Miko menepikan Loki (si Scoopy, barangkali lupa) di samping gadis kecil yang setengah tubuhnya hampir tertelan hoodie-nya sendiri. "Naik, Dek. Abang anter sampe sekolah," ujarnya.
Gadis kecil ber-hoodie itu menoleh, memasang tampang bertanya. Sebelum akhirnya berubah jengkel saat tau siapa yang memanggilnya tadi, ia mengumpat pelan, "Sialan!"
Laki-laki itu tertawa pelan.
Benar, gadis kecil itu Afya yang sengaja Miko olok-olok sebagai asupan pagi.
"Maaf, maaf. Ayo naik." Walau bermuka sebal, gadis itu tetap mendudukkan dirinya di jok belakang. Menyelipkan tangannya di pinggang Miko.
Selesai memarkirkan si Loki, Afya mengekor sedikit menempel pada Miko, seolah sedang bersembunyi dari sesuatu. Demi melihat tingkah aneh gadis itu di pagi hari, Miko mengedarkan pandangan. Ah, rupanya ada si kapten voli di depan perpus, tengah berbicara dengan guru penjaga perpusnya.
“Harus banget sembunyi?” Miko bertanya setengah bergumam. Pegangan Afya pada kemeja putihnya semakin erat, ia mengangguk.
Miko hanya menghela napas, berjalan sedikit menjauh dari perpus lalu berbelok memasuki koridor. Barulah setelah itu, Afya menampakkan diri di sebelahnya dengan mantap.
“Nanti pas istirahat, gue jemput. Jadi, tungguin,” tutur laki-laki itu segera setelah berhenti di depan kelas Afya.
Gadis itu mengangguk, mengangkat telapak tangannya pada Miko yang berjalan menjauh. Baru saja ia melengos masuk ke dalam kelas, seruan ‘cie’ memenuhi pendengarannya. Pelakunya adalah teman kelasnya yang sudah lebih dulu datang dan melihat scene barusan. Beruntung hanya tiga orang—Sasha, Rista dan Dena.
Sasha paling heboh. Afya bahkan sampai menutup sebelah telinganya.
“Serius, Af! Itu siapa?!” teriaknya tepat di telinga Afya. Gadis itu mendudukkan pantatnya di kursi, masih diikuti oleh ketiga temannya—menunggu klarifikasi darinya.
Afya menarik paksa sudut bibirnya dengan mata menyipit, malah mendapat geplakan dari Sasha yang tau-tau memandangnya horor. “Mending lo nggak usah senyum dari pada begitu!”
Gadis berambut sebahu itu melepas tarikan bibirnya, kembali memasang wajah lempeng. Lantas mendengung sesaat, “Apa, ya? Bisa dibilang ... pacar.”
“Ih! Lo nemu mana cowo kayak gitu? Cakep bener!” Rista, si pencinta jejepangan, memekik gemas, Dena mengangguk semangat. Afya menyeringai, berujar sombong setengah bercanda, “Dia yang nemuin gue, kece nggak tuh?”
“Kapan kalian mulai pacaran?” Sasha bertanya tidak sabar. Afya berpura-pura berpikir, menghitung dengan jari. “Kemarin?” jawabnya sedikit ragu.
“Hah?”
Hening sesaat, hingga Dena menyeletuk, “Emang boleh sedadakan itu?”
Tawa pecah sejenak. Lantas Rista berujar serius, “Tapi dia ganteng, beneran. Dari kelas mana? Namanya siapa?”
“Jangan bilang mau lo rebut, Ris? Gengnya Trashta lo?” Sebagai pencinta manhwa—komik Korea—juga, Rista mendelik—tidak terima disatu-gengkan dengan pelakor berambut putih itu—pada Dena yang suka sekali menyeletuk asal.
“Gue tutup juga resleting mulut lo, Den! Kagak lah, kali aja ada temennya dia yang cakep juga, buat gue embat gitu,” cetus Rista, kembali memandang Afya, menunggu jawaban.
Akhirnya Afya buka suara, “Miko, kelas ... 1-3 kalo nggak salah.”
Percakapan mereka berganti setelah semakin banyak siswa 1-5 yang datang. Dari spot kencan favorit, makanan yang diidamkan, hingga tipe pria ideal yang diinginkan, terselip sedikit gosip seputar anak kelas sebelah.
Hingga bel tanda masuk berdenting nyaring ke seluruh sudut sekolah, menarik kaki para siswa memasuki kelasnya masing-masing.
...***...
Miko dan Afya berjalan beriringan menuju kantin yang penuh siswa lapar, sesekali terdengar kegaduhan setiap melewati kelas lain, satu-dua menyapa Afya, menatap Miko dari jauh dengan tatapan kagum, lantas mememalingkan wajah kala tertangkap basah.
“Nanti langsung pulang, nggak?” Miko bertanya, barangkali Afya ada menyusun rencana untuk mereka. Gadis pendek yang menghisap lolipop di sebelahnya menggeleng, balas bertanya, “Kalo nggak pulang, mau ke mana?”
“Nggak tau lah, makanya gue nanya. Eh, lo ikut ekskul apa?” Afya menoleh dengan alis mengerut, “Emang wajib?” tanyanya heran.
Miko menatap sanksi, lantas mencibir, “Nggak dengerin walikelasnya ngomong, ya?” Melihat Afya menggeleng, Miko menghela napas. Mulai memasuki kantin yang sesak.
“Mau apa?” tawar Miko, Afya menunjuk stan nasi pecel. Mereka segera meluncur, mengantri dengan sabar sebab antrian cukup panjang.
“Yang nggak wajib ikut ekskul itu kelas 12, selain itu wajib,” tutur Miko, masih meneruskan pembahasan tentang ekskul sekolah. Afya mencebikkan bibirnya, “Gue males,” keluhnya dengan raut cemberut.
Entah mengapa ia yang seperti itu malah terlihat menggemaskan di mata Miko. Laki-laki itu berdehem pelan, melangkah maju sebab antrian paling depan telah pergi.
“Lo ikut apa?” Miko menggeleng, menanggapi pertanyaan Afya. Lalu menyahut, “Belum nentuin, sih. Niatnya nanti pas pulang sekolah, mau liat-liat dulu. Mau ikut nggak?”
Afya menatap Miko yang mengaduh karena bahunya bertabrakan, lalu saling minta maaf. Antrian nasi pecel semakin memendek.
“Boleh.”
Selesai mengantri, kini mereka bingung mencari tempat duduk. Celingak-celinguk sambil menenteng bungkusan nasi pecel, kerupuk udang dan segelas akua. Merasa malas mencari lebih lanjut, Afya mengajak makan di kelasnya saja, berhubung saat istirahat hampir tidak ada orang di kelasnya. Miko mengangguki.
“Mik, kita belum tukeran kontak nggak sih?” Di tengah kunyahan, gadis itu bertanya bingung. Miko menelan kunyahannya lebih dulu, menyeruput akua, lalu balas menjawab, “Belum. Abis ini aja, cepetan makannya, keburu bel masuk.”
Benar saja, begitu mereka selesai membereskan sampah bungkusan, bel masuk berbunyi. Miko segera berdiri saat beberapa teman Afya mulai memasuki kelas, sambil menenteng plastik sampah, ia pamit, “Gue ke kelas, ya.”
Afya mengangguk. Bersamaan punggung Miko menghilang di balik pintu, teman-temannya yang dari perpus datang. Sempat bepapasan dengan Miko, Rista memasuki kelas sambil melotot-melotot, menunjuk tempatnya yang berpapasan dengan Miko tadi pada Afya. Bibirnya berseru tanpa suara, tapi masih bisa Afya baca, “I-ke-men!” (tl: ganteng)
Afya hanya menggelengkan kepala. Sedang Dena dan Sasha nyengir kuda.
Lalu guru sejarah segera masuk.
“ ... ia memiliki nama lain, yaitu Kalagemet. Artinya adalah penjahat lemah, bahkan digosipkan ia akan menikahi saudari satu ayahnya agar kekuasaannya tidak lengser. Jayanegara menjabat dari tahun—“
Waktu berjalan dengan cepat, bel pulang berbunyi, menuai sorak-sorai dari dalam dan luar hati. Siswa segera berhamburan keluar, begitu pun Afya yang tertubruk sana-sini karena tubuhnya yang kecil agak susah dilihat. Beruntung Miko segera menariknya ke samping. Hoodie-nya yang sempat dilepas karena larangan memakai jaket sewaktu di kelas, kini kembali gadis itu pakai.
“Tinggian dikit, napa, Cebol? Nggak capek ditubruk sana-sini karena kecil?” Afya mendengus mendengar ejekan Miko. Lantas mencubit pinggang laki-laki itu kesal. Miko mengaduh, membuat beberapa pasang mata yang lewat menatap sejenak.
“Gue masih proses pertumbuhan ini, ya!” bela Afya sebal, sedikit memanyunkan bibir. Miko terkekeh, mengangkat tangan untuk mengelus rambut Afya sekilas.
Tiba-tiba, Miko teringat akan sesuatu, ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku. Afya diam melihat. Lantas menatap bingung saat benda pipih itu dijulurkan padanya.
“Katanya mau tukeran kontak,” desah Miko. Mata Afya membulat, segera menerima juluran ponsel lalu mengetikkan deretan angka yang dihafalnya pada papan tombol.
“Nih,” ucap gadis itu setelah selesai. Miko mengangguk, lalu mulai berkeliling sekolah yang mulai sepi—hendak melihat-lihat ekskul.
“Dibanding pertama ketemu, lo yang sekarang keliatan lebih hidup,” celetuk Miko tiba-tiba. Afya menoleh—sedikit mendongak—menatapnya yang memandang lurus ke depan.
“Mungkin karena udah lega. Lo harus nyobain juga, Mik.”
“Apa?”
“Ngungkapin perasaan. Kalo sekarang kan pasti bakalan ditolak, jadi gue nggak takut ditinggalin sendiri.” Pernyataan Afya membuat Miko menoleh, menatap jenaka pada gadis itu.
“Curangnya. Harusnya lo doain gue diterima.”
“Mana bisa. Gue sama siapa dong nanti?”
Keduanya terdiam sejenak, lantas bertukar tawa pada lorong kelas yang sepi. Ini sebuah permulaan yang baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments