Aku, Wulan beserta Ibu kini hidup bersama. Dengan perlahan, Wulan nampaknya sudah mulai melupakan masa lalunya dan kini tengah menapaki lembaran baru bersama kami.
Awalnya Aku dan Ibu ragu menerima dia untuk tinggal bersama kami, namun karena tidak ada pilihan lain, akhirnya kami pun mengizinkannya untuk tinggal dengan catatan harus bekerja.
Musim panen akhirnya tiba, berkat adanya Wulan pekerjaanku bersama Ibu sedikit lebih ringan. Entah kenapa, sejak Dia tinggal bersama kami terasa rumah ini semakin hidup. Bagiku, Dia sudah ku anggap sebagai Kakak kandungku meskipun kami tidak memiliki ikatan darah sama sekali.
Malam pun tiba, kami bersama-sama memasak untuk makan malam. Saat memasak, wajah Wulan terlihat sangat bahagia. Seolah-olah, Dia memang sudah melupakan masa lalunya.
Dan tibalah saat kami makan, ketika akan menyantap makanan. Ku lihat mata Wulan mulai mengeluarkan air mata dan setelah itu menangis sambil menatap piringnya. Mengerti dengan apa yang terjadi, Ibu kemudian menenangkan Wulan dan mengatakan kalau semuanya baik-baik saja.
Namun tidak denganku yang paham situasi, aku malah makan dengan lahapnya, seketika itu Ibu mengatakan.
"Dasar anak Rakus! ... Pahami situasi!" ucap Mama sambil menatap tajam padaku
"Apasih Ma, aku lapar banget ..." ucapku sambil lahap makan.
Kemudian Wulan menengahi kami berdua. Dan berkata tidak perlu mengkhawatirkannya.
Kami bertiga akhirnya makan bersama sambil membahas sesuatu, dan pada akhirnya membahas tentang puncak perayaan hari panen.
"Oh iya Rama, sebentar lagi akan ada puncak perayaan hari panen." ucapnya
Setelah itu aku kemudian menyimak apa yang akan dibicarakan oleh Mama selanjutnya.
"Ibu harap, kamu ikut tampil yah ..." lanjutnya
Mendengar hal tersebut tentu saja membuatku bingung dengan apa yang dikatakan oleh Mama.
"Hah? puncak perayaan hari panen?" tanyaku
Seketika itu Mama marah karena diriku karena melupakan hari bersejarah di dunia isekai ini.
"Apa-apaan ini?! Kamu melupakan hari bersejarah, Hah?!" ucap Mama sambil marah
Kemudian Kak Wulan menenangkan Mama, dan menjelaskan tentang puncak perayaan hari panen kepadaku.
"Hari panen merupakan sebuah hari dimana kita mengucapkan rasa syukur kepada Dewa-dewi khususnya dewi kesuburan atas melimpahkannya hasil panen tahun ini.
Bukan itu saja, hari panen juga merupakan cara kita berdoa kepada Dewa agar di tahun yang akan datang hasil panen kita sama baiknya atau meningkat.
Perayaan hari panen diisi dengan berbagai macam kegiatan positif seperti membagikan hasil panen kepada yang membutuhkan.
Sementara, puncak dari perayaan hari panen diisi oleh anak-anak berusia kurang dari 13 tahun. Dimana, mereka diharuskan menari bersama lawan jenisnya sebagai penghormatan kepada Dewa penciptaan Aion dan Dewi kehidupan Astra." Penjelasan Wulan.
Mendengar hal tersebut lantas membuatku kaget dan akhirnya tersedak makanan.
"Hah?! Menari?!" ucap kagetku.
"Ya, menari!" jawab tegas Mama.
"Tapi Ma, Rama gak punya pasangan menari? Kalau gak ada pasangannya bagaimana?"
"Mama gak mau tahu, intinya mulai dari sekarang ...
Kamu harus cepat-cepat mencari pasangan untuk diajak pada puncak perayaan hari panen nanti!" jawab mama dengan tegas.
Setelah mendengar jawaban itu seketika badanku menjadi lemas, karena di dunia sebelumnya aku belum pernah memiliki pengalaman menari apalagi bersama wanita. Jangankan menari, ngobrol saja belum pernah! walaupun sebenarnya, terkadang aku ngobrol dengan ketua.
"Memalukan!" ucap teriakku karena membayangkan diriku menari bersama ketua.
Mendengar hal tersebut membuat Mamaku marah dan memukulku.
"Apanya yang memalukan, hah?! ucap marahnya.
"Mama salah paham!" tegasku kepada Mama
*Plakkkkk
*Keesokkan harinya
Aku masih bingung dengan apa yang harus kulakukan, disini lain aku tidak mau, namun disisi lain Mama memaksa.
"Ingat Rama! Jika kamu tidak ikut puncak perayaan hari panen nanti ..
Mama pastikan kamu akan menyesal!" ingat ku
"Hahhhhh ...
Gini amat bereinkarnasi bukannya hidup tenang malah ada masalah baru." gumamku mengeluh
Saat berjalan-jalan di pasar, kulihat orang-orang tengah memperhatikan sesuatu. Karena heboh, aku pun penasaran dengan apa yang di sedari tadi mereka lihat.
Saat menembus barisan dan melihat apa yang terjadi, ternyata ada seorang Putri bangsawan yang lewat sambil dikawal oleh beberapa tentaranya.
Seketika itu, orang-orang disana meneriakkan nama Putri Isabella padanya.
"Oh jadi namanya Isabella, yah ..." ucapku
Lebih kuperhatikan lagi ternyata Putri Isabella memiliki wajah yang sangat cantik. Dengan kepala dihiasi oleh mahkota emas, semakin mempertegas aura kebangsawanan pada dirinya. Senyum tipis sambil melambaikan tangan kepada rakyat menjadikannya sangat anggun.
"Putri Isabella!
"Isabella Verdifield!" sorak orang-orang.
"Hah, mana mungkin Dia mau menari bersama badut sepertiku." ucapku karena sadar diri.
Tak lama setelah mengucapkan itu, tiba-tiba terjadi sebuah ledakan dan menghancurkan bangunan yang tadinya akan dilewati oleh rombongan Putri Isabella.
Akibatnya, orang-orang pun berhamburan panik untuk menyelamatkan diri. Karena lengah, para prajurit tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang menyelinap dan dengan cepat melumpuhkan mereka satu persatu. Tentu saja, Putri Isabella juga tidak luput dari incaran mereka dan dengan segera membawanya lari.
Aku yang tidak bergerak sedari tadi tentu saja melihat kejadian tersebut. Dengan cepat berlari dan mengejar orang-orang yang menculik Putri Isabella.
Saat berlari dan mencari momentum yang pas, aku akhirnya merapalkan mantra sihir air untuk membuat sebuah bola air yang dapat menangkap mereka.
Satu persatu dari mereka bisa ku tangkap menggunakan bola airku, dan hanya tersisa 3 penculik lagi.
Ternyata salah seorang dari ke tiga orang itu kemudian berhenti berniat untuk melumpuhkanku di saat itu juga, dan tibalah aku bertarung dengan dirinya.
Terlihat dia memperkuat serangan jarak dekatnya menggunakan sihir. Seluruh kecepatan dan juga kekuatannya meningkat dengan sangat drastis, sadar bahwa pertarungan kami bisa saja menghancurkan beberapa bangunan jika beradu sihir, akhirnya aku meladeninya menggunakan kekuatan beladiri jarak dekatku juga.
Kedua tanganku kemudian kulapisi mana, mencoba menyerang menggunakan tinju, namun dengan cepat dia dapat menghindar dari seranganku. Kami berdua akhirnya saling menyerang satu sama lain, namun tidak ada satupun dari kami yang bisa mendaratkan serangan.
Dia kemudian memujiku, karena diusiaku sekarang terlihat bahwa aku memiliki sebuah potensi besar untuk menjadi lebih kuat.
"Tak pernah ada yang bisa mengimbangiku dalam hal seni beladiri jarak dekat, apalagi anak kecil sepertimu ..." ucapnya
"Jika kau mau, kau bisa bergabung bersama kami ...
Dengan uang yang kita hasilkan lewat tebusan Putri Isabella, kita bisa menjadi kaya raya!" lanjutnya.
Mendengar hal itu tentu saja membuatku paham, bahwa tujuan mereka menculik Putri Isabella tidak lain dan Tidaklah bukan adalah untuk meminta sejumlah tebusan uang.
"Penculik ini bodoh atau apa yah ...
Secara tidak langsung Dia malah memberitahukan rencananya padaku." ucapku dalam hati.
"Bagaimana anak kecil? apa kau mau bergabung bersama kami?" tanya dia.
Sejenak aku mendapatkan celah untuk berpikir, bukan untuk menerima tawarannya melainkan memikirkan cara untuk mengalahkannya.
_Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments