Note : Kisah kembali menceritakan Rama yang berada di isekai
Betapa kagetnya diriku saat melihat raga ini sudah berbeda dari sebelumnya. Bagaimana tidak? Aku yang sekarang ini berada di dalam tubuh seorang bocah yang kurang lebih berusia 12-13 tahun.
Di tengah kepanikan yang diriku rasakan, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar. Ternyata terlihat seorang wanita yang datang. Belum aku menyelesaikan kata-kata ku tadi, dia kemudian menangis sambil memelukku dengan sangat erat.
"Ramaaaa .... Syukurlah ... Syukurlah kamu baik-baik saja." ucapnya
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan dirimu, Ibu bingung harus bagaimana nantinya." lanjut perkataanya
Mendengar kata-katanya, aku kemudian sadar bahwa wanita yang memelukku saat ini merupakan Ibu dari anak ini.
Sekejap diriku terpaku saat di peluk olehnya, dan kemudian perlahan mengeluarkan air mata.
"Tunggu ... Kenapa aku menangis?" ucapku dalam hati.
"Padahal aku bukanlah anaknya, tapi ... kenapa pelukan ini terasa begitu tulus bagiku?" lanjut ucapku dalam hati.
Singkat cerita, Ia kemudian membawa makanan dan menyuruhku untuk memakannya. Aku ragu pada suapan pertama, tapi setelah melihat senyuman darinya aku langsung memakan makanan tersebut.
"Enakkkk!" ucapku.
"Benarkah? Syukurlah kalau kamu menyukainya."
ucap Ia sambil tersenyum bahagia.
"Iya ... ini enak sekali, Mama." jawabku
Di saat aku lahap makan, Dia kemudian menceritakan secara rinci tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Setengah tahun yang lalu, Ibu dari anak ini berkata bahwa aku pergi untuk membantunya bekerja di ladang gandum. Sementara aku sendiri meminta Dia untuk mengurus pakan ternak. Tidak lama, sebuah badai yang besar datang.
Aku tidak memperdulikan akan datangnya badai tersebut dan malah melanjutkan pekerjaanku di ladang. Sampai saat waktunya pulang, aku malah tersambar sebuah petir dan kemudian ditemukan tergeletak sekarat oleh warga lainnya.
Terbukti dari adanya bekas luka bakar menyerupai akar pohon pada punggungku, tanda bahwa aku memang pernah tersambar petir.
Singkat cerita setelah makan, Ia kemudian meminta diriku untuk membalikkan badan guna menunjukkan punggungku padanya. Sambil menjulurkan kedua tangannya ia membacakan sesuatu seperti sebuah rapalan mantra sihir.
"Wahai Sang Pencipta Langit dan Bumi ... Surga dan Neraka .... Kebajikan dan juga Kejahatan ... Namaku Elyzia, dengan ini ... meminjam kekuatan dari-MU : Heal!"
Rapalan mantra darinya
Sepanjang rapalan mantra yang di ucapkannya tersebut, aku hanya hanya bisa terdiam dan kagum. Seperti merasakan sesuatu bersamaan dengan keluarnya cahaya yang silau.
"Syukurlah, pembuluh darah maupun organ lainnya sudah baik-baik saja, intinya kamu sekarang sudah sehat, Rama." Ucap Ibu padaku sambil menghentikan kekuatan sihirnya
"Ibu ada urusan penting lainnya, kamu istirahat saja yah Rama." lanjut ucapannya sambil mengambil piring bekas makanku.
Sejenak aku kembali terpaku diam seolah tidak mempercayai tentang apa yang barusan terjadi. Di dalam benakku, bertanya-tanya "Di mana saat ini aku berada?"
Keesokkan harinya, aku memberanikan diri untuk keluar dari kamar. Dan melihat-lihat kondisi Rumah, saat aku berada di ruang dapur terlihat Dia yang sedang memasak sesuatu. Aku berniat untuk membantunya, tapi saat akan melangkahkan kaki ke sana, langkahku terasa berat. Dalam benakku, aku hanyalah orang asing yang kebetulan bereinkarnasi ke tubuh anaknya, Ibuku yang asli berada di dunia lain dan anaknya yang asli bukanlah diriku. Saat merenungkan itu semua, Dia tiba-tiba memanggil namaku.
"Wah ternyata Rama sudah bangun ... Selamat pagi." ucapnya sambil tersenyum.
Mendengar itu, keraguan yang ada di dalam benakku seketika menghilang. Sambil berjalan ke tempat Dia berada aku mengatakan.
"Selamat pagi juga, Mama."
Kami berdua akhirnya makan bersama, dengan sangat lahap aku memakan semua masakkan yang tersedia di atas meja. Terlihat dengan jelas, bahwa Dia juga sangat senang karena kami dapat makan bersama kembali setelah sekian lamanya.
Singkat cerita, kami pun selesai makan dan kemudian bersama mencuci bekas peralatan makan tadi. Aku melihat bahwa Ibu mengeluarkan sihirnya kembali untuk memunculkan air dan menyimpannya di sebuah tong besar.
"Wahai Pencipta Langit dan Bumi ... Surga dan Neraka ... Kebajikan dan Kejahatan ... Namaku Elyzia, dengan ini ... meminjam kekuatan dari-MU : Spring water!"
"Hebatnya" gumamku
Singkat cerita, Ibu kemudian pamit pergi untuk memberi pakan ternak. Aku sebenarnya menawarkan diri untuk membantunya, namun karena diriku yang baru kembali sadar dari masa koma tidak diizinkan olehnya.
"Gak boleh, pokoknya Rama disini jaga rumah." ucapnya
"Kamu kan baru sadar dari masa koma, Ibu takut kalau terjadi yang tidak-tidak lagi sama kamu." lanjutnya
Mendengar hal tersebut aku hanya bisa menurutinya saja, kemudian kami membagi tugas, aku menjaga rumah sementara Ia pergi ke untuk memberi pakan ternak.
Aku kemudian pergi ke kamar dan duduk di atas kasur, melihat kedua tanganku sambil membayangkannya mengeluarkan kekuatan magis.
"Sihir yah, apakah aku juga bisa melakukannya?" tanyaku pada diri sendiri
Kemudian, aku pun membulatkan tekad dan berlari menuju halaman rumah. Di sana aku mencoba mengucapkan rapalan mantra sihir, mencoba sama persis seperti yang di ucapkan oleh Ibu tadi. Saat itu juga, terlihat ada tiga bocah yang mungkin sebaya dengaku yang sedang bermain di dekat tembok halaman rumahku.
Aku tidak menghiraukan mereka sama sekali, dan lebih memilih untuk melanjutkan ekspresimen sihirku, apakah aku bisa melakukannya atau tidak.
"Wahai Pencipta Langit dan Bumi ... Namaku Elyzia ... Dengan ini meminjam kekuatanMU : water!" rapalan mantraku
Sontak karena tidak terjadi apa-apa ketiga bocah tersebut kemudian menertawakan dan juga mengejekku
"Hey teman-teman lihatlah! anak itu lagi ngapain?" ucap salah satu dari mereka
"Hahaha ... dia mau ngeluarin sihir tapi nggak bisa." jawab salah satu bocah itu sambil tertawa
Salah satu dari mereka kemudian tanpa rasa berdosa melemparkan batu ke arahku.
"Rasakan ini, anak bod*h." ucap anak yang melemparkan batu
Alhasil karenanya, kepalaku terluka dan mengeluarkan darah.
Aku kemudian menyeka darah yang ada di kepala menggunakan tangan kiri. Saat melihat darahku sendiri, aku merasakan gejolak emosi yang luar biasa besar. Segera setelahnya, secara perlahan aku membacakan rapalan mantra sihir sambil membuat sebuah simbol pistol menggunakan tangan kanan
"Wahai Sang Pencipta Langit dan Bumi ... Pencipta Surga dan neraka ... kebajikan dan juga kejahatan ... Namaku Rama ... dengan ini, Aku meminjam kekuatan dari-MU : water shoot!"
Segera setelah itu, tercipta sebuah pusaran air di tangan kanan yang ku buat seperti pistol tadi. Dan setelahnya, menembakkan sebuah proyektil air dengan sangat cepat dan juga kuat yang langsung menghantam tembok halaman rumah. Saat menyadari bahwa proyektil air yang ku buat akan mengenai salah satu bocah tadi, segera aku langsung mengarahkannya ke sisi lain dan mengenai sebuah pohon besar. Bukan hanya memberikan serangan destruktif yang besar, serangan proyektil air itu juga berhasil membuat diriku terpental cukup jauh karena saking besar tekanan gaya dorong yang di hasilkan olehnya.
Saat mengenai tembok halaman rumah dan juga pohon besar, proyektil air itu juga mengeluarkan suara gemuruh yang sampai terdengar beratus meter jauhnya. karena mendengar sesuatu dari arah rumah, Ibu langsung berlari pulang.
"Rama ... apa yang terjadi disini?" ucap khawatir Ibuku
Mendengar hal itu dari Ibu, aku hanya bisa diam dan menyesali perbuatanku.
-Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
anggita
ng👍like aja..
2023-10-02
0
Blush✨☃️
Oh thor, karya ini bikin hidupku lebih berwarna.
2023-07-31
1
ˢⁱᵐᵖ 2ᴅ
Gak terasa waktu lewat begitu cepat saat baca cerita ini, terima kasih author!
2023-07-31
1