"Hah ... Belum keluar juga? Jangan pernah membuat seorang wanita menunggu lama!" tegas mamahku
"Hah? Cewek?!" ucap kagetku karena orang yang mengaku-ngaku sebagai temanku merupakan seorang wanita.
"Iyalah .. Selvia baru saja datang, jangan buat Dia menunggu lama!." tegas Mama kembali.
Setelah mengucapkan itu Mama kemudian menutup pintu dan pergi. Aku kemudian berlari menuju jendela kamar dan mengintip keluar. Benar saja, ada seorang wanita yang sedang berdiri di halaman pagar rumah.
Saat ku perhatikan dengan lebih teliti, ternyata Dia merupakan seorang ras Elf. Terlihat dari telinganya yang panjang serta runcing, dengan wajah putih cantik serta ukuran badannya hampir sama denganku.
"Apakah kami sebaya?" ucap penasaranku.
Di saat diriku sedang memandanginya, Dia tiba-tiba saja melihat ke arahku dan kemudian tersenyum. Tentu saja, hal itu membuatku menjadi salah tingkah dan juga malu, yang seketika diriku kemudian menutup tirai jendela kamar.
"Si-siapa dia sebenarnya?" ucap penasaranku.
Singkat cerita aku kemudian turun kebawah rumah dan berniat untuk menemuinya, sebenarnya aku masih ragu untuk berjumpa dengannya. Tapi karena takut dimarahi Mama, mau tidak mau aku mendatanginya.
"Se-selamat si-"
Belum menyelesaikan kata-kataku, dia kemudian datang dan memelukku.
"A~ ... Rama ..." ucapnya dengan haru
"Aku sudah lama ingin bertemu dengan dirimu." lanjut perkataanya.
"Aku dengar kamu tersambar petir dan karenanya pingsan selama 6 bulan lamanya ...
Maaf karena saat itu aku tidak ada disampingmu." lanjut perkataanya.
Aku kemudian paham bahwa gadis ini merupakan teman dari pemilik raga ini, terlihat sekali dari perlakuan dan juga cara dia yang sangat mengkhawatirkanku.
"Kamu tidak apa-apa kan, Rama?" tanya Dia.
"A-aku baik, terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku." jawabku.
Kami berdua kemudian berjalan-jalan mengelilingi Desa. Terlihat dari wajahnya nampak senang saat bersama diriku. Kemudian, dia meminta maaf karena sudah pergi ke Ibu kota tanpa memberitakan diriku terlebih dahulu.
"Hm~ Anu ...
Maaf karena aku sudah pergi ke kota tanpa memberitahumu." ucapnya sambil bungkuk ke arahku.
"Ti-tidak masalah." jawabku sambil mengibaskan tanganku tanda tidak perlu memikirkannya.
Setelah dirinya ku maafkan, terlihat wajahnya yang tiba-tiba memerah dan seperti ingin mengatakan sesuatu, kemudian Dia berhenti berjalan. Bingung dengan apa yang terjadi, aku pun bertanya kepadanya.
"Ada apa, Selvia?" ucapku.
"Hm~ Anu ... Rama." ucap Selvia
"Sepertinya ... sekarang aku mau 'itu'." lanjut perkataanya.
Bingung dengan apa yang sedang dibicarakan olehnya, kemudian pikiranku menjadi traveling. Karena aku takut bahwa Rama yang sebelumnya pernah melakukan sebuah janji yang tentu saja tidak ku ketahui.
"Apa jangan-jangan ... Dia pernah berjanji sesuatu yang tidak-tidak dengan Rama yang sebelumnya?" ucapku dalam hati.
"Atau jangan-jangan ... Dia dengan Rama yang sebelumnya pernah bertengkar?" lanjut perkataanku dalam hati.
Di tengah-tengah kebingungan yang ku alami, tiba-tiba Selvia menarik wajahku. Terlihat wajahku dengan dirinya menjadi sangat dekat. Karena aku yang lebih tinggi, dia kemudian berusaha berjinjit agar wajahnya dengan diriku semakin dekat.
"Kamu semakin tinggi yah, Rama." ucapnya memuji.
Dia kemudian berniat untuk mencium bibirku, dengan wajah panik dan juga semakin memerah, aku memintanya untuk berhenti.
"Se-Selvia ... Be-berhenti." ucapku sambil berontak.
Di saat Selvia akan menciumku, tiba-tiba Putri Isabella datang berlari dan menabrak kami berdua dan seketika kami bertiga jatuh. Karena posisi jatuhku mendarat tepat di atasnya Selvia, Putri Isabella terlihat marah-marah.
"Apa-apaan ini?! masih kecil namun sudah berani melakukan hal mesum di tempat terbuka!" ucap tegasnya.
Kemudian dengan segera aku pun bangkit dari posisi jatuhku dan mengatakan padanya.
"Ka-Kau salah paham!" ucap tegasku.
"Hah? Salah paham? Sudah jelas kalian melakukan hal mesum." ucapnya sambil mengejek.
"Selvia, coba jelaskan pada Putri yang tidak tahu diri ini!" ucapku.
Terlihat dengan wajah yang memerah dan juga masih diam dalam posisi tidurnya. Selvia seperti menahan malu dan tidak mengatakan apapun.
" ... " diam Selvia.
"Oh~ aku mengerti, jadi kau berusaha untuk menidurinya yah?" tanya Dia
"Dan satu hal lagi, siapa yang kau sebut dengan Putri yang tidak tahu diri?!" lanjut perkataanya dengan tegas.
"begitu, yah ..." ucapku
Mendengar hal tersebut tentu saja membuatku marah, Dia seperti sudah melupakan seseorang yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Dengan perasaan emosi, karena tidak dianggap sebagai penyelemat nyawanya. Aku kemudian memaki dan juga mengatakan sesuatu yang buruk.
"Seharusnya saat itu aku membiarkanmu bersama penculik!
Membiarkanmu menangis karena ketakutan!
Membiarkanmu menjadi seorang pecundang!
Kau hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu diri!
Menganggap bahwa hal yang kulakukan itu tidak berguna!
Kau tidaklah pantas menjadi seorang Putri kerajaan!
Dasar anak kecil yang hanya bisa menangis dan memanggil-manggil nama Papahnya!" ucapku pada Putri Isabella dengan sangat marah.
Setelah mengatakan hal itu, kemudian kulihat Putri Isabella menangis. Terlihat bahwa beberapa prajuritnya berlari datang dan seketika membawanya pergi.
Terlihat, Selvia juga terkejut dengan apa yang baru saja terucap dari mulutku barusan. Beberapa saat kemudian, dia mengatakan namaku yang dengan seketika memecah kesunyian diantara kami.
"Rama .."
"Aku ingin pulang, sampai jumpa." ucapku karena masih kesal pada Putri Isabella dan kemudian pergi.
Di saat itu, terlihat Selvia yang masih memanggil-manggil namaku dan memintaku untuk berhenti. Namun karena masih kesal dengan sikap Putri Isabella, aku tidak menghiraukannya.
"Rama~ Tunggu~" teriaknya.
Singkat cerita, aku sudah berada di rumah dan bergegas pergi ke kamar. Mama dan Kak Wulan terlihat menyambut diriku, namun aku juga tidak menghiraukan mereka.
"Selamat datang, Rama." ucap hangat Kak Wulan padaku.
" ... " Diamku sambil berjalan ke lantai atas.
Karena aku tidak menghiraukan ucapan selamat datang Kak Wulan, terlihat bahwa Mama kesal dan memanggil namaku.
"Rama!" ucap kesal Mamaku.
Karena aku tidak menghiraukannya juga, Dia dengan tiba-tiba saja menarik tangan dan dengan seketika memegang pipi serta melihat wajahku.
"Dasar anak tidak sopan! Kalau disapa atau dipanggil oleh orang tua itu, kamu harus menyau-"
Belum menyelesaikan kata-katanya, Mama seketika kaget saat melihat wajahku yang terlihat sangat muram, datar, dingin, dan juga tidak berekspresi.
"Jangan sekarang ...
Suasana hatiku sedang tidak bagus." ucapku sambil menyingkirkan tangan Mama dari wajahku.
Aku kemudian berjalan perlahan menuju lantai atas tempat kamarku berada. Saat sampai, aku kemudian membuka dan membanting pintu kamarku serta menguncinya.
Saat itu suasana hatiku terasa sangat buruk, perasaan benci, kesal dan juga kecewa kepada Putri Isabella membuatku melakukan hal-hal buruk kepada orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya.
Aku kemudian berbaring di tempat tidur dan tanpa ku sadari, diriku sudah tertidur dengan sangat pulas.
_Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments