Indra tersenyum puas saat dirinya menatap wajah ketakutan Valentina yang awalnya memiliki wajah congkak. Ia berhasil membuat sang permaisuri merah terdiam seribu kata sementara hanya bisa menatap kosong ke arah tubuh sang penyihir yang berserakan.
Valentina tidak bisa berbuat apa-apa sementara yang ada dipikirannya saat ini adalah, kematian sedang berada sangat dekat dengannya dan ia berdiri menatapnya sambil tersenyum. Ia tidak berani mengangkat matanya untuk menatap Indra, sementara ia masih merasa ketakutan yang luar biasa.
Para penyihir dan beberapa ksatria yang ada di dalam aula tahta-nya juga hanya bisa terdiam, menatap Baginda mereka, yang mana adalah seorang Transendental, tidak bisa berbuat apa-apa selain melotot ke arah subjeknya yang sudah menjadi daging cincang.
Keringat mengalir begitu deras dari sela-sela rambut Valentina. Bibirnya gemetar dan matanya memerah karena tidak berani untuk sekadar berkedip. Telinganya hanya bisa mendengar dengungan keras karena syok yang ia terima. Jantungnya yang tumbuh menjadi kuat dan keras sekeras baja, kini terasa melemah dan berdegup sangat cepat. Valentina menjaga nafasnya agar tidak terlalu berisik untuk dirinya tetap selamat dari kematian yang ada di depannya.
Indra mulai mencekik Valentina, lalu menekannya dengan begitu erat sampai ia bisa mendengar suara nafas yang tersendat dari kerongkongan Valentina. Wanita itu sudah tidak bisa berbuat apa-apa, dan dia cukup cerdas untuk tidak melakukan apa-apa.
“Jangan takut, aku tadi hanya bernafas,” ucap Indra sembari berpikir, untung sudah aku berikan protection spell pada tubuh mereka berdua. Tapi aku tidak pernah mengira bahwa protection spell yang bahkan hanya menggunakan Mana ternyata bisa sampai semerusak itu. “Dan jangan takut, aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan sebentar.”
“Khhhhkkkk!!” Valentina Berusaha melepas cekikan Indra dari lehernya, namun itu terlalu keras dan berat. Ia pun sadar bahwa dirinya hanyalah seekor semut yang sedang mencoba menggeser alam semesta, dengan dirinya yang seakan melihat penglihatan surgawi penuh dengan galaksi dan bintang-bintang lewat sekelebat di benaknya, sementara dirinya hanyalah semut di penglihatannya itu.
Indra kemudian berteleportasi dan melayang di ketinggian low-earth-orbit (400 ribu mdpl) sambil masih mencekik Valentina. “Aku penasaran, apakah kamu tahu bahwa dunia mu itu bulat? Apakah kamu tahu bahwa kalian terlihat sangat kecil dari atas sini? Kalian … dan dewa-dewa kalian. Kalian bukan apa-apa.”
Valentina yang awalnya merasa sesak karena tercekik, kini ia menjadi semakin tidak bisa bernafas karena dirinya berada di ruang hampa.
Indra kemudian memutar tubuh Valentina dan memegangnya di tengkuk. “Lihat … Kalian sangat kecil.”
Valentina mulai mengeluarkan air mata.
Indra lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Valentina lalu berbisik, “panggil dewa kalian!”
Valentina tidak bisa berkata apa-apa sedang ia tidak bisa bernafas sama sekali dengan wajahnya yang mulai membiru.
Indra yang menyaksikan itu pun tersenyum tipis, kemudian kembali berteleportasi ke dalam istana. Di dalam istana, ia pun langsung melepas cekikannya sambil melempar Valentina kembali ke tahtanya. Dan Valentina pun langsung menarik nafas sangat panjang sambil terengap-engap.
Sepertinya aku sudah kelewatan. Malah jadi kasihan sekarang.
“Jadi ….” Indra hendak mengatakan sesuatu sambil menoleh ke arah Alisa yang masih duduk tak berdaya. “Kalian … bisakah kalian mengantarkan Alisa kembali ke rumahnya?” Lanjutnya menatap ke para penyihir dan ksatria yang tersisa.
“Ba-baik, Tuan,” ucap salah satu ksatria sambil mengajak rekannya yang lain untuk membantu Alisa.
Sementara itu, pintu istana mulai terbuka dan Julius bersama pasukannya pun masuk sedang mereka tidak tahu menahu tentang apapun yang terjadi di dalam.
“Baginda,” ucap Julius terlihat tidak mengetahui apa-apa, sampai beberapa detik kemudian ia pun mulai memahami situasinya saat ini. “A-apa yang terjadi?” Ucapnya sesaat melihat Valentina hanya duduk bersandar hampir pingsan di atas tahtanya, sementara Indra berdiri di sampingnya.
Julius pun mulai memegang pedangnya, lalu diikuti dengan 20 ksatria yang bersamanya.
“Hentikan … hentikan Julius,” ucap Valentina dengan lemahnya sambil mengulurkan tangannya. “Hentikan … jangan buat masalah lagi. Kalian … kalian bisa keluar dulu. Aku … aku ada urusan dengan tuan Indra.”
Tangan julius gemetar, namun postur dan ekspresinya menutupinya. “Baik, Baginda.” Julius Pun memberi isyarat kepada yang lain untuk ikut keluar.
Perlahan, ruang tahta pun menjadi sepi, dan tubuh Valentina yang lemah pun langsung jatuh bersujud di kaki Indra. “Tolong ampuni kami … Dewa,” ucapnya lemah. “Sebagai gantinya, hamba akan mengabdi sebagai budak-Mu, oh Dewa. Tolong ampuni kami. Kekaisaran ini sudah tua, sudah sangat lama dan maju di mata kami, jangan segerakan murka-Mu di tanah ini.” lanjutnya memohon sambil terus mengeluarkan air mata.
[Satu makhluk berpengaruh (permaisuri) dari dunia baru telah menyembah sang Entitas. Jiwanya kini berada di bawah otoritas sang Entitas.]
[Karena hukum kausalitas di dunia ini tidak dapat membendung sang Entitas, maka mulai sekarang setiap jiwa dari para penyembah akan berada langsung di tangan sang Entitas.]
[Setiap jiwa penyembah akan menyetor Exp kepada sang Entitas setiap harinya. Dan bonus Exp akan diperoleh jika mereka mulai berdoa atau menunjukkan kesetiaan iman mereka kepada sang Entitas.]
Aku tidak butuh Exp … tapi ya sudahlah.
[Sang Entitas bisa memberikan hukuman ataupun hadiah kepada penyembah yang setia. Atau memberikan mereka kesempatan untuk reinkarnasi.]
[Seluruh Dewa yang ada di dalam Pantheon sang Entitas saat ini akan mendapatkan benefit yang sama jika mereka disembah. Namun, Otoritas tertinggi tetap berada di tangan sang Entitas.]
Tiba-tiba pesan berantai muncul di hadapan Indra.
Hmmm … pantheon? Apakah aku punya pantheon— ah, sepertinya aku punya. Pikirnya dan mulai mengingat bahwa ia memiliki dimensi kantung yang didalamnya memiliki simulasi kehidupan dan Dewi-dewi hasil ciptaannya. Aku sampai lupa kalau aku bisa masuk ke dalam dimensi kantung. Haa … bagaimana kabar mereka, ya? apakah mereka menjadi nyata dengan akal yang nyata pula.
Indra yang termenung untuk sesaat pun menatap ke bawah dan melihat Valentina yang masih bersujud sambil menangis. “Berdirilah, aku telah menerima keimananmu.” huwaa … cringe!!! Corny!!! Bulu kudukku sampai bergetar.
Valentina pun bangkit dan duduk tersipu sambil masih terus menunduk.
Indra yang menyaksikan itu pun hanya menghela nafas, kemudian duduk di tahta sang Permaisuri yang saat ini sedang kosong. “Mari, kita mulai berbicara.” ucapnya sembari bersandar dengan santainya.
*********.
Bersambung ….
********.
kunjungi Twitter (X) Author di @alfrf_ untuk melihat ilustrasi dan bonus ilustrasi lebih banyak lagi!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Rudy Lantong
lanjutkan thorr
2024-04-23
1
Rainfall Cahya
gile si indra... power banget... baddass... mksh thor
2023-10-23
2