Weekend ini Afya mengajak Miko menonton film yang Afya ingin tonton sejak lama. Sekalian belanja beberapa hal. Miko mengiyakan saja. Lantas saat hari yang dijanjikan tiba, ia menyalakan mesin motornya untuk menjemput Afya.
Ia memakai kaos putih dengan corak simbolis berwarna abu-abu dan hitam di dada, celana di bawah lutut dan jaket hitam yang resletingnya tidak dipasang.
Begitu tiba di halaman apartemen, ternyata Afya sudah menunggu. Tumben-tumbenan memakai memakai celana jeans panjang dengan atasan blus bunga-bunga. Tas slempang mini yang terlihat simpel, oh, jangan lupakan rambutnya yang dihiasi jepit-jepit lucu.
Senyumnya mengembang begitu Miko berhenti di depannya.
“Dari tadi nunggunya?” tanya Miko. Gadis itu menggeleng, “Baru turun,” jawabnya kemudian.
Lantas segera mengambil tempat di jok belakang, merangkul pinggang Miko—berpegangan—lalu kembali melaju dengan kecepatan normal. Jalanan sedikit ramai, beberapa pemuda-pemudi nampaknya memiliki rencana yang sama dengan Miko dan Afya—yaitu; berkencan. Kelihatannya begitu.
Beberapa pasangan muda menyalip sambil berbonceng mesra. Kadang ada satu-dua keluarga, sepasang teman juga terlihat hendak menikmati akhir pekan.
Dengan senyum tak luntur—yang beberapa kali dilirik Miko dari spion—Afya menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya pelan. Ah, bau solar mengisi penciumannya. Senyum Afya segera luntur, mukanya menjadi masam, menatap sebal pada mobil di depan. Ia benci bau solar, membuat mual saja!
Salahnya sendiri mengambil napas dalam-dalam di tengah lautan polusi kendaraan.
Miko baru mengetahui film yang ingin dilihat Afya adalah film horor. Ia menatap gadis itu tidak percaya sejenak. Namun Afya malah menyeringai—entah apa artinya.
Pada akhirnya Miko tau, Afya itu penakut yang menyukai film horor. Sesekali memekik kaget kala ada adegan ngeri atau jumscare, meremas lengan jaket Miko dengan erat. Miko tidak terlalu fokus menonton, Afya mengganggu konsentrasinya. Namun tidak mengapa, melihat Afya malah lebih seru.
Raut yang kerap tanpa ekspresi atau malah sayu itu kini sedang semangat-semangatnya mengganti ekspresi dengan cepat. Dari antusias menjadi meringis, kaget, mengernyit bingung atau takut. Satu-dua kali Miko kelepasan tertawa. Membuat Afya yang dongkol segera memelototinya.
“Mik, laper,” adu Afya segera setelah keluar dari bioskop. Miko melirik gadis di sebelahnya.
“Mau makan apa?” tanya laki-laki. Afya yang mengayunkan tautan tangan mereka seketika berhenti, berpikir sejenak. “Nggak kepikiran, terserah Miko aja deh,” ujarnya kemudian.
Akhirnya mereka memantapkan tujuan pada warung soto ayam di dekat pertigaan. Melangkah masuk sambil sesekali mengobrol. Mengambil tempat di meja kanan-tengah setelah mengucapkan pesanan. Warung itu tidak terlalu ramai, juga tidak terlalu sepi.
“Abis ini mau ke mana?” Miko bertanya pda Afya yang menyeruput es teh. Gadis itu mendongak, mengernyitkan dahi sejenak, lantas bertanya, “Pantai terdekat dari sini berapa jam?”
“Sekitar 1,5 jam-an, mau ke sana?”
Afya mengangguk, kembali menyeruput es teh. Sesekali dahinya mengerut kala merasa ‘otaknya beku’. Miko tertawa pelan melihatnya, ikut menyeruput es teh. Tak lama, pesanan mereka datang. Dua mangkok soto ayam.
“Abis ini langsung ke sana atau pulang dulu buat ngambil baju ganti?” tanya Miko lagi, Afya menggeleng dengan mulut penuh.
Menelan kunyahan, Afya menyahut, “Langsung aja, gue nggak mau berenang kok.”
“Oh, kirain bakal berenang.”
“Orang gue nggak bisa berenang. Dulu pernah, praktek renang di kolam, gue hampir kelelep. Untung cepet ditolongin,” curhat gadis itu, Miko yang menyeruput kuah soto ayam hampir tersedak. Ia mengambil dua lembar tisu, mengelap bibirnya.
“Separah itu?” Suara Miko terdengar menahan tawa. Afya mendongak, memandang sebal. Ia menjawab pendek, “Iya.”
Mangkok-mangkok telah habis menyisakan sedikit kuah pada permukaan bawah. Mereka ganti menyeruput es tes yang es batunya mengecil. Lantas berdesah lega. Perut mereka telah terisi penuh, kenyang. Saatnya pindah ke tujuan berikutnya.
Persis saat Miko membayar tagihan soto mereka, ponsel Afya berdering. Mamanya tumben-tumbenan menelpon di jam segini. Mengangkat bahu, Afya menggeser icon hijau ke atas. Mendekatkan ponselnya pada telinga.
“Halo, Ma?” sapanya. Melihat Afya yang menerima telpon, Miko membawa gadis itu menyingkir dari tengah jalan. Menepi sejenak di dekat sepeda motor Miko.
“*Kamu lagi keluar*?” Suara Mamanya terdengar, Afya reflek mengangguk—lupa jika media mereka hanya suara.
“Iya. Kenapa?”
Terdengar helaan napas di seberang, “*Mama ke apart kamu, taunya nggak ada kamu. Salah Mama juga nggak ngabarin kalo mau dateng, sih*.”
“Loh, sekarang Mama masih di sana? Afya pulang aja kalo gitu,” sahut Afya cepat.
“*Nggak usah. Kamu keluar buat refreshing ‘kan? Nanti malem aja Mama balik lagi*.”
“Yaudah, sampai ketemu nanti malem, Ma.”
“*Iyaa*.”
Lalu sambungan terputus. Gadis itu memasukkan ponselnya kembali pada tas. Lantas menatap Miko yang juga menatapnya.
“Kenapa?” tanya laki-laki itu.
“Mama ada di apart, tapi kita nggak papa lanjut aja, dia bakal balik lagi nanti malem katanya,” jawab Afya, kembali mendudukkan diri di jok belakang, menyelipkan tangannya di pinggang Miko. Lantas motor Miko bergerak dengan kecepatan normal.
“Bener nggak papa? Apa kita pulang aja? Kita bisa ke pantai lain kali, kan.”
Afya menggeleng di belakang. “Nggak usah. Mama ngerti kok tadi, kalo gue keluar buat nyari udara.”
“Yaudah.”
Beberapa saat hanya deru kendaraan yang terdengar, sesekali berhenti pada lampu merah. Meski tergolong penduduk baru di kota ini, Miko lebih hafal banyak jalan yang penuh kelokan daripada Afya. Tanpa bermodalkan aplikasi penunjuk jalan yang kadang sesat.
Perjalanan satu setengah jam itu cukup untuk membuat pantat terasa panas karena terus-terusan duduk. Setelah 45 menit berlalu, Afya mulai merasa punggungnya nyeri, pantatnya sedikit mati rasa. Ia mengeluh dalam hati.
“Mik! Ke Mixue dulu!” Afya menepuk pundak laki-laki di depannya yang langsung sigap menepikan motor di dekat tempat yang ditunjuk Afya.
Begitu turun, Afya langsung merenggangkan badannya, mengerang pelan. Tidak peduli jika ditatap oleh beberapa pasang mata.
“Ayo,” ajak Miko yang diangguki Afya. Mulai memasuki toko.
Demi melihat *soft cream* di depan mata, Afya tersenyum begitu lebarnya—menularkan senyum itu pada Miko yang memandangnya gemas.
Tak lama kemudian, saat keduanya sibuk menghabiskan *soft cream* sesegera mungkin agar lekas melanjutkan perjalanan, seorang bocah laki-laki tiba-tiba mengambil tempat di samping Miko yang kosong. Membuat dua sejoli itu bertukar pandang bingung. Siapa?
Tanpa penyebab yang jelas, bocah yang tiba-tiba bergabung dengan mereka itu, menyangga dagu lantas menghela napas panjang. Sekali lagi, Miko dan Afya bertukar pandang, berkedip pelan.
“Andai aja Papa sama Mama bisa akur kayak kakak-kakak ini,” desah bocah itu, kembali menghela napas.
“Adik kenapa?” Akhirnya Miko memutuskan untuk bertanya, dari pada menebak bingung.
“Nggak papa. Aku udah biasa lihat mereka berantem.” Sekali lagi, Miko dan Afya berpandangan.
“Padahal sekarang hari libur, aku bangun agak awal, pas diluar masih gelap. Gara-gara Mama berantem lagi sama Papa. Berisik banget. Kali ini berantem soal uang, biasanya memang soal uang sih. Tapi kadang, soal Nenek yang judes sama Mama, atau Paman yang iseng minjem barang Papa tanpa ijin. Aku aslinya udah nggak heran lagi, tapi loh, hari ini tanggal merah. Kenapa kalo berantemnya berhenti dulu? Nggak capek apa setiap hari ada aja yang diributin. Karena aku capek, aku pergi ke rumah Nenek yang satunya—bukan yang judes itu.” Bocah itu mulai bercerita panjang lebar. Namun baik Afya maupun Miko mendengarkan dengan seksama.
Hati Afya mencelos, ia tau rasanya mendengarkan pertengkaran yang tak ada hentinya. Itu menyesakkan, sekaligus melelahkan.
“Oh, ya? Apa kamu pernah kena pukul sama Mama atau Papamu, Dik?” Afya bertanya, memandang bocah itu sedikit lebih bersahabat.
Melihat gelengan bocah itu, Afya diam-diam menghela napas lega.
“Paling dimarahin doang abis aku laporin mereka ke Nenek,” jawabnya. Afya mengangguk-angguk.
“Nanti-nanti, Papa sama Mama-mu bakal berhenti juga berantemnya. Adik tinggal belajar yang rajin aja. Oke?”
“Beneran, Kak? Oke deh!” Raut lesu bocah itu sedikit cerah, ia bangkit dari duduk di bawah tatapan kakak-kakak di depannya, tangannya tergerak menepuk lengan atas Miko pelan. “Jagain Kakak yang cantik itu, ya, Kak. Aku mau ke Nenek lagi,” ujarnya kemudian sebelum pergi menghampiri neneknya yang duduk agak jauh dari tempat mereka.
Demi mendengar kalimat itu dari seorang bocah, baik Miko maupun Afya *speechless*. Perutnya seolah dihinggapi ribuan kepak kupu-kupu, membuat geli.
Miko mendengus, mengalihkan pandangan pada Afya sekilas lalu menghabiskan soft cream miliknya. Afya terkekeh pelan, ia menatap jenaka pada Miko, “Dengerin, Mik, jaga kakak cantik ini,” candanya.
Miko menatap malas—ia sebal jika digoda Afya, riuh kepak kupu-kupunya malah bertambah lagi. “Apa? Mau disewain *bodyguard* lo?”
Tawa Afya semakin renyah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments