"Aku tidak tahu dan juga tidak ingin mengetahuinya. Yang ingin ku tahu sekarang hanyalah ... kematian kalian!"
ucap Ibu kepada para preman.
Setelah itu, secara perlahan Ibu mengangkat tangan kanannya sambil membaca rapalan mantra sihirnya.
"Wahai Pemilik jiwaku ini ... berikanlah hukuman atas mereka ... jadikanlah aku, sebagai pelaksananya : Ten big fireballs."
Kemudian terciptalah beberapa bola api yang besar dan juga sangat panas. Orang-orang yang menyaksikan hal itu langsung lari berhamburan untuk menyelamatkan diri. Di tengah teriakkan kepanikan warga sekitar, Ibu dengan tangan kirinya menengadah tanda dia melepaskan satu bola api besarnya kepada preman pasar itu.
Kemudian dua diantaranya kembali menggunakan sihir protection.
Walau berhasil menghentikan serangannya, sihir protection yang mereka pakai seketika pecah saat terkena serangan dari bola api tersebut.
"Mustahil ... bagaimana caranya sihir protection gabungan kita, bisa hancur dengan mudahnya." ucap salah seorang dari mereka
"Siapa wanita ini ... " ucap salah seorang yang lain.
Di tengah kepanikan dan juga kebingungan yang para preman itu alami, dengan mata merah menyalanya Ibuku kemudian tersenyum dan tertawa layaknya seorang penjahat.
"Ha ha ha ... Bersiaplah untuk menjadi debu." ucapnya
Aku menyadari bahwa serangan selanjutnya bisa saja melukai orang-orang sekitar atau malah akan merusak lebih banyak bangunan-bangunan yang ada disana. Segera sebelum melepaskan serangannya itu, aku berteriak padanya untuk segera berhenti.
"Mamaaa ... berhenti .... " teriakku padanya.
Seketika itu Ibuku kemudian tersadar, bola api yang tadi akan menyerang para preman itu di arahkannya ke atas. Alhasil, menciptakan sebuah ledakan yang sangat panas dan juga kuat. Begitu juga bola api yang dikendalikan oleh tangan kanannya, perlahan-lahan mulai menghilang.
Di saat Ibu lengah, salah seorang dari mereka menggunakan semacam sihir pengikat dan berhasil mengikat Ibu ku. Aku yang tidak terima kemudian berlari untuk menyelamatkannya. Namun, saat menyentuh rantai sihirnya itu, seketika membuat diriku terpental oleh aliran petir yang sangat kuat.
"Percuma saja bocah, ini merupakan teknik rantai sihir khusus. Siapapun yang sudah terikat akan sulit untuk terlepas." ucapnya
Kemudian salah seorang dari mereka berencana untuk melakukan hal yang tidak-tidak kepada Ibuku.
"Ha ha ha, kalau dilihat-lihat ... wanita ini cukup cantik juga." ucap salah seorang dari mereka
"Bagaimana ... jika kita memanjakannya saja ... Ha ha ha." balas salah seorang dari mereka.
Saat itu, aku kemudian mendengar suara Ibu yang terdengar sangat lemah. Dia dengan tenaga terakhirnya meminta diriku untuk segera pergi.
"Pergilah ... Ra .. Ma." ucapnya
Rasa sedih karena tidak berdaya, rasa marah karena tidak berguna, serta rasa benci kepada para preman itu menjadi satu di dalam hati dan juga pikiranku. Secara perlahan aku kemudian bangkit.
"Aku tidak ingin lari lagi! aku tidak ingin selamanya begini! aku ... akan melenyapkan kalian semua!" ucapku sambil berteriak
Sesaat setelah mengatakan hal tersebut, aku merasakan bahwa seperti ada kekuatan anime yang menyertaiku. Dengan segera, aku berlari dan menendang salah seorang dari mereka.
"Dia cepat sekali." ucap rekannya.
Kemudian orang yang memegang rantai sihir itu berniat untuk menjebakku juga. Dengan reflek, aku berhasil menghindari dan berada tepat dibelakangnya.
"Bocah ini tidak hanya cepat ... melainkan gesit juga!" ucapnya.
Saat berbalik, aku meninju tepat di wajahnya yang mengakibatkan dia terpental sekaligus menabrak sebuah lapak pedagang. Karena seranganku itu juga dia terlihat terkapar dan tidak berdaya.
Salah seorang dari rekan preman yang belum ku hajar kemudian mencoba untuk menyelamatkan diri. Dengan cepat, aku kemudian berada tepat di depannya. Kaget setelah melihat kekuatan, kegesitan dan juga kecepatanku, orang yang berniat lari ini menjatuhkan dirinya sendiri ke tanah.
"Si-siapa kau ...?" tanya dia sambil membuat raut muka ketakutan.
"Aku .. ? aku hanyalah seseorang yang hanya ingin menegakkan keadilan." ucapku
Sambil mengacungkan semua jariku padanya aku melakukan rapalan mantra sihir dengan niat melenyapkannya dengan serangan jarak dekat. Dalam benakku, sudah tidak terbesit lagi hal-hal lain selain emosi dan juga dendam kepada siapapun yang berani mencoba untuk melukai apalagi menodai Ibuku.
"Wahai Sang Pencipta Langit dan Bumi ... Pemilik jiwa yang di penuhi oleh rasa amarah dan dendam ini ... Pinjamkanlah kekuatan-MU untukku, yang akan kugunakkan untuk menghapus nama dan juga raganya."
Sebelum kekuatanku terkumpul, tiba-tiba ada seseorang yang memelukku dari belakang, meminta diriku untuk segera berhenti dan mengajakku untuk pulang kembali bersamanya ke rumah.
Sebuah pelukan yang sangat hangat dan juga tulus, mengingatkanku saat pertama kali menginjakkan kaki di dunia entah berantah ini. Pelukan dengan ajakkan untuk damai dan juga sebagai simbolisasi dari kasih sayang.
"Sudah cukup ... ayo kita pulang, Rama." ucapnya
Aku kemudian berbalik dan melihat wajahnya yang anggun serta ayu telah luntur karena banyaknya air mata yang keluar. Kemudian, aku menyeka air matanya tersebut dan mencium keningnya. Sesaat setelah itu, aku kemudian jatuh pingsan.
"Rama ... Rama ... jangan tinggalin Ibu." ucap kekhawatirannya
Dalam keadaan setengah sadar sambil terbaring di pundaknya, aku tidak bisa melakukan apapun, ingin sekali satu patah kata ku keluarkan sebagai ucapan terakhir ku untuknya. Aku hanya ingin berterimakasih karena sudah mendapatkan rasa yang selama ini ingin ku ketahui, yakni kasih sayang seorang Ibu.
Dia dengan segera membaringkan diriku di atas pahanya sambil merapalkan sihir heal berkali-kali. Dari bawah, aku bisa melihat wajahnya yang sedang meneteskan air mata dan jatuh tepat di mukaku.
Perlahan kesadaranku mulai menghilang, bersamaan dengan suaranya juga yang ikut perlahan menghilang.
"Sudah waktunya ... yah ... " ucap terakhirku.
Aku kemudian terbangun dan melihat-lihat ke sekitar, sebuah tempat yang sangat berbeda dikarenakan isinya hanya berwarna putih atau jika ku deskripsikan rasanya seperti berada di atas awan.
"Untukku ... Surga atau neraka ... yah? *gumamku
Ditengah-tengah kebingungan yang ku rasakan, aku merasakan bahwa ada seseorang yang memanggil namaku. Suara itu pada awalnya terdengar sangat kecil dan bergema di mana-mana, namun lama-kelamaan membesar dan sampai puncaknya suara itu seperti berada di belakangku. Saat menoleh terdapat seorang wanita cantik yang tengah berdiri sambil tersenyum.
"Kau sudah bangun, pahlawanku." ucapnya
Seketika itu, aku kemudian panik karena takut kalau dia adalah hantu wanita yang bertugas mengirimkanku ke neraka, karena dari tampilannya dia memakai busana putih.
"Maafkan aku, selama ini aku mengakui pernah melakukan hal nakal ... seperti memakan makanan di lemari tanpa izin ... memakan kue buatan ibu di lemari tanpa izin ... dan ketika di suruh mandi aku malah membangkang dan tidak menurutinya." ucap pengakuanku padanya sambil mengepalkan kedua tangan tanda memohon.
Mendengar pengakuan itu justru membuatnya terkejut dan tertawa.
"Hahahaha ... aku tidaklah seperti apa yang kamu pikirkan, anak muda." ucapnya sambil tertawa-tawa.
"Jadi ... kamu bukan hantu?" tanyaku padanya.
"Yang jelas bukanlah ... ku beri tahu yah, aku merupakan seorang Dewi yang telah memanggilmu ke dunia ini!" ucapnya dengan penuh semangat.
"Dan namaku adalah Fifi." lanjut perkataanya.
Mendengar bahwa dia merupakan seorang Dewi yang telah memanggilku ke dunia ini, tentu saja membuat rasa penasaranku semakin berkobar. Hal yang ingin ku tanyakan adalah apa alasan beserta tujuannya memanggilku? dan kenapa harus aku?
_Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Beerus
Saya suka banget dengan gaya penulisanmu, thor! Ayo terus mengasah kemampuan menulis.
2023-08-01
1