Saat istirahat kedua, Miko dan Afya ngadem—mencari udara—di atap gedung sekolah. Tempat yang sama saat insiden lupa membawa air minum setelah menyaksikan adegan menyesakkan. Afya menyeruput susu kotaknya dan Miko dengan permen milkita-nya. Duduk lesehan sambil menyender pada dinding, sesekali menguap malas.
“Lo udah milih ekskul?” Miko memulai topik ekskul yang berhari-hari belum juga diputuskan. Afya menggeleng tidak niat, ia malah balik bertanya, “Lo sendiri?”
“Gue penginnya ekskul yang santai sama nggak banyak gerak, sih.” Sontak Afya menoleh dengan tatapan tidak percaya.
“Bukannya cowok lebih suka yang banyak gerak ya?” Ia bertanya bingung. Miko mendesah lelah, “Nggak semua kali. Gue juga nggak terlalu atletis.”
Afya terdiam, memerhatikan stik permen yang mencuat di sela-sela bibir Miko. Berkedip pelan, ia lupa permen rasa apa yang dimakan Miko. “Permen lo rasa apa, Mik?
Topik berbelok tajam dari ekskul ke permen. Miko mengeluarkan permennya, berwarna hijau setengah putih—rasa melon. Belum sempat ia menyesap permennya lagi, Afya telah merampasnya.
“Mau!” seru gadis itu, memilih menukar permennya dengan susu kotak yang tinggal seperempat. Miko mendengus sebal, meski begitu, ia tetap mengambil alih susu kotak Afya.
“Lo ikut ekskul yang banyak gerak, biar tambah tinggi. Kayak basket atau voli, gitu,” cetus Miko, mengembalikan topik ekskul. Afya hanya berdengung malas.
“Gue penginnya ekskul yang santai sama nggak banyak gerak.” Gadis itu malah mengulang ucapan Miko. Gemas, Miko menarik pipinya, membuat gadis itu mengaduh.
Afya mengusap-usap pipinya yang sedikit panas dengan tatapan sebal pada Miko. Laki-laki itu malah nyegir kuda.
“Kalo bisa kita barengan, Mik. Kira-kira ekskul apa yang cocok?” Afya bertanya lagi, masih menatap Miko yang berpikir. “Seni?” usulnya.
Afya menggeleng. “Gue nggak bisa gambar, lukis apalagi.”
“Jurnalistik?” Gadis itu menggeleng lagi, menolak usulan Miko.
“Jejepangan?” Afya menggeleng lagi. Lama-lama Miko gemas, ia tarik lagi pipinya. Afya mengaduh lagi, kali ini disertai geplakan pada lengan atas Miko.
“Sastra, deh, sastra. Gimana?” usul Miko yang terakhir. Kalau Afya tidak mau juga, ia akan menarik kedua pipi gadis itu sampai menangis.
Tak diduga, Afya akhirnya mengangguk juga, “Kayaknya itu bisa!”
“Yaudah nanti kita daftar.”
Tak lama, bel masuk berbunyi, mengentaskan mereka dari pertapaan di atap gedung. Meski sambil menggerutu, kaki-kaki malas itu juga kembali ke kelas masing-masing.
...***...
Sepulang sekolah, Afya mencegat Sasha sebelum melewati pintu kelas. “Sha, lo ikut ekskul sastra kan, ya? Gue sama Miko mau ikut juga,” ujarnya, mata Sasha seketika berbinar.
“Akhirnya berlian nambah satu lagi di klub sastra! Ayo, Af, ayo. Eh, Miko-nya mana?” Afya mengernyit heran pada kata ‘berlian’—tidak mengerti maksudnya, yang jelas Sasha terlihat girang.
“Nunggu depan kelas biasanya.” Baru juga Afya bilang, Miko sudah menyembulkan kepalanya di pintu. Kedua gadis itu segera keluar menghampiri.
“Mik, ini Sasha—temen gue sekaligus anggota ekskul sastra,” tutur Afya pada Miko, lantas beralih menatap Sasha, “Sha, ini Miko, eee—pacar gue.”
Mengabaikan dengungan Afya di tengah kalimat, Sasha menganggukkan kepala—menyapa—pada Miko yang diangguki balik.
“Salam kenal,” ujar Miko, Sasha tak kuasa menahan cengiran, membuatnya terlihat konyol di depan Miko. Afya menyikut pinggangnya, mendelik sadis.
“Anggota klub sastra nggak terlalu banyak peminatnya, tapi anggotanya seru-seru kok.”
“Kegiatannya banyak nggak, Sha?” Afya bertanya. Miko menyimak dari belakang, sesekali menatap lalu lalang siswa yang masih tersisa di halaman sekolah.
“Enggak, kok. Paling review buku setiap minggu. Atau kalau berminat, lo bisa nulis cerita buat kita baca nantinya.” Mereka memasuki perpus, mengikuti langkah Sasha yang membawa pada pintu merah tua dekat rak bagian sejarah. Beberapa siswa yang mengunjungi perpus menoleh sejenak kala mereka masuk, lantas kembali fokus pada bacaan.
Sasha mendorong daun pintu, lalu ruangan 5x5 meter dengan beberapa bangku berjejer di pinggir—menyisakan celah di tengahnya—membentuk huruf U. Jendela-jendela dengan korden pendek berwarna abu-abu sedikit tersingkap oleh angin sebab jendelanya dibiarkan terbuka.
Baru tiga orang yang mengisi ruangan saat Afya, Miko dan Sasha datang, segera beralih dari bacaan pada ‘tamu-tamu’. Pintu kembali ditutup.
“Kak Ken, mereka mau daftar klub sastra katanya,” ujar Sasha pada seorang laki-laki berwajah kalem dengan potongan rambut *undercut*, memakai kacamata berbingkai bulat—yang segera mengangguk dengan senyuman. Dua orang lainnya adalah perempuan, satu berambut lurus sepunggung yang kini dikepang dua dengan poni yang mulai menutupi mata, satu lagi berbadan sedikit berisi—rambutnya yang bergelombang sebahu dikuncir kuda, anak rambut yang tidak ikut terikat jatuh di pelipis.
Laki-laki yang dipanggil ‘Ken’ itu lantas mengamit dua kertas, menghampiri Afya dan Miko yang saling lirik lalu mengulurkan kertasnya.
“Diisi dulu ya, ini data diri. Perkenalkan nama saya Keenan—panggil saja Ken, kelas 2-3 selaku ketua klub. Saya ucapkan, selamat datang di ekskul sastra!” Afya dan Miko mengangguk sopan—tepatnya, Afya mengikuti gerakan Miko dengan canggung.
Dua gadis di belakang Ken memandang tertarik. Lantas menyembul dari belakang Ken—si kuncir kuda dengan dengan raut ceria sedang satunya lagi hanya tersenyum tipis.
“Gue Ifa, yang kunciran itu Ayu, salam kenal ya,” cetus Ifa lalu menunjuk gadis berkepang itu. Senyum Afya merekah—mereka terlihat ramah, pikirnya.
“Salam kenal, Kak. Saya Miko dan ini Afya,” timpal Miko yang diangguki dengan ramah oleh Ken. Afya hendak berbicara juga, “Mohon bantuannya Kak!”
“Haha, baik. Nah, kalian berdua mengapa tidak duduk? Silakan pilih bacaan yang sesuai dengan selera kalian, sembari menunggu anggota yang lain tiba.” Setelahnya, dua sejoli itu mendudukkan diri di dekat Sasha yang nyengir
Mengeluarkan pena untuk mengisi data diri sementara lainnya kembali tenggelam pada bacaan. Suasana hening, hanya kesiur angin yang menabrak daun jendela yang terdengar. Afya mengisi nama, tanggal lahir, kelas dan nomor telponnya sembari mengintip kertas Miko berkali-kali.
Selesai, mereka pamit keluar ruangan—hendak mencari buku. Miko dan Afya berpisah, berbeda dengan Afya yang menelusuri rak bagian legenda, mitos dan dongeng, Miko memilih bagian sejarah—dekat dengan pintu merah tua milik ruangan klub sastra.
Dirasa telah menemukan buku yang pas, Miko bergerak mendekati Afya yang mencoba meraih buku di rak atas. Mendengus geli sejenak, lalu mengulurkan tangannya membantu Afya. Gadis itu menoleh lantas mengeluarkan cengiran.
“Buku apa, Mik?” Miko memperlihatkan bukunya, sebuah buku nonfiksi berkover arca, candi, bunga cempaka dan kalimat bercetak besar di tengah, “Sejarah Kerajaan Hindu-Buddha”.
“Punya lo?” Miko balik bertanya, Afya menunjukkan buku bersampul hijau lumut yang sudut-sudutnya terdapat dekorasi flora. Sebuah buku tentang kumpulan dongeng Nusantara.
Miko manggut-manggut, kembali mendorong daun pintu. Segera larut bersama bacaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments