Siang hari, setelah malamnya bergulat sampai pagi menggunakan teknik guntingan, Andra duduk di pinggir kasur sementara Valentina masih tidur di belakangnya dengan tubuh yang masih tak berpakaian dan basah dipenuhi dengan keringat dan air hasil kenikmatan.
Andra dengan tubuh wanitanya saat ini, ternyata memiliki kemampuan yg sama dengan tubuhnya yang satunya. Tidak hanya memiliki daya tahan dan kekuatan yang sama, tubuh wanitanya juga memiliki semacam saklar untuk mengontrol hasrat manusiawi secara aktif.
Haa … aku agak terkejut pas bagian bawahku— ahem, itu rasanya benar-benar seperti melayang, seakan ruhku sedang dicabut. Gila sekali rasanya, tubuh wanita memang sangat sensitif ternyata. Sementara itu pria, otaknya yang malah jauh lebih sensitif, bahkan hanya dengan melihat, kita sudah tegang, heheheh, tidak perlu disentuh.
Andra kemudian berdiri dan langsung memakai kembali pakaiannya menggunakan sistem Inventaris. Setelah itu, ia pun langsung menggunakan kemampuan Polymorph-nya untuk kembali merubah tubuhnya ke persona Indra.
"Haa … ini lebih nyaman," ucap Indra agak merentangkan badannya. Kemudian, ia pun menoleh melihat kembali Valentina sambil mulai menutupi tubuhnya dengan selimut. "Sepertinya dia terlalu lelah. heh, dewa kok dilawan." Lanjutnya dengan wajah sombong.
Indra pun berjalan menuju pintu dan membukanya. Kemudian ketika pintu terbuka, terlihatlah beberapa pelayan wanita ternyata sudah menunggu di depan pintu.
"Selamat pagi, Baginda," ucap para pelayan menunduk hampir bersamaan.
"Oh, pagi. Hmmm, sepertinya kalian belum boleh masuk, karena beliau masih tertidur," ucap Indra sambil menunjuk ke belakang dengan jempolnya.
Salah satu pelayan tak sengaja mengintip dari sela-sela pintu dan tubuh Indra. "Wah, basah sekali, apakah—"
Pelayan yang lain menyenggol lengan pelayan tersebut sambil menunduk dan meminta maaf. "Mohon maafkan, baginda, anak ini … dia masih baru."
"Mhm," angguk Indra dan langsung berjalan melewati mereka.
Seorang Butler yang juga menunggunya pun mulai berjalan di belakangnya. “Baginda, saya sudah menyiapkan jadwal anda, dan juga sarapan sudah disiapkan.”
“Jadi hari ini … apakah ada jadwal lain selain mengurus Zephirus?” tanya Indra terus berjalan dengan berwibawa.
“Ada, Baginda. Nyonya Sophia dan Nyonya Alisa, mengundang anda untuk datang ke dalam kamar mereka.”
“Sudah? tidak ada yang lain?”
“Tidak, baginda.”
“Dimana mereka?”
“Di kamar Nyonya Alisa, Baginda.”
“Kalau begitu aku akan langsung kesana. aku hari ini akan mangkir makan.”
“Baik, baginda.”
Indra pun lanjut pergi ke kamar Alisa.
********.
Alisa.
Sophia.
Indra pun sampai di kamar Alisa dan langsung melihat dirinya sudah berdiri di balik pintu, sementara Sophia duduk di ranjang.
“Apa yang kamu lakukan berdiri di dekat pintu? Kemana para pelayan?” Tanya Indra sesaat melihat mereka sendirian.
Alisa menghela nafas sambil tersenyum, “mereka sudah keluar. Aku yang suruh. Aku kurang nyaman jika terlalu banyak orang di dalam kamar ku.”
Indra pun tersenyum dengan tatapan perhatian, kemudian langsung mencium kening Alisa sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membesar meskipun hanya baru 3 bulan.
Sementara Sophia yang sedang sibuk memilah-milah buku yang ia bawa, langsung didekatinya dan langsung memeluk dari sambil sambil mencium kepalanya. “Apa yang sedang kamu lakukan? Apakah sudah saatnya kamu berhenti menjadi manajer cabang? Hm?” Lanjutnya sambil terus menciumi kepala Sophia.
Sophia pun menoleh, menatap Indra sambil memiringkan alis satunya. “Tenang saja, Baginda Permaisuri sudah menaruh dua maestro untuk mengawalku. Dua maestro wanita tidak kurang-kurang. Jadi kamu tidak perlu khawatir.”
Alisa berjalan dan langsung ikut duduk di kasur. “Apakah kamu ingin kembali ke Zephirus?”
Indra pun duduk, kemudian berbaring di kasur sambil mengelus perut kedua selirnya itu yang duduk saling membelakangi. “Iya … mereka tidak ada habisnya,” ucapnya tersenyum sambil menatap langit-langit kamar.
“Kamu memang ya, tidak ada liburnya,” ucap Alisa mulai berbaring di sebelah kiri Indra, sementara Indra terus mengelus perutnya.
Sophia yang masih sibuk memilah buku pun tanpa menoleh mulai berbicara, “aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan menjadi selirmu, bukan sebagai istri sah.”
“Memangnya apa bedanya? Sama saja kan?” Tanya Indra dengan santainya.
“Tentu saja beda!”
Indra agak terkejut sesaat Sophia terdengar agak marah. Namun dengan instingnya sebagai suami yang sudah berkaca dari masa lalunya, ia pun langsung duduk dan mulai memeluk Sophia dari belakang sambil mengecup leher Sophia.
“Bukankah kalian mengandung anakku? Jadi, kenapa harus khawatir?” Balas Indra.
“Tentu aku khawatir, karena aku tidak mau anak kita dilabeli sebagai anak jadah,” ucap Sophia mulai mengalirkan air mata.
Sementara itu, Alisa tampak hanya berbaring dengan tatapan penuh kekhawatiran. “Itu sudah tidak penting lagi. Yang terpenting kita bisa hidup bersama di bawah atap royal yang sama.”
“Maafkan aku, karena aku mau tidak mau harus mengikuti peraturan karena sudah terlanjur. Dan seandainya waktu itu aku sudah tahu terlebih dulu bahwa kalian hamil di saat aku belum membuat kesepakatan dengan sang permaisuri, mungkin kita sudah menjadi suami istri dan tinggal—”
“Kamu ada pekerjaan, kan?” Tanya Sophia yang menjadi sangat pencemburu akhir-akhir ini, memotong. “Yang terpenting kamu sudah menyetor wajah untuk bertemu dengan … SELIR mu,” lanjutnya dengan nada satir.
Alisa yang tetap berbaring pun tampak memalingkan wajahnya dari punggung Indra.
Sementara Indra hanya bisa menghela nafasnya, lalu mulai mencium pipi dan bahu Sophia. “Maafkan aku,” ucapnya dan mulai bangkit dari ranjang.
Indra kemudian berjalan ke sisi lain ranjang, dan melihat Alisa yang berbaring sambil mengelap air matanya.
“Ayolah, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu bersama kalian,” ucap Indra berlutut sambil menempelkan keningnya dengan kening Alisa.
“Terdapat banyak sekali hal yang membuatku terpikirkan,” ucap Alisa dengan suara pelannya.
Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan sampai membuatnya ikut menangis. Aku ingin bertanya, tapi itu sepertinya akan menambah bebannya.
“Jika kamu memiliki sesuatu yang ingin kamu ceritakan, ceritakan saja, aku mohon,” ucap Indra dan mulai mencium keningnya.
Indra pun berdiri dan berjalan ke arah pintu. Sebelum membuka pintu, ia menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya. “Kalau begitu, aku pergi dulu—”
Tiba-tiba pintu terbuka, dengan sekelompok pelayan wanita yang sedang membawa dua cangkir minuman mirip teh, hendak berjalan masuk.
Indra yang berada di tengah pintu pun seakan menyetop mereka semua. “Hmm, apa ini??”
Sang pelayan tampak gugup tidak menjawab, namun Sophia dari belakang menyahuti. “Itu teh herbal yang sudah biasa kita minum akhir-akhir ini. Kamu tidak perlu khawatir.”
Indra pun memiringkan badannya dan mempersilakan pelayan-pelayan tersebut masuk membawakan teh. Sementara itu, Indra langsung berjalan keluar sedang pintu mulai tertutup di hadapannya.
Haa … di dunia sebelumnya punya satu istri saja sudah merepotkan dan malah cerai. Kini punya satu istri dan dua selir, fuhh … apa sih yang sebenarnya aku lakukan? Punya terlalu banyak kekuatan dan merasa invincible sepertinya telah membuat otakku tumpul untuk berpikir secara sistematis.
Indra pun berjalan meninggalkan kamar Alisa dan mulai berjalan di lorong. Tak sampai sepuluh langkah kemudian, Indra langsung menghilang dan berteleportasi ke Zephirus.
********.
Indra.
Di sebuah lembah yang sempit di luar kota Zephirus, Indra melihat tumpukkan tulang belulang manusia. Lalu karena merasa aneh dengan lokasinya yang jauh dari peradaban terdekat, Ia pun langsung berteleportasi kembali ke ruang kerjanya di dalam citadel Zephirus untuk menanyakan hal yang berkaitan kepada tangan kanannya, Horrin.
Sesampainya di ruang kerja, Horrin sudah di sebuah kursi panjang tepat di depan meja kerjanya. Sang Pak tua Horrin tampak sedang membaca sebuah buku yang sangat tebal.
“Horrin,” Panggil Indra dari belakang.
Horrin pun langsung berdiri dan menunduk di hadapan Indra. “Tu— Baginda, Mohon maafkan saya,” ucapnya dan langsung menunjukkan buku tebal yang halamannya sudah terbuka ke Indra. “Ah … ini, saya sudah menemukan apa yang selama ini sedang anda cari, Baginda.”
“Hmmm, biar aku lihat,” ucap Indra sambil meraih dan mulai membaca buku tersebut. Berkat pasif dari “omniscience” aku jadi bisa membaca apapun meskipun itu adalah sebuah tulisan yang belum pernah aku lihat.
Indra pun membaca halaman yang terbuka tersebut. “Ah … ini dia.”
“Baginda, mohon maafkan jika saya lancang, tapi bolehkah saya bertanya kenapa anda ingin sekali memasuki dimensi para dewa?” Tanya Horrin.
“Tentu saja, untuk membunuh mereka dan mengakhiri ini semua.”
“Tapi buku itu hanya memberitahu bahwa dimensi pantheon bisa dimasuki melalui portal tertentu, dan tidak ada petunjuk apapun untuk memasukinya.”
“Hmmm, itu sudah lebih dari cukup. Karena yang terpenting, aku sudah tahu bahwa dimensi mereka di bisa dimasuki.”
Itu adalah sebuah buku yang berisikan tentang kompilasi diary dan jurnal perjalanan dari orang-orang di masa-masa Primordial. Dan salah satu yang tercatat pada buku tersebut adalah tentang bagaimana seorang maestro di masa-masa primordial tidak sengaja memasuki sebuah portal yang menuju sebuah dimensi rahasia. Kemudian setelah ia berjalan-jalan di dalam nya, ia bertemu dengan dewa lama dari pantheon Kolosus. Yakni seorang Dewa bernama Grugan.
Di dalam sana, sang Maestro yang namanya tidak disebutkan itu diterima dengan baik oleh para Dewa, dan dianugerahi kekuatan untuk membuatnya bisa mengalahkan pasukan dari Dewa-dewa dari semesta lain yang saat itu sedang menginvasi.
Meskipun lokasi portal tersebut tidak dijelaskan di dalam buku, namun ada satu indikasi yang menunjukkan keberadaan portal-portal tersebut. Yakni dengan merasakan pancaran divinity. Semakin pekat pancarannya, maka semakin dekat seseorang dengan portal dimensi.
Di dalam buku itu juga menceritakan tentang beberapa orang yang berhasil memasuki portal tanpa sengaja maupun disengaja. Dan kebanyakan dari mereka berhasil keluar dengan membawa anugerah dewa, dan sebagian lagi membawa kutukan karena lingkungan di dimensi pantheon sangat mematikan untuk orang-orang tertentu.
“Kamu tunggu saja disini dan kontrol kota seperti biasanya, jangan sampai warga panik atau semacamnya. Karena setelah aku kembali, pantheon kematian sudahlah lenyap dari dunia,” ucap Indra dengan tatapan percaya diri. "Dan selama aku pergi, tolong juga periksa lembah di sebelah barat Gunung Hezair."
“B-baik, Baginda. Saya patuh akan perintah anda,” balas Horrin dengan penuh kesetiaan.
*******.
Bersambung ….
********.
kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments