Sophia dan Alisa berjalan kembali menuju penginapan. Di tengah jalan, Alisa terus menceritakan tentang hubungannya dengan Indra tanpa memberitahu namanya kepada Sophia. Tentu Sophia merasa tidak nyaman akan cerita tersebut, namun mendengarkan kegiatan seksual seseorang benar-benar membuatnya sesekali tersipu dengan tatapan penuh harap.
Sophia memahami betul bagaimana suaminya, yang kini bekerja sebagai penyihir teknisi di menara penyihir, saat ini benar-benar tidak punya waktu untuknya. Sekalipun ada di rumah bersamanya, ia hanya langsung tidur tanpa memberikan belaian kepada istrinya itu.
Berkali-kali juga Sophia bertanya kenapa suaminya begitu dingin, ia hanya menjawab karena Mana telah mensupresi hasrat seksualnya. Oleh karena itu, Sophia selalu mengoleksi vial darah suaminya dengan alasan untuk memeriksa keaslian koin dinar. Tentu alasan itu tidak benar, karena pada dasarnya ia hanya ingin mengurangi Mana suaminya agar dia bisa berhubungan seksual lagi.
"Oh iya, apakah kamu masih mengambil darah suamimu?" Tanya Alisa sembari berjalan bersebelahan dengan Sophia, setelah sebelumnya membicarakan tentang kehidupan seksual selama 5 hari belakangan ini.
Sophia menoleh dengan tatapan tak tertariknya. Tatapannya kosong seakan ia sudah merasa putus asa. "Iya, masih. Tapi itu tidak merubah apapun."
Tiba-tiba Alisa tersenyum sambil menatap Sophia. "Jika kamu mau … aku bisa berbagi."
Sophia yang mendengar itu pun langsung terkejut dan hampir terjungkal. Keningnya mulai mengerut sambil menatap tajam kakaknya yang masih tersenyum mesum. "Kakak, apa yang sudah pria itu lakukan kepadamu sampai-sampai kamu bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya?"
"Seperti yang aku ceritakan. Aku tidak sanggup melayaninya sendirian. Apakah kamu tahu, ketika pertama kali aku melayaninya, selama 6 jam dia belum selesai juga, dan malah membuatku pingsan kelelahan." Alisa mengatakannya bagaikan sebuah tragedi, tetapi senyuman mesumnya tidak bisa berbohong kalau dia benar-benar menyukainya.
"Kakak! Tsk, aku tidak akan jatuh ke dalam orgy-mu itu! Aku masihlah seorang istri yang taat, tahu tidak?!"
"Dia adalah Maestro loh … hmmm, mungkin kamu akan berubah pikiran ketika kamu bertemu dengannya nanti."
Keduanya lanjut berjalan dengan Ekspresi keduanya yang kontras.
******.
Sesampainya di dalam penginapan lantai dasar, Anya yang sedang berjaga menyambut mereka berdua. "Ibu, ibu dari mana saja? Aku— eh, tante datang juga?"
"Halo Anya," sapa Sophia sambil tersenyum ramah.
Anya tersenyum ramah ketika melihat Sophia, namun langsung memicingkan matanya ketika melihat gelagat ibunya. "Kalian habis dari mana?"
"Oh, kami—"
"Mari kita langsung ke atas," ucap Alisa menarik tangan Sophia. "Anya tolong jaga dan terima tamu. Oh iya, jangan lupa pekerjakan temanmu juga untuk membantumu."
"Ibu! Tunggu!"
Keduanya pun berlari sambil bergandengan menaiki anak tangga, seperti wanita muda yang sedang ingin bertemu dengan kencan buta mereka. Apalagi melihat bagaimana senang dan tidak sabarannya Alisa.
Sesampainya di depan pintu kamar Indra, keduanya pun langsung masuk begitu saja. Ketika memasuki kamar tersebut, Sophia hanya bisa tertegun melihat pria yang ada di hadapannya adalah orang yang sama yang pernah mencium aroma rambutnya.
"T-tuan?" ucap Sophia dengan pipi memerah.
Alisa pun langsung menoleh ke arah adiknya itu, dan langsung tersenyum miring. "Lihat …. Hehe, sepertinya kamu sudah langsung terpincut olehnya."
Indra yang sedang berdiri bersandar di dekat jendela, membuat cahaya matahari yang jatuh ke tubuh telanjangnya, tampak seakan itu adalah selimut kemuliaan. Di mata Sophia kini, ia terlihat begitu perkasa dan juga mulia.
"Hm? Apakah kita pernah bertemu, nona?" tanya Indra mulai mendekat ke Sophia sambil mengenakan seluruh pakaiannya kembali melalui sistem Inventaris. "Ah, mohon maafkan saya, karena tidak berpakaian tadi."
"Ti-tidak apa-apa, tuan." Sophia hanya bisa mendongak sesaat Indra sudah berdiri begitu dekat.
Indra kemudian menunduk untuk menggapai tinggi Sophia. Lalu dengan lembut, tangannya mulai membelai rambut Sophia, dan langsung mengendusnya. "Haa, Sophia. Aku masih mengenal aromamu."
Sial! Kenapa aku malah reflek mencium rambutnya? Aku terkadang masih suka lupa kalau ini adalah dunia nyata.
Alisa berjalan di sebelah keduanya, kemudian mulai menginterupsi bagaikan seorang tinju wasit. "Sayang, aku membawa adikku untuk memberitahu tentang harga dari koin dinar yang kamu berikan. Dan … juga … untuk … hmmm, sepertinya kalian sudah saling mengenal."
"Kalau begitu, kenapa kita tidak duduk dulu." Indra tiba-tiba mengeluarkan satu set sofa dengan mejanya dari inventarisnya.
Ketiganya pun duduk, sementara Sophia tampak kewalahan dengan perasaan yang bercampur aduk itu. Dari perasaan canggung sampai libido yang tiba-tiba meningkat sesaat bertemu dengan seorang Pria yang sama yang telah "melecehkannya", benar-benar membuat tubuhnya bingung.
"Kalau begitu, aku ingin dengar seberapa berharganya koin tersebut." Indra membuka pembicaraan sambil bersandar dengan santai.
Dengan gugup, Sophia pun mulai menceritakan semuanya. Dari kelangkaan sampai dampak jika koin itu dijual. Semua Sophia ceritakan. Ia juga sempat membahas bagaimana jadinya jika yang bertemu dengan Alisa bukanlah dirinya, melainkan orang lain.
"Jadi, koin ini sangat berbahaya jika dijual? Dampaknya juga akan sangat besar di dunia perilmuan," ucap Indra dan mulai mengelus dagunya. "Apakah kamu bisa menyembunyikan identitas pemilik barang? Atau jika tidak bisa, tulis saja nama ku. Karena aku khawatir, kemungkinan terburuknya akan menimpa Alisa juga." Lanjutnya sambil menatap Alisa dengan tatapan menggoda. Dan Alisa sekali lagi tersipu sambil berusaha menutupi pipinya dengan bahunya.
"Pilihan pertama, sejujurnya itu tidak akan bisa. Karena sudah menjadi peraturan. Kecuali anda melelangnya di pasar gelap. Tapi jika ingin melakukan pilihan kedua, apakah anda siap, tuan? Karena tidak hanya maestro yang akan mengejar anda, tapi mungkin transendental juga akan melakukan hal yang sama."
"Jangan khawatir, aku terlalu kuat untuk makhluk dunia ini," ucap Indra sambil mengangkat dagunya.
Untuk sesaat, Sophia menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Namun ketika ia mengingat ke belakang, bagaimana Indra mampu menghilang begitu saja ketika ia sedang berada di sebelahnya, ia pun mulai percaya dan malah yakin tentang Indra yang menanyakan tentang "apa itu maestro" Kepadanya sebelumnya. Ia percaya hanya dari pertanyaan itu, sebenarnya Indra adalah seorang transendental yang sedang menyembunyikan identitasnya. Tatapannya pun berubah menjadi tatapan kagum.
"Ba-baiklah, Tuan. Jika itu yang anda inginkan," ucapnya.
Kemudian tiba-tiba Alisa langsung berkata dengan senyuman nakalnya, "jadi … Sophia, apakah kamu mau membantuku?"
Wajah Sophia membara hebat, dan langsung berdiri begitu saja sambil menyimpan koin dinar Indra di dalam sakunya. "Ah … p-p-pokoknya segitu saja. Aku akan menulis nama anda sebagai Transendental Indra dari timur, bagaimana?"
"Hmmm, tidak buruk juga," angguk Indra.
Sophia pun langsung berjalan keluar. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya akan menghubungi anda lagi besok."
"Hati-hati di jalan, wahai adikku yang cantik!" Alisa melambaikan tangannya sambil kembali tersenyum puas.
Indra dengan tatapan bingung langsung bertanya kepada Alisa. "Sebenarnya kamu ingin meminta bantuan apa kepadanya? Kenapa dia jadi bereaksi begitu?"
Alisa pun langsung berdiri dan duduk sambil berhadapan muka ke muka di pangkuan Indra. "Entahlah. Tapi aku yakin, dia akan kembali lagi nanti malam." Dan ia pun langsung melumat bibir Indra yang lengah itu.
******.
Malam hari, di kediaman Sophia.
Saat ini ia sedang berbaring menyamping sementara menahan libidonya yang entah bagaimana terus bangkit. Sedangkan suaminya tidur miring membelakangi di sampingnya.
"Sial, aku sudah tidak tahan~ sementara suamiku yang tidak berguna ini, malah tidur tanpa menghiraukan istrinya yang kesepian ini," ucapnya pelan. Ia memastikan suaranya cukup pelan untuk tidak dapat terdengar oleh suaminya.
Dengan tangan yang mulai turun ke bawah, dengan dirinya yang sudah tertahan lagi untuk segera menyentuh diri sendiri, Sophia pun bangkit dan langsung duduk di pinggir kasurnya.
"Haa, sial." Dengan hanya mengenakan jubah tidurnya, ia pun langsung berjalan pergi keluar rumah.
Ia pun berjalan dan berlari menuju penginapan Alisa, dan langsung bergegas naik ke lantai atas, meskipun saat ini lantai bawah masih ramai dengan orang-orang yang bercengkrama sambil diiringi bakada-balada, ia bergegas begitu saja, tanpa menghiraukan apapun lagi.
Sesampainya di depan kamar Indra, Sophia pun langsung membuka pintu begitu saja dan langsung berkata dengan keringat yang sudah dipenuhi dengan pheromone mengucur deras dari seluruh sela-sela tubuhnya. "Biarkan aku bergabung!"
Alisa yang sedang duduk mengikuti ritme dibatas Indra yang sedang berbaring pun langsung tersenyum lebar sambil menoleh ke arah Sophia. "Kalau begitu, masuk dan tutuplah."
"Hah? Apa yang kamu—"
Alisa menutup mulut Indra dan langsung berkata, "ini adalah bantuan yang aku maksud. Apalagi mengingat kamu tampaknya tidak cukup dengan hanya diriku saja, benarkan?"
Haa, apakah aku harus bersyukur tentang keadaanku ini? Atau mengutuk diri sendiri? Dua wanita bersuami ini, dan mereka adalah saudara kandung. Haa … aku tidak peduli lagi, hehehe … mungkin dunia ini adalah surga pemberian Tuhan atas segala usaha dan kebaikanku selama ini di dunia.
Malam itu, ketiganya pun bercocok tanam sampai pagi.
******.
Bersambung ….
lore sisipan.
Penyihir teknisi bertugas sebagai teknisi pembangkit listrik tenaga Mana. Di kota-kota besar, lampu-lampu di jalanan maupun di rumah-rumah sudah menggunakan listrik ajaib ini. Kompor, pendenergiingin/penghangat ruangan, lemari pendingin dan peralatan lainnya sudah menggunakan ini.
********.
kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Yoihoi Yoi
Hahaha kesombongan yang hqq tapi bener juga sih
2024-06-29
1
Rainfall Cahya
ayo gass keun indra
2023-10-23
1
lance lor
waduh
2023-10-20
2