Terlihat pertarungan semakin sengit diantara keduanya. Baik Putri Isabella maupun Selvia berhasil melancarkan serangannya masing-masing.
Saat pertarungan berlangsung baik Aku, Mama dan juga Kak Wulan sama-sama perhatikan mereka. Saat itu, Mama mengatakan bahwa yang diunggulkan dalam pertarungan ini adalah Selvia yang merupakan seorang ras Elf. Karena, sejatinya pengendalian Mana alam yang dilakukan olehnya begitu baik. Mana energi alam memberikan keuntungan tersendiri, diantaranya adalah energi Mana yang tidak terbatas dan juga tingkat residu sihir yang semakin diperkecil, yang berarti kekuatan Selvia hampir setara dengan Mamaku.
Bukan itu saja, Mana alam memberikan peningkatan kekuatan fisik diatas Mana yang dihasilkan oleh emosi. Namun, karena Selvia masih terlalu dini akhirnya Dia tidak bisa mengeluarkan kekuatannya secara maksimal.
Sementara untuk kasus Putri Isabella, Dia menggunakan emosi positifnya dan lalu mengubahnya menjadi Mana. Karena, sejatinya energi yang berasal dari emosi akan habis jika terlalu sering digunakan. Namun, Mama menilai bahwa Putri Isabella pasti sudah mempelajari konsep Mikromagis. Sehingga Dia dapat menekan besaran pengeluaran energi sihirnya. Namun tetap saja, walaupun sudah mempelajari konsep serta teori tentang Mikromagis dalam prakteknya Putri Isabella masih kesulitan.
Terlihat bahwa Putri Isabella sudah mulai kelelahan, karena Dia sudah mengeluarkan berbagai kekuatan manipulasi elemen angin dan airnya. Berbanding terbalik dengan Selvia yang justru masih terlihat bugar.
"Apa kau sudah mulai kelelahan, Putri gendut?" ucap Selvia.
Sejenak, Putri Isabella terlihat bernafas terengah-engah, Dia terlihat sudah tidak bisa lagi melanjutkan pertandingan ini. Namun, entah kenapa Dia masih saja memaksakan dirinya.
"Jangan remehkan aku! Dasar gadis bertelinga runcing!" ucap Putri Isabella.
Kemudian dengan sisa tenaga yang Dia miliki, Putri Isabella melancarkan serangan terakhirnya dengan memaksimalkan Mananya, dengan manipulasi elemen angin, Dia berusaha untuk membuat tornado angin. Seketika itu, Mama mengatakan bahwa hal itu berbahaya bagi Putri Isabella itu sendiri.
"Tuan Putri, sudah cukup! Jikalau Anda memaksakan, yang ada nanti nyawa Anda malah terancam!" ucap teriak Mama.
"Benar! Saat ini Mana Tuan Putri Isabella hampir habis, jika Dia tetap memaksakan dirinya yang ada mananya akan mencapai titik negatif." saut Kak Wulan.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuatku khawatir khususnya kepada Putri Isabella. Namun, mereka berdua tampaknya tidak peduli dengan resiko yang akan segera menimpa mereka.
Dengan cepat, Selvia mengeluarkan jurus manipulasi elemen petir yang menyerupai seekor rubah, yang ukurannya hampir menyamai tornado angin milik Putri Isabella.
Sadar akan terjadi hal yang tidak diinginkan, Aku, Mama dan juga Kak Wulan segera mengeluarkan jurus kami masing-masing agar sedikitnya dapat menetralisir dampak dari kekuatan mereka.
Kami bertiga membuat sebuah dinding yang terbuat dari manipulasi elemen air dengan ukuran yang sangat besar.
Dan benar saja, terjadilah sebuah ledakan yang sangat besar akibat berbenturnya ke tiga jenis kekuatan kami. Bukan itu saja, kami bertiga merasakan dorongan angin yang sangat besar, padahal jarak kami dari arena pertarungan cukup jauh.
"Rama ... Wulan ...
Kalian baik-baik saja?" ucap Mama.
"Aku baik-baik saja, Mama." ucap Kak Wulan
"Bagaimana denganmu, Rama?" lanjut perkataanya.
"Ya, aku baik." jawabku.
Setelah memastikan kondisi satu sama lain, kami bertiga melihat hamparan yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi hitam gosong. Terlihat juga sebuah cekungan besar akibat beradunya kekuatan tadi.
"Ba-bagaimana jika kita seandainya tidak membuat dinding air tadi?" tanyaku pada Mama dan Kak Wulan.
"Entahlah, aku tidak bisa membayangkannya." Jawab Kak Wulan sambil memandang ke arah sekitar.
"Untung saja kita tepat waktu!" Jawab Mama dengan tegas.
"Daripada itu, dimana mereka berdua?!" Tanyaku khawatir pada Selvia dan Isabella sambil memandang ke arena pertarungan tadi.
Setelah debu mulai menghilang, Kami kemudian melihat bahwa Putri Isabella sudah jatuh pingsan. Berbeda dengan Selvia yang masih sadar dengan kondisi badan masih tegak berdiri, namun dengan nafas yang terengah-engah.
Aku kemudian berlari ke arah Putri Isabella dengan sekuat tenaga, untuk segera merapalkan sihir heal padanya.
"Putri ... Putri ... sadarlah!" ucapku sambil menggoyangkan badannya.
"Gawat, Aku tidak mengharapkan ini terjadi." lanjut perkataanku yang kemudian merapalkan sihir heal padanya.
Singkat cerita, kami pun membawa ke duanya ke rumah untuk diperiksa kondisinya. Ibu kemudian keluar dari kamar dan mengatakan bahwa kondisi mereka berdua baik-baik saja. Mendengar hal tersebut membuatku langsung lega, dan menyalahkan mereka berdua saat itu.
"Lihatlah dari keegoisan kalian, Selvia dan Isabella menjadi seperti ini!" ucapku
"Maaf, Aku kira mereka akan menahan diri." Jawab Kak Wulan.
"Benar, Mama juga berpikir demikian ...
Dan Mama tidak pernah berniat agar mereka saling menyakiti satu sama lain." jawab Mama.
"Tapi ada hal yang hebat dari mereka berdua khususnya Putri Isabella ...
Di saat terakhir, Dia berhasil menggunakan sihir heal pada dirinya sendiri, sehingga kita bisa menyelamatkannya." Lanjut perkataan Mama.
Aku kemudian dengan segera masuk ke kamar untuk memastikan secara langsung kondisi mereka. Dan kaget saat melihat Selvia sudah bangun dan akan melakukan sesuatu kepada Putri Isabella.
Dengan seketika aku menghentikan tangannya dan berkata.
"Apa yang akan kau lakukan?!" ucapku dengan nada tegas.
Seketika itu Selvia malah tersenyum dan mengatakan bahwa Dia tidak akan menyakiti Putri Isabella.
"Kau tidak perlu sampai mencurigaiku sampai sejauh itu." ucapnya.
"Aku hanya akan menyembuhkannya menggunakan sihir penyembuhan." lanjut perkataanya.
Seketika itu benar saja bahwa Selvia merapalkan mantra heal padanya. Aku bisa merasakan bahwa kemurnian dari sihir ini berada ditingkatkan berbeda.
"Ja-jadi ini energi alam?" ucapku sambil terkagum.
Ibu kemudian masuk, dan melihat fenomena yang terjadi. Dia juga nampak takjud dengan apa yang dilakukan oleh Selvia pada Putri Isabella.
"Syukurlah kamu bisa segera sembuh, Selvia." Ucap Mama.
Aku kemudian heran dengan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Selvia bisa sembuh dengan begitu cepat. Dan kemudian Mama menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini merupakan kekuatan dari energi alam ...
Selain penggunannya mendapatkan berbagai peningkatan kekuatan, baik fisik maupun sihir. Kekuatan energi alam juga memberikan peningkatan pada efek penyembuhan sevara pesat baik untuk diri sendiri maupun orang lain." Penjelasan Mama.
"Tidak heran bahwa Selvia merupakan ras Elf yang sudah di didik sedari dini untuk mempelajari serta memanfaatkan energi alam secara maksimal." lanjut perkataan Mama sambil memuji Selvia.
"Tetap saja, walau aku bisa menggunakan energi alam ...
Aku tetap tidak bisa menggunakannya secara maksimal ...
Dikarenakan tubuhku masih belum terbiasa." balas Selvia.
"Bukankah Anda juga sama begitu, Elizya?" tanya Selvia pada Mama
Seketika itu aku kemudian menyadari bahwa Mama juga bisa menggunakan energi alam. Namun Dia juga tidak bisa menggunakannya secara maksimal. Aku kembali mengingat pertarunganku bersama Mama, saat melawan Kak Wulan waktu dirinya masih menjadi sosok kuntilanak. Dimana saat itu Dia memintaku untuk mengulur waktu sebanyak 30 detik, dan ternyata saat itu Mama sedang menyerap energi alam ke dalam tubuh dirinya.
"Ketahuan, yah ... " ucap Mama sambil menggaruk kepalanya.
_Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments