Pada akhirnya, mereka tiba di pantai saat matahari mulai condong ke arah barat. Pengunjung lain sudah angkat kaki, membawa tas-tas dan barang bawaan, sisa tiga-empat orang yang masih menikmati segarnya air laut. Miko menggelar tikarnya di bawah pohon, agak jauh dari deburan ombak. Kata Afya tak masalah, toh dia hanya ingin menikmati deru angin dan bau air lautnya.
Duduk dalam sepi sambil selonjor kaki, angin menerpa, menerbangkan helaian rambut.
“Mik, lo tau nggak si?” Afya mengambil jeda sebelum melanjutkan. Miko malah keburu menggeleng dengan raut polos, “Nggak.”
Afya mendengus. “Gue paham rasanya jadi adik tadi di Mixue. Betapa muaknya denger debat nggak guna dari orang tua, apalagi setiap hati. Rasanya pengen kabur aja dari rumah.”
“Ngerasa liat cerminan diri lo di bocah tadi?” sahut Miko, memandang wajah Afya dari samping. Afya menganguk dengan pandangan lurus ke depan, menatap ombak yang menggulung.
“Sebelum pisah, orang tua gue ya gitu. Kerja dari pagi sampe malem, pulangnya berantem. Ngira gue udah tidur, padahal suara mereka yang berisik itu ganggu banget. Gue ya sempet mikir, mereka nggak cape kah, baru pulang kerja lanjut berantem?” Gadis itu mengambil napas sejenak. Miko masih diam mendengarkan, masih setia menatap wajah Afya dari samping.
“Beruntung kasus adik tadi ortunya cuma berantem karena uang, meskipun sama-sama nggak baik. Lah orang tua gue, berantem masalah selingkuhan.”
Afya menoleh dengan raut jenaka, “Dan lo tau apa yang lucu?”
“Mereka nggak ada yang mau kalah. Papa ketauan selingkuh, Mama bales selingkuh juga. Semakin sering pulang di atas jam 12 malem, semakin sering juga gue nggak bisa tidur. Akhirnya, mereka milih pisah. Demi kebaikan semuanya, alibinya. Padahal biar bisa bebas aja main di luar sana.”
“Puber kedua emang serem sih,” sahut Miko. Raut wajahnya berubah rumit beberapa detik sebelum ia ubah menjadi datar. Afya yang sempat memerhatikan perubahan itu lantas menyahut, “Nah, bener banget.”
“Tapi sebelum pisah, Mama bilang, semoga gue nggak ngikutin jejak dia sama Papa. Semoga dikasih orang yang emang cocok sama dia, cocok dari segi segalanya. Papa juga ngedoain hal yang sama. Karena, dasarnya tuh hubungan mereka yang toksik, bukan sama gue.”
“Ya pasti, Afya, mana ada orang tua yang pengin anaknya ngikutin jejak nggak baik mereka. Setiap orang tua, pasti pengin anaknya lebih baik dari mereka.”
Afya manggut-mangut, “Iya juga sih.”
“Lo pernah bilang kalo alesan lo tinggal sendirian biar adil buat mereka, kan? Ada alesan lain nggak?” tanya Miko. Afya melengos, kembali menatap hamparan ombak yang menggulung. Titik-titik kecil di kejauhan; entah kapal atau perahu.
Lantas gadis itu mengangguk pelan, “Gue takut. Semisal gue tinggal sama Mama atau Papa, trus suatu hari, tanpa sengaja, pacar mereka dateng. Itu situasi yang pengin banget gue hindarin. Gue nggak tau harus pasang muka gimana, atau bersikap kayak apa.”
Miko terdiam, membenarkan dalam hati. Itu situasi yang rumit bagi seorang anak.
“Jadi gue milih tinggal sendiri. Gue harus mandiri, apapun yang terjadi. Gue ... gue capek berurusan sama mereka. Gue milih menjauh, ketemu Cuma satu-dua hari dalam sebulan.”
“Tapi lo nggak papa? Maksudnya, lo baik-baik aja sendiri?” Kepala Afya tertoleh, sedikit menatap ragu pada Miko, tapi ia menyahut, “Gue baik-baik aja kok.”
Tatapan Miko berubah mengintimidasi. Membuat Afya ciut. Lantas saja gadis itu menghela napas panjang.
Bibirnya mengukir senyum tipis. “Sayangnya gue ‘harus’ baik-baik aja.”
“Gue kira, gue bakal sendirian, Mik. Sampe elo dateng. Makanya, gue bersyukur. Seenggaknya lo dateng buat ramein hidup gue,” ujar Afya, cengirannya makin lebar.
Miko mendengus geli, tak menyangka jika cerita menyesakkan tadi berbelok drastis. Membangkitkan kepak kupu-kupu di perut Miko yang tadinya damai.
“Bisa aja lo, Kelinci Polkadot.”
Keduanya kembali memandang lurus pada ombak yang menggulung di depan, karpet biru yang membentang jauh.
“Mik, langitnya cakep,” cetus Afya. Miko mengangguk.
Hamparan latar biru dengan awan yang berarak terlihat sepanjang mata memandang. Bagi sebagian orang, melihat langit yang indah adalah suatu anugerah. Penyembuh bagi suatu penyakit. Melegakan dada yang sesak.
“Mik, kenapa langit warnanya biru?”
Seharusnya Miko tak lagi heran jika Afya melemparkan pertanyaan random. Namun—haaahh, Miko menghela napas panjang. Nampak tertekan dengan pertanyaan Afya.
“Nggak tau, coba cek gugel.”
Afya mencebik sebal. Apa boleh buat, Miko memang tidak tau alasan langit berwarna biru.
Mereka terus membicarakan hal-hal random lainnya. Konspirasi-konspirasi bumi, konstelasi bintang, misteri lautan. Melompat dari satu topik ke topik lainnya dengan lembut. Hingga matahari tumbang di langit barat, kemilau emasnya menerpa Afya dan Miko yang beralih meniti garis pantai dengan sendal di tangan.
“*Sunset*-nya cantik. Fotoin dong, Mik,” pinta Afya sambil menyerahkan ponselnya. Miko pasrah, memotret Afya dengan latar latar jingga. Foto terakhir, Afya meminta foto bersama—masih dengan latar sunset di belakang.
“Udah?” tanya Miko. Afya mengangguk.
“Ayo pulang,” ajak laki-laki itu. Afya mengangguk, menyelipkan jemarinya di antara jemari Miko.
Bersama Miko memang begitu. Menyenangkan, Afya bisa membicarakan apapun tanpa dipandang aneh.
...***...
“Mampir dulu, Mik,” ajak Afya, segera setelah turun di depan gedung apartemennya. Miko menggeleng, masih berada di atas jok motor. “Nggak usah, Mama lo mau dateng kan? Jadi gue langsung pulang aja. Mungkin lain kali gue bisa kenalan sama Mama lo,” tutur laki-laki itu.
Afya mengangguk saja, menatap Miko yang mulai menjauh. Melangkah masuk sambil bersenandung kecil.
Mereka sampai saat langit sudah gelap, lampu-lampu jalanan hidup, berkerlap-kerlip indah jika dilihat dari kamar Afya yang terletak di lantai 3.
Afya tak segera mandi, ia membaringkan punggungnya yang terasa nyeri di ranjang. Rasa hangat menjalar, membuat nyaman. Detik selanjutnya, bibir gadis itu mengembang. Ia merasa senang.
Beberapa saat kemudian, saat ia hampir terlelap, ponselnya berdering. Sontak ia mengerjab-kerjab pelan, kembali memperoleh kesadaran.
“Halo?” sapanya dengan suara serak, ia tidak sempat melihat nama si penelpon. Paling Mamanya atau Miko.
“*Jangan langsung tidur, sana mandi dulu. Make air anget aja*.” Suara Miko terdengar. Afya terkekeh pelan, tebakannya benar.
“Iyaa. Tadi tiduran bentar, nggak tau kalo bakal tidur beneran.”
“*Mama lo belum dateng*?”
“Belum, paling bentar lagi,” sahut Afya. Detik berikutnya, bel apartnya ditekan. “Nah, itu dia. Gue tutup dulu ya, Mik.”
“*Iya*.”
Afya menyahut, segera membuka pintu. Sosok ibunya segera menyambut mata. Segera mempersilakan masuk, beruntung apart Afya tak terlalu berantakan.
“Kamu baru pulang, ya?” Ibunya—Karina—mendudukkan diri di sofa, tasnya diletakkan di meja.
Afya mengangguk, melangkah ke dapur untuk membuatkan minuman. “Teh atau kopi, Ma?”
Karina memandang putrinya lekat, seolah tengah menyelidik sesuatu. “Kopi aja,” jawabnya kemudian.
“Boleh Mama tau kamu main sama siapa seharian ini?” tanya Karina hati-hati. Tangan Afya yang menuangkan kopi instan terhenti, mendongak—menatap sang Mama.
Afya kembali menunduk, melanjutkan membuat kopi. Tidak menjawab untuk beberapa saat.
“Pacarmu ya?” tebak Karina. Afya terkesiap, tak sengaja menjatuhkan sendok kopi.
“Nggak boleh ya, Ma?” tanya Afya pelan, memandang Karina sedikit cemas.
Beberapa saat senyap. Afya lekas berpikiran buruk, bagaimana jika ia tidak boleh berhubungan dengan laki-laki?
Namun, gelak tawa Karina membuyarkan kecemasan Afya.
“Itu kan hak kamu, Afya, kenapa Mama harus ngelarang? Asal kamu paham sama batas-batas norma, moralitas, nggak papa kok. Mama nggak keberatan.”
Afya mencebik sebal, diam-diam menghela napas lega. “Respon Mama gitu sih, Afya kira bakal dimarahin.”
“Nggaklah, Afya kan udah besar. Tau mana yang bener sama yang salah. Cuma, kapan-kapan, Mama pengin ketemu sama pacarmu, ya?” Tawa Karina tersisa di ujung. Menerima secangkir kopi panas dari Afya.
“Iyaa.”
“Orangnya gimana? Baik sama kamu kan? Nggak suka ngomong kasar kan? Atau pernah kasar sama kamu? Wajah mah setelahnya, attitude itu nomor satu, ngerti?” cerosos Karina. Afya menyeringai.
“Baik, Ma. Nggak kasar juga orangnya. Nanti Mama pasti suka deh.”
Malam itu, Karina menginap di apart Afya. Bercerita tentang pacar Afya; Miko—yang mendadak bersin-bersin di rumahnya—pun beberapa tentang sekolah, kerja, atau kegiatan lainnya.
Meski tadi siang Afya berkata ingin memberi jarak pada orang tuanya. Namun, tak ia pungkiri bahwa mengobrol banyak hal dengan Karina terasa menyenangkan juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments