Chp. 3 - Indra : Arrival

Indra masih mengapung di ruang angkasa yang hampa. Rasa dingin dari ruang angkasa dapat dia rasakan, tetapi karena kekuatan fisiknya ia dapat mentoleransi suhu yang sangat ekstrim sekalipun. Pikirannya yang entah bagaimana juga sudah jernih dan tajam, dan perasaan lepas dari amarah masa lalu, ia bisa mampu dengan mudah mengontrol segala kemampuannya.

Indra dapat merasakan segalanya. Bahkan ruang hampa yang seharusnya tidak memiliki medium untuk mentransmisikan suara pun dengan kekuatan dan kemampuannya, ia bisa mendengar suara kepakan sayap lalat di planet yang ada di depannya itu. Tak sampai disitu, matanya juga mampu menerawang jauh ke permukaan planet. Dan disana, ia melihat sebuah kota peradaban manusia yang padat populasi.

“Jumlah Populasinya banyak sekali! Bagaimana Bisa? Bahkan grafiknya … ini serius grafiknya seperti ini?” Ucapnya. “Perasaan Ini … aku tidak pernah menyangka fitur sehebat ini akan ada di dalam game.” Dia merasa kagum sesaat mencoba kemampuan barunya itu.

Mampu menerawang jauh bagaikan teleskop, dan mendengar suara di kejauhan bukanlah kemampuan dari game, sehingga ia merasa sangat kagum dengan percobaannya itu.

“Hmm, Tapi … apa yang harus aku lakukan?” Ucapnya Tiba-tiba bingung.

Rasa amarah dan pelampiasannya yang selama ini telah membuatnya terus memainkan game, sekarang sudah hilang. Dan karena hal itu, rasa bingung pun muncul di benaknya. Ia tidak pernah merasa sebingung ini sebelumnya. Itu adalah perasaan yang asing baginya.

“Apakah Ini di titik dimana aku sudah bosan seperti para pemain lain? Atau Karena aku memang sudah terlalu tua saja untuk memainkan game? Haa, apa yang harus aku lakukan?” ucapnya dengan tatapan malas, dan ia telah kehilangan minat.

Ekspresinya yang bosan saat menatap planet biru yang ada di depannya memberikan gambaran yang malah terlihat majestik. Dengan tubuhnya yang mengapung bebas dan berdiri secara maskulin, itu menggambarkan segalanya tentang kemajestikan. Dia benar-benar terlihat seperti dewa yang sedang mengawasi dunia yang ada di bawahnya.

“Merasa Bosan di dunia virtual … sedangkan tubuhku sudah sangat jelek di dunia nyata, apakah tidak ada pilihan lain? Kalau Bisa, aku ingin tinggal di sini selama-lamanya. Aku tidak peduli dengan rasa bosan, selama aku tidak perlu kembali ke dunia distopia itu.”

Untuk sesaat, rasa kehilangan minatnya berubah menjadi motivasi baru. Motivasi untuk tidak mau hidup di tubuhnya yang sudah tidak layak itu ditambah dengan kehilangan minat memainkan game VR, dan menghasilkan motivasi baru untuk ada alasan tinggal di dunia ini. Perasaan itu, seakan seperti halnya negatif ditambah dengan negatif, yang mana menghasilkan positif.

Indra kemudian terbang mengelilingi planet dan mulai memetakan topografinya.

Setelah mengelilingi dan memetakan planet dengan kemampuan divinity-nya [divine observation] lalu menggambarnya secara otomatis menggunakan sistem map, Indra pun langsung mendarat di sebuah padang rumput yang luas secara acak, dengan menggunakan kemampuan teleportasinya.

Sesaat mendarat, udara sejuk dengan aroma rumput yang khas pun menyambutnya. Indra bisa merasakan sensasi angin yang menyentuh kulitnya. Serta sensasi sejuk pada kulitnya, benar-benar terasa sangat nyata, bahkan lebih nyata dari rumah bordil di chat world.

Indra merentangkan tangannya, mendongak, memejamkan mata lalu menghirup udara dengan satu tarikan nafas yang panjang. "Haa, Ini … ini sangat luar biasa. Sebuah kesejukan tiada tara. Kalau begini jadinya, aku akan berada di dunia ini bermalas-malasan selama yang aku mau."

"Aku Tidak peduli dengan kepalaku yang membesar atau tubuhku yang mengurus … aku sudah tidak peduli lagi. Ini adalah duniaku." Indra terus mengelu-elukan nikmatnya udara di dunia ini. Meskipun sampai saat ini, ia masih mengira bahwa dunia ini masihlah sebuah game.

"Jika Orang-orang mengatakan kepadaku ini adalah dunia nyata, haa~ aku pasti akan mempercayainya." Ia kemudian perlahan berdiri dengan normal.

Indra mulai melihat telapak tangannya, dan merasakan kulitnya seakan bernafas. Ia bisa merasakan kedutan yang sangat jelas di pori-porinya, meskipun itu tidak nampak. Dengan tatapan yang berfokus, perlahan sebuah gambaran seperti asap nampak keluar masuk di pori-porinya. Ia kini bisa melihat jelas asap biru memanjang itu, dan itu adalah Mana.

“Apakah Ini Mana? Entah Bagaimana aku bisa tahu ini adalah Mana seakan aku sudah familiar dengan sensasi ini.” Seakan alam bawah sadarnya memberitahunya begitu saja.

Rumput yang cukup tinggi dan tertiup angin pun terus menyentuh betisnya. Indra bisa merasakan rumput-rumput itu dan langsung menoleh ke bawah. "Wow … Bahkan rumputnya bisa senyata ini!"

Indra merasa terpukau dengan wujud rumput yang begitu nyata. Sampai-sampai ia pun langsung duduk bersila dan mulai menyentuh rerumputan itu.

"Ini … Ini tidak hanya dunianya saja yang luas, tapi segala yang ada disini dapat disentuh dan dirasakan. Apakah ini mungkin dilakukan tanpa harus meningkatkan spesifikasi mesin kapsul?"

Di dalam dunia VR, alokasi memori adalah hal yang sangat krusial. Setiap ada fitur dari dunia VR yang ingin ditingkatkan, maka ada fitur lain yang harus dikorbankan. Semua dilakukan karena teknologi pikobyte hanya berupa kompresan memori, sementara alokasi memori mengandalkan prosesor dan RAM.

Sebagai contoh adalah chat world. Di dalam chat world, dunia dibagi dan dikotak-kotakan secara terpisah, dan dipisah menjadi dua bagian. Ruangan indoor dan outdoor.

Ruangan indoor adalah berupa konten tambahan seperti bar, diskotik dan rumah bordil. Sementara bagian outdoor adalah dunia luar dari chat world itu sendiri sebagai dunia terbuka yang bisa dieksplorasi.

Para pengguna hanya bisa mendapatkan sensasi-sensasi yang diinginkan jika mereka berada di dalam indoor. Sedangkan alokasi memorinya berupa, sensasi ditingkatkan sementara luas ruang dibatasi. Sementara outdoor adalah kebalikannya.

Hal itu dilakukan untuk membuat mesin bisa berjalan lancar dan tidak terlalu membebani otak.

Sementara untuk game Land of Transcendent, semuanya dibuat seperti bagian outdoor dari chat world. Dan oleh karena itu pula, game tersebut membutuhkan sistem pesan konfirmasi. Jika player disakiti, maka akan muncul pesan berupa "anda terkena serangan" karena mereka tidak mungkin merasakannya.

Selain itu, untuk bisa mengimplementasikan kekuatan dan kemampuan pada pemain, game tersebut juga harus mengorbankan tampilan pada game dari segi grafik maupun tata objek. Karena jika dipaksakan memiliki tampilan yang realistis, sementara terdapat fitur-fitur game RPG, maka saraf otak akan sangat terbebani.

