Aku sudah terbiasa sendiri. Sejak dulu, selalu seperti itu. Terkadang, sewaktu lelah menggelayut manja, aku merasa, "Ah, betapa menyedihkannya diri ini."
Kesendirian ini kadang membuatku muak, sunyinya keadaan malah memperkeras suara pikiran yang terus-menerus memojokkan diri. Ada kalanya aku merasa putus asa, merasa sangat buruk seharian tanpa sebab.
Aku menduga, penyebabnya adalah hati yang sudah mati rasa ini dipaksa berfungsi kembali.
Kadang pula, sekitarku menjadi sangat berisik, oleh cacian padaku dari berbagai arah, menghakimi tanpa mau mengerti. Mulut-mulut busuk dengan kepala tanpa otak yang selalu berlaku seenaknya itu, membuatku muak.
Kenapa pula orang-orang seperti mereka masih hidup? Kenapa tidak mati saja? Bukankan keberadaan mereka hanyalah sampah dunia?
Mereka bahkan tidak bisa didaur ulang. Tidak berguna.
Semua ini gara-gara laki-laki brengsek itu. Dia merubah semuanya.
Membuatku terkurung ... dalam penjara yang dibuat lidah orang-orang
"Hei, katanya Ayah dari Miko itu pejabat negara yang ketauan korupsi uang ratusan juta ya?"
"Hush! Orangnya lagi lewat, nanti denger!"
Bisikan-bisikan itu selalu memenuhi telingaku setiap hari. Mengembalikanku pada ... masa-masa yang membuatku ingin sekali mati.
Namun, disaat yang bersamaan, hatiku menghangat. Tatkala mengingat sepasang tangan lembut itu merangkulku, tatkala mata indah itu menangis untukku. Ia yang membuatku perlahan keluar dari zona hitam yang membungkus masa remajaku.
Ia membuatku sadar bahwa masih ada harapan bagiku ... dan Ibu.
Ini bermula saat aku duduk di bangku sekolah menengah pertama di tahun kedua.
Saat itu ... hujan tengah turun dengan deras. Sambaran petir terdengar beberapa kali disertai angin yang cukup dingin untuk membuat flu. Kala itu, aku tengah berteduh di halte bus, sendirian.
Kemeja putihku sedikit basah terkena tetesan air yang terbawa angin. Di saat aku sibuk menggerutui hujan yang tak kunjung reda, tiba-tiba kendaraan dari pihak berwajib berlalu di depanku dengan kencang. Disusul dua lainnya di belakang.
Aku tidak memedulikannya. Hingga, ponselku bergetar bersamaan dengan sambaran petir yang menyala di kejauhan. Aku kaget, reflek menonaktifkan ponselku, takut terkena sambar.
Hingga sekitar setengah jam kemudian, saat hujan sedikit mereda, kendaraan dari pihak berwajib kembali melintas. Aku hanya mengangkat bahu acuh. Beberapa saat kemudian, hujan sepenuhnya reda. Matahari bahkan kembali menampakkan sinarnya.
Aku akhirnya pulang setelah dua setengah jam di halte itu, sendirian. Di pertengahan jalan, aku teringat akan panggilan yang terpaksa kubungkam. Kembali menyalakannya. Lalu, belasan panggilan tak terjawab dari Ibu memenuhi bar notifikasi.
Akhirnya aku menelfon balik padanya, takut ada sesuatu yang gawat telah terjadi, dan, benar saja.
"Miko, kamu di mana? A-ayah kamu, Mik ...," Suara isakan yang bersaut-sautan terdengar, membuat detak jantungku semakin bertalu-talu. " ... ditangkap atas tuduhan korupsi uang negara sebesar 501 juta. M-miko—"
Tanpa sadar ponselku terjatuh, membentur trotoar dan jatuh ke genangan air.
Aku terkejut. Jelas saja, bagaimana bisa Ayah melakukan korupsi yang sebegitu banyaknya sedang kondisi ekonomi kami tidak berubah-berubah sejak dulu. Rumah kami bahkan masih di Griya biasa.
Saat itu, aku marah, berlari secepat mungkin menuju kantor kepolisian.
Tidak mungkin kan hal seperti itu terjadi? Ayah adalah orang yang dermawan, ia bahkan selalu bersyukur setiap hari. Pasti Ayah dijebak, bukan?
Pasti begitu.
Namun, begitu sampai di sana. Semua bukti terpampang nyata. Pada akhirnya, ia ditahan sembari menunggu kasusnya diproses oleh pengadilan.
Dengan semua harapan di waktu yang kutempuh dari halte ke kantor kepolisian, sayapku dipatahkan. Dihempaskan ke tengah lautan kekecewaan.
Aku bahkan tidak mau menatap wajahnya lagi.
Dadaku sesak ... Tuhan.
...***...
Malam harinya, aku menatap Ibu yang tertidur pulas dengan mata bengkak yang mengerikan. Napasnya bahkan masih sesegukan. Ibu pasti jauh lebih kecewa pada Ayah.
Aku menghela napas lelah. Walau sesak tak kunjung reda, aku harus tetap tegar. Agar Ibu cepat pulih.
Drrrt ... drrrt ....
Aku merogoh sakuku, ah ponselku kan sudah mati. Aku melirik ponsel Ibu yang tergeletak di atas nakas, tidak, bukan ponsel Ibu.
Aku mencari sumber getaran ponsel itu. Suara semakin menguat di dekat laci kedua. Aku membukanya, dan benar. Ada ponsel lagi di sana.
"Punya Ayah 'kan? Kok enggak dibawa juga?" gumamku pelan. Layarnya kembali berkedip dengan getaran dengan irama tertentu. Emoticon love merah dengan bling-bling alay tertera.
Perasaanku mulai tidak enak. Demi rasa penasaran yang mendera, aku menggeser icon hijau ke atas.
"Halo, Sugar Daddyy~"
Aku terkesiap, lantas menjauhkan ponselnya sedikit menjauh. Suara wanita, tidak, gadis remaja, sepertinya.
"Daddy, Lolan mau iPhane terbaru. Yang lama udah ketinggalan jaman. Ya, Daddy?"
"Daddy, kok diem aja? Lolan ngambek nih ya." Suara yang dimanja-manjakan itu membuatku mual.
Kepalaku memanas. Gigiku bergemelatuk, rahangku mengetat. "Jadi elo biangnya? Elo yang nyebabin semua ini?" Aku bertanya dengan suara rendah.
"Aaah, Dik Miko ya. Daddy sering nyeritain kamu loh." Suaranya bahkan terdengar menjijikkan di telingaku.
Mataku membeliak, kepalan tanganku membuat buku-buku jariku memutih, aku memukul permukaan laci, menghardik keras, "Lolan-Lolan tai! Sini lo, *****! Gue kulitin lo idup-idup! Bangsat!"
Klik.
Sambungan terputus.
Napasku terengah-engah. Aku berbalik, bergegas masuk ke kamar mandi. Mengguyur kepalaku dengan air dingin sebelum amarahku meledak tanpa kendali. Aku memejamkan mata sembari mengatur ritme napas.
Ayah sialan!
Prang!
Aku membuka mata secara perlahan, menatap buku-buku jari yang terkoyak bersamaan dengan pecahnya kaca fullbody di hadapanku.
"Miko?! Miko, kamu kenapa? Miko, buka pintunya!" Aku mendesah pelan. Aku membuat Ibu terbangun rupanya.
Kubuka pintu kamar mandi, membuat Ibu memekik pelan. Perlahan air matanya kembali turun, membuatku menggeram tanpa sadar.
"Kamu kenapa begini, Miko? Buka baju kamu, lihat, tanganmu juga berdarah. Miko enggak usah mikirin apa yang terjadi sama Ayah, Ibu yakin Ayah pasti dijebak. Tenang aja, Nak, Ayah pasti cepet keluar kok dari sana," ujarnya dengan penuh iba, membuatku semakin marah saja. Tentu saja pada laki-laki itu.
"Biarin aja ia mati membusuk di sana," ucapku pelan.
Namun, Ibu masih mendengarnya. Ia menamparku. Mengguncang-guncang bahuku, "Bicara apa kamu, hah?! Dia ayah kamu! Kamu enggak percaya sama ayahmu sendiri, hah?! Kapan Ibu ngajarin kamu enggak sopan begini, Miko?"
Tangisannya semakin deras. "Ayah enggak dijebak! Emang Ayah yang ngelakuin itu! Ibu tau kenapa kita bisa enggak tau hal itu? Karena Ayah selingkuh!"
Kulihat Ibu syok, tangannya tergerak menutupi bibirnya yang membuka. "Uang itu dia buat foya-foya diluar sana! Memacari perempuan muda yang memanfaatkan uangnya! Ibu kira selama ini Ayah pulang malam karena lembur?"
"ENGGAK! Dia muasin nafsu hewannya—"
Satu tamparan lagi mendarat di pipiku, saking kerasnya, aku bahkan tertoleh ke samping.
"Miko, cukup! Kamu udah keterlaluan! Atas dasar apa kamu berpikiran begitu pada ayahmu, hah?!" Nadanya meninggi, walau sedikit bergetar. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Ah, dadaku sesak. Sesak sekali.
Melihat Ibu yang begitu mempercayai laki-laki itu mdadaku mendidih. Bagaimana bisa wanita sebaik ini dikhianati?
"Bu ...," Aku mengusap pipi Ibu yang sedikit mengendur. "percaya sama Miko. Miko udah tau semuanya."
Pada akhirnya, pertahanan Ibu luruh. Ia memelukku yang masih memakai baju basah. Dengan lirih Ibu berkata, "Kalau gini, Ibu harus gimana, Miko?"
Kenapa harus begini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments