BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH

...Aku akan terus Mencintaimu. Meski Pada Akhirnya Nanti Kau Bukan Takdirku. Aku Tetap Bahagia Karena Pernah Menjadikanmu Sebagai Pilihan Ku....

...☘️...

Paham dengan keadaan yang di alami Abah Hasim, tentu sedikit banyak membuat Khadijah merasa kasihan. Dan turut merasakan kesedihan yang Abah rasakan.

Terlebih melihat Abah Hasim yang memang seorang pemuka Agama, rasa-rasanya sangat disayangkan jika ada anaknya yang tidak baik dalam berkelakuan. Tentu hal ini menjadi beban tersendiri bagi Abah.

Terlebih diera saat ini, berkaitan agama tentu sangat sensitif rasanya, bagaimana anggapan orang diluar sana jika ada anak petinggi agama yang justru tidak berlaku sebagaimana mestinya 'Pikir Khadiah'

“Kalau boleh tahu, Mas Azis buat salah apa Bah. Kok sampai di pecat?” hati-hati Khadiah bertanya.

Karena begitu penasaran Khadijah merasa perlu bertanya, setidaknya tidak akan ada prasangka buruk ketika Khadijah telah bertanya pada Abah nya, ‘Pikir Khadijah’ .

Namun mendengar pertanyaan sebelumnya, agaknya Khadijah kembali melihat kesedihan di wajah pria paruh baya di sampingnya.

“Abah juga ndak tau kenapa, Mas mu ndak pernah mau cerita” Lemah suara Abah Hasim.

Khadijah lantas menganggukkan kepala nya.

"Mas Umar dan Mas Ali mungkin tahu Bah, dan bisa menasehati" Ujar Khadiah

Khadijah memang tidak memiliki saudara kandung, tapi yang dia ketahui sesama saudara terkadang justru mudah untuk menasehati di bandingkan dengan orang tuanya sendiri.

"Sudah"

"Mereka juga sudah berkali-kali menasehati Mas Mu, sama saja Azis memang berbeda dari dua Kakak nya"

Helaan nafas berat terdengar keluar begitu saja dari mulut Abah, sepertinya Abah Hasim memang telah lelah dengan sikap dan perilaku anak Bungsunya.

Tidak ingin mendesak sang Abah dengan pertanyaan yang mungkin saja akan semakin membuat hatinya kecewa, Khadijah memilih untuk mengganti topik pembicaraan mereka.

Hingga pada akhirnya Khadiah mengakhiri obrolan sebelumnya dengan senyum manis dan anggukan kepala.

“Oya Bah. Minggu depan Dijah ke Malang ya. Ada praktikum soalnya”

Seberkas senyum kecil terlihat di wajah Abah Hasim.

“Iya Nduk”

Mendengar suara teduh Abah sungguh membuat Khadiah lega rasanya.

“Mengenai beasiswa. Umi mu juga sudah bilang sama Abah”

Ucapan Abah seketika membuat Khadijah serius dan begitu fokus, karena tentu ini yang begitu Khadijah nanti. Sejak terakhir kali Khadijah membaca email dari perusahaan Almarhum orang tua nya, rasanya Khadiah tidak pernah bisa tenang memikirkan nasib kuliah nya.

“Kamu harus tetap melanjutkan kuliahmu Nduk, sesuai cita-cita ibu Bapak mu”

"Kamu Ndak usah pikir biaya nya"

“Abah dan Umi, yang akan menanggung semua biaya nya, kamu ndak usah pikirkan apapun, fokus saja sampai tujuan mu tercapai”

Sungguh mendengar ucapan Abah Hasim membuat Khadijah begitu tidak kuasa membendung air mata nya.

“MashaAllah. Terima kasih Bah”

Masih dengan hati bahagia Khadiah tidak henti-hentinya mengucap syukur pada Sang Maha Kuasa.

“Alhamdulillah”

Linangan air mata membanjiri pipi Khadijah yang tertutup oleh cadar yang di kenakan nya. Rasa syukur saja rasanya tidak cukup menggambarkan betapa bahagianya Khadijah saat ini.

Masih tidak percaya hingga kata “Alhamdulillah” terus terucap di dalam hati nya.

Beberapa kali Khadijah mencium punggung tangan Abah Hasim, dan rasanya kata terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semua kebaikan Kakak dari Bapaknya itu.

Jujur saja biaya kuliah kedokteran yang tentu tidak sedikit angka nya, membuat Khadijah begitu bahagia karena Abah mau dan dengan ikhlas membantu Khadijah.

“Sudah malam. Di lanjut besok lagi saja Nduk, sudah waktunya istirahat”

Ucapan Abah, seketika menyadarkan Khadijah jika keduanya telah berbincang dalam waktu yang cukup lama.

“Astaghfirullah Abah”

Tanpa terasa waktu menunjukan pukul 21.45.

Keduanya lantas tersenyum, mengingat betapa banyak obrolan diantara mereka hingga sama-sama melupakan waktu yang terus bergulir begitu saja.

**

Gulita semakin indah di waktu malamnya, seberkas cahaya rembulan yang menelusup masuk kedalam celah jendela kamar Khadiah sungguh membuatnya begitu bersyukur atas segala nikmat yang telah di berikan pada nya.

Sesungguhnya setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan, 'Kalimat yang selalu khadijah dengar dari Almarhum Bapaknya saat itu'.

Berada di lingkungan pesantren membuat Khadijah merasa lebih tenang dan tentram, tidak terasa sudah satu minggu Khadijah berada di sana.

Kesedihan atas kepergian kedua orang tuanya kini mulai berkurang, dan masalah Pendidikan telah Khadijah dapatkan solusinya, malam-malam yang selalu membuat Khadijah gelisah kini telah lewat, setelah dia mendapatkan kabar jika Abah akan membiayai kuliahnya.

Begitu bahagia hingga Khadijah seolah tidak bisa memejamkan mata nya. Membayangkan jika bukan Abah sudah pasti Khadijah akan kebingungan, meski Khadijah percaya jika pertolongan Allah selalu datang tepat pada waktunya.

Dalam rasa syukur dan bahagia yang tengah Khadiah rasakan, sekelebat wajah kakak sepupunya muncul begitu saja dalam ingatan nya. Dan entah mengapa, Khadijah kembali memikirkan ucapan Abah Hasim sebelumya.

Jujur saja Khadijah masih begitu penasaran dengan masalah apa yang terjadi pada Kakak sepupu nya, entah Abah yang tidak ingin bercerita atau Abah benar-benar tidak mengetahuinya, 'Entah lah'. Sedikit banyak hal itu tentu menciptakan pertanyaan besar di kepala Khadijah.

**

Izin perjalanan telah Khadijah dapatkan, semua persiapan juga telah Khadijah siapkan semalam. Tidak lupa Khadiah membawa sambal dan dendeng yang telah Umi Amina siapkan untuk stock Khadijah selama beberapa hari di Malang.

Khadijah merasa bahagia atas perhatian yang di berikan oleh Umi dan Abi. Meski tidak dari ibu kandungnya, namun perhatian Umi Amina begitu membuat Khadiah merasa bahagia.

"Umi Dijah berangkat ya"

Pamit Khadiah dengan mencium punggung tangan Umi Amina dengan takzim.

"Kamu hari-hati ya, jaga diri di kota Orang"

Sama seperti pesan Almarhum ibu nya dulu, perhatian dan kasih sayang seperti ini selalu Khadijah nantikan. Beruntung masih ada Uni Amina yang begitu menyayangi dirinya layaknya ibu kandung nya.

"Iya Umi, Cuma satu Minggu saja, Setelah semua urusan dan praktikum Dijah selesai InshaAllah langsung pulang"

Anggukan kepala dan senyum manis menghiasi bibir Umi Amina untuk mengantarkan kepergian Khadijah.

Dengan diantarkan Abah Hasim, Khadijah bersiap menuju terminal kota Jombang.

Tidak butuh waktu lama, Abah Hasim telah sampai tujuannya, terminal Kota Jombang. Seperti biasa ' Bus Puspa Indah' merupakan kendaraan yang akan mengantarkan Khadijah hingga kota Malang.

"Nduk. Jangan lupa selalu berdoa"

"Hati-hati sama barang bawaannya"

Dua jam bisa di bilang cukup lama dalam berkendara, dan apa pun bisa terjadi, sehingga Abah Hasim selalu menasihati dan mengingatkan Khadijah untuk selalu berhati-hati.

"InshaAllah Abah, Dijah akan selalu mengingat pesan Abah"

Anggukan kepala menjadi jawaban Abah.

"Lekas pulang jika semua sudah selesai"

"InshaAllah Abah"

Tidak lupa dalam perpisahannya, Khadijah mencium punggung tangan Abah dengan takzim. Senyuman dan lambaian tangan menjadi pengantar Abah untuk Khadijah yang akan masuk dalam Bus.

Malang... !!!

Malang ..!!!!

Malang ....!!!

Kenek Bus mulai bersiap memanggil penumpang lainya, karena Bus sudah akan berangkat ke tempat tujuannya.

***

Terpopuler

Comments

Tati Suwarsih

Tati Suwarsih

lanjut...blum fokus alur ceritanya

2023-12-08

5

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

masih meraba- raba yah alurnya😊😊

2023-09-09

1

E Dnisa

E Dnisa

knapa aku Bru Nemu novel2 punya kakak y padahal aku sdah lama bngt mnjdi pengguna NT. eh berkat dri akun kmarin yg ilang akhirnya bikin akun baru jadi deh Nemu novel2 kakak.

2023-09-07

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. KABAR DUKA
2 BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.
3 BAB 3. NASIHAT ABAH
4 BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN
5 BAB 5. PUTRA ABAH HASIM
6 BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH
7 BAB 7. TUMPANGAN
8 BAB 8. BERTEMU
9 BAB 9. KEMBALI PULANG
10 BAB 10. AKSARA VIRENDRA BRAWIJAYA
11 BAB 11. PERTANGGUNG JAWABAN
12 BAB 12. MENERIMA TAWARAN
13 BAB 13. PERSIAPAN
14 BAB 14. IJAB QOBUL
15 BAB 15. JAKARTA
16 BAB 16. KESAN PERTAMA
17 BAB 17. TERNYATA
18 BAB 18. MEMASAK
19 BAB 19.IBU RUMAH TANGGA
20 BAB 20. PERASAAN DIRGA
21 BAB 21. TAMPARAN
22 BAB 22. PERHATIAN
23 BAB 23. KABAR ABAH
24 BAB 24. KANTOR
25 BAB 25. PERDEBATAN
26 BAB 26. KEPANIKAN
27 BAB 27. PERTEMUAN
28 BAB 28. BERBELANJA BERSAMA
29 BAB 29. CERITA LAMA
30 BAB 30. MEMINTA IZIN
31 BAB 31. TERKEJUT
32 BAB 32. KAMAR AKSARA
33 BAB 33. PENYESALAN
34 BAB 34. TEDUH
35 BAB 35. MALU
36 BAB 36. VISUAL
37 BAB 37. PULANG
38 BAB 38. RUMAH SAKIT
39 BAB 39. Dirga Dan Aksara
40 BAB 40. PULANG
41 BAB 41. DATANG
42 BAB 42. MENGINAP.
43 BAB 43. AISYAH
44 BAB 44. KAMAR KHADIJAH.
45 BAB 45. KERINGAT DINGIN
46 BAB 46. WAKTU SUBUH
47 BAB 47. PAGI
48 BAB 48. OBROLAN PAGI
49 BAB 49. KABAR BAHAGIA.
50 BAB 50. MARISSA
51 BAB 51. TERKEJUT
52 BAB 52. KETEGASAN
53 BAB 53. APARTEMEN
54 BAB 54. MALAM
55 BAB 55. LINGERIE
56 BAB 56. MENGAGUMI
57 BAB 57. SKIN TO SKIN
58 BAB 58. PAGI MENYAPA
59 BAB 59. BERHALANGAN
60 BAB 60. SARAPAN
61 BAB 61. TAMU TAK DI UNDANG
62 BAB 62. PERSETUJUAN
63 BAB 63. GODAAN
64 BAB 64. ISI HATI AKSARA
65 BAB 65. DUA WANITA
66 BAB 66. PERMINTAAN MARISSA
67 BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH
68 BAB 68. MAKAN MALAM
69 BAB 69. MALAM PERTAMA
70 BAB 70. BINCANG
71 BAB 71. KABAR BAHAGIA
72 BAB 72. PETUALANG PAGI
73 BAB 73. MANDI KE DUA
74 BAB 74. RUMAH MAMA
75 BAB 75. BERULAH
76 BAB 76. SALAH PAHAM
77 BAB 77. BERTEMU
78 BAB 78. MAAF
79 BAB 79. RENCANA AKSARA
80 BAB 80. PINDAH
81 BAB 81. BERSIAP
82 BAB 82. MASA LALU
83 BAB 83. PELAKU
84 BAB 84. PECI
85 BAB 85. KEJUTAN
86 BAB 86. BERBADAN DUA
87 BAB 87. SURGA ISTRI
88 BAB 88. RUMAH SAKIT
89 89. PAHALA MEMINTA
90 BAB 90. MUAL
91 BAB 91. KABAR BAIK
92 BAB 92. DEPRESI
Episodes

Updated 92 Episodes

1
BAB 1. KABAR DUKA
2
BAB 2. PERTEMUAN TERAKHIR.
3
BAB 3. NASIHAT ABAH
4
BAB 4. PESANTREN DARUL QUR'AN
5
BAB 5. PUTRA ABAH HASIM
6
BAB 6. KEBERANGKATAN KHADIJAH
7
BAB 7. TUMPANGAN
8
BAB 8. BERTEMU
9
BAB 9. KEMBALI PULANG
10
BAB 10. AKSARA VIRENDRA BRAWIJAYA
11
BAB 11. PERTANGGUNG JAWABAN
12
BAB 12. MENERIMA TAWARAN
13
BAB 13. PERSIAPAN
14
BAB 14. IJAB QOBUL
15
BAB 15. JAKARTA
16
BAB 16. KESAN PERTAMA
17
BAB 17. TERNYATA
18
BAB 18. MEMASAK
19
BAB 19.IBU RUMAH TANGGA
20
BAB 20. PERASAAN DIRGA
21
BAB 21. TAMPARAN
22
BAB 22. PERHATIAN
23
BAB 23. KABAR ABAH
24
BAB 24. KANTOR
25
BAB 25. PERDEBATAN
26
BAB 26. KEPANIKAN
27
BAB 27. PERTEMUAN
28
BAB 28. BERBELANJA BERSAMA
29
BAB 29. CERITA LAMA
30
BAB 30. MEMINTA IZIN
31
BAB 31. TERKEJUT
32
BAB 32. KAMAR AKSARA
33
BAB 33. PENYESALAN
34
BAB 34. TEDUH
35
BAB 35. MALU
36
BAB 36. VISUAL
37
BAB 37. PULANG
38
BAB 38. RUMAH SAKIT
39
BAB 39. Dirga Dan Aksara
40
BAB 40. PULANG
41
BAB 41. DATANG
42
BAB 42. MENGINAP.
43
BAB 43. AISYAH
44
BAB 44. KAMAR KHADIJAH.
45
BAB 45. KERINGAT DINGIN
46
BAB 46. WAKTU SUBUH
47
BAB 47. PAGI
48
BAB 48. OBROLAN PAGI
49
BAB 49. KABAR BAHAGIA.
50
BAB 50. MARISSA
51
BAB 51. TERKEJUT
52
BAB 52. KETEGASAN
53
BAB 53. APARTEMEN
54
BAB 54. MALAM
55
BAB 55. LINGERIE
56
BAB 56. MENGAGUMI
57
BAB 57. SKIN TO SKIN
58
BAB 58. PAGI MENYAPA
59
BAB 59. BERHALANGAN
60
BAB 60. SARAPAN
61
BAB 61. TAMU TAK DI UNDANG
62
BAB 62. PERSETUJUAN
63
BAB 63. GODAAN
64
BAB 64. ISI HATI AKSARA
65
BAB 65. DUA WANITA
66
BAB 66. PERMINTAAN MARISSA
67
BAB 67. SISI LAIN KHADIJAH
68
BAB 68. MAKAN MALAM
69
BAB 69. MALAM PERTAMA
70
BAB 70. BINCANG
71
BAB 71. KABAR BAHAGIA
72
BAB 72. PETUALANG PAGI
73
BAB 73. MANDI KE DUA
74
BAB 74. RUMAH MAMA
75
BAB 75. BERULAH
76
BAB 76. SALAH PAHAM
77
BAB 77. BERTEMU
78
BAB 78. MAAF
79
BAB 79. RENCANA AKSARA
80
BAB 80. PINDAH
81
BAB 81. BERSIAP
82
BAB 82. MASA LALU
83
BAB 83. PELAKU
84
BAB 84. PECI
85
BAB 85. KEJUTAN
86
BAB 86. BERBADAN DUA
87
BAB 87. SURGA ISTRI
88
BAB 88. RUMAH SAKIT
89
89. PAHALA MEMINTA
90
BAB 90. MUAL
91
BAB 91. KABAR BAIK
92
BAB 92. DEPRESI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!