[1 - Afya: Revolusi Minor]

Lamat-lamat kutatap wajah laki-laki rupawan dengan dua tahi lalat kecil di bawah bibirnya yang kini tengah menunduk menatap buku di meja. Rambut hitam tebalnya jatuh menutupi dahi, wangi shampo miliknya yang terbawa angin. Tanpa sadar, kesadaranku telah melanglang buana.

“Afyaa, paham tidak, sih. Malah bengong gitu!” Aku tersentak kala laki-laki itu menegur, memasang cengiran, lalu berucap, “Maaf, Kak, hehe. Eum, tapi Afya udah paham kok. Bener deh!”

“Bener loh, ya! Nomor selanjutnya dikerjakan, aku mau ke kamar mandi sebentar,” ujarnya sambil bergegas pergi. Aku mengangguk saja.

Hari ini, hari libur biasa. Aku meminta Kakak untuk mengajariku materi yang akan dipelajari minggu depan. Tidak, bukannya aku suka belajar. Hanya saja, jika bersamanya, mabuk bilangan pun, aku sanggup.

Kenapa? Tentu saja karena aku menyukainya. Sebagai ... laki-laki.

Namanya Alden Ferdian. Ia bukannya kakak kandung atau kakak angkat, ia temanku. Hanya karena kami selisih empat semester, Mama menyuruhku memanggilnya Kakak.

Ah, aku harus mengerjakan bilangan eksponen ini atau ia akan berubah menyebalkan.

“Sudah?” Beruntung aku telah menyelesaikannya setelah Kak Alden kembali. “Ya, silahkan di cek,” kataku.

Tak lama, ia mengusak rambutku dengan lembut. Senyum non-manusiawi terbit di wajah rupawannya. Ah, tidak adil. Seketika rona-rona merah merebak di pipiku.

“Pinter! Berkat Alden yang tampan ini, kamu jadi semakin pintar! Eum ... sebagai hadiahnya, coba ganti ‘kakak” dengan ‘mas’ atau ‘kangmas’, bagaimana?” Bibirku berkedut geli. “Apa-apaan itu? Tidak mau, ah!”

“Masa demi Kakakmu yan tampan ini, kamu enggak mau?”

Aku menahan tawa melihat kenarsisannya yang sudah meledak. “Enggak logis Kak Alden, mah.”

“Sekaliii aja, Afyaa,” rengeknya lagi. Aku tidak mengerti dengan fetish laki-laki ini. Aku mengerutkan keningku sejenak, berpikir. Yah, sebenarnya tidak ada ruginya bagiku untuk menuruti permintaannya, hanya saja ... ini cukup memalukan.

“Ekhem, ee—eum ... Mas Alden.” Ini benar-benar menggelikan!

Aku mengangkat pandanganku saat dirasa tidak ada respon dari si pemberi perintah. Di depanku, ia terduduk mematung sembari memegang dadanya, matanya membulat penuh, bibirnya berkedut. “Uwahh! Emang, ya, yang kedaerahan itu mantap jiwa!”

Ia meraih bahuku, menepuknya sekali, “Mulai sekarang, panggil ‘Mas Alden’ aja, oke!”

Aku sedikit melotot, menggeleng dengan kekuatan penuh, “Tidak mau! Geli, tauu,” keluhku. Kak Alden mencebik pelan, menghela napas pasrah, “Iya, deh, iya.”

Ia menjangkau ponselnya yang tergeletak di meja, menyalakanya guna mengecek jam. “Wah, udah jam segini, aku pulang dulu ya.”

Ia bangkit, aku juga. Sebelum benar-benar pulang, ia kembali mengacak-acak rambutku hingga berantakan. Membuat rona merah menjalar dengan cepat di wajahku. Tepat setelah pintu tertutup, aku meloncat-loncat ria, berguling-guling di kasur sembari menggigiti bantal. Tidak adil, efeknya ternyata sekuat ini.

Tak kusangka, itu adalah kenangan terakhir bersamanya sebelum sesuatu terjadi.

Malam harinya, malam yang sudah benar-benar larut, aku belum juga terlelap. Mama dan Papa belum juga pulang. Aku ... sendirian. Namun, saat aku akhirnya mulai terlelap, kegaduhan terdengar di depan.

Diawali suara mobil yang masuk ke bagasi, dobrakan pintu, serta dentingan hak sepatu dan marmer yang beradu keras. Serta, perdebatan. Lagi. Hal yang sama sudah terjadi berturut-turut selama seminggu terakhir. Hanya kerena sudah larut malam, bukan berarti mereka bisa bebas membuat kericuhan. Manusia memang makhluk egois, menambah rasa muak saja.

Kali ini gebrakan meja dan pecahan gelas terdengar lebih keras dari malam-malam sebelumnya. Sepertinya, pertikaian ini sudah mencapai puncaknya. Aku beranjak membuka pintu dengan boneka beruang coklat di pelukanku.

“Dari mana saja kamu sampai pulang selarut ini, hah?!” Bentakan Papa membuat bulu kudukku berdiri. “Untuk menunjukkan kalau bukan cuma kamu saja yang bisa selingkuh!” Mama memanaskan suasana.

“Enggak usah ngasih alibi yang enggak jelas sumbernya begitu!”

“Terus, ini!” Suara kertas berhamburan terdengar sayup, “Foto ****** perempatan mana ini?! Udahlah, capek aku begini terus! Pisah ajalah kita!”

Aku yang berdiri di balik tembok ruang keluarga, sedikit membeku.

“Yaudah kita pisah aja! Besok aku kasih surat cerainya! Sekalian ngurus hak asuh Afya!” Papa mengambil suara. Aku mencengkram lengan boneka beruang dengan erat, seolah tengah menyalurkan emosi yang ikut menumpuk di dada.

Aku akhirnya menampakkan diri dengan bonekaku yang menggelantung di tangan kiri. Tanpa kusadari, mulai saat itulah aku tak lagi bebas berekspresi. “Tidak perlu,” ujarku pelan. Seperti dugaan, mereka terkejut dengan kedatanganku.

“Aku—aku akan hidup bersama Nenek.” Aku harus bisa mengambil pilihan yang tidak akan kusesali nantinya.

Alis-alis Mama bertemu, “Apa? Tidak bisa, Afya! Kamu akan bersama Mama!”

“Enggak! Afya itu anak perempuan, harus bersama papanya!” Papa mencoba mengambil bagian.

Sejujurnya, tanganku mengepal hingga buku-buku jariku memutih. Dapat kurasakan bahwa tubuhku bergetar karena emosi. Aku menatap ujung sepatu Mama, “Egois sekali,” cibirku pelan.

Atensi mereka kembali teralih padaku, “Apa?”

“Seenaknya saja memutuskan tanpa mempedulikan aku sebagai anak kalian! Apa Mama dan Papa tau? Jika sejak awal Mama dan Papa selalu memikirkan perasaanku, hal-hal memuakkan begini tidak akan pernah terjadi!” Aku menggigit bibirku kuat. Dadaku berdegup kencang, pertama kalinya aku melawan.

“Setidaknya, kali ini, hargai permintaanku. Aku ingin hidup dengan Nenek saja.” Aku menarik napas, “Setidaknya Mama dan Papa bisa memenuhi kebutuhan sehari-hariku agar tidak membebani pada Nenek.”

Mama hendak menjangkauku, namun aku lekas berbalik. “Afya ....”

“Dan, selamat malam. Tolong jangan berisik agar tidak mengganggu tetangga.” Aku segera berbalik, berjalan memunggungi mereka yang diam terpaku. Selepas menutup pintu kamar, aku ambruk di dalamnya. Meringkuk di lantai berselimut karpet berbulu.

Di antara kekalutan ini, wajah Kak Alden nampak samar-samar. Apa yang harus kulakukan, Kak?

Aku menatap boneka beruang yang tergeletak begitu saja di depanku, si saksi bisu atas kejadian malam ini. Saksi atas rasa sesak yang tak bisa meluap agar segera pergi.

Aku terkekeh miris, “Menyedihkan.”

...***...

Keesokan harinya, mereka tetap sarapan bersama seolah tak terjadi apa-apa. Menyapaku dengan senyuman lebar walau sepintas tatapan mereka menyorot sendu. Seolah ada gejolak kesedihan yang mendalam. Sebenarnya, apa yang membuat mereka seperti itu?

“Afya, sini sarapan dulu.” Mama mengajakku dengan senyumannya, matanya sedikit menyipit karena sembab. Aku tersenyum tipis, “Enggak dulu, Ma. Afya mau ke tempat Kak Alden, mau pamitan.”

“Afya ...,” Papa menghela napas pelan, “setidaknya untuk sarapan bersama yang terakhir kalinya.”

Benar juga. Akhirnya, aku ikut mengambil tempat di tengah-tengah mereka. Namun, mau sebagaimana pun Mama membuatnya, tetap terasa hambar bagiku. Sesak lagi. Membuatku muak saja.

Tak berapa lama, aku beranjak. “Afya selesai. Terimakasih atas makanannya.” Langkahku terhenti sejenak, “Afya mau ke tempat Kak Alden dulu. Tas Afya masih ada di kamar,” ujarku pelan.

Aku bergegas pergi sebelum kebulatan tekadku berubah. Berjalan dengan berat hati menuju taman bermain yang dijanjikan. Dari jarak empat meter, siluetnya mulai terlihat. Aku merapikan rambut panjangku yang terhembus angin.

“Kak Alden,” panggilku.

Terpopuler

Comments

art_zahi

art_zahi

Aku suka banget sama karakter tokoh utamanya, semoga nanti ada kelanjutannya lagi!

2023-07-28

1

Eva Castillo

Eva Castillo

Wuihh! Simpel tapi menghibur banget ni novel.

2023-07-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!