"Ketiduran ... yah." ucapku karena ketiduran.
Setelah melihat keluar jendela kamar, diriku sadar bahwa hari masih malam. Dengan suasana dinginnya yang khas kemungkinan saat itu masih antara jam 23-02 malam.
Aku kemudian berbaring dan mencoba untuk tidur kembali. Namun, saat memejamkan mata, aku selalu terbayang akan perkataan dan kejadian bersama Putri Isabella. Alhasil karenanya, sulit bagiku untuk kembali tidur.
Dengan perasaan masih kesal, aku pergi keluar Rumah untuk mencari angin segar dan berniat untuk menghilangkan segala kekesalanku.
Terus berjalan sampai kaki ini entah membawaku kemana. Aku kemudian melihat sebuah pohon besar, dan dengan seketika langsung memukulnya.
"Arrgggg, kenapa dia begitu sombong! ...
Hanya karena Dia seorang Putri, bukan berarti Dia bisa melakukan apapun sesuka hatinya! ...
Apakah kata 'terimakasih' begitu sulit terucap dari mulutnya itu! ... " ucapku sambil marah-marah dan memukul-mukul pohon besar tersebut.
"Dan kenapa ...
Kenapa diriku menjadi seperti ini .... " ucapku keheranan.
Entah apa yang kurasakan saat itu. Perasaanku tidak bisa kujelaskan dengan sebuah kata-kata. Hanya karena seorang Putri kerajaan tidak ingin berterimakasih kepadaku. Aku malah menjadi sangat kesal dan melampiaskannya kesemua orang, yang padahal diriku bisa saja bersikap bodoamat.
"Sial!" ucapku sambil melayangkan tinjuan api ke pohon besar itu.
Aku kemudian menyadari sesuatu, setelah melayangkan beberapa pukulan dan puncaknya menggunakan tinju berapi ke pohon besar itu. Suasana hatiku menjadi sedikit lebih baik, kemudian tercetus ide untuk berlatih saja.
Aku kemudian teringat perkataan dari Mama. Bahwa kekuatan sihirku itu cukup unik, dimana akan semakin kuat bila diriku marah. Wajar saja, Mama bilang bahwa sumber energi Manaku berasal dari emosi negatif seperti rasa kesal dan marah.
Sadar akan hal itu aku kemudian membayangkan wajah Putri Isabella, dan kemudian mengalirkan energi sihirku ke telapak tangan kanan. Setelah dirasa terkumpul, aku kemudian mengepalkan tangan kananku dengan sangat keras. Setelahnya, terciptalah sebuah api berwarna jingga dan terasa lebih panas dari api berwarna merah sebelumnya.
"A-api digenggaman tanganku berubah menjadi warna jingga?
Bukankah api seharusnya berwarna merah?" ucapku terheran-heran sekaligus kagum dengan pemandangan tersebut.
Aku kemudian menamai jurus api jingga tersebut dengan nama 'Inferno Burst' dan bersiap untuk menguji cobanya pada pohon besar tersebut.
Benar saja, setelah menguji coba jurus baruku ini. Terlihat bahwa pohon tersebut langsung terbakar dengan sangat hebat dan seluruh apinya langsung menyelimutinya. Bukan itu saja, jurus baruku ini juga menimbulkan ledakan yang besar!
"Hebatnya." ucapku terkagum-kagum pada jurus baruku.
Sadar dengan ledakan yang ditimbulkan oleh jurus baruku ini, aku kemudian segera berlari menjauh takut warga desa menuduhku yang tidak-tidak.
Aku kemudian berjalan menuju rumah untuk pulang. Suasana hatiku terasa lebih baik karena melampiaskannya dengan cara berlatih. Saat dalam perjalanan pulang, ku lihat dari arah kejauhan seperti ada seseorang yang berdiri di tepi jurang.
"Hah? siapa Dia? apa yang sedang dia lakukan disana?" ucapku bertanya-tanya.
Aku kemudian menyadari sesuatu. Dari belakang, gaya rambutnya seperti mengingatkanku kepada seseorang. Dan setelah ku ingat-ingat ternyata Dia adalah Putri Isabella.
"Chc~ Putri sombong itu lagi! buat apa dia ada disini?!" ucapku kesalku setelah menyadari bahwa Dia adalah Putri Isabella.
Setelah mengucapkan itu, tak lama kemudian Putri Isabella semakin mendekati tepi jurang. Posisi Dia yang tadinya duduk dan memandangi ke arah bulan berubah menjadi berdiri dan perlahan-lahan mulai mendekati tepian jurang.
Aku yang sadar bahwa Dia akan segera melompat dari sana bertanya-tanya, mengapa Dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
"Ke-kenapa? Kenapa dia ingin melompat dari sana?" ucapku.
"Tu-tunggu!" teriakku namun tak terdengar olehnya karena jarak kami yang lumayan jauh.
Tak lama kemudian ternyata benar, bahwa Putri Isabella langsung melompat dari tepian jurang tersebut. Di tengah rasa bingung yang kurasakan, dengan reflek aku berlari sekuat tenaga untuk segera menyelamatkannya.
Di saat berlari, batinku bertanya-tanya mengapa Dia begitu ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Dan saat itu juga perasaanku seperti terbagi dua, berhenti dan membiarkannya atau segera memakai energi sihir pada kakiku agar kecepatanku bertambah.
Di tengah rasa bingungku, aku kemudian teringat perkataan Ketua ekstrakurikuler silat saat masih berada di dunia sebelumnya.
Saat itu kami sedang berlatih bersama, Ketua saat itu mengajariku tentang kecepatan berpikir dalam mengambil sebuah keputusan.
"Seperti biasa, kau selalu lamban dalam mengambil sebuah keputusan!" ucapnya.
"Mau bagaimana lagi, dalam diriku selalu terjadi sebuah gejolak seakan-akan dua atau lebih kemungkinan yang akan terjadi sama saja." ucapku
"Bagaimana kau tahu bahwa kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi tersebut, sama-sama akan memberikan dampak yang sama besar?" tanya Ketua.
"Entahlah Ketua, firasatku yang mengatakan hal itu." jawabku.
Seketika itu Ketua kemudian tersenyum dan tertawa.
"Apa yang kau tertawakan, Ketua?" tanyaku
"Tidak-tidak, hanya ...
Bagaimana cara menjelaskannya yah? Hm~
Oh iya, jika hal itu terjadi lagi ...
Bagaimana jika kau mengandalkan naluri!" jawab Ketua.
"Naluri?" tanyaku kembali
"Yah bisa dibilang begitu ...
Hm~ Intinya apa yah ....
Lakukan hal yang sekiranya menurutmu memberikan dampak yang minim, dan setelah kau lakukan tidak akan pernah dirimu sesali dikemudian hari!" tegasnya.
Mengingat kata-kata ketua memberikan petunjuk bagiku, aku dengan segera melepaskan energi Mana dan ku pusatkan di kaki, dan dengan segera menyelamatkan Putri Isabella. Namun, karena beberapa diriku ragu-ragu akhirnya dengan terpaksa aku menjadi bantal baginya untuk mendarat.
Singkat cerita akhirnya Putri Isabella selamat namun aku menderita patah tangan kiri. Bukan itu saja, sendi bahu kiriku terasa bergeser dan rasanya sakit sekali.
"Aduh ... aduh ... sakit." ucapku.
Setelah diselamatkan Putri Isabella kemudian duduk melihat ke arahku, dan Dia terlihat menangis.
"Kenapa ...?
Kenapa kau menyelamatkan diriku ..?" ucapnya.
"Kenapa kau menyelamatkan diriku yang padahal aku tidak memintanya?!" lanjut perkataanya sambil membentak.
"Ken-"
Belum menyelesaikan perkataannya, kemudian aku duduk dan balik membentaknya.
"Seharusnya aku yang mengatakan kenapa!
Mengapa Kau begitu ingin mengakhiri hidupmu!
Mengapa Kau berpikir bahwa ini jalan yang mudah!
Mengapa Kau begitu putus asa!
Apakah Kau tidak malu dengan perjuangan orang lain yang menderita sebuah penyakit namun dia masih semangat dalam menjalani hidup!
Apakah Kau tidak malu?!" ucapku sambil membentaknya.
"Meski begitu, tidak ada yang peduli padaku!" ucap Dia membentakku kembali.
"Ada!" jawabku padanya
"Aku tidak tahu penderitaan apa yang sedang kau alami, sampai senekat ini ingin mengakhiri hidup." lanjut perkataanku namun sedikit menurunkan intonasi.
"Tapi! Apakah dari sikapmu selama ini mencerminkan keterbukaan?!
Jika ada yang ingin mengerti tentang perasaanmu, setidaknya Kau harus sedikit lebih terbuka!" ucapku dengan kembali membentaknya.
Setelah mengucapkan itu, aku kemudian sadar bahwa hal yang baru saja kukatakan terdengar alay. Dan bersiap untuk kembali ditampar olehnya.
"Oke, sekarang tampak ak-"
Belum menyelesaikan kata-kataku, Putri Isabella dengan tiba-tiba memelukku sambil menangis.
"A~ Maaf~"
_Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments