Minggu Miko dijalani di apartemen Afya tanpa alasan yang pasti. Ia hanya menerima undangan dari gadis itu dan langsung meluncur. Begitu sampai, Afya masih rebahan di atas sofa depan televisi yang menampilkan makhluk kotak kuning berlubang-lubang ditemani kentang goreng dan kola di meja.
Miko menatap malas pada gadis itu sejenak, lalu bergabung lesehan di karpet bulu dekat Afya, menyandarkan punggungnya pada kaki sofa.
“Gue kira lo mau ngajak jalan,” celetuk Miko, mencomot kentang goreng, ikut menonton televisi.
“Awalnya gitu, tapi nggak jadi. Gue mager.” Mendengar respon yang sudah ia duga, Miko hanya melirik sebal pada Afya yang fokus pada layar.
“Lo udah sarapan?” tanya Miko, melirik Afya yang mengangguk. “Pesen nasi goreng tadi,” jawabnya.
Mendengarnya, Miko mendengus, “Nasi goreng buat sarapan?” Afya terdiam, berganti duduk, menatap serius pada Miko, “Kenapa?”
Miko mengerutkan dahi, “Nggak papa, kali. Gue nggak tau,” ujarnya. Afya mencebikkan bibir, menggerutu, “Gue kira bahaya apa kenapa gitu, udah was-was tadi.”
Miko menatap Afya datar, “Iya, bahaya, nanti bisa meledak perutnya.” Siapa sangka candaannya dianggap serius oleh gadis yang masih memakai piyama itu. Afya sudah mendelik, memegangi perutnya.
“Kenapa bisa?” Rautnya serius sekali, Miko saja sampai mati-matian menahan tawa. Lantas laki-laki itu berucap tak kalah seriusnya, “Kalo lo makan sewajan penuh, nanti perut lo meledak.”
Sadar tengah dikerjai, Afya melayangkan geplakan pada punggung Miko sementara laki-laki itu tertawa begitu renyahnya.
Kegiatan mereka berganti, masih membiarkan televisinya menyala, keduanya malah sibuk dengan ponselnya masing-masing. Kadang Afya tertawa, menunjukkan video lucu yang ia temukan di beranda sosmed pada Miko, membuatnya ikut tertawa. Kadang sebaliknya, Miko menunjukkan video yang menarik pada Afya.
Kegiatan itu berlangsung agak lama. Satu jam lebih. Hingga video makanan di layar ponsel Afya membuat gadis itu meneguk ludah. Ia mencolek-colek Miko yang telungkup di karpet. Menurunkan layar ponselnya ke depan wajah Miko.
“Pengen kerupuk bantet, Mik,” cetus Afya kemudian. Miko menoleh—sedikit mendongak—saat Afya menarik ponselnya lagi, balas menyahut, “Mau beli?”
Afya menggeleng, mengusulkan ide yang lebih ‘wah’. “Buat aja, yuk!”
Karena saran itulah, Miko dan Afya kini berada di tengah pasar tradisional untuk mencari kerupuk tersanjung mentah—kerupuk yang bentuknya kecil seperti koin, berwarna putih dengan pinggiran warna-warni. Tanpa sengaja, sama-sama memakai jeans selutut dengan hoodie yang beda warna.
“Lo ngikutin gaya gue, ya?” tuduh Miko begitu Afya selesai berganti sebelum berangkat tadi. Afya masih loading. Belum ngeh pada style dirinya dan Miko yang sama. Lantas menepuk kepalan tangan pada telapak tangan.
“Nggak sadar gue, Mik. Serius, kok bisa ya?” Gadis itu malah heran sendiri.
Kembali pada saat ini, Miko dan Afya celingukan menatap pasar yang masih ramai walau hari mulai siang. Miko mengangkat telapak tangan kirinya, menghadap atas, Afya menyambutnya. Menempelkan telapak tangan kanannya pada milik Miko.
“Biar nggak ilang,” kata Miko. Afya cuek saja. Mengikuti langkah Miko yang kadang terlihat ragu.
Selesai membeli kerupuknya, Miko bertanya, “Apa lagi yang dibutuhin?”
Afya menghitung dengan jari-jarinya, “Bubuk cabe kering, daun jeruk, penyedap rasa? Kayaknya itu aja.”
Miko mengangguk, kembali mengelilingi pasar mencari bahan yang tersisa. Sementara Afya menatap tautan tangan mereka dengan rumit, rasa hangat di tangannya menjalar hingga wajah, dadanya berdegup lebih cepat. Tanpa sadar, ia menyemai senyum tipis.
...***...
“Gue nggak yakin, itu beneran begitu?” Miko bertanya setengah tidak yakin pada Afya yang juga memandang ragu pada kerupuk tersanjung yang kini tenggelam dalam minyak dingin. Kompornya belum dinyalakan.
“Tapi di tutorial, bener begini kok, Mik. Coba deh mulai nyalain kompornya,” cetus gadis itu, memperlihatkan layar ponselnya sejenak. Miko akhirnya mengangguk, mulai menyalakan kompor dalam api sedang.
“Diaduk-aduk, Mik.” Miko menurut, mengaduk-aduk genangan minyak yang mulai memanas. Setelah beberapa saat, setelah dirasa cukup, Afya menyuruh Miko untuk meniriskannya terlebih dulu.
Sembari menunggu tiris, Miko mengintip layar Afya yang menayangkan pembuatan bumbu kerupuk bantetnya. Mula-mula kasih sedikit minyak di wajan, lalu tuang bubuk cabe, penyedap rasa dan irisan daun jeruk ke wajan. Lalu disusul kerupuk yang sudah digoreng ke minyak dingin, aduk-aduk sampai tercampur rata.
Sekali lihat, Miko langsung hafal. Ia mengiris tipis-panjang daun jeruk, lalu mencincangnya. Menyisakan sedikit minyak di wajan yang tadinya dipakai menggoreng kerupuk, menyalakan kompor api kecil dan menumis bumbunya sebentar.
Bau bubuk cabe menyengat kuat. Keduanya terbatuk-batuk dengan mata berair.
“Tunggu di depan, Afya, perih,” suruh Miko. Afya hanya sedikit menjauh, menatap dari belakang tangan lincah Miko yang mulai memasukkan kerupuknya ke dalam wajan lalu mengaduknya dengan sebelah tangan menutupi hidung.
Segera setelah kompor dimatikan, bau menyengat bubuk cabe perlahan hilang. Afya mulai mendekat lagi, kali ini dengan mata berbinar.
“Wadahnya mana?” tanya Miko, gadis itu segera mengambil toples kaca. Lalu dipindahkannya kerupuk dari atas wajan ke toples.
“Lo bagian bersih-bersihnya, ya. Gue minjem kamar mandi bentar,” ujar Miko, lalu melenggang pergi setelah Afya mengangguk.
Tidak Afya sangka ternyata Miko lumayan mahir dalam memasak. Nanti ia akan meminta laki-laki itu untuk mengajarinya memasak. Tentu saja untuk dirinya sendiri.
Selesai, Afya membawa toples kaca yang sudah terisi hasil karya mereka ke depan televisi. Tak lama Miko datang dengan wajah segar habis mencuci wajah. Matanya masih sedikit merah. Ia mendudukkan diri di sebelah Afya yang lesehan di karpet bulu, memerhatikan gadis itu yang mulai mencomot satu keping kerupuknya.
“Gimana? Sesuai ekspektasi?”
Afya mengangguk semangat, mengambil satu keping untuk disuapkan pada Miko. Tidak terlalu buruk, malah cukup dibilang berhasil, pikir Miko.
“Mik, lo emang pinter masak, ya?” Miko terdiam sejenak, mengunyah kerupuk yang suaranya agak satisfying.
“Agak, sih. Gue suka bereskperimen di dapur,” jawabnya. Afya menganggut-manggut saja. Beberapa saat hening melanda, hanya suara kunyahan memenuhi ruangan.
“Udah telat sih, tapi, lo tinggal sendirian?” tanya Miko sambil mengedarkan pandangan pada furnitur apart Afya yang minimalis dan enak dilihat.
“Iya. Ortu gue pisah, tapi gue lebih milih tinggal sendirian biar adil buat mereka. Kece nggak tuh?”
Miko mencibir mendengar candaan Afya di akhir kalimat, “Kece banget, asal nggak sembarangan keluar malem kalo bukan urgent. Minimal kalo mau keluar bareng temen, atau ngabarain gue,” ujarnya dengan raut lempeng. Padahal Afya sudah kesusahan menahan senyum.
“Aduh, perhatiannya sayangku,” goda Afya, tangannya gatal mengelus rahang Miko bak anak kucing. Miko mendengus geli, menghentikan tangan Afya dalam genggamannya. Gadis itu seketika ciut, berganti menyandarkan kepala pada bahu kokoh Miko.
“Mik ....”
“Hm?”
“Semisal nanti, ada kesempatan buat lo maju—kembali merjuangin cinta lo, apa yang bakal lo lakuin?” Miko terdiam sepersekian detik. Toples kaca telah ditutup setelah isinya tinggal separuh. Langit biru dengan bingkai awan terlihat dari jendela apart Afya. Hanya dengung AC yang terdengar.
Helaan napas keluar dari bibir tipis laki-laki itu, lantas bergumam, “Nggak tau. Tergantung juga, sih. Gue masih cinta sama dia apa udah berpaling, itu kan nggak ada yang tau.”
Jawaban yang logis.
“Kalo elo, Afya?” Kini giliran Afya yang diam termangu. Detik jam terus ia perhatikan.
“Gue orangnya mudah goyah, Mik. Semisal nanti gue beneran udah move on dari dia, berpaling ke elo. Jaga gue ya, Mik,” tuturnya pelan, sedikit mengambil jeda sebelum melanjutkan, “kalo sampe nanti gue kehilangan elo cuma gara-gara perasaan fana, segera sadarin gue.”
Miko terkesiap, perutnya terasa geli—seolah ada rkepak kupu-kupu di sana—tak urung rasa senangnya membuncah di dada.
Demi mendengar kalimat tak berdaya yang terdengar manis itu, Miko meraih dagu Afya. Lalu, dua celah wajah itu saling mengisi, bibir atas bibir. Kecupan pertama yang terasa sedikit pedas karena cemilan yang mereka makan tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments