2 bulan berlalu, sejak kejadian bertemunya aku dengan Dewi reinkarnasi. Sebenarnya aku masih penasaran apakah itu merupakan bunga tidur semata atau memang Dewi reinkarnasi benar-benar datang ke dalam mimpiku. Jika memang itu bukanlah mimpi, mengapa Dia meminta permintaan yang sangat sulit dengan menghapuskan seluruh konflik serta perselisihan yang ada di dunia ini.
Semakin ku pikirkan malah semakin pusing, aku pun keluar kamar dan bergegas untuk membantu Ibu menjual hasil kebun ke pasar untuk di jual.
Sebenarnya aku masih merasa bersalah setelah kejadian dengan para preman pasar itu. Soalnya, dalam pertarungan melawan mereka diriku malah menghancurkan beberapa bangunan.
Sebenarnya para pedagang tidak terlalu mempermasalahkan dan justru berterima kasih kepadaku. Karena, setelah kejadian itu para preman pasar yang kerap kali meresahkan tidak pernah terlihat kembali. Walau begitu, aku masih saja terus meminta maaf khususnya kepada para pedagang yang lapak dagangannya pernah ku hancurkan.
Saat aku menjual beberapa sayur seorang konsumen bertanya padaku tentang darimana aku mendapatkan sayur-sayur ini.
"Nak, sayur-sayur ini tampak terlihat segar ..
Kalau boleh tau ... darimana kamu mendapatkannya." ucap konsumen tersebut.
Aku kemudian menjelaskan bahwa sayur-sayur ini ku petik bersama Ibu, di kebun yang kami kelola bersama yang lokasinya dekat dengan hutan hitam.
Sontak setelah mendengar penjelasan dariku, konsumen itu panik bukan main dan mengatakan bahwa aku pasti bercanda.
"Mu-mustahil ...
Kamu pasti bercanda kan, Nak." ucapnya
Aku kemudian menjelaskan bahwa memang selama ini sayur-sayur yang ku petik berasal dari sana. Karena tanah di sana terkenal sangat gembur dan juga subur.
Kemudian, aku menanyakan alasannya kenapa terlihat panik setelah tahu bahwa aku sering memetik sayur-sayur di hutan hitam.
Konsumen tersebut menjelaskan bahwa hutan hitam terkenal dengan keangkerannya. Dia menceritakan bahwa disana terdapat hantu wanita yang kerap kali menangis dan mengganggu siapapun yang mencoba berani masuk ke dalam hutan hitam.
Di tambah cerita seorang petualang bersama temannya yang ketika sedang menjalani misi mendapat gangguan oleh sosok hantu tersebut.
Dia kemudian menyarankan diriku untuk tidak kembali masuk ke dalam hutan hitam karena berbahaya.
Mendengar perkataannya diriku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum berkata iya.
Singkat cerita, waktunya pulang kembali ke rumah. Hatiku sangat senang karena tekah berhasil menjual seluruh sayur tadi. Berkatnya aku mempunyai cukup banyak uang dan berencana membeli hadiah untuk Ibu.
"Enaknya beli apa yah untuk Mama ... " ucapku sambil berpikir keras
Kemudian, terlintas dalam pikiranku untuk membeli kalung emas saja. Karena pasti akan terlihat sangat cocok untuknya dan akhirnya mampir ke toko emas.
Singkat cerita aku pun membeli kalung emas untuk Ibuku. Dan khusus membeli motif berbentuk hati yang menyimbolkan cinta.
Tibalah diriku dalam perjalanan pulang, jarak yang ku tempuh dari dan menuju desa terbilang cukup jauh. Di tambah sedikit bersabar dengan menjual semua sayur sampai larut malam akhirnya aku pulang dalam keadaan sudah gelap gulita.
Maklum saja, tidak seperti di duniaku yang dulu disini pencahayaan nyaris tidak ada sama sekali. Dan jika pun ada masih sangat sederhana dengan sebuah tongkat panjang yang ujungnya di kaitkan dengan jerami dan di baluri dengan getah pohon.
Saat itu aku sempat berpapasan dengan seorang wanita yang memakai pakaian putih. Kemudian darinya, tercium bau bunga melati yang cukup menyengat. Aku sempat berhenti dan sejenak melihat ke arahnya namun, saat aku menoleh dia tidak ada di sana.
