Pada pagi hari, tepatnya 6 hari sejak dirinya tinggal di penginapan Alisa, Indra berjalan-jalan di tengah kota bersama dengan Alisa sambil memberikannya lengan untuk berjalan berdampingan dengan mesra. Di tengah kota di saat orang-orang sibuk menjalani aktivitas mereka, Alisa sebagai seorang wanita yang sudah bersuami terlihat oleh banyak orang tentang dirinya yang berjalan bermesraan dengan seorang pria gagah tinggi besar yang tampak seperti seorang bangsawan dengan pakaian mewahnya.
Tak butuh waktu lama, di hari yang sama, Alisa menjadi perbincangan di seluruh blok tempat penginapannya berdiri. Suara desahan yang setiap malam terdengar dari lantai tiga pun juga ikut menjadi perbincangan orang-orang di sekitarnya. Seorang wanita yang sudah ditinggal bertugas oleh suaminya lebih dari satu tahun lamanya, akhirnya menunjukkan sifat aslinya sebagai sebagai wanita yang dinilai sebagai “murahan”.
Obrolan mereka yang pelan dan berbisik-bisik setiap kali keduanya lewat, terdengar jelas oleh Indra, meskipun Alisa sama sekali tidak mendengar— atau lebih tepatnya, ia lebih tidak memperdulikannya. Ia lebih asik dengan pipinya yang terus bermanja ria dengan otot lengan Indra yang besar dan keras.
Perilaku acuh-tak-acuh wanita yang sudah dia tiduri lebih dari lima hari ini dengan cara yang sangat buas, membuatnya mulai tidak nyaman. Perilaku berlebihan layaknya seorang budak, perlahan benar-benar merusak moral Indra yang selama ini ia jaga … atau setidaknya, ia jauhi. Apalagi mengingat masa lalu mantan istrinya.
Aku tidak mengira, hal seperti ini akan terjadi sebaliknya kepadaku. Ini sungguh ironis jika diingat-ingat ke belakang. Pikir Indra, sembari menatap Alisa yang terus berjalan dengan manja di lengannya. Sejak sadar bahwa dunia ini adalah dunia nyata, aku sudah berpikir untuk menjalani hidup dengan semudah dan sesantai mungkin, apalagi dengan adanya kekuatan yang super-broken ini. Tapi semakin kesini, dengan menjadi selingkuhan wanita ini, aku jadi mulai bertanya-tanya. Apakah ini kehidupan yang aku mau?
Indra kemudian mengingat agak kebelakang, tentang hubungannya dengan Anya yang semakin hari semakin canggung. Yang mana padahal pada awalnya Anya segan dan takut kepadanya, kini Anya malah melihat dirinya dengan tatapan benci dan jijik. Akhir-akhir ini, Anya melihatku seperti sedang melihat seorang yang mesum.
“Tentang Anya,” ucap Indra membuka pembicaraan. “Sepertinya semakin hari dia menjadi membenciku.”
Alisa menoleh, lalu meletakkan bibirnya pada lengan Indra. “Jangan dipikirkan, dia hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa.”
“Lalu bagaimana dengan suamimu?” Tanya Indra kembali mulai dengan tatapannya yang berubah menjadi lebih serius.
“Haa, aku akan menceraikannya nanti,” ucap Alisa dengan mudahnya. “Dan aku yakin, Sophia juga akan melakukan hal yang sama. Lagipula, sudah menjadi hal biasa bagi seorang istri untuk menceraikan suaminya jika mereka sudah bosan dengan suami lamanya di Balkia.” lanjutnya sambil memberikan senyuman manis.
Indra tentu sangat terkejut dengan informasi dan fakta tersebut. Ia mana tahu tentang betapa mudahnya para istri bisa menceraikan para suami mereka. Ia benar-benar terkena culture-shock pada saat itu juga. Hei, kasandra, sepertinya jika kamu hidup di dunia ini, kamu pasti akan langsung menceraikanku tanpa perlu menunggu persetujuan hakim.
Alisa yang melihat Indra yang sedang menatap langit dengan tatapan nostalgianya pun langsung memeluk lengan Indra lebih erat lagi. “Apakah kamu tahu … sebelum sang Permaisuri Merah naik tahta 1200an tahun yang lalu. Konon, kehidupan para wanita sangatlah sulit. Mereka selalu dijadikan objek oleh para pria, dan sama sekali tidak memiliki kebebasan.”
Haa, apalagi ini? Indra dengan tatapan malas pun kembali menatap ke depan. “Wah, pasti beliau adalah pahlawan bagi para wanita di Balkia, ya?” ucapnya dengan nada satir.
“Benar sekali … dia mungkin adalah satu-satunya permaisuri yang bisa memegang tahta selama ini. Tentu, itu berkat dirinya yang seorang transendental,” balas Alisa dengan polosnya. Ia tidak mengerti sama sekali dengan sindiran satir Indra.
Mereka berdua pun lanjut berjalan sambil berada di kotak keheningan. Namun meskipun begitu, tidak ada suasana canggung di antara mereka, berkat Alisa yang terus memeluk lengan besar Indra dengan begitu erat.
“Oh iya, ngomong-ngomong … apakah selama ini kamu adalah seorang Transendental? Sophia Mengatakannya semalam bahwa kamu adalah seorang Transendental yang sedang berpura-pura menjadi Maestro untuk melihat seberapa kuatnya para Transendental di benua barat.” Alisa memecah keheningan, namun dengan ekspresinya yang tiba-tiba murung.
Kesalahpahaman apalagi ini? “Ya … kamu bisa bilang begitu.” Indra kemudian menatap Alisa yang tampak murung, kemudian dengan tangan satunya ia mulai membelai dan mengangkat dagu Alisa, lalu mulai menatap wajah murungnya. “Kamu kenapa?”
“Aku hanya khawatir tentang diriku yang hanyalah seorang manusia fana. Aku takut dengan hari tuaku. Aku takut … aku takut aku menjadi tua dan mati, sementara kamu ….” Air matanya pun mulai mengalir deras, sementara Indra masih menatapnya dengan penuh perhatian.
Sial … kenapa baru terpikirkan sekarang? Transendental Adalah level terbawah ketika di game, sementara supreme God adalah level tertinggi. Dan sedangkan diriku … aku sudah melampaui supreme God, sampai-sampai levelnya hanya bertuliskan strip tiga. Jika Transendental saja bisa hidup selama ribuan tahun di dunia ini, lantas aku bisa sampai berapa tahun? jutaan? miliaran? atau tanpa batas?
Tiba-tiba benih kesepian tumbuh di hatinya. Kegelapan, kesendirian, perasaan dingin, kehampaan, semuanya tiba-tiba mulai terasa dan tercampur aduk jauh di lubuk hatinya. Indra sadar dan bisa merasakan takdir dan masa depannya yang tidak terujung itu secara spontan. Bahkan hanya dengan sedikit berfokus, ia bisa melihat di dalam alam bawah kesadarannya, ia melihat hanya ada dirinya yang mengambang di tengah kegelapan.
“Haa … mari jangan bicarakan itu sekarang,” ucap Indra sambil tersenyum, lalu dilanjutkan dengan mencium kening Alisa. “Apakah kamu mau melihat sesuatu yang menakjubkan?”
Dengan pipinya yang mulai membasah, Alisa hanya bisa mengangguk dengan kata-katanya yang tertahan di dadanya.
Indra kemudian secara perlahan membawa Alisa terbang di pelukannya. Perasaan bermuram durja pun perlahan hilang dari ekspresi Alisa. Dengan angin yang sejuk, perlahan Alisa pun tersenyum sambil terus memeluk Indra dengan semakin erat.
“Apakah kamu suka dengan pemandangannya?” Tanya Indra dengan suara lembut dan jantannya.
“Iya … aku menyukainya,” balas Alisa sementara ia tertegun menatap wajah sejuk Indra yang terpapar sinar matahari pagi. “Sepertinya … aku jatuh cinta kepadamu.”
Indra agak terkejut mendengar pernyataan itu. Dan sekarang, aku seperti menjadi orang jahat disini. “Oh iya, tentang pelelangan besok. Apakah kamu mau menjadi pendampingku untuk hadir sebagai VVIP?” Ucapnya mengalihkan topik.
“Tentu … sayang,” balas Alisa sambil langsung memeluk dan menempelkan pipinya di dada Indra.
Pagi hari itu, selain dari gosip tentang Alisa sebagai wanita murahan yang menyebar. Gosip tentang seorang Pria yang bisa terbang pun ikut muncul ke permukaan.
**********.
Sehari sejak gosip-gosip tentang Alisa dan Indra menyebar. Di dalam sebuah ruangan di dalam gedung kementerian, Metikulus yang sedang duduk sambil menulis laporan, Anya duduk di seberang mejanya.
“Jadi … kamu mengetahuinya?” Tanya Metikulus dengan senyuman miring dan sinisnya.
“Be-benar, Tuan,” angguk Anya. “Dan dia tampaknya adalah seorang yang jahat karena sudah—”
“Mari kita setop dulu di sana,” ucap Metikulus mengarahkan telapak tangannya ke depan Anya. “Mari kita mulai dengan … sang pria misterius yang telah membuat kekacauan di kota dengan ledakan apinya di langit, bolehkah kita?”
Dengan senyuman penasaran dan juga terlihat sinis, Metikulus pun mulai mendengarkan semua pengakuan Anya dengan hati-hati dan teliti sambil terus menuliskannya di dalam kertas yang sudah ia siapkan sejak 7 hari lalu.
Perlahan, dengan tatapan bangga akan pencapaiannya, Metikulus pun mengangguk dan tersenyum puas.
“Harus kita apakan orang ini?” Gumamnya sambil tersenyum lebar.
********.
Bersambung ….
********.
kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments