...Aku akan terus Mencintaimu. Meski Pada Akhirnya Nanti Kau Bukan Takdirku. Aku Tetap Bahagia Karena Pernah Menjadikanmu Sebagai Pilihan Ku....
...☘️...
Paham dengan keadaan yang di alami Abah Hasim, tentu sedikit banyak membuat Khadijah merasa kasihan. Dan turut merasakan kesedihan yang Abah rasakan.
Terlebih melihat Abah Hasim yang memang seorang pemuka Agama, rasa-rasanya sangat disayangkan jika ada anaknya yang tidak baik dalam berkelakuan. Tentu hal ini menjadi beban tersendiri bagi Abah.
Terlebih diera saat ini, berkaitan agama tentu sangat sensitif rasanya, bagaimana anggapan orang diluar sana jika ada anak petinggi agama yang justru tidak berlaku sebagaimana mestinya 'Pikir Khadiah'
“Kalau boleh tahu, Mas Azis buat salah apa Bah. Kok sampai di pecat?” hati-hati Khadiah bertanya.
Karena begitu penasaran Khadijah merasa perlu bertanya, setidaknya tidak akan ada prasangka buruk ketika Khadijah telah bertanya pada Abah nya, ‘Pikir Khadijah’ .
Namun mendengar pertanyaan sebelumnya, agaknya Khadijah kembali melihat kesedihan di wajah pria paruh baya di sampingnya.
“Abah juga ndak tau kenapa, Mas mu ndak pernah mau cerita” Lemah suara Abah Hasim.
Khadijah lantas menganggukkan kepala nya.
"Mas Umar dan Mas Ali mungkin tahu Bah, dan bisa menasehati" Ujar Khadiah
Khadijah memang tidak memiliki saudara kandung, tapi yang dia ketahui sesama saudara terkadang justru mudah untuk menasehati di bandingkan dengan orang tuanya sendiri.
"Sudah"
"Mereka juga sudah berkali-kali menasehati Mas Mu, sama saja Azis memang berbeda dari dua Kakak nya"
Helaan nafas berat terdengar keluar begitu saja dari mulut Abah, sepertinya Abah Hasim memang telah lelah dengan sikap dan perilaku anak Bungsunya.
Tidak ingin mendesak sang Abah dengan pertanyaan yang mungkin saja akan semakin membuat hatinya kecewa, Khadijah memilih untuk mengganti topik pembicaraan mereka.
Hingga pada akhirnya Khadiah mengakhiri obrolan sebelumnya dengan senyum manis dan anggukan kepala.
“Oya Bah. Minggu depan Dijah ke Malang ya. Ada praktikum soalnya”
Seberkas senyum kecil terlihat di wajah Abah Hasim.
“Iya Nduk”
Mendengar suara teduh Abah sungguh membuat Khadiah lega rasanya.
“Mengenai beasiswa. Umi mu juga sudah bilang sama Abah”
Ucapan Abah seketika membuat Khadijah serius dan begitu fokus, karena tentu ini yang begitu Khadijah nanti. Sejak terakhir kali Khadijah membaca email dari perusahaan Almarhum orang tua nya, rasanya Khadiah tidak pernah bisa tenang memikirkan nasib kuliah nya.
“Kamu harus tetap melanjutkan kuliahmu Nduk, sesuai cita-cita ibu Bapak mu”
"Kamu Ndak usah pikir biaya nya"
“Abah dan Umi, yang akan menanggung semua biaya nya, kamu ndak usah pikirkan apapun, fokus saja sampai tujuan mu tercapai”
Sungguh mendengar ucapan Abah Hasim membuat Khadijah begitu tidak kuasa membendung air mata nya.
“MashaAllah. Terima kasih Bah”
Masih dengan hati bahagia Khadiah tidak henti-hentinya mengucap syukur pada Sang Maha Kuasa.
“Alhamdulillah”
Linangan air mata membanjiri pipi Khadijah yang tertutup oleh cadar yang di kenakan nya. Rasa syukur saja rasanya tidak cukup menggambarkan betapa bahagianya Khadijah saat ini.
Masih tidak percaya hingga kata “Alhamdulillah” terus terucap di dalam hati nya.
Beberapa kali Khadijah mencium punggung tangan Abah Hasim, dan rasanya kata terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semua kebaikan Kakak dari Bapaknya itu.
Jujur saja biaya kuliah kedokteran yang tentu tidak sedikit angka nya, membuat Khadijah begitu bahagia karena Abah mau dan dengan ikhlas membantu Khadijah.
“Sudah malam. Di lanjut besok lagi saja Nduk, sudah waktunya istirahat”
Ucapan Abah, seketika menyadarkan Khadijah jika keduanya telah berbincang dalam waktu yang cukup lama.
“Astaghfirullah Abah”
Tanpa terasa waktu menunjukan pukul 21.45.
Keduanya lantas tersenyum, mengingat betapa banyak obrolan diantara mereka hingga sama-sama melupakan waktu yang terus bergulir begitu saja.
**
Gulita semakin indah di waktu malamnya, seberkas cahaya rembulan yang menelusup masuk kedalam celah jendela kamar Khadiah sungguh membuatnya begitu bersyukur atas segala nikmat yang telah di berikan pada nya.
Sesungguhnya setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan, 'Kalimat yang selalu khadijah dengar dari Almarhum Bapaknya saat itu'.
Berada di lingkungan pesantren membuat Khadijah merasa lebih tenang dan tentram, tidak terasa sudah satu minggu Khadijah berada di sana.
Kesedihan atas kepergian kedua orang tuanya kini mulai berkurang, dan masalah Pendidikan telah Khadijah dapatkan solusinya, malam-malam yang selalu membuat Khadijah gelisah kini telah lewat, setelah dia mendapatkan kabar jika Abah akan membiayai kuliahnya.
Begitu bahagia hingga Khadijah seolah tidak bisa memejamkan mata nya. Membayangkan jika bukan Abah sudah pasti Khadijah akan kebingungan, meski Khadijah percaya jika pertolongan Allah selalu datang tepat pada waktunya.
Dalam rasa syukur dan bahagia yang tengah Khadiah rasakan, sekelebat wajah kakak sepupunya muncul begitu saja dalam ingatan nya. Dan entah mengapa, Khadijah kembali memikirkan ucapan Abah Hasim sebelumya.
Jujur saja Khadijah masih begitu penasaran dengan masalah apa yang terjadi pada Kakak sepupu nya, entah Abah yang tidak ingin bercerita atau Abah benar-benar tidak mengetahuinya, 'Entah lah'. Sedikit banyak hal itu tentu menciptakan pertanyaan besar di kepala Khadijah.
**
Izin perjalanan telah Khadijah dapatkan, semua persiapan juga telah Khadijah siapkan semalam. Tidak lupa Khadiah membawa sambal dan dendeng yang telah Umi Amina siapkan untuk stock Khadijah selama beberapa hari di Malang.
Khadijah merasa bahagia atas perhatian yang di berikan oleh Umi dan Abi. Meski tidak dari ibu kandungnya, namun perhatian Umi Amina begitu membuat Khadiah merasa bahagia.
"Umi Dijah berangkat ya"
Pamit Khadiah dengan mencium punggung tangan Umi Amina dengan takzim.
"Kamu hari-hati ya, jaga diri di kota Orang"
Sama seperti pesan Almarhum ibu nya dulu, perhatian dan kasih sayang seperti ini selalu Khadijah nantikan. Beruntung masih ada Uni Amina yang begitu menyayangi dirinya layaknya ibu kandung nya.
"Iya Umi, Cuma satu Minggu saja, Setelah semua urusan dan praktikum Dijah selesai InshaAllah langsung pulang"
Anggukan kepala dan senyum manis menghiasi bibir Umi Amina untuk mengantarkan kepergian Khadijah.
Dengan diantarkan Abah Hasim, Khadijah bersiap menuju terminal kota Jombang.
Tidak butuh waktu lama, Abah Hasim telah sampai tujuannya, terminal Kota Jombang. Seperti biasa ' Bus Puspa Indah' merupakan kendaraan yang akan mengantarkan Khadijah hingga kota Malang.
"Nduk. Jangan lupa selalu berdoa"
"Hati-hati sama barang bawaannya"
Dua jam bisa di bilang cukup lama dalam berkendara, dan apa pun bisa terjadi, sehingga Abah Hasim selalu menasihati dan mengingatkan Khadijah untuk selalu berhati-hati.
"InshaAllah Abah, Dijah akan selalu mengingat pesan Abah"
Anggukan kepala menjadi jawaban Abah.
"Lekas pulang jika semua sudah selesai"
"InshaAllah Abah"
Tidak lupa dalam perpisahannya, Khadijah mencium punggung tangan Abah dengan takzim. Senyuman dan lambaian tangan menjadi pengantar Abah untuk Khadijah yang akan masuk dalam Bus.
Malang... !!!
Malang ..!!!!
Malang ....!!!
Kenek Bus mulai bersiap memanggil penumpang lainya, karena Bus sudah akan berangkat ke tempat tujuannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Tati Suwarsih
lanjut...blum fokus alur ceritanya
2023-12-08
5
Sugiharti Rusli
masih meraba- raba yah alurnya😊😊
2023-09-09
1
E Dnisa
knapa aku Bru Nemu novel2 punya kakak y padahal aku sdah lama bngt mnjdi pengguna NT. eh berkat dri akun kmarin yg ilang akhirnya bikin akun baru jadi deh Nemu novel2 kakak.
2023-09-07
1