Alisa.
Suara nyanyian balada mulai terdengar di dalam penginapan saat hari sudah menjelang malam. Bir dan makanan ringan juga sudah mulai digelar di setiap meja-meja lantai terbawah. Orang-orang bernyanyi dan bersuka ria dalam menghabisi hari mereka.
Alisa, sementara itu sibuk memberikan pelayanan terbaiknya sebagai penjaga penginapan, di dalam kamar yang dia sewakan kepada Indra untuk bermalam. Untuk seorang wanita berumur 30 tahunan, untuk pertama kalinya ia terpuaskan ketika "melayani" tamu.
Indra duduk di pinggir kasur, sedang Alisa berada di pangkuannya bergerak mengikuti ritme. Kemudian, dengan diiringi erangan penuh semangat Alisa, Indra membanting tubuhnya ke kasur dan membuat Alisa berada di bawahnya.
Beberapa lama kemudian, tanpa disadari sementara hari sudah semakin malam, dan nyanyian balada sudah tidak terdengar lagi, Alisa pingsan tertidur di kasur yang ia sewakan kepada Indra.
Sementara itu, Indra duduk di pinggir kasur dengan miliknya yang masih mengencang. "Apa yang sudah aku lakukan? Sesaat aku sadar bahwa ini dunia nyata … eugh, apakah aku sudah gila?" Keluhnya sambil menunduk dan memegang kepalanya, ia merasa menyesal.
Sembari duduk meringkuk sambil menghukum dirinya sendiri dengan perasaan menyesal, ia mengingat, ucapan terakhir Alisa sebelum akhirnya ia pingsan. Alisa memanggil-manggil nama suaminya yang sedang bertugas di Aquantis, sementara dirinya sedang mencapai puncak di pelukan pria lain.
Indra pada saat itu pun hanya terdiam dengan ekspresi bersalahnya.
"Seandainya aku tidak bilang bahwa aku adalah seorang maestro, pasti semua ini tidak akan terjadi. Haa, apa yang sudah aku lakukan?" Kembali ke keadaannya saat ini dengan rasa bersalahnya, ia hanya bisa mengeluh.
Beberapa jam sebelumnya di sore hari ….
Setelah ketiganya masuk ke dalam penginapan, Indra pun langsung diberikan tempat duduk, sementara Anya duduk di sebelahnya karena ia tidak berani kemana-mana. Sementara Alisa membuatkan minuman untuknya.
Di tengah keheningan canggung, dengan Anya yang tidak mengatakan apapun, Indra mulai melirik ke setiap sudut ruangan. Ia melihat bagaimana bangunan itu begitu detail dengan garis-garis kayu yang terlihat begitu nyata. Pot-pot yang ditaruh di dekat jendela juga terlihat sangat nyata dengan tiupan angin dari jendela yang terbuka.
Indra kemudian berdiri, mendekati jendela, dan mulai menyentuh setiap detail bahan pada jendela. Kaca, kayu, engsel, semuanya ia sentuh dan ia rasakan. Dari angin yang berhembus dari luar, dengan banyaknya orang yang berlalu lalang di luar, instingnya pun mulai mengatakan, ini adalah dunia nyata.
Tatapannya pun mulai tertegun saat pikiran itu terlintas darinya. Matanya hanya memandang jauh, melihat bagaimana gerak orang-orang yang ia anggap hanya sebagai NPC itu, terlihat begitu luwes dan tanpa adanya jeda animasi.
Bohong jika ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Kemungkinan bahwa ini adalah dunia nyata. Sebelumnya ketika masih di luar angkasa, ia pun juga ingin percaya bahwa ini adalah dunia nyata. Tapi ia terus menghiraukan hal tersebut.
Sampai kini pun ia juga masih mengharapkan kemungkinan tersebut. Lalu dengan gelagat tertegunnya, dengan tatapan yang agak kosong, ia pun kembali duduk di mejanya, sementara Alisa baru saja meletakkan segelas bir di atas mejanya.
"Silahkan, Tuan," ucap Alisa.
Indra pun duduk sambil mulai melihat segelas bir yang ada di hadapannya. Ia dengan seksama memperhatikan riak cairan kuning yang baru saja tercipta sesaat gelas tersebut diletakkan.
Alisan berdiri di samping meja sambil memegang bahu putrinya erat-erat. "Tuan, apakah putriku boleh pergi?" Suaranya bergetar, namun dirinya masih menjaga postur.
Indra hanya mengangguk sementara ia masih menatap riak bir yang ada di hadapannya.
Suasana seperti penawanan pun perlahan memudar sesaat Anya dengan ragu berdiri dan mulai berjalan menjauh.
"Terimakasih, dan mohon maafkan putri saya jika itu telah menyinggung anda," ucap Alisa menunduk.
Indra sekali lagi tidak menghiraukan, dan mulai memasukkan dua jarinya ke dalam gelas bir. "Ini basah," ucapnya.
Alisa yang menyaksikan itu pun terdiam seribu kata.
"Kalau begitu, aku akan meminumnya," ucap Indra dan langsung meneguk segelas besar bir. "Aahhh … segarnya."
Indra kemudian menoleh ke arah Alisa yang masih berdiri di samping mejanya. "Oh iya, aku ingin menyewa kamar. Apakah masih tersedia?"
"M-masih, tuan," jawab Alisa.
"Berapa?"
"Satu dirham per malam jika anda menyewa per kamar, dan 25 shilling permalam jika anda menyewa per kasur."
Indra tiba-tiba menoleh dengan tatapan tajam. "Hm? Apakah bisa menyewa per kasur?"
Alisa terkejut melihat tatapan itu, dan langsung menundukkan kepalanya. "Ah, maafkan saya, tuan … seorang maestro seperti anda …."
"Haa, nih, untuk 5 malam dan untuk pelayanan kamar," ucap Indra memberikan 5 koin emas (dinar) ke Alisa. "Kembaliannya ambil saja." Lanjutnya.
1 dinar (koin emas) = 10 dirham (koin perak). 1 dirham = 100 shilling (koin tembaga).
"Huh? … ba-baik, terimakasih, tuan!" Alisa sekali lagi menundukkan kepalanya, kemudian berdiri tegak dengan pipi memerah. "Pelayanan kamar yang anda maksud, tuan … apakah …."
"Iya, tiga kali sehari. Pagi, siang, malam. Jangan sampai lupa," ucap Indra menatap Alisa sambil meletakkan pipinya di tinjunya. Walaupun tubuh ini tidak butuh makan, pikirnya.
"Ba-baik, Tuan," ucap Alisa gugup sekaligus terkejut dengan permintaannya. Bersamaan dengan itu, ia juga merasa dirinya sedang ditatap dengan penuh hasrat oleh Indra.
Alisa pun mengeluarkan kunci dari kantongnya dengan nomor kamar yang tergantung ke Indra. "S-s-silahkan, tuan. Kamarnya ada di lantai 3, kamar nomor 2."
Kemudian, sesampainya di dalam kamar, Indra pun langsung berbaring di kasurnya dan mulai mencoba mengeluarkan tampilan menu. Namun sayang, itu tidak muncul.
"Loh? Tunggu, tunggu, tunggu," ucap Indra. "Aku bisa merasakan seluruh kemampuan, kekuatan dan sistem begitu saja seperti menggerakkan tangan. Tapi, kenapa aku tidak merasakan tampilan menu?!"
Indra kemudian mencoba berbagai cara, dari mulai memanggil, meneriakkan dan bahkan sampai mulai memfokuskan pikirannya, tapi semua tidak ada yang berhasil. Sementara itu, Sera yang seharusnya mengingatkannya untuk berhenti bermain game juga tidak terdengar sama sekali.
Mulai saat itu, pikirannya tentang dunia ini adalah dunia nyata pun mulai mendominasi. Ia merasa tenang meskipun begitu, namun tetap, ia merasa khawatir. Apalagi dengan nasib tubuhnya yang sudah bermutasi. Ia terus bertanya-tanya di dalam pikirannya, apa yang akan terjadi pada tubuhnya itu jika ia terjebak di dalam dunia nyata.
"Haa, ini gawat, aku harus bagaimana? Layar menu saja tidak bisa diakses, bagaimana aku mau keluar?"
Ia kemudian teringat dengan fitur keamanan di dalam VR.
"Ah, sepertinya jika aku tertidur di sini, kemungkinan pastinya aku akan terbangun di dunia nyata juga."
Ia kemudian mulai berbaring dan mulai memejamkan matanya. Ia tidak merasa mengantuk, tetapi entah bagaimana sistem tubuhnya bisa membuatnya tertidur seakan ada saklar yang mengatur.
Beberapa waktu kemudian, ia pun terbangun, namun masih mendapati dirinya berada di dalam dunia ini. Dan itu pun ia terbangun karena suara berisik orang-orang bernyanyi di lantai bawah.
