"Bagaimana anak kecil?"
"Apakah kau mau bergabung bersama kami?" tanya penculik tersebut.
Setelah menyadari sesuatu, yakni penculik itu terlihat tidak menggunakan serangan kakinya secara konstan, aku kemudian berkesimpulan bahwa kelemahannya terletak pada kakinya.
Untuk memastikannya, aku kemudian mencoba untuk sedikit memprovokasinya.
"Maaf saja paman, aku bukanlah seseorang yang akan mendapatkan kekayaan secara instan." ucapku
"Apalagi dengan memanfaatkan seorang gadis yang lemah." lanjut perkataanku.
Penculik yang sedang bernegosiasi denganku terlihat sedikit terprovokasi, dia kemudian tersenyum dan tertawa.
"Hahaha .. Anak kecil sepertimu tahu apa?" ucapnya.
"Padahal sebenarnya kau memiliki potensi serta bakat, namun kau malah menyia-nyiakannya." lanjut perkataanya.
"Itu benar Paman ..."
"Tapi aku tidak akan menggunakan kekuatan pada jalan yang salah!" ucap tegasku
"Dan satu lagi ..."
"Jangan pernah memanggilku anak kecil!" ucapku sambil menyerangnya
Kemudian dengan serangan cepat, aku menyerangnya menggunakan serangan kaki. Alhasil, dengan seranganku itu membuat kakinya kesakitan.
"Dasar anak kecil, bagaimana kau bisa mengetahui kelemahanku?!" ucapnya keheranan sambil menahan rasa sakit.
Bukan hanya itu, setelah dirasa berada dalam jarak yang ideal, dengan fisik yang diperkuat energi sihir aku kemudian mendaratkan serangan beruntun yakni 3 pukulan dan 2 tendangan berputar ke badannya. Alhasil penculik tersebut tersungkur dan mengeram kesakitan. Setelah dirasa Dia kalah dan juga tidak berdaya, aku kemudian meninggalkannya dan melanjutkan pengejaranku terhadap sisa penculik Putri Isabella.
Saat berada ditengah-tengah kebingungan karena sempat kehilangan jejaknya, aku kemudian teringat pesan dari Ibu. Bahwa segala sesuatu pasti meninggalkan jejak, pengalaman ini kudapat saat berburu rusa bersamanya.
Aku melihat ke segala arah, dan menemukan sebuah rambut yang mengingatkanku pada Putri Isabella.
"Rambut ini ...." gumamku sambil mengambil rambut tersebut.
Aku kemudian teringat bahwa Putri Isabella memang memiliki Rambut berwarna merah.
"Ini benar-benar rambut miliknya Putri!" ucapku dengan yakin
Di tempat terpisah terlihat Putri Isabella yang sedang disekap, tangan serta kakinya diikat ke sebuah kursi. Terlihat bahwa dia berpura-pura masih pingsan, dan mengharapkan bantuan segera tiba.
"Siapapun ... Tolong aku." gumamnya
Terlihat dua preman lainnya sedang berdiskusi mengenai ada seorang anak yang sedang mengejar mereka. Mereka heran mengapa seorang anak kecil begitu kuat dan berhasil mengalahkan beberapa orang dari mereka. Kemudian, salah seorang dari mereka begitu yakin bahwa yang orang yang sedang menghadangku sekarang pasti sudah mengalahkanku dan pasti sedang dalam perjalanan kemari.
Mereka tidak mengetahui bahwa diriku saat ini sedang berada diatap bangunan tempat mereka menyekap Putri. Sambil berhati-hati memantau sekitar, aku mencoba memberikan isyarat kepada tuan putri dengan cara melemparkan sebuah batu. Sadar bahwa ada seseorang diatas, kemudian Putri Isabella melihat ke arahku.
Setelah mata kami berdua bertemu dan saling memandang satu sama lain, aku memberikan isyarat lainnya kepada tuan Putri untuk tetap diam dan juga tenang. Dan diapun mengangguk tanda mengerti.
"Oh, tuan Putri sudah sadar ternyata." ucap salah seorang penculik.
Dengan mulut yang masih disumpal dan ketakutan terlihat Putri Isabella menangis karena takut dicelakai oleh mereka.
Kemudian salah seorang dari mereka yang lain membuka sumpalan mulut Putri Isabella.
"Kau pasti akan menyesal ... ayahku akan segera memasung kepalamu!" ucap ancaman Putri Isabella.
Mendengar ancaman tersebut, tentu saja mereka menjadi tertawa.
"Hahaha, apa yang bisa dilakukan oleh Ayahmu sekarang?" ucap penculik yang membuka sumpalan mulut Putri.
"Lihatlah, tidak ada siapapun disini!" lanjut perkataanya dengan tegas.
Kemudian tuan Putri Isabella menangis, dan meminta tolong.
"Tolong .... " ucap teriaknya sambil menangis.
Dengan segera aku kemudian menerobos masuk dari atap bangunan itu, dan dengan cepat menyerang salah seorang dari mereka menggunakan tinju api milikku.
"Makan ini! Fire strike!" ucap teriakku
Berkat serangan itu, salah seorang dari mereka terpental dan membentur tembok bangunan dan menghasilkan suara ledakan yang cukup besar.
"Anak ini!" ucap penculik yang tersisa.
Penculik yang tersisa kemudian menyerangku menggunakan kekuatan sihir airnya, dengan cepat aku berhasil menghindari serangannya. Dan bersembunyi di balik tong yang ada dibangunan itu.
"Kau tidak akan bisa lari, dasar bocah sialan!" ucap teriakannya.
Dengan segera penculik itu kemudian membuat rapalan mantra sihir dan menyerangku menggunakan sihir proyektil air. Dengan cepat, aku berpindah posisi dari satu tong ke tong lainnya untuk bersembunyi.
"Hahaha, sudah kubilang ... Kau bisa lari! namun takkan bisa bersembunyi!" ucapnya
Sadar bahwa saat ini posisiku terpojok, aku kemudian memikirkan sebuah cara untuk melumpuhkannya. Setelah sejenak melihat ke segala arah, aku kemudian mendapatkan sebuah ide.
"Hah? apa kau sudah menyerah, bocah?" ucapnya sambil menghentikan serangan proyektil airnya.
"Maaf, tapi sepertinya kau sedikit kesulitan melawan bocah sepertiku ini." ucapku sambil memprovokasi.
"Apa yang kau bilang?!" ucap kesal penculik tersebut.
Setelah mengucapkan itu, Dia kemudian menyerang secara membabi buta ke segala arah dengan harapan serangannya bisa mengenaiku. Namun, dengan melapisi tong yang ada di dekatku menggunakan sihir, tong tersebut menjadi sedikit lebih kuat.
Di rasa pada momentum yang pas aku pun keluar sambil mengeluarkan sihir proyektil air dan berhasil mengenai "bijinya". Dan hasilnya dia mengeram tanda kesakitan dengan suara sangat-sangat keras.
Aku pun berjalan mendekati Putri Isabella, lalu melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya. Setelah melepaskan ikatannya, bukan pelukan hangat yang kudapatkan, malah sebuah tamparan keras mengenai pipiku. Heran dengan apa yang sebenarnya terjadi, Dia pun mengatakan.
"Aku tidak meminta bantuan darimu!" ucap teriakannya.
Setelah menamparku, Dia kemudian berlari meninggalkanku.
"Gajelas banget, betina!" ucap teriakku.
Setelah mengalami kejadian itu, kepercayaan diriku semakin menghilang. Setiap hari, aku selalu mengurung diri di kamar dan tentunya makan disana dan akan keluar bila ada panggilan alam.
"Apa yang salah dariku ... " ucapku sambil rebahan dan melihat kedua tanganku
"Padahal niatku itu baik dengan menyelamatkannya. Namun, justru aku malah mendapatkan perlakuan tidak mengenakan." lanjut perkataanku.
Saat sedang mengurung diri di kamar, Mama kemudian memanggil namaku dan berkata bahwa temanku datang untuk mengajakku bermain.
"Ramaa ... Temanmu datang, katanya dia mau mengajakmu main." ucap teriak Mama.
Aku kemudian bersiap keluar kamar dengan niat untuk menemuinya. Di saat akan membuka pintu kamarku, aku teringat akan sesuatu hal.
"Tunggu! Teman katanya? Bukannya aku belum pernah berteman dengan siapapun di dunia isekai ini?" gumamku sambil keheranan.
Benar, semenjak datang ke dunia isekai ini, aku belum pernah berkenalan dengan siapapun sebelumnya. Dan malah, aku selalu menghindari kontak sosial dengan siapapun bilamana tidak terlalu penting.
Dalam hatiku bertanya-tanya, siapa orang yang mengaku-ngaku sebagai temanku ini?
Di tengah rasa bingung, Mama tiba-tiba membuka pintu kamarku dan mengatakan.
"Hah? belum keluar? jangan pernah membuat seorang wanita menunggu lama!" ucapnya dengan tegas.
"Hah? cewek?!" teriakku karena kaget bahwa orang yang mengaku-ngaku sebagai temanku adalah seorang wanita.
_Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments