Malam hari di dalam gedung pelelangan milik serikat dagang Venus, para tamu undangan sudah berkumpul dan memenuhi gedung tersebut. Dari kalangan yang hanya kaya, sampai para bangsawan yang super kaya, ikut berkumpul dan saling berbagi cerita dengan segelas wine di tangan mereka.
Di dalam acara pelelangan legal seperti ini, tidak satupun para pelanggan yang menyembunyikan identitas mereka. Semuanya ikut membaur tanpa ada batas hirarki. Namun, untuk mereka yang mendapatkan undangan VVIP tentu akan sangat terlihat seberapa jauh jarak hirarki mereka dibandingkan dengan para reguler.
Di dalam ruangan yang berbeda yang berada di dalam tribun tertinggi, yang mana terdapat kaca tebal yang memisahkan pandangan ke arah panggung, di dalam ruangan VVIP itu, Metikulus duduk di sebuah kursi mewah yang sudah disiapkan. Beberapa pelayan wanita yang selalu terjaga juga ikut berada di dalam untuk memberikan pelayanan apapun yang akan para VVIP minta.
Di saat-saat Baginda mengingkanku pergi ke selatan untuk menghalau pasukan kematian, saksi satu-satunya yang melihat ledakan itu malah muncul di kantorku. Aku jadi penasaran, apa sebenarnya alasan orang itu menembakkan sihirnya di langit kota? Apakah dia tidak tahu bahwa banyak entitas kuat di kota ini? Haa, gadis itu bilang bahwa pria itu adalah seorang Maestro dari timur. Mungkin karena itu juga, alasan kenapa ia tidak tahu tentang Antipolis. Sungguh malang pria itu, seandainya dia tahu kalau sebentar lagi ia akan dihabisi oleh pasukanku dan garda maestro kota.
Ditengah dirinya yang sedang berpikir dalam sambil menunggu acara pelelangan dimulai, pintu ruangan VVIP pun kembali terbuka. Hm? Siapa yang punya undangan VVIP selain aku?
Metikulus menoleh penasaran.
Sesaat pintu terbuka, seorang Pria bertubuh tinggi besar dengan rambut dan jenggot yang berwarna merah pun berjalan masuk. Ia terlihat gagah dengan ciri-ciri tubuh yang mirip dengan apa yang Anya ceritakan kepadanya. Apakah dia orangnya? Bagaimana bisa dia ada disini? Tunggu! Jangan bilang, dia sudah tahu kalau aku sedang mengincar kepalanya.
Metikulus untuk sesaat merasa terkejut dengan kehadiran seseorang yang telah ia cari selama satu pekan belakangan ini. Dan seperti yang sudah diceritakan oleh Anya, sosok ini benar-benar terlihat mendominasi dan sangat kuat. Ia bisa merasakan betapa kuatnya orang itu.
Metikulus pun berdiri untuk menutupi rasa keterkejutannya, dan hendak menyalami sosok itu. Namun, sesaat tangannya hendak menggapai, sosok itu hanya menatap dirinya dengan tatapan tajam dan merendahkan. Dan untuk pertama kalinya, ia langsung teringat akan rasa hina yang pernah ia alami dulu, saat Valentina menolak cinta dan memandang rendah dirinya. Saat ini, ia benar-benar merasakan hal yang sama. Hanya saja kali ini, itu seakan berlipat ganda.
Metikulus pun hanya bisa menunduk menahan rasa kesalnya, sementara tangannya masih menjulur ke depan.
“Apa yang sedang kau lakukan? Jangan menghalangi jalanku,” ucap sang sosok dengan suara beratnya.
Benar saja, Metikulus yang merasa terdominasi pun langsung secara reflek menepi sambil masih menundukkan pandangannya. Kenapa? Kenapa aku menepi secara tiba-tiba? Apakah aku ketakutan? Aku … ketakutan? Aku yang seorang vampir … ketakutan dengan seonggok manusia ini? Sialan!
Metikulus mengerat giginya erat-erat sampai urat-urat yang ada di kepalanya muncul dan membiru.
Sementara itu, sang sosok langsung berjalan tak menghiraukan Metikulus, yang kemudian diikuti oleh dua wanita cantik yang ikut berjalan di belakangnya. Dan sama, keduanya juga melewati Metikulus begitu saja tanpa menghiraukan keberadaannya.
Metikulus pun mencium aroma harum dari salah satu wanita yang berjalan di belakang sosok itu, dan aroma itu tiba-tiba membuat insting vampirnya hampir hilang kendali. Karena ia berhasil menahan instingnya itu, ia pun hanya bisa menatap punggung sang wanita seraya ia duduk di sebelah sang sosok.
Metikulus merasa sangat dipermalukan, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan berat hati dan perasaan jengkel, ia pun kembali ke tempat duduknya. Kemudian mulai memfokuskan pandangannya ke arah sosok itu, dan mulai menggunakan kekuatan membaca pikirannya.
Sonar pun mulai dikirim dari kepalanya ke kepala sang sosok. Namun, sonar yang ia kirim, tidak dapat menembus pikiran sosok itu. Sial … tampaknya dia jauh lebih kuat dariku.
Metikulus pun langsung mengganti targetnya ke arah dua wanita itu. Pertama, ia menatap ke wanita yang duduk di sebelah kiri, dan ia langsung bisa membacanya.
“ … Aah, aku ingin pulang segera … aku ingin merasakan miliknya menusuk dalam ke rahimku!”
Metikulus pun langsung memutus sonarnya. Ap-apa … apa-apaan itu?! Dasar wanita mesum!
Metikulus kemudian menatap ke wanita satunya, wanita yang aromanya hampir membuat insting vampirnya bangkit.
“ … Apakah aku harus menceraikan suamiku ya?” Dipikiran wanita itu, sambil terus menatap sang sosok dengan ekspresi penuh nafsu. “Haa … apakah kakakku juga benar-benar akan menceraikan suaminya? Pikiranku sih selalu mengatakan tidak, tapi tubuhku … tubuhku selalu yang meminta. Ah … betapa besarnya.”
Metikulus pun langsung memejamkan matanya sambil mematikan kemampuannya. Sial! Mereka sudah tidak bisa tertolong. Sungguh buang-buang waktu.
Di saat pikirannya yang sedang berkecamuk dengan pikiran tak berguna milik orang lain, sang pembawa acara pun mulai naik ke atas panggung, dan acara pelelangan pun dimulai.
Metikulus tersenyum lebar sambil menatap ke arah panggung. Aku harus melihat … barang spesial nya di akhir. Karena menurut bocoran dari informanku, sebuah artefak legendaris akan dilelang disini. Sebuah artefak yang mampu melelehkan tubuh transendental sekalipun. Kekekeke.
**********.
Bersambung ….
********.
kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
lance lor
lanjut
2023-10-20
2