Setelah mengkonfirmasi tentang kawah yang mengandung residu divinity, para pendeta dari kuil Naga Putih bersama dengan sekelompok penyihir dari menara pun melakukan pertemuan di istana bersama dengan sang Permaisuri.
Di dalam sebuah aula pertemuan di salah satu gedung di dalam komplek istana, adalah sebuah gedung yang mirip sebuah colosseum beratap. Di dalamnya terdapat tribun yang hampir melingkar, kecuali itu dipisahkan oleh dua pintu di sisi kanan dan kiri. Sementara di antara pintu tersebut adalah tribun khusus empat tingkat, yang mana dari paling atas adalah tempat sang permaisuri, perdana menteri, hakim tertinggi dan jenderal tertinggi legiun.
Tribun yang mengitarinya dan menghadap ke tribun khusus memiliki 12 tingkat. Namun keseluruh tingkat pada tribun audiensi tidak memiliki urutan hirarki. Kemudian di tengah aula tersebut terdapat dua podium seperti tempat sidang, yang mana itu sebenarnya adalah tempat presentasi.
Gedung itu berwarna putih keseluruhan dengan batu granit yang tersusun rapi. Dikatakan bahwa gedung itu telah ada jauh sebelum kerajaan primordial ada (sekitar 10.000 tahun yang lalu), dan telah menjadi saksi bisu akan perkembangan peradaban manusia yang selalu pasang surut.
Pada siang harinya, seluruh yang melakukan pertemuan pun berkumpul, kecuali sang jendral tertinggi legiun. Sang permaisuri kemudian pun langsung mengetuk palu untuk dimulainya pertemuan tersebut.
“Kongregasi! Kami dari kongregasi! Berikan kami hak bicara terlebih dulu!” Seseorang dari bagian para pendeta pun berdiri.
Hakim yang duduk di tingkat ketiga dari atas pun mengetukkan palunya, sambil menunjuk ke arah orang tersebut. “Silahkan,” ucap sang hakim tua bernama Aeton.
Pendeta tersebut pun mulai turun ke arah podium, dan berdiri di sana sambil mulai membuka sebuah gulungan perkamen.
“Sebelumnya terimakasih kepada yang mulia hakim karena telah memberikan kami kesempatan terlebih dulu. Perkenalkan, nama saya adalah Lycus. Salam kepada semuanya. Hari ini sebelum kami menuju pembicaraan utama, saya—”
Tok tok tok!
Tiba-tiba Valentina mengetokkan palunya. “Jangan bertele-tele, cepatlah langsung ke intinya.” ucapnya dengan santai sambil bersandar malas.
Lycus pun berdehem. “Baik, Baginda. Saya akan langsung ke intinya.”
Lycus pun mulai membaca gulungan perkamen tersebut, yang dimana intinya adalah ; seorang pendeta tertinggi bernama Agamemnon, telah mengkonfirmasi dewa yang telah tiada adalah Egni, yakni sang Kaisar Dewa itu sendiri. Kemudian di sela-sela itu, Lycus mengatakan bahwa berita tersebut adalah hal yang dirahasiakan dari publik, bahkan dari pengikut setia kuil, yang mana hal tersebut telah merusak sumpah mereka sebagai “truth teller”.
Lalu setelah membacakan surat tersebut, Lycus pun meminta untuk diberikan hak atas kawah tersebut untuk berkabung dan juga dibangun monumen dewa Egni disana.
Lycus pun selesai menyampaikan keinginan kongregasi dan langsung kembali ke tribunnya.
“Kenapa kalian malah merusak sumpah kalian? Apakah kalian ingin order?” Ucap Valentina bertanya-tanya dengan santainya. “Sungguh, aku percaya kalian karena kalian adalah terkenal sebagai pemberita kebenaran, tapi jika kini kalian saja melepas itu semua, maka aku khawatir kepercayaan kekaisaran kepada kalian akan mulai pudar.”
Semua pendeta pun terdiam sambil menunduk.
“Tapi itu adalah perintah dari sang kudus Agamemnon, yg mana beliau mendapatkan perintah itu langsung dari Pantheon,” ucap Lycus. “Dan Baginda tidak perlu khawatir. Karena bukti bahwa kami tidak akan melepas sematan tersebut, yaitu terletak pada pertemuan kali ini. Kami dari kuil Naga Putih, dengan secara sukarela dan setia, telah memberitahukan berita rahasia ini kepada anda, Baginda.”
Valentina hanya menatap Lycus, sementara salah satu penyihir sudah tampak berdiri.
“Baginda, mohon izinkan kami.”
Selanjutnya, para penyihir pun dengan sederhana meminta tempat itu sebagai tempat bertapa para maestro mereka. Namun tak sampai disitu, ternyata mereka juga sudah berkoordinasi dengan akademi maestro untuk mendapatkan dukungan.
Salah satu pendeta pun berdiri. “Tunggu, berarti dengan kata lain, kalian sudah memberitahukan tentang ketiadaan sang dewa kepada pihak akademi? Kalian sungguh kurang ajar!”
Dari sana, mereka pun menjadi saling tunjuk dan melemparkan argumen mereka.
Tok tok tok!
“Hentikan!” Ucap Aeton. “Apakah kalian lupa bahwa baginda hadir di antara kalian?!”
“Kau, Aeton, kau adalah pendeta juga! Apakah kau sekarang telah bias?” Seru salah satu penyihir.
Valentina pun merasa kesal dan langsung melepaskan aura dinginnya.
Semua pun terdiam sesaat aura dingin mulai membekukan udara.
“Aku akan memberikan sebagian kawah itu kepada kuil, dan sebagian lagi kepada menara penyihir. Mengingat kawah itu begitu luas, jadi berbagilah.” ucap Valentia dengan tatapan bosan. “Terima atau tidak, itulah keputusanku. Lagi pula, aku lah yang memiliki segalanya di benua ini.” lanjutnya dengan tatapan tajam meskipun dengan ekspresi bosannya.
Kemudian, ia pun mengetuk palunya sekali, sebagai tanda pertemuan telah usai dan mencapai konklusi.
**********.
Ateya - the empress's little flower.
Malam hari di dalam kamarnya, setelah baru saja selesai membersihkan tubuhnya dengan berendam air hangat, Valentina berbaring telungkup dengan seorang pelayan wanita memijatnya dari belakang.
“Ahh~ itu enak sekali, teruskan,” ucap Valentina.
Dengan tangan yang lembut namun terlatih, Ateya terus memijat jengkal demi jengkal punggung Valentina. Wewangian yang ditimbulkan dari minyak pun ikut berperan dalam memberikan Valentina relaksasi tambahan. Namun tidak dengan dirinya, yang padahal hanya memijat, justru mulai merasa aneh pada tubuhnya.
Sambil menahan perasaan menggelitik pada tubuhnya setiap kali aroma dari minyak menyentuh hidungnya, Ateya terus menjaga posturnya. Tangannya yang lembut perlahan mulai melemah. Posturnya yang tegak perlahan mulai membungkuk.
“Ba-baginda … sepertinya ada yang … yang salah dengan tubuh saya,” ucap Ateya.
Valentina yang mendengar itu pun tersenyum, lalu mulai membalik badannya. “Oh … bunga kecilku, apa yang terjadi?” Tanyanya sambil mulai menyentuh pipi Ateya. “Kenapa kamu tidak duduk dulu?”
“Te-terimakasih, Baginda,” ucap Ateya langsung berjalan mundur ke belakang dan duduk di sebuah sofa. “Haa … maafkan saya Baginda … entah kenapa … ahh … tubuh saya … ahh ….” Tanpa disadari Ateya mulai menyentuh bagian tubuhnya sendiri.
Valentina dengan tatapan dan senyuman penggodanya pun mulai berjalan dengan tubuhnya yang masih telanjang mendekati Ateya yang tampak tak terkendali itu. Perlahan, Valentina pun menaruh tangannya di sandaran sofa, sementara bibirnya sudah begitu dekat dengan telinga Ateya.
“Ba-baginda?” Tanya Ateya dengan suara lemahnya.
Valentina bernafas berat di telinga Ateya. “Ahhh … betapa imutnya.” lalu ia pun mulai menyentuh tubuh Ateya yang sudah tidak terkendali itu. Jengkal demi jengkal, dan lekukan demi lekukan, Valentina memastikan tidak meninggalkan sedikitpun kecuali sudah ia sentuh, kecup dan stimulasi.
Sementara Ateya, ia hanya bisa bersandar menikmati setiap sentuhan Tuannya itu. Matanya yang hanya menatap langit, sudah tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Telinganya yang hanya mendengar nafas berat Valentina, perlahan membuat pikirannya menjadi kosong, dan tanpa sadar, kedua tangannya sudah melingkar di tengkuk Valentina.
“Baginda … Tubuhku terasa aneh … entah bagaimana … ahhh … aku ingin buang air kecil,” ucap Ateya dengan suara yang lemah dan polosnya.
Valentina hanya tersenyum dan langsung mengangkat tubuh mungil Ateya ke atas ranjangnya. Kini sang kelinci pun sudah berada di genggaman sang Lioness. Namun sesaat sang Lioness hendak menerkam sang kelinci, jendela yang tidak tertutup serta gorden yang dibiarkan terurai bebas, tiba-tiba tertiup angin dengan cukup kencang.
Sang Lioness pun hilang nafsu makannya dan langsung bangkit dari ranjangnya, kemudian menuju ke arah jendela. Di sana, ia pun langsung memungut sebuah gulungan yang tergeletak di lantai.
“Tsk, apalagi ini? Tidak bisa lihat orang lagi—” ia pun terhenti sesaat ia mulai membaca pesan tersebut.
Surat itu berbunyi ; kami para bayangan telah mendapati bahwa seseorang hendak melelang sebuah koin dinar yang terbuat dari bahan legenda, yakni Emas Celestial. Dan kami harap, Baginda agar langsung mengambil langkah sebelum orang lain yang mendapatkannya. Karena besok malam adalah hari pelelangannya.
“Orang baj*ngan mana yang berani-beraninya menjual barang tersebut?” Tatapannya pun menajam dengan iris yang seakan menyala diantara gelapnya malam. “Sepertinya aku harus mengajarinya kalau emas celestial hanya boleh dimiliki oleh kekaisaran.” lanjutnya sambil merobek perkamen tersebut. “Mari kita lihat\, baj*ngan macam apa orang ini. Semoga saja bukan badut lain yang berusaha membunuh Transendental.”
************.
Bersambung ….
********.
kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rainfall Cahya
go indra
2023-10-23
1