Indra masih mengapung di ruang angkasa yang hampa. Rasa dingin dari ruang angkasa dapat dia rasakan, tetapi karena kekuatan fisiknya ia dapat mentoleransi suhu yang sangat ekstrim sekalipun. Pikirannya yang entah bagaimana juga sudah jernih dan tajam, dan perasaan lepas dari amarah masa lalu, ia bisa mampu dengan mudah mengontrol segala kemampuannya.
Indra dapat merasakan segalanya. Bahkan ruang hampa yang seharusnya tidak memiliki medium untuk mentransmisikan suara pun dengan kekuatan dan kemampuannya, ia bisa mendengar suara kepakan sayap lalat di planet yang ada di depannya itu. Tak sampai disitu, matanya juga mampu menerawang jauh ke permukaan planet. Dan disana, ia melihat sebuah kota peradaban manusia yang padat populasi.
“Jumlah Populasinya banyak sekali! Bagaimana Bisa? Bahkan grafiknya … ini serius grafiknya seperti ini?” Ucapnya. “Perasaan Ini … aku tidak pernah menyangka fitur sehebat ini akan ada di dalam game.” Dia merasa kagum sesaat mencoba kemampuan barunya itu.
Mampu menerawang jauh bagaikan teleskop, dan mendengar suara di kejauhan bukanlah kemampuan dari game, sehingga ia merasa sangat kagum dengan percobaannya itu.
“Hmm, Tapi … apa yang harus aku lakukan?” Ucapnya Tiba-tiba bingung.
Rasa amarah dan pelampiasannya yang selama ini telah membuatnya terus memainkan game, sekarang sudah hilang. Dan karena hal itu, rasa bingung pun muncul di benaknya. Ia tidak pernah merasa sebingung ini sebelumnya. Itu adalah perasaan yang asing baginya.
“Apakah Ini di titik dimana aku sudah bosan seperti para pemain lain? Atau Karena aku memang sudah terlalu tua saja untuk memainkan game? Haa, apa yang harus aku lakukan?” ucapnya dengan tatapan malas, dan ia telah kehilangan minat.
Ekspresinya yang bosan saat menatap planet biru yang ada di depannya memberikan gambaran yang malah terlihat majestik. Dengan tubuhnya yang mengapung bebas dan berdiri secara maskulin, itu menggambarkan segalanya tentang kemajestikan. Dia benar-benar terlihat seperti dewa yang sedang mengawasi dunia yang ada di bawahnya.
“Merasa Bosan di dunia virtual … sedangkan tubuhku sudah sangat jelek di dunia nyata, apakah tidak ada pilihan lain? Kalau Bisa, aku ingin tinggal di sini selama-lamanya. Aku tidak peduli dengan rasa bosan, selama aku tidak perlu kembali ke dunia distopia itu.”
Untuk sesaat, rasa kehilangan minatnya berubah menjadi motivasi baru. Motivasi untuk tidak mau hidup di tubuhnya yang sudah tidak layak itu ditambah dengan kehilangan minat memainkan game VR, dan menghasilkan motivasi baru untuk ada alasan tinggal di dunia ini. Perasaan itu, seakan seperti halnya negatif ditambah dengan negatif, yang mana menghasilkan positif.
Indra kemudian terbang mengelilingi planet dan mulai memetakan topografinya.
Setelah mengelilingi dan memetakan planet dengan kemampuan divinity-nya [divine observation] lalu menggambarnya secara otomatis menggunakan sistem map, Indra pun langsung mendarat di sebuah padang rumput yang luas secara acak, dengan menggunakan kemampuan teleportasinya.
Sesaat mendarat, udara sejuk dengan aroma rumput yang khas pun menyambutnya. Indra bisa merasakan sensasi angin yang menyentuh kulitnya. Serta sensasi sejuk pada kulitnya, benar-benar terasa sangat nyata, bahkan lebih nyata dari rumah bordil di chat world.
Indra merentangkan tangannya, mendongak, memejamkan mata lalu menghirup udara dengan satu tarikan nafas yang panjang. "Haa, Ini … ini sangat luar biasa. Sebuah kesejukan tiada tara. Kalau begini jadinya, aku akan berada di dunia ini bermalas-malasan selama yang aku mau."
"Aku Tidak peduli dengan kepalaku yang membesar atau tubuhku yang mengurus … aku sudah tidak peduli lagi. Ini adalah duniaku." Indra terus mengelu-elukan nikmatnya udara di dunia ini. Meskipun sampai saat ini, ia masih mengira bahwa dunia ini masihlah sebuah game.
"Jika Orang-orang mengatakan kepadaku ini adalah dunia nyata, haa~ aku pasti akan mempercayainya." Ia kemudian perlahan berdiri dengan normal.
Indra mulai melihat telapak tangannya, dan merasakan kulitnya seakan bernafas. Ia bisa merasakan kedutan yang sangat jelas di pori-porinya, meskipun itu tidak nampak. Dengan tatapan yang berfokus, perlahan sebuah gambaran seperti asap nampak keluar masuk di pori-porinya. Ia kini bisa melihat jelas asap biru memanjang itu, dan itu adalah Mana.
“Apakah Ini Mana? Entah Bagaimana aku bisa tahu ini adalah Mana seakan aku sudah familiar dengan sensasi ini.” Seakan alam bawah sadarnya memberitahunya begitu saja.
Rumput yang cukup tinggi dan tertiup angin pun terus menyentuh betisnya. Indra bisa merasakan rumput-rumput itu dan langsung menoleh ke bawah. "Wow … Bahkan rumputnya bisa senyata ini!"
Indra merasa terpukau dengan wujud rumput yang begitu nyata. Sampai-sampai ia pun langsung duduk bersila dan mulai menyentuh rerumputan itu.
"Ini … Ini tidak hanya dunianya saja yang luas, tapi segala yang ada disini dapat disentuh dan dirasakan. Apakah ini mungkin dilakukan tanpa harus meningkatkan spesifikasi mesin kapsul?"
Di dalam dunia VR, alokasi memori adalah hal yang sangat krusial. Setiap ada fitur dari dunia VR yang ingin ditingkatkan, maka ada fitur lain yang harus dikorbankan. Semua dilakukan karena teknologi pikobyte hanya berupa kompresan memori, sementara alokasi memori mengandalkan prosesor dan RAM.
Sebagai contoh adalah chat world. Di dalam chat world, dunia dibagi dan dikotak-kotakan secara terpisah, dan dipisah menjadi dua bagian. Ruangan indoor dan outdoor.
Ruangan indoor adalah berupa konten tambahan seperti bar, diskotik dan rumah bordil. Sementara bagian outdoor adalah dunia luar dari chat world itu sendiri sebagai dunia terbuka yang bisa dieksplorasi.
Para pengguna hanya bisa mendapatkan sensasi-sensasi yang diinginkan jika mereka berada di dalam indoor. Sedangkan alokasi memorinya berupa, sensasi ditingkatkan sementara luas ruang dibatasi. Sementara outdoor adalah kebalikannya.
Hal itu dilakukan untuk membuat mesin bisa berjalan lancar dan tidak terlalu membebani otak.
Sementara untuk game Land of Transcendent, semuanya dibuat seperti bagian outdoor dari chat world. Dan oleh karena itu pula, game tersebut membutuhkan sistem pesan konfirmasi. Jika player disakiti, maka akan muncul pesan berupa "anda terkena serangan" karena mereka tidak mungkin merasakannya.
Selain itu, untuk bisa mengimplementasikan kekuatan dan kemampuan pada pemain, game tersebut juga harus mengorbankan tampilan pada game dari segi grafik maupun tata objek. Karena jika dipaksakan memiliki tampilan yang realistis, sementara terdapat fitur-fitur game RPG, maka saraf otak akan sangat terbebani.
"Apakah Akhirnya mereka menggunakan otak para pengguna sebagai prosesor dan RAM? Heh, Semoga saja aku salah," Ucapnya sambil mengelus dagu, mengingat ia pernah membaca sebuah artikel konspirasi tentang hal tersebut.
Indra kemudian mencoba mencabut rumput yang ada di sekitarnya. "Oh, Bisa! Ini Bisa dicabut!" Ia Kemudian mencoba melihat rumput itu lebih dekat. "Aku Tidak melihat adanya pixel pecah-pecah. Resolusinya berapa, ya, kira-kira? Apakah Ini tidak membahayakan saraf otak?"
Ditengah dirinya yang sedang memperhatikan rumput yang ada di genggamannya, tiba-tiba ia merasakan kehadiran seseorang.
[??? The Omniscience Menggunakan kekuatan -nya kepada sang Entitas.]
[Mengaktifkan .]
[ Berhasil dibatalkan.]
“Belum apa-apa sudah disambut saja,” ucap Indra, berdiri lalu mendongak ke atas dan mulai mengelus dagunya. “Hm … NPC yang belum pernah kulihat. Ternyata tidak hanya dunianya saja yang baru, tapi NPC-nya juga baru.”
Egni - God Emperor.
Sesaat ia mendongak ke atas, ada seorang sosok mulai turun dari langit. Sosok itu berpakaian oriental putih dan bercorak emas. Ia terlihat tua dengan ekspresi yang tenang. Tampak kewibawaan pada ekspresinya itu.
Mata sosok itu putih bercahaya sepenuhnya. Rambutnya yang putih panjang, serta kumis dan janggut yang panjang dengan warna yang sama juga. Sosok ini terlihat seperti dewa-dewa pada budaya timur. Hanya saja tampak telinganya yang caplang seperti elf.
“Siapa gerangan? Dari mana anda datang?” Tanya sosok itu dengan tenangnya. “Saya tidak pernah melihat dewa seperti anda. Dewa yang mampu membatalkan kekuatan sejati milik saya.” Nadanya berubah menjadi lebih menekan, dan menjadi ia terdengar tidak sabaran.
Indra perlahan terbang dan melayang sejajar dengan sosok itu. “Wow! Bukankah Anda Yang mendatangi saya terlebih dulu? Bukankah ada bagusnya jika anda yang memperkenalkan diri duluan?”
“Baiklah Jika tidak ingin menjawab, maka Dewa Ini akan menghukum anda!”
Sang sosok mengangkat tangan kanannya, yang mana kemudian bentuk pentagram berwarna emas terbentuk di atasnya. Diikuti dengan sambaran petir yang menggelegar dan juga langit yang mulai menjadi gelap, sebuah pedang raksasa berwarna putih pun muncul.
Indra - God Mode.
Indra tersenyum sesaat melihat itu, dengan matanya yang mulai menyala biru yang disertai dengan kilatan listrik. Dan untuk pertama kalinya, ia bisa merasakan adrenalinnya memacu. Ia merasa bersemangat. “Haa, perasaan ini ….” Indra mulai merentangkan tangannya, mendongak dan menghela nafas panjang. Itu bukan tanda pasrah, melainkan sebuah gestur tantangan.
Sang sosok mengerutkan keningnya, selagi pedangnya mulai mengarah ke arah Indra. Ujung pedang putih raksasa yang runcing itu, seakan memandang dan menantangnya. Dibarengi dengan suara gemuruh petir, pedang itu pun dengan sekejap meluncur dan menabrak tubuhnya. Dan pedang itu … hancur berkeping-keping.
Mata sang sosok terbelalak, ia merasa tidak percaya. “Tidak mungkin!”
“Pak tua … bukankah anda terlalu bersemangat untuk orang setua anda?!” Ucap Indra menatap sang sosok. Senyumannya yang lebar dengan mata menajam, memberikan aura jahat dari ekspresinya itu. “NPC Saja yang berbeda, tetapi AI mereka masih bodoh.”
Keringat mulai mengucur dari kening sang sosok. Perasaan untuk lari muncul dari dirinya, tetapi kebanggannya mengalahkan itu semua. Sang sosok pun mulai kembali mengangkat tangannya, dan mulai memunculkan kembali pentagram emas.
Namun Indra, langsung mendekat dengan sekejap sebelum sang sosok sempat menyelesaikan mantranya. “Yo … pak tua!”
Duaaar! Gedebuk!
Indra meninju sang sosok ke tanah, dan memaksanya mendarat dengan sangat keras dan telak. Punggungnya yang menyentuh tanah duluan, membuatnya tidak bisa bernafas dan memuntahkan darah Dewanya yang berwarna emas. Dada sang sosok juga terlihat bolong, karena tinjuan dari Indra.
Indra berteleportasi, dan berdiri di atas sang sosok sembari menginjak lehernya. Tanpa rasa sopan, tanpa memperdulikan apapun dan tanpa rasa simpati, Indra menatap rendah sang sosok yang wajahnya sudah memelas karena menahan rasa sakit itu.
Sang sosok hanya bisa menatap lemah ke atas, melihat lawannya menginjak lehernya. Ia sudah tidak bisa lagi berbicara, dan sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Ia sebenarnya ingin memohon ampun, sampai-sampai air matanya mulai mengalir. Tetapi suaranya tidak mampu keluar, karena lawannya menginjak lehernya dengan begitu kuat.
“Kau terlalu banyak omong,” ucap Indra sambil mengeluarkan sebuah palu yang merupakan cash item. Palu itu membuat gemuruh petir dan gelapnya langit menjadi semakin ganas. “Jika ingin bertarung! Lakukanlah seperti ini!”
Blaaaar!
Indra memukul sang sosok dengan palunya dengan sangat keras. Sampai-sampai ledakan yang menggelegar yang membentuk kubah biru berpetir raksasa pun tercipta. Bersamaan dengan itu, langit seakan retak dan tanah menjadi berkawah. Kawah yang sangat lebar tercipta setelahnya dengan statik listrik yang masih terus menyambar-nyambar.
Dan tidak ada yang tersisa dari sang sosok setelah pukulan itu.
[Sang Entitas berhasil membunuh Kaisar Dewa Egni dari pantheon Naga Putih.]
[150 Triliun exp berhasil didapat.]
[Supreme God Soul Essence 10x berhasil didapat.]
[ Berhasil aktif dan mencuri gelar dan seluruh kemampuan dari Kaisar Dewa Egni.]
[Gelar “The Omniscience” berhasil didapat.]
[Seluruh skill, spell dan divinity berhasil didapat dari “The Omniscience”.]
[Gelar “God Emperor” berhasil didapat.]
[Seluruh skill, spell dan divinity berhasil didapat dari “God Emperor”.]
“Hm, jadi namanya adalah Egni,” ucap Indra sambil mengelus dagunya. “Sepertinya aku akan lebih sering memainkan game ini, hehehe. Apa itu chat world?! Aku tidak butuh!” Lanjutnya terkekeh-kekeh.
[Divine Presence : Tidak aktif.]
Ia kemudian berjalan keluar dari kawah sambil menonaktifkan Divine Presence-nya. "Haa ... mungkin dia bisa tahu keberadaanku karena selama ini Divine Presence-ku masih aktif."
Dengan pikiran jernih dan hati yang tenang, serta rasa puas yang ia lalui tanpa klimaks barusan, membuat dirinya kembali memandang jauh sambil merasakan suasana sejuk. Tak lama, ia pun mulai kembali berjalan meninggalkan kawah yang ia ciptakan menuju jalanan dengan ekspresi bosan.
***************.
Bersambung ….
********.
kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
miyamura kun~
bjir sekali gedik langsung mati 🗿👍
2024-01-04
0