Dia adalah seorang Vampir. Seseorang yang telah berkhianat dari dewa lama dan membuat perjanjian dengan pantheon kematian.
Metikulus Vempiryon Akilus adalah seorang anggota keluarga dari duke yang menguasai wilayah Agappe, bagian utara Balkia. Leluhurnya adalah anggota keluarga kerajaan Agameya, sebelum akhirnya dikuasai oleh kekaisaran Balkia 800 tahun yang lalu, dan berubah nama menjadi wilayah Agappe.
Metikulus yang awalnya seorang pangeran, sejak saat itu ia telah turun pangkat menjadi duke lalu menurunkan gelarnya ke anak dan cucunya, sementara saat ini ia bermukim di Antipolis dan menjabat sebagai master garda. Itu pun ia masih beruntung, karena jika seandainya pada saat invasi dirinya tidak memihak kepada kekaisaran, pastilah ia akan bernasib sama dengan para anggota keluarganya.
Sejak takluk 800 tahun lalu, Metikulus pada awalnya bukanlah seorang Maestro atau bahkan petarung, ia hanyalah pangeran melankolis yang romantis. Ia bahkan mengkhianati kerajaannya hanya demi bisa mendekati sang permaisuri merah, Valentina.
Segala hal telah ia lakukan untuk membuktikan bahwa dirinya layak untuk sang Permaisuri, sampai akhirnya ia naik menjadi Maestro, namun itu semua sia-sia, Valentina tidak menghiraukan perasaannya. Justru Valentina hanya melihatnya bagaikan anak kecil tak berdaya, bukan sebagai pria apalagi sang pangeran.
Lalu lambat laun, dengan dirinya yang terus berusaha bertambah kuat dengan dirinya yang mulai menyentuh ranah maestro taraf 7, akhirnya ia pun justru mulai merasa putus asa. Amarah batin dan ketidakstabilan mental juga muncul bersamaan dengannya. Dirinya yang sudah mulai merasa usang, akhirnya takut akan hari tua dan kematian, sementara wanita yang ia cintai terus hidup di dalam tubuh abadinya, entah sampai kapan.
Sampai akhirnya, kematian datang untuk memberikannya kesempatan dan membuatnya menjadi vampir, sementara tidak ada yang tahu secara detail bagaimana ia menjadi seperti itu. Namun satu hal yang pasti diketahui oleh khalayak umum adalah, menjadi undead tingkat tinggi membutuhkan perjanjian kematian dengan dewa Dulgoroth, dari pantheon kematian.
*******.
Metikulus The Bloody Maestro
Antipolis, di gedung kementerian, masih satu kompleks dengan istana kekaisaran. Metikulus seperti biasa, bekerja sebagai Master Garda (menteri pertahanan) di dalam gedungnya.
Di ruangan yang dipenuhi dengan pajangan kemiliteran, map dunia serta lukisan sang permaisuri yang terpajang di dinding, Metikulus duduk di meja kerjanya, sambil menulis laporan tentang tugas sebelumnya.
Di ruangan yang hening itu, suara coretan pulpen terdengar mendominasi. Dingin, adalah kata yang tepat untuk menjelaskan suasana ruangannya. Sang master garda tidak bernafas, dan tidak pula mengeluarkan suhu panas dari tubuhnya.
"Apakah baginda mengirim anda?" Tiba-tiba ia menghentikan gerak pulpennya, dan mulai menatap ke arah pintu. "Masuklah, pak Julius."
Pintu pun terbuka, dan Julius memasuki ruangan. "Sore … Tuan Metikulus." Julius dengan wajah seriusnya, tampak enggan menatap Metikulus.
"Jika anda datang untuk mengomentari atau menanyakan tentang tugas sebelumnya, aku hanya bisa bilang … itu belum selesai." Metikulus saling menggenggam kedua telapak tangannya, lalu menaruh dagunya di atasnya. "Atau apakah ada tugas baru? Hmmm, jangan bilang beliau ingin saya kembali ke utara dan menjadi duke disana. Hahaha, entah kenapa dia selalu mendorongku untuk menjauh darinya."
"Saya datang kesini bukan untuk menanyakan anda tentang ledakan di langit tujuh hari lalu, atau meminta anda untuk kembali ke utara. Sebaliknya, beliau meminta anda untuk pergi ke Zephirus untuk mengurus kematian di sana. Beliau juga meminta anda untuk membawa seluruh pasukan anda, ke sana."
Metikulus bangkit dari kursinya, lalu mulai berjalan mengitari meja kerjanya. Ia kemudian berjalan mendekati Julius dengan begitu dekat, seakan ia ingin berbisik. "Bukankah itu sama saja?" Ucapnya dengan urat mengencang di pelipisnya.
Julius tidak bergeming, dan langsung membalas. "Saya tidak peduli, tetapi memang itulah yang beliau minta."
Metikulus merasa sangat kesal, sampai membuat mata vampirnya memerah. Dengan erangan kesal, tangannya pun mulai menyentuh kerah bagian depan Julius. "Rrghhh, kenapa? Kenapa dia membenciku?"
Julius tidak bergeming dan juga tidak menjawab. Namun matanya bergerak dari atas ke bawah sembari menatap Metikulus. Tatapan itu adalah isyarat untuk "berkaca" kepada Metikulus.
Metikulus pun melepas cengkramannya. "Haa, jadi itu karena karena tubuh undead ku, ya? Hah! Hahahahaha! Betapa bodohnya aku tidak menyadari hal itu!" Ia tertawa. Kemudian langsung mencekik Julius dan menjepitnya di pintu yang ada di belakangnya. "Saya sudah tahu! Saya sudah tahu akan hal itu! Yang ingin aku tanyakan adalah, kenapa …, hah." Seakan tersadar, Metikulus langsung melepaskan cekikannya.
Julius sekali lagi tidak bergeming, matanya hanya menatap Metikulus dengan tajam dan serius. "Seharusnya anda komplain langsung ke baginda, bukan saya." Ucapnya sambil tersenyum miring. "Jadi, anda diminta untuk secepatnya pergi ke Zephirus. Sebaiknya anda bersiap-siap mulai sekarang." Ia langsung berjalan menuju pintu.
"Tunggu, dimana beliau sekarang ini?" tanya Metikulus dan membuat Julius berhenti sesaat.
Julius menoleh sambil memicingkan matanya. "Beliau baru saja pergi menuju suatu tempat."
"Apa itu?"
"Entahlah, aku hanya mendengar bahwa ada Dewa yang mati di sana." Julius lanjut berjalan dan keluar dari ruangan tersebut.
Metikulus balik badan dan langsung berdiri dengan meja kerja sebagai sanggahan tangan. Ia Terdiam untuk sesaat. Kemudian, matanya melirik ke samping dan melihat undangan dari perkamen dengan warna keemasan.
"Sebelum itu, mari kita lihat … kali ini, ada artefak apalagi di pelelangan Venus."
Julius The Mighty
********.
Bersambung ….
********.
kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments