[13 – Miko’s Home]

“Mik, *puzzle*-nya belum selesai, loh.” Afya menceletuk dari jok belakang, Miko tetap fokus menyetir. Sepulang sekolah tadi, setelah mampir sejenak di apart Afya untuk berganti baju sebab gadis itu ngotot ingin ikut ke rumah Miko yang berjarak 20 menit dari sekolah.

“Nanti-nanti tinggal lanjutin lagi,” sahut laki-laki itu. Afya merambatkan tangannya—melingkari pinggang Miko.

“Iya juga, sih.”

Tiba-tiba mata Afya membulat, teringat akan sesuatu. Ia berseru memanggil, “Mik, Miko!”

Kepala Miko tertoleh sedikit, “Hah? Apa?”

“Di rumah lo ada siapa? Rame nggak?” Suara Afya terdengar sedikit cemas. Sungguh, ia tidak kepikiran hal itu tadi, spontan saja berkata hendak ikut.

Kekehan Miko terbawa angin, Afya mengernyit heran.

“Nggak ada orang, tenang.”

“Pada ke mana?” tanya Afya lagi, kali ini ia sedikit lega. Ia tidak pandai berurusan dengan orang-orang yang lebih tua.

Miko terdiam lama. Afya sempat berpikir kalau suaranya tidak terdengar dan hendak mengulanginya. Namun laki-laki lebih dulu membuka suara.

“Kerja. Ibu gue kerja di luar negeri.” Afya manggut-manggut. Beralih menatap jalanan yang menyerong kanan. Lantas tak lama, motor Miko memasuki gang perumahan.

“Sini, masuk. Anggep aja rumah sendiri,” ajak Miko, memutar engsel pintu dan mendorongnya agar terbuka. Afya mengikuti dengan cengiran.

“Serius? Gue mau liat sertifikat rumahnya dong, Mik,” cetusnya. Miko berbalik, menatap datar pada Afya yang cengirannya makin lebar.

“Mau lo jual, maksudnya?”

Afya mengangguk, “Mayan buat foya-foya,” kelakar gadis itu. Miko menyentil dahi Afya, membuatnya mengaduh pelan. Lantas kembali tertawa renyah, begitu pun dengan Miko.

Rumah minimalis Miko dilengkapi furnitur sederhana serba cokelat kayu. Kursi, meja, lemari, nakas. Lantainya saja yang keramik abu-abu. Jendela-jendela hitam—tampak luar—yang ditutupi gorden kuning mustard.

Sementara Afya tengah sibuk melihat-lihat, Miko telah selesai mengganti seragamnya dengan celana pendek selutut dan kaos putih dengan gambar awan merah di punggungnya.

“Kenapa? Lebih bagus apart lo, ya?” Suara Miko menegur Afya. Gadis itu reflek menoleh, menggeleng. “Bagus doang nggak guna kalo sepi, Mik,” sahutnya.

Miko terkekeh, mengangguk-angguk saja.

Afya mendudukkan dirinya dengan nyaman di sofa kayu dengan ukiran rumit. “Lingkungan sini enak nggak? Maksudnya, nggak ada yang rese atau toxic gitu, nggak?”

“Nggak tau, gue tergolong tetangga baru sih di sini.”

“Eh? Serius?”

“Iya, gue pindah pas lulusan.”

Afya manggut-manggut sejenak, lantas segera bangkit. Berseru dengan binar di mata sayunya, “Gue mau liat kamar lo, dong!”

Demi melihat itu, Miko menuruti, mengantar Afya ke kamarnya yang tidak terlalu jauh dari ruang tamu. Begitu pintu cokelat dibuka, suasana dingin menyergap. Kasur busa single bed di dekat jendela dengan gorden putih tipis, di sebelahnya ada meja belajar dengar rak buku yang sedikit tidak beraturan. Lemari kayu teronggok dingin di sudut ruangan.

Afya bergumam permisi sebelum memasuki kamar, segera merapat pada meja belajar yang berdiri pigura di atasnya. Sebuah foto dari masa lalu yang tak jauh. Seorang wanita seperempat baya, garis wajahnya ramah dengan senyuman lembut terlihat dirangkul oleh Miko yang sedikit lebih tinggi darinya.

“Kapan fotonya diambil?” tanya Afya setelah lama terdiam. Miko yang awalnya merapikan gantungan pakaian di belakang pintu segera mendekat. Lantas ber-oh pelan, “Sehari setelah pindah,” jawabnya kemudian.

“Cantik, ya,” lanjut Afya, meletakkan kembali pigura itu pada tempatnya, berbalik menatap Miko yang sekarang di hadapannya.

“Siapa? Gue?” canda Miko, iseng. Afya cemberut, mencebik sebal, “Ibu, lah.”

Miko merapat pada Afya yang kini terapit oleh dirinya dan meja. Mendekatkan wajahnya perlahan. Ia berbisik pelan di telinga Afya, “Kalo gue?”

Afya menjengit geli. Ia balas berbisik, “Mau lo gimana?”

“Ngikut elo aja.”

Afya mengalungkan lengannya pada leher Miko, menatap intens pada laki-laki di hadapannya itu. “Lagi ngomongin apa, sih, kita?”

“Nggak tau.”

Setelahnya, Miko menempelkan bibirnya dengan bibir Afya. Mengecupnya lembut sebagai awalan. Afya memejamkan mata saat tangan Miko merengkuh tubuhnya lembut.

Miko menggigit bibir bawah Afya pelan, membuat gadis itu melenguh—tanpa sengaja membuka celah bagi Miko untuk \*\*\*\*\*\*\* bibir Afya lebih baik.

Sensasi lembut dan hangat menyebar hingga dada. Kupu-kupu mengepak riuh di perut dengan degupan dada yang semakin bertalu-talu.

Afya terengah-engah saat Miko melepas pagutannya. Mata sayunya sedikit berair, bibirnya basah.

Setelahnya, Miko dan Afya hanya saling memandang dengan suara napas yang bersahut-sahutan di ruang sepi. Miko memejamkan mata erat, lantas saat terbuka lagi, ia bergerak memberi jarak.

“Mau makan?” tanya Miko mengalihkan situasi.

Afya mengangguk sedikit canggung. “Boleh.”

...***...

Selesai menghabiskan nasi goreng buatan Miko, keduanya mengambil tempat di teras rumah. Duduk bersebelahan di kursi kayu yang dipisahkan meja bundar dengan susu hangat dan kopi di atasnya. Sama-sama terdiam sepi menatap jalan paving dengan satu-dua rumput yang nakal tumbuh di celahnya.

Satu-dua tetangga lewat, menyapa dengan ramah. Segerombolan anak laki-laki lewat dengan rambut lepek karena peluh, berseru-seru dengan bola di rangkulan pinggang. Sesekali bibir Afya tertarik—tersenyum, kadang tertawa ringan—pada kejadian yang lewat sekilas.

Lingkungan Miko terasa hangat, tak seperti lingkungan dalam lingkup apartemennya yang cenderung acuh dan dingin. Membuat Afya merasa dejavu saat masih tinggal bersama sang nenek.

“Lo tau, pas SMP gue tinggal bareng Nenek. Lingkungannya mirip sama di sini, kerasa ‘hangat’.” Afya mulai bercerita, masih menatap jalanan paving di depan. Miko menoleh.

“Kalo nyaman di situ, kenapa pindah?” Miko bertanya sedikit iseng, menatap Afya dari samping yang sudut bibirnya sedikit tertarik—tersenyum tipis.

“Setelah Nenek meninggal, gue diminta buat milih antara ikut Mama atau Papa.”

Miko terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berucap pelan, “Sori, gue turut berduka cita.”

Afya menoleh, menggeleng dengan raut tidak masalah. Lantas kembali memandang jauh ke depan. Langit sore yang cerah.

“Tapi gue lebih milih tinggal sendiri. Adil buat mereka ‘kan?” Afya sedikit tergelak pada akhir kalimat.

Miko mendengus. “Adil, sih. Selama lo nggak masalah dengan itu, ya udah.”

“Cuma, kalo ada apa-apa, semisal nggak ada yang bisa lo andelin, butuh didengerin, lo bisa minta bantuan ke gue. Soalnya hidup sendiri itu nggak gampang,” lanjut Miko. Afya menoleh, menatap sedikit haru pada Miko. Namun kepalan tangannya malah bergerak meninju pelan pada lengan atas laki-laki itu, tergelak.

“Lo juga, Mik, kita kan sama-sama hidup sendiri,” sahut gadis itu yang disambut gelakan dari Miko.

“Emang lo bisa ngapain?” canda laki-laki itu. Afya menarik tangannya dari lengan Miko, berpikir sejenak.

“Mungkin gue bisa ngasih lo jokes bapak-bapak, gimana?” Afya balas berkelakar.

“Coba kasih satu, gimana tuh?”

Afya terdiam, berpikir cepat—menggali memori tak jauh yang tersimpan. “Bunderan HI kalo diputerin berkali-kali jadi apa?”

Miko mengernyit, sedikit menahan tawa. “Apa?”

“HIHIHI, ngakak abieez nggak tuh?”

Beberapa saat senyap. Hingga mereka menyemburkan tawa renyah yang sama.

Hari itu, di depan teras bertemankan susu hangat dan kopi bersama Miko, berbingkai langit sore yang cerah dengan kemilau jingga, gelak tawa yang melambung bersama asa, dalam lubuk hati yang terdalam, Afya berkata bahwa ia tidak akan melupakan hari itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!