adik ipar nya.
Sekuat tenaga Khadijah kembali menahan air matanya, namun rasa-rasanya begitu sulit bagi Khadijah, terlebih ketika melihat gundukan tanah diatas kuburan Bapak ibu nya sedikit demi sedikit mulai meninggi dan semakin menutupi.
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Aiur Skies
letaknya ✌
2024-01-17
0
Hasrie Bakrie
Al fatiha tuk almarhum dan almarhumah, semoga Husnul khotimah 🤲😭
2024-01-17
0
Yumna Ghaisani
jadi teringat kmbli k2 orang tuaku yg telah berpulang ke Rahmatullah
2024-01-06
0