"Apakah Akhirnya mereka menggunakan otak para pengguna sebagai prosesor dan RAM? Heh, Semoga saja aku salah," Ucapnya sambil mengelus dagu, mengingat ia pernah membaca sebuah artikel konspirasi tentang hal tersebut.

Indra kemudian mencoba mencabut rumput yang ada di sekitarnya. "Oh, Bisa! Ini Bisa dicabut!" Ia Kemudian mencoba melihat rumput itu lebih dekat. "Aku Tidak melihat adanya pixel pecah-pecah. Resolusinya berapa, ya, kira-kira? Apakah Ini tidak membahayakan saraf otak?"

Ditengah dirinya yang sedang memperhatikan rumput yang ada di genggamannya, tiba-tiba ia merasakan kehadiran seseorang.

[??? The Omniscience Menggunakan kekuatan -nya kepada sang Entitas.]

[Mengaktifkan .]

[ Berhasil dibatalkan.]

“Belum apa-apa sudah disambut saja,” ucap Indra, berdiri lalu mendongak ke atas dan mulai mengelus dagunya. “Hm … NPC yang belum pernah kulihat. Ternyata tidak hanya dunianya saja yang baru, tapi NPC-nya juga baru.”

Egni - God Emperor.

Sesaat ia mendongak ke atas, ada seorang sosok mulai turun dari langit. Sosok itu berpakaian oriental putih dan bercorak emas. Ia terlihat tua dengan ekspresi yang tenang. Tampak kewibawaan pada ekspresinya itu.

Mata sosok itu putih bercahaya sepenuhnya. Rambutnya yang putih panjang, serta kumis dan janggut yang panjang dengan warna yang sama juga. Sosok ini terlihat seperti dewa-dewa pada budaya timur. Hanya saja tampak telinganya yang caplang seperti elf.

“Siapa gerangan? Dari mana anda datang?” Tanya sosok itu dengan tenangnya. “Saya tidak pernah melihat dewa seperti anda. Dewa yang mampu membatalkan kekuatan sejati milik saya.” Nadanya berubah menjadi lebih menekan, dan menjadi ia terdengar tidak sabaran.

Indra perlahan terbang dan melayang sejajar dengan sosok itu. “Wow! Bukankah Anda Yang mendatangi saya terlebih dulu? Bukankah ada bagusnya jika anda yang memperkenalkan diri duluan?”

“Baiklah Jika tidak ingin menjawab, maka Dewa Ini akan menghukum anda!”

Sang sosok mengangkat tangan kanannya, yang mana kemudian bentuk pentagram berwarna emas terbentuk di atasnya. Diikuti dengan sambaran petir yang menggelegar dan juga langit yang mulai menjadi gelap, sebuah pedang raksasa berwarna putih pun muncul.

Indra - God Mode.

Indra tersenyum sesaat melihat itu, dengan matanya yang mulai menyala biru yang disertai dengan kilatan listrik. Dan untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan adrenalinnya memacu. Ia merasa bersemangat. “Haa, perasaan ini ….” Indra mulai merentangkan tangannya, mendongak dan menghela nafas panjang. Itu bukan tanda pasrah, melainkan sebuah gestur tantangan.

Sang sosok mengerutkan keningnya, selagi pedangnya mulai mengarah ke arah Indra. Ujung pedang putih raksasa yang runcing itu, seakan memandang dan menantangnya. Dibarengi dengan suara gemuruh petir, pedang itu pun dengan sekejap meluncur dan menabrak tubuhnya. Dan pedang itu … hancur berkeping-keping.

Mata sang sosok terbelalak, ia merasa tidak percaya. “Tidak mungkin!”

“Pak tua … bukankah anda terlalu bersemangat untuk orang setua anda?!” Ucap Indra menatap sang sosok. Senyumannya yang lebar dengan mata menajam, memberikan aura jahat dari ekspresinya itu. “NPC Saja yang berbeda, tetapi AI mereka masih bodoh.”

Keringat mulai mengucur dari kening sang sosok. Perasaan untuk lari muncul dari dirinya, tetapi kebanggannya mengalahkan itu semua. Sang sosok pun mulai kembali mengangkat tangannya, dan mulai memunculkan kembali pentagram emas.

Namun Indra, langsung mendekat dengan sekejap sebelum sang sosok sempat menyelesaikan mantranya. “Yo … pak tua!”

Duaaar! Gedebuk!

Indra meninju sang sosok ke tanah, dan memaksanya mendarat dengan sangat keras dan telak. Punggungnya yang menyentuh tanah duluan, membuatnya tidak bisa bernafas dan memuntahkan darah Dewanya yang berwarna emas. Dada sang sosok juga terlihat bolong, karena tinjuan dari Indra.

Indra berteleportasi, dan berdiri di atas sang sosok sembari menginjak lehernya. Tanpa rasa sopan, tanpa memperdulikan apapun dan tanpa rasa simpati, Indra menatap rendah sang sosok yang wajahnya sudah memelas karena menahan rasa sakit itu.

Sang sosok hanya bisa menatap lemah ke atas, melihat lawannya menginjak lehernya. Ia sudah tidak bisa lagi berbicara, dan sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Ia sebenarnya ingin memohon ampun, sampai-sampai air matanya mulai mengalir. Tetapi suaranya tidak mampu keluar, karena lawannya menginjak lehernya dengan begitu kuat.

“Kau terlalu banyak omong,” ucap Indra sambil mengeluarkan sebuah palu yang merupakan cash item. Palu itu membuat gemuruh petir dan gelapnya langit menjadi semakin ganas. “Jika ingin bertarung! Lakukanlah seperti ini!”

Blaaaar!

Indra memukul sang sosok dengan palunya dengan sangat keras. Sampai-sampai ledakan yang menggelegar yang membentuk kubah biru berpetir raksasa pun tercipta. Bersamaan dengan itu, langit seakan retak dan tanah menjadi berkawah. Kawah yang sangat lebar tercipta setelahnya dengan statik listrik yang masih terus menyambar-nyambar.

Dan tidak ada yang tersisa dari sang sosok setelah pukulan itu.

[Sang Entitas berhasil membunuh Kaisar Dewa Egni dari pantheon Naga Putih.]

[150 Triliun exp berhasil didapat.]

[Supreme God Soul Essence 10x berhasil didapat.]

[ Berhasil aktif dan mencuri gelar dan seluruh kemampuan dari Kaisar Dewa Egni.]

[Gelar “The Omniscience” berhasil didapat.]

[Seluruh skill, spell dan divinity berhasil didapat dari “The Omniscience”.]

[Gelar “God Emperor” berhasil didapat.]

[Seluruh skill, spell dan divinity berhasil didapat dari “God Emperor”.]

“Hm, jadi namanya adalah Egni,” ucap Indra sambil mengelus dagunya. “Sepertinya aku akan lebih sering memainkan game ini, hehehe. Apa itu chat world?! Aku tidak butuh!” Lanjutnya terkekeh-kekeh.

[Divine Presence : Tidak aktif.]

Ia kemudian berjalan keluar dari kawah sambil menonaktifkan Divine Presence-nya. "Haa ... mungkin dia bisa tahu keberadaanku karena selama ini Divine Presence-ku masih aktif."

Dengan pikiran jernih dan hati yang tenang, serta rasa puas yang ia lalui tanpa klimaks barusan, membuat dirinya kembali memandang jauh sambil merasakan suasana sejuk. Tak lama, ia pun mulai kembali berjalan meninggalkan kawah yang ia ciptakan menuju jalanan dengan ekspresi bosan.

***************.

Bersambung ….

********.

kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!

Terpopuler

Comments

miyamura kun~

miyamura kun~

bjir sekali gedik langsung mati 🗿👍

2024-01-04

0

lihat semua
Episodes
1 Chp. 1 - Indra : A Desperate Man
2 Chp. 2 - Indra : Traveling Through Dimensions
3 Chp. 3 - Indra : Arrival
4 Chp. 4 - Indra : Antipolis
5 Chp. 5 - Indra : Antipolis II
6 Chp. 6 - Indra : Realization
7 Chp. 7 - Valentina : Red Empress
8 Chp. 8 - Indra : Life in a Strange New World
9 Chp. 9 - Indra : And Two Beauties
10 Chp. 10 - Metikulus : Bloody Maestro
11 Chp. 11 - Indra : Auction Day
12 Chp. 12 - Metikulus : Auction Day
13 Chp. 13 - Indra : Auction Day II
14 Chp. 14 - Indra : Auction Day III
15 Chp. 15 - Valentina : She Owns Everything
16 Chp. 16 - Indra : and The Red Empress
17 Chp. 17 - Indra : and The Red Empress II
18 Chp. 18 - Indra : Reconciliation
19 Chp. 19 - Indra and Valentina
20 Chp. 20 - Indra : New Life as Empress’s Husband
21 Chp. 21 - Indra : A Quest
22 Chp. 22 - Indra : a Quest II
23 Chp. 23 - Indra : A Quest III
24 Chp. 24 - Indra : Ordo of Rebels
25 Chp. 25 - Valentina : Afternoon Tea
26 Chp. 26 - Valentina : The Waiting and The Tragedy
27 Chp. 27 - Valentina : The Waiting and The Tragedy II
28 Chp. 28 - Indra : The Day He Lost
29 Chp. 29 - Julius : Two Responsibilities
30 Chp, 30 - Julius : A Task
31 Chp. 31 - Lucia : Daughter of Julius
32 Chp. 32 - Indra : God Among Men I
33 chp. 33 - Indra : God Among Men II
34 Chp. 34 - Indra : God Among Men III
35 chp. 35 - Indra : Indraprasta Pantheon I
36 Chp. 36 – Indra : Indraprasta Pantheon II
37 Chp. 37 – Indra : Indraprasta Pantheon III
38 Chp. 38 – Aelteroth : Brain Eater in Disguise
39 Chp. 39 – Aelteroth : Brain Eater in Disguise II
40 Chp. 40 – Indra : Indraprasta Pantheon IV
41 Chp. 41 – Indra : Indraprasta Pantheon V
42 Chp. 42 – Indra : Indraprasta Pantheon VI
43 Chp. 43 – Indra : Dimensional Problem I
44 Chp. 44 – Indra : Dimensional Problem II
45 Chp. 45 – Valentina : Terisus, Ordo of Rebels.
46 Chp. 46 – Valentina : Terisus, Ordo of Rebels II
47 Chp. 47 – Valentina : Terisus, Ordo of Rebels III
48 Chp. 48 – Indra : Purge of the Infidels!
49 Chp. 49 – Indra : Gods have a life too!
50 Chp. 50 – Indra : The Great Temple of Indraprasta
51 Chp. 51 – Indra : Pantheons Cleansing!
52 Chp. 52 – Indra : Pantheons Cleansing! II
53 Chp. 53 – Indra : Dimensional Problem III
54 Chp. 54 – Indra : Dimensional Plans
55 Chp. 55 – Indra : Dimensional Plans II
56 Chp. 56 – Indra : Versus Cheat
57 Chp. 57 – Indra : Dimensional Plans III
58 Chp. 58 – Indra : The Cause
59 Chp. 59 – Indra : Silurian Hypothesis
60 Chp. 60 – Throst : God of Ice
61 Chp. 61 – Throst : NTR'ed
62 Chp. 62 – Indra : The Annihiliation
63 Chp. 63 – Indra : Last Aggression
64 Chp. 64 – Indra : The Higher Apotheosis
65 Intermezo 1 – Gods and Kings
66 Intermezo 2 – Temple of Indraprastha
67 Intermezo 3 – Heroes
68 Season 2 Intro : New Era
69 Chp. 65 – Alister : Exodus
70 Chp. 66 – Alister : Drama Lessons I
71 Chp. 67 – Alister : Drama Lessons II
72 Chp. 68 – Alister : Drama Lessons III
73 Chp. 69 – Novia : Unpleasant Meeting
74 Chp. 70 – Novia : The Facade I
75 Chp. 71 – Novia : The Facade II
76 Chp. 72 – Novia : The Facade III
77 Chp. 73 – Novia : The Facade IV
78 Chp. 74 – Laurentin : Malevolent
79 Chp. 75 – Laurentin : Awkward Journey I
80 Chp. 76 – Laurentin : Awkward Journey II
81 Chp. 77 – Laurentin : Dark Magic
82 Alasan Belum/jarang Up
83 Chp. 78 – Laurentin : Obsession
84 Chp. 79 – Novia : Agony in a Secret Room
85 Chp. 80 – Novia : Puppeteer
86 Chp. 81 – Alister : What a First Time
87 Chp. 82 – Alister : Arrogant Kid
88 Chp. 83 – Alister : Mage Battle
89 Chp. 84 – Novia : Knight Battle
90 Chp. 85 – Novia : Contemplating
91 Chp. 86 – Novia : Immoral Approach I
92 Chp. 87 – Novia : Immoral Approach II
93 Chp. 88 – Alister : a Letter to a Sister
94 Chp. 89 – Alister : Misery in Folkoga
95 Chp. 90 – Alister : Death in the Valley of Eir
96 Chp. 91 – Alister : Chaos in Agappe
97 Chp. 92 – Alister : Brutally Beaten
98 Chp. 93 – Alister : Search For A Sister
99 Chp. 94 – Anya : The Guild Master
100 Chp. 95 – Alister : A Commitment I
101 Chp. 96 – Alister : A Commitment II
102 Chp. 97 - Alister : Ambushed
103 Chp. 98 – Anya : Different Circumtances
104 Chp. 99 – Anya : The Heraldress
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Chp. 1 - Indra : A Desperate Man
2
Chp. 2 - Indra : Traveling Through Dimensions
3
Chp. 3 - Indra : Arrival
4
Chp. 4 - Indra : Antipolis
5
Chp. 5 - Indra : Antipolis II
6
Chp. 6 - Indra : Realization
7
Chp. 7 - Valentina : Red Empress
8
Chp. 8 - Indra : Life in a Strange New World
9
Chp. 9 - Indra : And Two Beauties
10
Chp. 10 - Metikulus : Bloody Maestro
11
Chp. 11 - Indra : Auction Day
12
Chp. 12 - Metikulus : Auction Day
13
Chp. 13 - Indra : Auction Day II
14
Chp. 14 - Indra : Auction Day III
15
Chp. 15 - Valentina : She Owns Everything
16
Chp. 16 - Indra : and The Red Empress
17
Chp. 17 - Indra : and The Red Empress II
18
Chp. 18 - Indra : Reconciliation
19
Chp. 19 - Indra and Valentina
20
Chp. 20 - Indra : New Life as Empress’s Husband
21
Chp. 21 - Indra : A Quest
22
Chp. 22 - Indra : a Quest II
23
Chp. 23 - Indra : A Quest III
24
Chp. 24 - Indra : Ordo of Rebels
25
Chp. 25 - Valentina : Afternoon Tea
26
Chp. 26 - Valentina : The Waiting and The Tragedy
27
Chp. 27 - Valentina : The Waiting and The Tragedy II
28
Chp. 28 - Indra : The Day He Lost
29
Chp. 29 - Julius : Two Responsibilities
30
Chp, 30 - Julius : A Task
31
Chp. 31 - Lucia : Daughter of Julius
32
Chp. 32 - Indra : God Among Men I
33
chp. 33 - Indra : God Among Men II
34
Chp. 34 - Indra : God Among Men III
35
chp. 35 - Indra : Indraprasta Pantheon I
36
Chp. 36 – Indra : Indraprasta Pantheon II
37
Chp. 37 – Indra : Indraprasta Pantheon III
38
Chp. 38 – Aelteroth : Brain Eater in Disguise
39
Chp. 39 – Aelteroth : Brain Eater in Disguise II
40
Chp. 40 – Indra : Indraprasta Pantheon IV
41
Chp. 41 – Indra : Indraprasta Pantheon V
42
Chp. 42 – Indra : Indraprasta Pantheon VI
43
Chp. 43 – Indra : Dimensional Problem I
44
Chp. 44 – Indra : Dimensional Problem II
45
Chp. 45 – Valentina : Terisus, Ordo of Rebels.
46
Chp. 46 – Valentina : Terisus, Ordo of Rebels II
47
Chp. 47 – Valentina : Terisus, Ordo of Rebels III
48
Chp. 48 – Indra : Purge of the Infidels!
49
Chp. 49 – Indra : Gods have a life too!
50
Chp. 50 – Indra : The Great Temple of Indraprasta
51
Chp. 51 – Indra : Pantheons Cleansing!
52
Chp. 52 – Indra : Pantheons Cleansing! II
53
Chp. 53 – Indra : Dimensional Problem III
54
Chp. 54 – Indra : Dimensional Plans
55
Chp. 55 – Indra : Dimensional Plans II
56
Chp. 56 – Indra : Versus Cheat
57
Chp. 57 – Indra : Dimensional Plans III
58
Chp. 58 – Indra : The Cause
59
Chp. 59 – Indra : Silurian Hypothesis
60
Chp. 60 – Throst : God of Ice
61
Chp. 61 – Throst : NTR'ed
62
Chp. 62 – Indra : The Annihiliation
63
Chp. 63 – Indra : Last Aggression
64
Chp. 64 – Indra : The Higher Apotheosis
65
Intermezo 1 – Gods and Kings
66
Intermezo 2 – Temple of Indraprastha
67
Intermezo 3 – Heroes
68
Season 2 Intro : New Era
69
Chp. 65 – Alister : Exodus
70
Chp. 66 – Alister : Drama Lessons I
71
Chp. 67 – Alister : Drama Lessons II
72
Chp. 68 – Alister : Drama Lessons III
73
Chp. 69 – Novia : Unpleasant Meeting
74
Chp. 70 – Novia : The Facade I
75
Chp. 71 – Novia : The Facade II
76
Chp. 72 – Novia : The Facade III
77
Chp. 73 – Novia : The Facade IV
78
Chp. 74 – Laurentin : Malevolent
79
Chp. 75 – Laurentin : Awkward Journey I
80
Chp. 76 – Laurentin : Awkward Journey II
81
Chp. 77 – Laurentin : Dark Magic
82
Alasan Belum/jarang Up
83
Chp. 78 – Laurentin : Obsession
84
Chp. 79 – Novia : Agony in a Secret Room
85
Chp. 80 – Novia : Puppeteer
86
Chp. 81 – Alister : What a First Time
87
Chp. 82 – Alister : Arrogant Kid
88
Chp. 83 – Alister : Mage Battle
89
Chp. 84 – Novia : Knight Battle
90
Chp. 85 – Novia : Contemplating
91
Chp. 86 – Novia : Immoral Approach I
92
Chp. 87 – Novia : Immoral Approach II
93
Chp. 88 – Alister : a Letter to a Sister
94
Chp. 89 – Alister : Misery in Folkoga
95
Chp. 90 – Alister : Death in the Valley of Eir
96
Chp. 91 – Alister : Chaos in Agappe
97
Chp. 92 – Alister : Brutally Beaten
98
Chp. 93 – Alister : Search For A Sister
99
Chp. 94 – Anya : The Guild Master
100
Chp. 95 – Alister : A Commitment I
101
Chp. 96 – Alister : A Commitment II
102
Chp. 97 - Alister : Ambushed
103
Chp. 98 – Anya : Different Circumtances
104
Chp. 99 – Anya : The Heraldress

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!