Kota Antipolis adalah ibu kota dari Kekaisaran Agung Balkia. Sebuah kekaisaran yang mencakup seluruh benua Yuria, dari ujung utara ke ujung selatan. Sebuah kekaisaran yang dipimpin oleh seorang matriarki yang dijuluki sebagai sang Permaisuri Merah (The Red Empress) yang bernama Valentina Cecilia Maximus. Dan dia adalah seorang Transendental atau setengah dewa yang sudah memimpin selama lebih dari 1200 tahun.
Kota dengan berpopulasi 5 juta penduduk ini, meskipun merupakan ibukota kekaisaran, Antipolis terkenal bukan karena sebagai pusat politik maupun ekonomi —karena pada dasarnya, setiap kota di Balkia adalah "pusat" ekonomi dan politik— melainkan karena keajaiban yang dimilikinya.
Kota yang dikelilingi tembok berlapis tiga setinggi 20 meter dengan ketebalan 6 meter ini, memiliki beberapa keajaiban. di dalamnya terdapat sebuah danau besar tempat seekor wyrm yang bernama Poseimos milik sang permaisuri (empress) tinggal, satu menara besar penyihir setinggi 100 meter sebagai pusat penelitian mesin sihir (magic engineering) di dunia, dan juga sebagai tempat akademi maestro terbesar dan terbaik di dunia.
Antiapolis terkenal di seluruh tiga benua karena keajaiban-keajaibannya (wonders) itu. Khususnya adalah akademi maestro Antipolis. Orang-orang dari seluruh dunia rela mengarungi lautan dan menanjak gunung yang terjal, hanya demi bisa belajar di tempat ini. Ditambah dengan adanya danau Kerentis, tempat poseimos tinggal, yang memiliki Mana yang jauh lebih melimpah dari tempat manapun terus membuat maestro manapun untuk datang dan bertapa di sana.
Selain itu, Antipolis juga menjadi destinasi wisata terbaik di kekaisaran karena juga terkenal dengan tata kota dan keamanannya. Banyak orang-orang dari kalangan manapun datang ke Antipolis hanya untuk berlibur melepas penat.
***********.
Sophia.
Setelah melakukan perjalanan dengan berjalan kaki untuk merasakan perjalanan yang lambat di tengah alam yang sejuk dan memukau, saat ini Indra duduk menumpang di dalam gerobak karavan pedagang. Sebuah rombongan dagang yang berisikan 25 gerobak berkuda dan 50 pengawal berkuda berzirah lengkap, membawa Indra pergi menuju kota Antipolis.
Seorang wanita muda bernama Sophia yang merupakan manajer perserikatan dagang cabang kota antipolis, duduk di kursi seberangnya. Sophia duduk dengan anggun dan berwibawa, ia terlihat tenang dan dingin, namun dengan parasnya yang cantik dan kutu buku ia terlihat lebih seperti seorang pustakawan dengan catatan perjalanan yang selalu ia bawa.
"Terimakasih sudah memberiku tumpangan, Nona Sophia," ucap Indra, duduk tegak dengan tubuhnya yang besar dan tinggi.
Sophia menelan ludah setiap kali ia melirik ke arah Indra. "Tentu, Tuan Indra," ucapnya menahan gugup.
Sophia terlihat sungkan, padahal dialah yang awalnya bersemangat untuk mengajak Indra masuk ke gerobaknya karena berpikir Indra adalah seorang Maestro yang mungkin bisa mengawal karavannya dari bandit. Namun kini, setelah duduk bersamanya dengan cukup lama dan melihat tato yang dimiliki oleh Indra dan postur tubuh yang tinggi dan kekar, Sophia justru mulai berpikir dia adalah banditnya, yang mungkin sedang menyamar untuk menjebak karavannya.
Sophia hanya bisa menatap Indra dengan ragu, ia tidak berani untuk menanyakan hal itu. Perasaan khawatir yang selama ini ia tutupi dengan kharismanya sebagai manajer cabang mungkin akan terkuak sebentar lagi.
Indra sementara itu, hanya menatapnya sambil melipat tangan. Ia merasa aneh dengan sikap Sophia. Ia tidak pernah bertemu dengan NPC yang serumit ini. Mungkin dia pernah bertemu dengan NPC yang unik dan berbeda sebelumnya, tetapi tidak pernah ada yang memiliki sifat yang rumit sehingga sulit di tebak.
Sophia yang melihat postur maskulin dan mendominasi Indra, hanya bisa memalingkan wajahnya dengan sesekali melirik ke arah tato dan otot lengan Indra. Ia sudah tidak tahan dengan sikap dingin dan wibawanya. Kedua tangannya yang mengepal di atas kedua pahanya, kini mulai berkeringat dengan kaki yang terus bergerak-gerak sebagai tanda gelisah.
Indra yang memperhatikan sikap gugup Sophia juga ikut merasa bingung harus berbuat apa. Di lain sisi, ia berusaha untuk menebak sikapnya agar bisa menemukan jalan untuk memicu quest. Namun sedari tadi, dari sejak awal ia dengan sengaja menunggu tumpangan sampai sekarang, tidak ada quest yang terpicu dari setiap tindakannya.
"Apakah kamu membutuhkan sesuatu dari ku?" Tanya Indra membungkukkan badannya sampai wajahnya berada dekat dengan wajah Sophia.
Sophia yang awalnya berniat meminta Indra untuk mengawal karavannya, kini hanya bisa tersipu sesaat nafas Indra yang penuh dengan aura testosteron menghembus pipinya. Sementara Indra tampak memfokuskan tatapannya ke arah Sophia sambil mencoba memahami isi kepalanya.
"S-s-sebenarnya …," ucapnya gugup, kemudian membersihkan tenggorokannya. "Sebenarnya saya ingin … ingin meminta anda membantu saya untuk menjadi … pengawal. A-a-apakah anda berkenan?" Lanjutnya gugup sambil memalingkan wajah, tidak berani dan merasa malu untuk menatap Indra.
"Oh," Indra mengangguk sementara jarak wajahnya masih dua jengkal dari wajah Sophia. Kemudian untuk sesaat ia terdiam seakan menunggu untuk pesan quest muncul. Tapi, itu tidak muncul. "Hmmm, itu tidak muncul."
Sophia terkejut mendengar pernyataan Indra. Lalu dengan gugup dan wajah penuh keringat, ia mulai menatap Indra. "T-t-t-tidak muncul? A-a-apanya yang tidak muncul?" Ia berpikir Indra sedang merasa kecewa karena kawanan banditnya tidak muncul.
Indra kembali duduk bersandar, lalu menatap Sophia dengan tatapan tajam. "Sepertinya ada update sedikit untuk sifat NPC. Hmmm, apakah kamu tidak bisa memunculkan kotak quest? Oke, ini memang terdengar seperti 'breaking the 4th wall', tapi apakah hanya itu saja? Tidak ada pesan quest sama sekali? Kalau begitu, bagaimana aku bisa dapat Exp? Ya … walaupun aku tidak membutuhkan Exp sih."
Sophia hanya terperanga dengan ucapan Indra. Ia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang Indra ucapkan. Quest? NPC? Apa itu? Mungkin itu lah yang ada di pikirannya saat ini, sementara ia hanya bisa terdiam bingung sambil memiringkan kepalanya.
Indra ikut memiringkan kepalanya melihat sikap bingung Sophia. Kemudian mulai mengulurkan tangannya, membelai rambut Sophia dan mulai mengendus rambut Sophia.
"Hmmm, setidaknya … NPC versi sekarang punya aroma wangi," ucap Indra dengan santainya, kemudian kembali duduk bersandar.
Pipi sophia langsung merona hebat, ia merasa sangat tersipu sesaat hembusan nafas Indra menyentuh telinganya. Ia tidak pernah terpikirkan, bahwa akan ada seseorang yang seberani itu. Namun secara bersamaan, hatinya juga mulai berdegup kencang. Ia tidak pernah diperlakukan seperti itu, bahkan oleh suaminya yang dingin.
"To-tolong … saya sudah punya suami," ucap Sophia menunduk tersipu.
"Oh, ini benar-benar nyata, bahkan NPC bisa punya kehidupan pribadi!" ucap Indra tampak bersemangat dengan senyuman lebarnya. "Kalau begitu, kirim salam kepada suamimu, dan berterimakasih karena sudah memiliki istri yang cantik dan wangi, serta baik hati yang mau memboncengku."
Sophia semakin kehilangan kata-kata.
********.
Sesampainya di depan gerbang Antipolis, terdapat puluhan jika tidak ratusan gerobak berkuda dan kereta kuda mengantri untuk masuk. Ini adalah hal biasa di antipolis, mengingat kota ini adalah pusat dari segala-galanya.
Banner yang terpasang di setiap kendaraan juga tampak berbeda-beda. Ada yang dari bangsawan, saudagar, pandai besi dan lain-lain. Semua mengantri dan tidak ada yang menyerobot.
Indra yang mengintip dari punggung kusir pun melihat pemandangan itu. Ia merasa terpukau dengan itu semua, mengingat mereka begitu tertib dan rapi. Tetapi itu bukanlah hal yang ingin dilakukan oleh Indra, mengantri berlama-lama dan menghabiskan waktu. Sementara, sebentar lagi, Sera akan mengingatkannya untuk keluar dari kapsul untuk dirinya kembali meminum suplemen.
"Sophia, terimakasih karena sudah memberikanku tumpangan, meskipun kamu tidak memberikanku quest sama sekali, tapi … terimakasih, kita akan berpisah disini," ucap Indra dan mulai berdiri dan kemudian turun dari gerobak.
"Tu-tunggu Tuan Indra … tunggu sebentar," ucap Sophia ikut turun.
Indra yang sudah berdiri di sebelah gerobak pun menoleh melihat Sophia yang ikut turun. "Hm? Apakah ada sesuatu?"
"Ti-tidak … saya hanya ingin memberikan ini kepada anda," ucap Sophia memberikan sekantong yang berisi koin emas.
"Kenapa kamu memberikan uang? Bukankah aku yang menumpang?"
"Ti-tidak … tidak perlu merendah hati, Tuan. Malah justru saya yang berterimakasih kepada anda, karena anda adalah seorang Maestro yang mau melakukan perjalanan bersama kami."
"Hmmm, baiklah," ucap Indra memasukkan kantong berisi uang tersebut ke dalam inventarisnya. "Sebelum itu, apa itu maestro?"
"Eh?" Sophia terlihat bingung dengan pertanyaan Indra, sementara ia baru saja menyaksikan kantong yang ia berikan kepadanya hilang begitu saja. "Sa-saya tidak…." Tiba-tiba Sophia seakan mengerti akan suatu hal. "Sa-saya mengerti maksud anda." Lanjut membungkukkan badan.
Indra seakan tertular dengan gelagat bingung Sophia, ia hanya bisa memiringkan alis kanannya. Ia tidak mengerti sama sekali tentang apa itu Maestro, sementara orang yang ditanya tampak sudah salah paham dengan sikap dan pertanyaannya.
"Tsk, baiklah. Jika kamu tidak mau memberitahu."
Indra kemudian menatap ke arah gerbang yang jaraknya ratusan meter itu. Dengan penglihatan jauhnya, ia mencoba mencari celah untuk lompatan teleportasinya. Lalu sebelum berteleportasi, ia pun menoleh ke arah Sophia sekali lagi.
"Apakah kamu butuh tumpangan?" Tanyanya.
"Tu-tumpangan?"
"Haa, ya sudah jika tidak mau." Dan Indra pun langsung menghilang di hadapan Sophia yang masih menatap bingung.
********.
Bersambung ….
********.
kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
lance lor
mantap thur
2023-10-20
2