"A~ Bagaimana caranya Putri Isabella ada disini?!" ucap histeris Kak Wulan.
"Rama, sekarang jelaskan lebih rinci kepada Ibu!" ucap Mama sambil melirik tajam ke arahku.
"Apa Kau baru saja menculik Putri Isabella?!" lanjut tanya Mama.
"Stop ... Ibu salah paham!
Kak Wulan juga salah paham!" ucapku.
Sejenak aku berpikir, alasan apa yang sebaiknya diungkapkan kepada mereka. Setelah beberapa saat berpikir akhirnya tercetuslah ide di kepalaku.
"Putri Isabella mengajakku menari bersama di puncak perayaan hari panen nanti!" ucapku dengan tegas.
Setelah mengucapkan hal tersebut, tiba-tiba mereka bertiga kaget.
"Hah ...?" ucap kaget mereka bertiga.
Mama dan Kak Wulan kemudian berpelukan bahagia karena aku pada akhirnya mendapatkan panther pada puncak perayaan hari panen nanti.
"Senangnya, Mama kira Rama tidak akan mendapatkan pasangan di puncak perayaan hari panen nanti." ucap Mama menangis terharu sambil memeluk Kak Wulan.
"Benar, apalagi yang mengajaknya adalah Putri dari kerajaan Verdifield." balas Kak Wulan pada Mama.
Ditengah kegembiraan yang Mama dan Kak Wulan rasakan. Putri Isabella berbisik kepadaku.
"Apa yang kau katakan, Rama?!" tanya Dia sambil berbisik.
"Maaf, untuk kali ini saja tolong bantu diriku." balasku sambil berbisik juga kepadanya.
Setelah itu, dengan pipi yang semakin memerah dan bermain-main dengan rambutnya Putri Isabella kemudian mengiyakan permintaanku tersebut.
"B-baiklah ...
Kali ini, aku yang membantumu." ucapnya.
"Syukurlah, berjalan lancar ... " ucapku dalam hati.
Tidak lama kemudian Selvia tiba-tiba saja datang sambil mendobrak pintu rumah. Alhasil karena kedatangannya, aku pun kaget.
"Aku sudah mendengar semuanya!" ucap teriak Selvia sesaat setelah mendobrak pintu.
Kemudian Selvia menghampiri Mama, sambil memohon dan membuat ekspresi sedih Dia meminta agar orang yang menemaniku ke puncak perayaan hari panen itu Dia saja.
"Mama Rama ... saya mohon ... biar Via saja yang menjadi pasangan menari di puncak perayaan hari panen." ucap Selvia.
"Tunggu ... dasar wanita bertelinga tajam!" ucap Putri Isabella.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Selvia menjadi marah dan kesal.
"Siapa yang dirimu sebut wanita bertelinga tajam, hah?!" balas Selvia sambil marah.
"Yang mengajakku pergi ke pesta puncak perayaan hari panen adalah Rama sendiri!" balas Putri Isabella.
"Tapi diriku yang mendapat restu pertama kali dari orang tuanya!" balas Selvia.
Mereka berdua terlihat hampir berkelahi dan masing-masing dari mereka sudah mengeluarkan aura Mana secara maksimum.
Tentu saja aku hanya bisa pasrah dengan keadaan rumah yang begitu berisik dan juga gaduh. Kemudian tercetuslah ide di dalam pikiranku dan mengungkapkannya kepada yang lain.
"Stop ... !
Bagaimana jika aku memberikan usulan, aku akan membawa Putri Isabella dan juga Selvia ke pesta puncak perayaan hari panen nanti?" ucapku dengan percaya diri.
Setelah mengungkapkan hal tersebut, bukannya apresiasi yang kudapatkan, justru Putri Isabella dan juga Selvia malah berbalik marah kepadaku. Bukan itu saja, nampak Mama dan Kak Wulan juga tertawa.
"Apa kau sudah tidak waras, Rama!" ucap marah Selvia
"Bagaimana caranya dirimu begitu tamak ingin bersama dua gadis sekaligus?!" ucap marah Putri Isabella.
"Hahaha ...
Tak ku sangka, di dalam diri anakku terdapat jiwa playboy." ucap Mama.
"Hahaha benar ...
Mungkin dia bercita-cita ingin memiliki istri lebih dari satu ... " ucap Kak Wulan.
Karena itu semua, aku kemudian merasa dipojokkan. Perasaan malu tercermin dari wajahku, dan hanya bisa diam cukup lama. Tiba-tiba, Kak Wulan memberikan sebuah ide untuk beradu kekuatan antara Putri Isabella dan juga Selvia. Siapapun yang menang, berhak untuk menjadi pasanganku di pesta perayaan hari panen nanti.
"Bagaimana jika diantara Putri Isabella dan Selvia, beradu kekuatan. Siapapun yang kalah, harus merelakan pemenangnya menjadi pasangan menari Rama pada pesta puncak perayaan hari panen." usulan Kak Wulan.
Seketika itu, keduanya mengiyakan usulan Kak Wulan. Nampak dari wajah mereka berdua yang terlihat bersemangat sekali untuk mengalahkan diantara satu dengan lainnya.
"Firasatku tidak enak dengan hal ini ..."
ucapku dalam hati.
Singkat cerita, kami pun keluar rumah dan memilih tempat pertarungan. Tempat yang kami pilih cukup jauh dari rumah dan juga tentunya desa. Dengan hamparan rumput hijau yang luas, tentunya ini merupakan tempat yang cocok untuk dijadikan arena pertarungan mereka berdua.
"Apa kau sudah siap? gadis bertelinga tajam?!" ucap Putri Isabella mengejek Selvia.
"Tentu saja, Putri gendut!" balas ejekkan Selvia pada Putri Isabella.
Setelah mendengarkan hal itu, Putri Isabella seketika diam dan melihat-lihat ke tangan dan juga meraba-raba pipinya. Terlihat dia begitu marah sekali setelah diberi ejekkan Putri gendut oleh Selvia.
"Si-siapa yang kau sebut Putri gendut." ucapnya dengan intonasi pelan.
"Apa kau tidak menyadari berat badanmu akhir-akhir ini?" balas tanya Selvia.
"Mungkin kau terlalu banyak makan-makanan berkalori tinggi!" lanjut perkataan Selvia dengan tegas.
"Aku tidak gendut!" ucap Isabella sambil berlari ke arah Selvia.
Terlihat dari mereka berdua saling melayangkan serangan fisik, baik pukulan maupun tendangan. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil.
Aku, Mama dan Kak Wulan melihat pertarungan mereka dari jarak yang cukup jauh.
"Mereka seimbang!" ucapku dalam hati.
Terlihat Selvia mencoba untuk melayangkan pukulan ke arah Putri Isabella. Namun, Putri Isabella bisa menangkis dan juga menghindari pukulannya tersebut. Tiba-tiba saja, Putri Isabella terlihat kehilangan keseimbangan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Selvia dengan cepat melayangkan tendangan yang diperkuat energi Mana dari arah atas ke bawah. Namun, dengan reflek yang baik, Putri Isabella bisa menghindari tendangan tersebut dan hanya meninggalkan bekas retakan pada tanah saja.
"Untuk ukuran seorang Putri, kau hebat juga yah!" ucap Selvia.
"Kuanggap itu sebagai pujian!" balas Putri Isabella.
"Tapi kupastikan satu hal!
Kau tidak akan seberuntung tadi!"
balas kembali Selvia dengan tegas.
Dengan tiba-tiba, Putri Isabella merobek bajunya dan Dia terlihat memakai kaos dengan celana pendek hitam sepinggang. Tentu saja diriku kaget dengan hal itu, sambil memalingkan wajah aku kemudian mengatakan.
"A-apa yang sebenarnya Putri pemarah itu lakukan?!" ucapku sambil memalingkan wajah.
"Kemungkinan, pakaian kebangsawanan yang Dia pakai menghambat pergerakannya.
Itulah sebabnya, Dia memilih untuk merobeknya.
Sebenarnya Dia bisa saja membukanya tadi, namun mungkin karena tadi Putri terlalu meremehkan Selvia, akhirnya mau tidak mau dia harus merobeknya disini." ucap Mama sambil menganalisis.
" Tapi ada satu hal lebih penting daripada itu!" ucap tegas Mama.
"Apa itu, Ma?" tanyaku.
"Di usianya sekarang, tubuh Putri Isabella terlihat cukup montok ...
Mama tidak tahu, setelah menjadi dewasa seperti apa Dia nanti ..." balas perkataan Mama.
"Ya jangan analisis sejauh itu juga!" jawabku.
Terlihat, Kak Wulan begitu serius melihat ke arah pertarungan Selvia dan Isabella.
"Mungkin ...
Hanya Kak Wulan dan diriku saja yang waras disini ... " ucapku dalam hati.
Tidak lama setelah itu, aku kemudian bertanya padanya.
"Kak Wulan, analisis apa yang Kakak lihat?" tanyaku.
"Paha dari Putri Isabella, begitu mulus dan juga putih bening ...
Entah produk kecantikan apa yang dia pakai." jawabnya.
Mendengar jawaban tersebut tentu saja membuatku menjadi kecewa. Mungkin, rencana mereka bukanlah melihat pertarungan Selvia dan juga Putri Isabella. Namun, karena alasan lain.
_Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments