...Ada kuasa yang tidak pernah bisa di hitung dengan apapun, Sehebat apapun manusia, bisa runtuh dengan hanya satu kalimat - Kun Faya Kun...
...☘️...
Dengan Mantap Abah Hasim menjabat tangan calon menantunya.
“Ananda Aksara Virendra Brawijaya bin Lukman Pratama Brawijaya, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Putri saya yang bernama Khadijah Hapsari Binti Alm. Muhammad Hakim, dengan mas kawinnya berupa Cek Sebesar Dua Ratus Lima Puluh Juta Rupiah”
"Saya Terima Nikah Dan Khawinya Khadijah Hapsari Binti Alm. Muhammad Hakim, dengan mas kawinnya Tersebut Dibayar Tunai"
Khadijah tidak menyangka lembaran Kertas di hadapan Abahnya berisi nominal yang cukup tinggi. Dan Meski tidak begitu percaya, namun Khadijah bahagia karena Aksara benar-benar memuliakannya dengan Mahar tinggi.
"Bagaimana Saksi , Sah???" Ucap Abah.
"Sah"
"Sah"
Alhamdulillah .....
Abah pun Membacakan Doa kepada kedua mempelai.
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ اٰدَمَ وَحَوَّاءَ وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَسَارَةَ وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ سَيِّدَنَا يُوْسُفَ وَزُلَيْخَاءَ وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَى وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا عَلِيِّ وَسَيِّدَتِنَا فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءَ
Allâhumma allif bainahumâ kamâ allafta baina Adam wa Hawwa, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Ibrâhîm wa Sârah, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Yûsuf wa Zulaikha, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Muhammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallama wa sayyidatinâ Khadîjatal kubrâ, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ ‘Aly wa sayyidatinâ Fâthimah az-Zahrâ
Artinya: “Ya Allah, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Adama dan Hawa, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Ibrahim dan Sarah, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Yusuf dan Zulaikha, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Baginda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallama dan Khadijah Al-Kubra, dan rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Ali dan Fathimah Az-Zahra.”
Bulir-Bulir bening seketika Merembes dari sudut mata indah Khadijah. Bukan tidak bahagia, Hanya saja Khadijah belum bisa mendeskripsikan perasaan nya.
Pelukan Umi Amina cukup membuat Khadijah sedikit merasakan ketenangan dalam hati nya.
Meski Khadijah tahu Umi pun juga menitihkan air mata dalam pernikahannya, Begitu juga dengan Abah yang terlihat dalam mata Khadijah tengah berusaha menyembunyikan air mata nya.
Semua sedih ? 'Mungkin saja' . Namun dari semua rasa yang terasa menyudutkan Khadijah, dia berharap jika pernikahannya dengan Aksara akan membawa bahagia.
"Cium tangan suamimu Nduk ?"
Bisik Umi Amina tepat di telinga Khadijah.
Mendengar ucapan Umi Amina, jujur saja Khadijah ragu untuk melakukanya, entah Aksara akan menerima atau justru sebaliknya, namun Khadijah berusaha menepis segala keraguan dalam pikirannya. Hingga Ukuran tangan Khadija bersambut dengan Tangan Kekar Aksara.
Cup.
Sebuah kecupan tanda bakti khadijah sebagai Istri. Tepat diatas punggung tangan Kekar Milik Aksara.
'Apa ini ?' Batin Aksara dalam hati.
Entah perasaan apa, tapi yang jelas bukan cinta, tiba-tiba saja menghangatkan hati Aksara yang selama ini seolah mati rasa.
Aksara begitu menikmati kecupan lembut bibir Khadijah yang menyentuh punggung tangannya. Meski tertutup oleh cadar yang di kenakan nya, Namun entah mengapa Aksara menyukainya.
"Nak Aksa, Khadijah"
Panggilan Abah seketika membuyarkan lamunan dua anak manusia yang baru saja menyandang status baru nya.
"Kalian sudah resmi menjadi suami dan istri, Abah hanya berpesan Untuk selalu menanamkan Kebaikan dalam rumah tangga"
"Dan untuk nak Aksa"
Abah terdengar menjeda ucapannya, Terlihat Abah yang larut dalam kesedihan di hati nya. Entah benar atau salah keputusan dia menikahkan Khadijah, Namun Abah begitu berharap jika Aksara bisa menjaga putrinya.
"Abah minta, jaga dan lindungi Khadijah, Abah tahu kamu tidak cinta. Jangan Kamu telantarkan atau sia-sia kan dia, Jika memang Nak Aksa sudah tidak menginginkan nya, Kembalikan Khadijah. Abah selalu siap menerima dengan tangan terbuka"
Bergetar tubuh Abah Hasim mengatakan itu pada laki-laki yang sudah sah menjadi menantu sekaligus Suami Khadijah.
Mendengar suara lirih Abah, Entah mengapa sudut hati Aksara juga menghangat seketika. Meski Aksara merasakan perbedaan dalam dirinya, Aksara tetaplah Aksara yang datar dan terkesan dingin.
Hingga Anggukan kepala saja yang menjadi jawaban atas ucapan dan pesan Abah sebelumnya.
Panjang lebar Abah memberikan wejangan dan nasihat berumah tangga untuk Aksara dan Khadijah.
Entah diterima atau hanya sebagai angin lalu saja bagi Aksara, namun Abah tetap berusaha mengingatkan keduanya jika meski terpaksa namun pernikahan ini sah dan di saksikan Allah serta para malaikat nya. Serta jagat raya dan alam semesta pun menjadi saksi di mulainya petualangan rumah tangga mereka.
***
Tidak menunggu esok hari. Malam itu juga Aksara memboyong Khadijah.
Aksara mengabaikan tangisan dan kesedihan wanita yang sudah sah menjadi istri dan keluarganya.
Meski Umi Amina telah memohon untuk malam ini saja mereka menginap di rumahnya, namun Lagi-lagi Aksara menolak nya. Aksara seolah sudah tidak lagi ingin berlama-lama.
Tidak lupa sebelum pergi, Abah menyampaikan jika Urusan dengan Azis akan tetap dia upayakan, apapun dan bagaimana pun cara nya.
Karena kesalahan Azis yang mengambil barang bukan miliknya, Abah anggap sebagai hutang, maka tetap mereka harus mempertanggung jawabkan dengan mengembalikan. Kecuali Aksara mengikhlaskan semua.
Aksara hanya bereaksi datar saja tatkala Abah mengatakan semua maksud dan tujuan nya, yang jelas saat ini Aksara sudah tidak ingin berlama-lama. Hingga lagi-lagi anggukan kepala menjadi jawaban atas ucapan Abah sebelumnya.
Tidak banyak yang Aksara harapkan, Karena uang sebanyak itu tentu tidak dengan mudah di dapat kan. Dan Entah mengapa Aksara mulai untuk melupakan. Meski masih di pikirkan.
Dengan hanya berbekal koper kecil yang berisi segala macam keperluan. Khadijah memantapkan hati dan meneguhkan pikiran untuk mengikuti langkah sang suami.
"Nduk. Jangan lupa selalu kabari Umi"
Pesan Umi Amina sebelum benar-benar berpisah dengan Khadijah.
Sementara Abah hanya bisa menatap kepergian Khadijah dengan segala rasa yang begitu menyesakan dada.
Azis sendiri hanya bisa tertunduk lemas dengan rasa bersalah, karena ulah dan kesalahan dirinya, Khadijah harus menanggung semua akibatnya. Bahkan menikah dengan Aksara yang jelas bukan merupakan pilihan nya.
"Assalamualaikum Umi, Abah"
Kalimat terakhir sebelum Khadijah masuk kedalam mobil Aksara.
Lambaian tangan menjadi pertanda jika perpisahan sementara meraka di mulai dari saat ini. Siap tidak siap dan rela tidak rela Khadijah akan menjalaninya.
Menjalani hari baru dengan menyandang status baru. Entah sampai kapan, Yang jelas Khadijah hanya berusaha untuk menjadikan rumah tangganya bersama Aksara sebagai bahtera dan pelabuhan pertama serta terakhirnya.
***
Bagaimana Kakak Readers ? Semoga suka dengan Alur ceritanya ya. Mohon maaf apabila ada salah-salah kata. 🤗❤️☘️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Farrohatul Jannah
meskipun terlambat, selamat atas pernikahanmu dijah🥲
2025-01-23
0
sri Hartati_
samawa aksara Khadijah❤️❤️
2024-08-08
1
Anonymous
Semoga SAMAWA buat Khodijah dan suaminya
2024-02-05
2