[17 – Miko itu Koki Pribadi]

Sementara itu di ruang tamu, keempatnya sibuk meriset tentang semut sebelum akhirnya mengambil poin-poin penting untuk dituangkan pada makalah.

“Eh, Af, Miko tuh sering main ke sini?” Sasha menceletuk, melenyapkan suasana sepi. Afya mendongak dari layar laptop, beralih menatap Sasha yang penasaran. Mengangguk sekali, lantas kembali tenggelam di antara fakta-fakta tentang semut.

“Lumayan sering, gue yang manggil ke sini sih. Dia pinter masak, lho,” sahut Afya. Dena menyingkirkan lembaran buku dari wajahnya. “Serius? Seberapa enak masakan dia?”

“Ngapa? Laper lo?” Rista yang sedari tadi menyimak, menambahi. Dena mengangguk, kemudian menggeleng. Membuat bingung ketiga temannya. Gadis berambut panjang bergelombang itu menarik bungkusan cemilan, memakan beberapa.

“Pengin nyicip masakannya aja, penasaran,” jawab Dena. Rista dan Sasha nyengir, turut setuju. Lantas ketiganya menatap Afya yang kembali fokus pada layar, menyalin beberapa kalimat yang penting. Sadar tengah ditatap, ia mendongak, memandang bingung pada tatapan entah-apa-artinya dari ketiga temannya itu.

“Apa?”

“Minta masakin dong, Afya. Gue pengin nyicip,” pinta Dena. Rista dan Sasha mengangguk-angguk dengan raut melas. Afya terdiam, berpikir sejenak. Beberapa detik setelahnya ia mengangguk.

“Bentar ya, tapi kalo orangnya mau. Kalo nggak, jangan protes lagi,” ingat Afya. Temannya mengangguk patuh, menunggu dengan semangat.

Afya membuka pintu kamarnya, melongokkan kepala guna melihat Miko yang berbaring miring. Ponselnya telungkup di sisi ranjang sebelahnya. Matanya terpejam, dengkuran halus terdengar geli.

Afya kembali keluar sambil menggeleng, menutup pintu kamar sepelan mungkin. “Miko udah tidur.”

Teman-temannya mendesah kecewa.

“Lain kali deh, atau pas kerja kelompok di sini lagi, gue bilang duluan biar dimasakin,” ujar Afya. Sedikit tidak tega pada teman-temannya, lagi pula Miko tidak akan keberatan. Laki-laki itu suka berada di dapur.

“Maaf ngerepotin, hehe.” Dena nyengir.

“Dena emang nyusahin, Af, lo bisa nolak kemauan dia,” celetuk Rista. Sasha tertawa, mengangguk setuju.

Dena melotot, “Apaan! Lo pada kan ikut minta tadi—“

Seruan Dena terpotong desisan Afya, “Ssstt, jangan keras-keras, Den.”

Dena meneguk ludah, nyengir dengan pose dua jari. “Maaf.”

Resti dan Sasha lagi-lagi tertawa—kali ini dengan intonasi rendah.

Lalu, kerja kelompok berlangsung serius selama beberapa jam. Sampai jam dinding menunjukkan pukul setengah lima sore, kerja kelompok resmi dipulangkan.

Afya mengantar mereka hingga halaman gedung apartemen. Saling melambaikan tangan hingga kejauhan. Lantas kembali ke kamarnya. Hendak melihat Miko, laki-laki itu sudah terbangun atau belum.

Ternyata belum. Laki-laki itu berganti telentang. Afya menggeleng, menebak, begadang apa semalam anak ini hingga tidur sepulas ini hingga sore.

Afya beralih membereskan ruang tamu. Memasukkan bungkusan cemilan ke dalam kantung sampah. Menyapu beberapa remah yang tercecer. Mencuci gelas-gelas kotor bekas minuman. Selesai, ia beralih mandi, tubuhnya lengket.

Selang beberapa menit, ia keluar dengan tubuh segar. Mengganti seragam putih abu-abunya dengan piyama panjang bergambar kartun. Cahaya oranye langit barat menerobos jendela kaca, membiaskan cahayanya pada dinding-dinding kamar yang lampunya belum dinyalakan.

Rambutnya masih setengah basah, tapi Afya tak ambil pusing. Ia merangkak ke atas ranjang. Memerhatikan raut damai Miko yang masih terlelap beberapa saat. Ia menoel pipi laki-laki itu, mencubit pelan hidungnya. Tidak ada respon.

Ia beralih menggoyangkan tubuh Miko. “Mik, bangun! Lo mau pulang apa nggak, hei?”

Masih tidak ada respon. Afya menggoyangkan tubuh Miko sekali lagi.

“Miko, gue laper.”

Gadis itu menghembuskan napas kesal. Baru tau jika Miko susah dibangunkan. Ia menyerah menggoyangkan tubuh Miko, empunya bak mayat—tidak merespon apa-apa.

Lima menit terdiam, termenung menatap langit jingga lewat jendela. Afya akhirnya memiliki cara lain. Meskipun sedikit—ekhem, begitulah.

Afya menatap wajah Miko dengan seksama, masih mendengkur halus. Manik sayunya beralih fokus pada bibir laki-laki itu yang masih ke merah-merahan walau sudah merokok—walau dalam batas minimal.

Cup.

Afya memberanikan diri untuk mengecup bibir Miko pelan, selembut mungkin. Ah, apa ia terlihat seperti orang cabul yang mencium pacarnya diam-diam? Jika iya, tolong rahasiakan.

Lagi-lagi tidak ada respon, Afya nekat mengecup bibir Miko beruntun—sambil memejamkan mata. Entah kepalanya mulai gila atau bagaimana.

Sebab itu Afya tidak tau jika, awal kecupan beruntun yang ia berikan, Miko sudah membuka matanya. Memproses kejadian secepat mungkin. Dan respon pertamanya adalah meraih tengkuk Afya dan merangkul pinggangnya. Afya yang terkesiap hendak menjauh, memberi jarak. Namun sudah terlambat.

Tubuhnya telah dikekang oleh tangan-tangan laki-laki itu. Berganti duduk, dengan Afya di pangkuan. Memagut ******* lebih dalam, lebih intens. Riuh kepak kupu-kupu di perut berubah menjadi badai. Afya kelimpungan akibat ulahnya sendiri.

Saat napas Afya hampir tak bersisa, barulah laki-laki itu melepas pagutannya. Membuat gadis itu segera meraup habis oksigen seolah kehabisan tarikan napas. Beberapa saat, hanya terisi oleh suara napas yang beradu. Mata-mata yang menyulut semangat saling tatap dengan rona-rona tipis membingkai di pipi. Lantas, bibir-bibir yang masih basah itu kembali beradu.

Lidah-lidah saling memilin, bertukar saliva dengan lembut. Lenguhan tertahan Afya lolos. Sedikit-banyak berefek pada Miko yang gerakan tangannya mulai kemana-mana, tertahan tangan Afya.

Kilauan jingga masih menerpa wajah-wajah yang berhadapan itu. Lampu belum juga dinyalakan padahal ruangan mulai temaram—itu pun karena seberkas cahaya jingga yang menerangi.

Afya dengan cepat menyadari kesalahannya. Ia membangunkan singa yang tidur dengan cara yang amat beresiko.

“Mmhn—Miko ....”

Begitu namanya disebut, seolah memperoleh kewarasan kembali, Miko melepas pagutannya. Maniknya menatap dengan benar pada Afya yang matanya berkaca-kaca—tidak, bukan karena kesal atau marah, entahlah, Afya sendiri tidak mengerti.

Miko menurunkan Afya dari pangkuannya, lantas mengusap wajahnya kasar. Ia menghembuskan napas panjang.

Hening beberapa menit. Saling menghindari pandangan.

“Maaf—“

“Maaf—“

Dua ucapan maaf bertemu, terucap bersamaan. Sebelum sempat merespon, gerungan panjang dari perut Afya turun bersuara. Keduanya mendongak, mempertemukan dua manik mata. Lantas menyemburkan tawa renyah.

“Haahh. Lain kali jangan begitu lagi, ya. Resikonya gede,” cetus Miko. Afya segera mengangguk, wajahnya masih bersemu. Sebab ia telah memperoleh akibatnya, ia berjanji tak akan mengulanginya.

“Tapi elo nggak cepet bangun,” desah Afya, menatap sebal pada Miko, lanjut mengeluh, “gue kan laper.”

Miko terkekeh. Tangannya bergerak mengelus kepala Afya. Lantas bangkit, hendak menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Afya membuntuti dari belakang.

“Mik, lo tau nggak sih?” Miko segera menggeleng, tangannya mulai bekerja.

“Ish, belum! Tau nggak sih, temen-temen gue pengin nyoba masakan elo,” lanjut gadis itu. Miko bergumam.

“Kupasin bawang putih dua siung, Af,” pinta laki-laki itu. Afya segera menuruti.

“Menurut elo, gue lebih enak buka warung makan atau cathering-an?” tanya Miko, meneruskan topik tentang masakan.

“Kenapa gitu?” Afya menyahut bingung.

“Biar ada untungnya lah, apalagi temen-temen lo tertarik buat nyoba. Lumayan buat pelanggan pertama,” celetuk laki-laki itu. Ah, akhirnya Afya mengerti maksudnya.

Lantas gadis itu mendengus. “Mana bisa gitu.”

“Bisa lah. Bayar dulu, baru gue kasih rasa,” ujar Miko disertai tawa ringan. Afya mencebik sebal, menyerahkan bawang yang sudah dikupas pada Miko. Melihat tangan laki-laki itu yang memotong cincang bawang putih dengan lihai.

“Lo jago banget, Mik, kapan-kapan gue ajarin dong,” celetuk Afya.

“Jago soal apa? Ciuman?” Miko paham maksud Afya, ia hanya ingin menggoda gadis itu saja.

Afya menampar lengan Miko gemas, wajahnya sudah merah padam. Miko tertawa puas.

“Masak, Miko! Masak!”

Laki-laki itu masih terbahak. Wajah Afya masih sama merahnya—seperti tomat matang.

“Iya, Sayang, iya. Bercanda, kok.”

Bukannya berhenti, Afya semakin memukuli lengan Miko. Raut wajahnya sudah tidak karuan. Kepak kupu-kupunya tak kunjung mereda sedari tadi. Miko kembali terbahak.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!