Malam itu, udara begitu dingin dan bulan begitu terang. Sementara para kesatria yang berjumlah 20 itu berjalan di tengah kota berbaris dengan rapi dan teratur dengan nafas mereka yang berembun, mengantar seseorang yang telah membuat sang permaisuri terganggu.
Indra berjalan di tengah-tengah para kesatria berzirah emas, sedang di sisinya adalah sang jenderal bernama Julius. Keduanya berjalan cukup berirama, namun terlihat jelas perbedaan di antara keduanya. Sang jenderal yang awalnya adalah merupakan pria terkuat di dalam barisan, kini terkesan seperti seekor chihuahua yang berjalan di sebelah german shepherd dengan steroid. Tubuh besar, berotot dan tinggi Indra benar-benar membayangi sang Jenderal yang berjalan di sebelahnya.
Tak banyak yang dibicarakan di antara keduanya, kecuali para kesatria yang untuk demi menutupi perasaan terintimidasi mereka, mereka pun mulai berbincang dengan satu sama lain. Perasaan gelisah mulai muncul, meskipun begitu. Mereka para kesatria maestro dengan taraf 3 sampai 5 kini merasa sangat kecil dan juga terdominasi dengan keberadaan Indra.
“Dia adalah seorang transendental,” bisik salah satu kesatria yang wajahnya tertutup helm. “Tapi kenapa aku merasa seperti sedang melihat dewa?”
“Bagaimana jika dia tiba-tiba mengamuk? Ini sungguh aneh. Dia dengan santainya mengikuti kita untuk menuju istana yang jaraknya cukup jauh dengan berjalan kaki.”
“Mungkin itu karena pak Julius yang agak mengancam dirinya karena telah membunuh—”
Julius menoleh dengan tatapan tajam. Namun bersamaan dengan itu, tatapannya justru seakan sedang mencoba memohon kepada mereka untuk diam karena perasaan gelisah yang mendalam.
“Ahem … tentang Tuan Metikulus yang telah berbuat kurang ajar kepada anda … kami mohon maaf,” ucap Julius terus berjalan sambil menatap ke depan.
Salah satu kesatria tubuhnya agak tersentak sesaat mendengar pernyataan tersebut, lalu berbisik. “Tuh kan … sepertinya pak julius sama takutnya dengan kita. Kini dia bahkan yang meminta maaf. Ini gawat jika dia sampai mengamuk. Kita akan mati semua di tempat.”
“Benar,” balas yang lain dengan berbisik. “Apakah kau merasakan bagaimana dia menggunakan kekuatannya? Pertama kita semua merasakan sesak. Lalu sesaat kita masuk ke dalam tribun tersebut, tuan Metikulus sudah tewas dengan organ dalamnya yang sudah meleleh.”
“Aku justru lebih khawatir jika keduanya bertemu di istana. Apakah akan ada perkelahian antara transendental? Ughh … aku jadi merinding dengan hanya membayangkannya.”
Aku bisa mendengar mereka semua. Bisakah mereka diam? Aku jadi ikut gelisah. Pikir indra sambil mengingat bagaimana kemampuan sosialisasinya telah menurun sejak 3 tahun lalu, namun tetap berjalan seperti biasa seakan tubuhnya tidak bereaksi dengan keadaan mentalnya. Padahal saat ini ia merasa khawatir dengan apa yang akan dia hadapi di istana kekaisaran. Kini yang ada di bayangannya hanyalah seorang nenek-nenek dengan tampilan pemarah.
Perjalanan yang jauh dan juga memakan waktu, akhirnya berakhir. Sebuah dataran tinggi yang mengesankan hirarki tampak di hadapan Indra dengan komplek istana berdiri di atasnya. Tembok tebal yang mengelilinginya seakan memberitahu kepada siapapun yang ingin menyerang istana untuk segera menyerah.
Di dataran tinggi yang diatasnya berdiri komplek istana, di sekelilingnya adalah parit sedalam 8 meter dan lebar 4 meter. Tak sampai disitu, parit yang kering itu di bawahnya juga terdapat bebatuan yang sangat keras dan juga tajam. Terdapat pula beberapa tulang belulang yang dibiarkan di sana.
Di dataran tinggi terdapat jalanan berliku pada kemiringan 15 derajat yang menghubungkan kaki dan puncak. Di jalanan itu terdapat pula pintu masuk bermenara yang terbuat dari susunan blok granit putih di setiap beberapa meter. Jalanan itu terus menanjak dengan berliku-liku sampai pintu masuk bermenara berjumlah 12 itu pun habis, dan langsung dihadapkan dengan gerbang benteng yang mengarah ke dalam komplek istana.
Di dalam komplek terdapat istana kekaisaran dengan arsitektur megah dan besar. Bangunan itu tampak sangat luas, panjang dan tinggi. Terdapat pilar-pilar seperti arsitektur yunani atau roma yang menjulang menahan atap-atap istana. Di sebelah kirinya adalah bangunan koloseum beratap tempat pertemuan, dan sebelah kanannya adalah komplek yang bisa dibilang terpisah karena dipisah dengan tembok yang tinggi. Di dalam sana adalah gedung-gedung para master (master koin, master garda, master urusan, master dewan dll).
*********.
Indra kini berdiri di depan pintu-kembar besar istana yang perlahan terbuka secara otomatis. Kemudian sesaat masuk, ia melihat jauh seorang wanita dengan warna rambut yang sama dengannya, sedang duduk bersandar dengan tatapan tajam dan merendahkan di atas tahtanya yang memiliki pelataran yang tinggi. Sementara itu, Julius bersama pasukannya tetap berada di luar Istana sedang pintu besar kembali tertutup.
Indra yang melihat tatapan itu pun merasa kesal, namun ia berusaha menahannya. Mentalnya yang merasa sangat murka itu, ternyata tubuhnya bereaksi sangat normal. Detak jantungnya juga sangat stabil. Apalagi ekspresinya yang tetap tampak dingin dan datar. Tubuhku seakan menekan rasa marahku. Perasaan yang sangat aneh ini … haa … sepertinya aku masih belum terbiasa dengan tubuh ini.
Benaknya pun terus memikirkan bagaimana cara dia berkomunikasi dengan orang yang memiliki jabatan. Meskipun ia agak merasa tenang karena sang permaisuri ternyata bukanlah nenek-nenek tukang marah. Namun mentalnya tetap merasa pesimis walaupun tubuhnya tidak bereaksi sama sekali.
Indra pun berjalan dan berdiri di depan— atau lebih tepatnya, di bawah pelataran singgasana sang permaisuri yang tampak terlihat angkuh itu, dengan dagunya yang terangkat dan tatapannya yang merendahkan.
“Transendental dari timur, huh?” Ucap Valentina tidak menundukkan kepalanya sedikitpun. “Aku merasa terkesan karena ada Transendental lain selain dari tiga orang yang aku ketahui.”
“Hah … itu artinya anda kurang jauh mainnya, Baginda.” balas Indra sambil tersenyum miring. Dan entah bagaimana, ia tidak memiliki masalah sama sekali saat berbicara. Hmm, sepertinya hanya prasangka ku saja yang mengatakan bahwa kemampuan sosialisasi ku sudah berkurang.
Valentina terlihat agak jengkel dengan matanya yang agak berkedut. “Kamu bilang, kamu dari timur. Tapi kenapa perawakan mu seperti orang-orang dari Neomora?”
“Wah … saya tidak menyangka anda sangat rasis, Baginda.” *A*nda saat ini sedang berbicara dengan orang dari abad 21.
Valentina yang awalnya matanya hanya berkedut, kini tersenyum jengkel dengan bibirnya yang agak bergetar. “Ughh … aku tidak tahu maksudmu, tapi sepertinya dari cara bicaramu, kamu sama sekali tidak memiliki tata krama, ya?”
Wajah Indra pun berubah menjadi serius dan menajam. “Haa … mari langsung ke intinya saja. Apa mau anda? Kenapa anda memanggil saya?”
Seseorang berjubah biru gelap yang sudah berada di samping singgasana pun langsung membisiki Valentina sebelum akhirnya ia turun dari pelataran. Kemudian dari bisikan itu, terlihat Valentina langsung agak terkejut sambil menggenggam tangannya cukup erat.
“Aku tidak mengira bahwa kamu juga membunuh master garda-ku,” ucap Valentina, masih dengan tatapan merendahkannya. Kemudian ia pun berdiri. “Kalau boleh jujur, aku cukup senang dengan dirimu yang membunuh metikulus, karena dengan begitu aku jadi tinggal menjadikanmu sebagai kambing hitam.” Ia pun mulai berjalan turun dari pelatarannya.
“Kenapa begitu? Kalau boleh bertanya.”
“Ya … pertama, aku tidak suka dengannya karena terlalu mengganggu. Kedua, aku sudah lama ingin menyingkirkannya, namun keluarganya terlalu berpengaruh di antara master dewan. Dan ketiga, dia adalah seorang vampir yang telah mengkhianati dewa lama dari pantheon Terisus. Dan asal kamu tahu saja, aku adalah penyembah setia dewa Jupiter dari pantheon Terisus.” Ia mengatakannya sambil terus menuruni tangga.
“Oh … Jupiter … aku pernah mendengarnya dari buku. Hmm, kalau boleh tahu, siapa yang lebih kuat. Egni atau Jupiter?” Tanya Indra dengan santainya sambil mengelus dagu.
Valentina yang sedang menuruni tangga pun agak terkejut sambil mengerutkan keningnya lalu berhenti seketika. “Kenapa kau menanyakan tentang itu? Tentu saja Jupiter, karena dia bapak dari dewa lama.”
“Benarkah? Pantas saja dia lemah sekali,” tambah Indra dan membuat perasaan Valentina semakin tidak enak. “Aku padahal hanya menghantamnya sekali dengan mjolnir, tapi langsung jadi debu. Ah, aku lupa mengembalikan dataran yang telah menjadi kawah kembali menjadi tanah seperti semula.”
Semua yang ada di dalam istana pun terdiam sementara suara Indra masih bergema. Keheningan lalu tercipta diantara itu semua.
Valentina sementara itu, mulai mundur naik ke atas sambil melirik ke arah para penyihir di sebelah bawah pelataran.
“Cara anda melihat saya, Baginda, benar-benar membuat saya kesal,” ucap Indra sambil mulai berjalan naik. “Tetapi aku sadar, ini adalah dunia yang berbeda dan bukanlah sebuah permainan. Jadi, aku enggan menggerakan jariku untuk membunuh siapapun lagi.” Ia terus berjalan dan mulai mendekat ke arah Valentina yang mulai mengucurkan keringat.
Dari sana, valentina tidak berani mengatakan apapun dan hanya bisa berjalan mundur.
“Tapi … orang-orang seperti anda benar-benar mengesalkan jika didiamkan,” ucap Indra yang sudah semakin dekat dengan Valentina. “Ya .. Walaupun saya mengerti kalian hidup di peradaban yang primitif dengan hirarki, tetapi … memandang rendah orang yang tidak anda kenal, dan dengan santainya ingin menjadikannya kambing hitam dengan alasan politik. Itu benar-benar tidak mengenakkan loh … wahai … Baginda.”
“Tu-tunggu,” ucap Valentina dengan tangan yang gemetaran untuk pertama kalinya. “Siapa kamu— anda? Apakah anda yang telah membunuh Egni?”
“Entahlah, siapa yang tahu,” ucap Indra mengangkat bahunya.
Valentina terus berjalan mundur sampai tiba di puncak pelataran. “Tidak ada yang tahu kalau Egni telah mati kecuali para pendeta khusus dan saya. Kecuali anda adalah dari menara penyihir ataupun akademi maestro, maka itu masuk akal. Namun saya sudah hafal dan kenal dengan seluruh subjek saya dari kedua institusi tersebut, dan anda bukan dari sana. Jadi … siapa anda?”
Indra pun berhenti tepat di depan Valentina yang langsung terduduk di tahtanya. “Aku bisa merasakan beberapa penyihir di sebelah sana, telah keluar dari gedung dan berteleportasi. Kenapa begitu? Apa yang sedang ingin mereka lakukan?” Tanyanya langsung menyandarkan tangannya ke sandaran tahta.
“Tidak … tidak ada,” balas Valentina. “S-sebenarnya, saya mengundang anda kesini karena ingin menanyakan tentang emas celestial.”
“Oh, maksudmu ini?” Indra Mengulurkan tangan satunya tepat di depan wajah Valentina sambil mengeluarkan koin dinarnya layaknya air terjun keluar dari genggamannya.
Koin pun mulai menumpuk di paha Valentina, sementara beberapa koin yang terkena langsung kulitnya, langsung membuat kulitnya terbakar sehingga terdengar seperti suara kulit yang terbakar.
“Aaaaaaghhhh,” Valentina berteriak kesakitan.
“Ooohhh … jadi, emas ini ternyata adalah kriptonite kalian toh, para transendental di dunia ini,” ucap Indra sambil menutup inventarisnya dan menyetop koin untuk terus berjatuhan.
“Si-siapa anda?”
“Saya? Jadi—”
“Hentikan!!” Tiba-tiba seseorang penyihir muncul sambil menodongkan pisau ke leher Alisa.
Indra menoleh dengan tatapan dingin sambil berkata, “lakukan, kalau begitu.”
“T-tuan indra, apa yang sedang terjadi?” Tanya Alisa dengan suara gemetaran.
Valentina sementara itu hanya terdiam dengan tatapan melebar.
“Lakukan,” ucap Indra sekali lagi dengan santai. Kemudian terdiam cukup lama sambil terus menatap sang Penyihir yang tangannya mulai gemetaran. “Lakukaaaan!” Teriak Indra tiba-tiba.
Sang penyihir yang secara reflek hendak menggorok leher Valentina pun tiba-tiba tubuhnya meledak dan berceceran kemana-mana. Bersamaan dengan itu, Alisa terduduk lemas sambil menatap kosong ke depan, sementara di sekitarnya adalah ceceran daging sang penyihir.
Indra kemudian kembali menoleh ke arah Valentina. “Oh, sampai dimana kita tadi?” Ucapnya sambil tersenyum lebar.
********.
Bersambung ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rainfall Cahya
mantap indra... go
2023-10-23
1
bysatrio
Ngeriiiiiii., kerennn banget!
2023-10-21
1
Leon Aveiro
mampus hahaha
2023-10-19
2