"Aaaarghhh! Bagaimana ini?!" Indra berdiri dari ranjangnya, kemudian mulai menempeleng kepalanya sendiri. "Haa … walaupun … entah bagaimana, aku merasa senang dengan keadaan ini." Untuk sesaat, pandangannya terlihat melankolis, seakan bersyukur atas kehidupannya sekarang dan bernostalgia atas kehidupannya yang lama.
Perlahan, Indra pun mulai menerima keadaannya dan mengakui serta menyadari bahwa ini adalah dunia nyata.
"Sial, berarti yang tadi pagi aku bunuh adalah dewa sungguhan? Hmmm, hehehe! Menarik! Menarik! hahahah!" Ia pun tertawa dengan begitu keras. Ia merasa bersemangat dengan adrenalinnya yang ikut berpacu. "Aku tidak pernah mengira saat-saat seperti ini akan datang juga. Haa, apa namanya? Transmitter? Transgender? Trans … transtv? Ah, itu lah pokoknya. Hahaha luar biasa!"
Yang ia maksud adalah transmigrasi, tetapi ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat karena sudah terlalu tua untuk geeky terhadap pop-culture.
Dengan dirinya yang tidak hanya terseret dan berpindah ke dunia fantasi yang nyata, tapi juga dengan seluruh kemampuan dan kekuatannya, tentu dia akan merasa sesemangat itu.
Indra kemudian mencoba membuka pakaiannya, untuk lebih memastikan. Dengan sistem dari inventarisnya, ia pun melepas semua pakaiannya.
"Hah! Ada! Wuahahaha! Itu ada!" Indra berteriak gembira sesat melihat miliknya menggantung dengan gagah dan bebas. "Ini benar-benar dunia nyata. Haa! Siapapun itu yang telah mengusirku dari dunia game ke dunia nyata, hah! Rasakan—"
Toktoktok!
Tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi.
Indra kemudian tanpa pikir panjang langsung membuka pintu, dan ternyata Alisa lah yang berada di balik pintu kamarnya.
Alisa dengan pakaiannya yang terbuka dan siap tempur, dengan ekspresi tersipu dan juga malu-malu, hanya bisa terkejut sesaat melihat Indra, yang membuka pintu, sudah dalam keadaan tak berpakaian sama sekali.
"Tuan, mohon maaf telah menunggu lama. Saya tidak mengira bahwa anda sudah bersiap-siap," ucap Alisa dengan malu-malu dengan sesekali menatap ke bagian bawah Indra. "Itu besar sekali, apakah akan muat?" bisiknya spontan.
Kembali di waktu saat ini ….
Indra yang masih melamun di pinggir kasur, hanya bisa bergumam. "Haa … aku tidak pernah mengira bahwa, pelayanan kamar akan termasuk pada kegiatan seperti ini." Kemudian kembali mengingat ke belakang. "Mungkin jika aku tidak bilang bahwa aku adalah seorang maestro, aku akan jadi lebih mudah untuk menolaknya."
Indra mengingat bahwa sebelumnya Alisa bersujud dan memohon di hadapannya, sesaat ia menolaknya. Alisa memohon karena ia, atau setidaknya seluruh penduduk di dunia ini, menganggap bahwa, mandat dari seorang maestro berada di atas para bangsawan, sehingga Alisa merasa takut ia akan mendapatkan masalah jika ia tidak bisa menuruti seluruh keinginan Indra yang merupakan seorang Maestro di matanya.
"Yaa … jika dia sudah bersujud seperti itu, mana bisa aku menolaknya," gumam Indra, kemudian menoleh ke bawah. "Dan … kenapa belum keluar-keluar juga?!!!"
Libidonya masih membara, meskipun itu konstan. Ia merasakan bagaimana sensasi yang begitu nyata dari miliknya itu. Keras dan menegang. Namun sayang, dari sejak awal, ia tidak bisa mengeluarkan seluruh "hasrat"-nya, atau lebih tepatnya, daya tahannya yang terlalu besar membuat seolah itu tertahan di kantung bola-bolanya.
"Tubuh ini …," gumamnya. "Mungkin jika berfokus dan sedikit bermeditasi, ini akan menjadi lemas."
Ia pun mulai memfokuskan pikirannya, menyanyikan lagu indonesia raya, selamat ulang tahun dan cicak-cicak di dinding di dalam hati sambil terus bermeditasi. Sampai beberapa saat kemudian, libidonya pun mulai menghilang.
"Fuhhhh," Indra menghela nafas panjang dan menyelesaikan meditasinya.
******.
Bersambung ….
********.
kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Yoihoi Yoi
wkwkwkwk
2024-06-29
1
ay Jago
keren
2024-02-18
0
miyamura kun~
kerennnn mantapp lahh
2024-01-04
0