"Lah? apa perasaan ku saja yah?" gumam diriku
Singkat cerita aku pun sampai di rumah dan memberikan hadiahku untuk Ibu. Mendapat hadiah dariku tentu saja terukir wajah bahagia darinya.
"I-ni untuk Mama?" ucapnya
"Tentu saja, ini khusus untuk Mama." jawabku
Seketika itu Ibu langsung memelukku dengan sangat erat tanda bahwa dia sangat bahagia dengan kalung pemberianku. Namun, saat memelukku dia seketika menyadari sesuatu, Ibu kemudian melihat wajahku dan bertanya apakah ada seseorang yang mengikuti ku dalam perjalanan pulang sampai ke rumah ini. Tentu saja, aku yang merasa daritadi jalan sendirian dalam perjalanan pulang kemudian menyangkalnya.
"Oh iya Rama, saat dalam perjalanan pulang kemari apa kamu di ikuti oleh seseorang?" Tanya Dia.
"Hah ..? daritadi aku berjalan sendiri kok Mah, nggak ada yang mengikutiku." jawabku
Mendengar jawaban dariku Ibu seketika menghela nafas tanda dia hanya terlalu khawatir.
"Memangnya kenapa, Mama?" tanyaku
"Tidak Nak, hanya perasaan Mama saja." jawabnya.
Singkat cerita akhirnya aku pergi ke kamar untuk tidur. Saat berada di dalam kamar, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang ganjal. Seperti ada sesuatu yang mengawasi ku. Namun, karena hari yang sudah semakin larut di tambah lelah saat menjual seluruh sayuran tadi, mata ku dengan sendirinya tertutup dan terlelap tidur. Tanpa ku sadari, ada sosok wanita yang sedang memperhatikan ku dari luar jendela.
Kemudian terdengar suara ayam berkokok tanda subuh telah tiba. Aku yang mendengar suara kokokkan ayam kemudian beranjak dari tempat tidur dan segera langsung mandi. Setelah selesai dan berpakaian, aku kemudian pamit untuk pergi ke hutan dengan maksud untuk kembali memetik sayur dan menjualnya di kota.
Namun, aku tidak menemukan keberadaan Ibu di manapun. Aku berpikir, bahwa mungkin saat itu Dia pergi ke suatu tempat, dan dengan sengaja memberikan catatan padanya mengatakan bahwa aku pergi ke hutan hitam. Maklum saja, jika terlalu siang memetik sayurannya tentu saja akan berakibat pada kesegaran sayurnya.
Singkat cerita, sampailah aku di hutan hitam dan di kebun yang biasa aku kelola. Saat tengah memilih sayuran yang akan aku ambil, tiba-tiba tercium wangi bunga melati yang sangat menyengat.
Saat itu juga terlihat Ibu yang tiba-tiba keluar dari gelap serta rindangnya pepohonan hutan.
"Hah? Mama ngapain disini?." ucap ku padanya
Aku heran mengapa Ibu bisa ada disini, karena biasanya kami akan saling bertukar tugas. Terbukti dari tidak ada kertas yang biasa ditinggal olehnya sebagai pesan, tugas apa yang akan Dia ambil.
Kemudian dengan seksama aku melihat fisik Ibuku. Aku menyadari memang benar-benar ada yang aneh karena tidak adanya kalung pemberianku di lehernya.
Seketika itu aku memberanikan diri dan berteriak padanya.
"Siapa kau? Kau bukan Ibu ku kan?" teriakku padanya
Tanpa di duga sosok Ibu yang ku lihat tersebut nampak tersenyum dengan raut muka serta pandangan mata yang kosong. Dan secara perlahan menunjukkan sosok aslinya. Muka seram dengan wajah pucat, berpakaian serba putih dengan rambut panjang yang hampir menyentuh tanah, di tambah dengan suara tertawanya yang khas apalagi wangi melati yang sangat menyengat yang kerap kali dikaitkan dengan kematian. Panik bukan main bahwa sosok yang ada di hadapanku ternyata kuntilanak yang menyamar sebagai Ibuku.
" Hii Hii Hii Hii." suara tertawa kuntilanak
"Mu-mustahil ... Bagaimana bisa ada kuntilanak ada di Isekai?" ucapku.
_Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments