Ruang kelas 1-5 terpantau ramai, sibuk mencari teman kelompok untuk tugas biologi yang baru saja diberikan. Sebab hanya empat orang perkelompok, Sasha, Rista dan Dena dengan cepat merapat pada Afya. Lantas melempar cengiran satu sama lain, kecuali Afya yang mendengus geli.
“Baiklah, sudah dapat kelompok semua?” Guru yang mengajar berseru. Secara kompak seluruh anggota kelas menjawab, “Sudah!”
“Baik, kalau begitu, makalahnya saya tagih minggu depan. Silahkan diskusikan sampai bel pulang berbunyi.” Setelah itu, guru biologi itu pamit keluar. Menyisakan kebisingan di kelas yang makin menjadi.
Tugasnya sederhana; membuat makalah penelitian tentang hewan, terserah hewan apa, asalkan diulas secara lengkap, menyeluruh dan sistematis.
“Jadi kita bakal bahas apa?” Sasha memulai forum diskusi, mengeluarkan buku, bersiap mencatat poin penting yang didapat.
“Hewan, ya? Gimana kalo naga?” Rista memberi ide yang luar biasa konyol. Kedua pipinya ditarik oleh Afya dan Dena yang duduk di sampingnya, membuat gadis itu mengaduh.
“Gue tau lo suka ngehalu, tapi tolonglah, Ris,” keluh Dena. Rista mencebik sebal.
“Menurut lo, kita bagusnya bahas apa, Den?” Giliran Afya yang bertanya.
Dena terdiam sejenak, “Semut,” jawabnya mantap.
“Kenapa semut?” Rista menganggapi, bingung.
Dena mendengung, memikirkan alasan. “Gue tertarik. Semut itu kan makhluk yang—anggaplah kecil walau masih ada yang lebih kecil lagi, tapi dengan kerja sama, gotong royong, semut bisa ngangkut makanan yang berkali-kali lebih besar dari tubuhnya. Apalagi, kalo lo sempet perhatiin dari arak-arakannya semut, mereka tuh setiap ketemu sama semut lainnya pasti bakal nyapa dulu sebelum lanjut jalan,” jelasnya panjang, Afya dan Rista manggut-manggut.
“Iya! Gue pernah perhatiin itu juga. Bahkan di beberapa kondisi, misal saat kehilangan ratu koloni, mereka bakal ngelakuin ritual ‘death cycle’. Atau ritual bunuh diri dengan gerak membentuk lingkaran yang nggak bakal berhenti sampe mati,” sambung Sasha.
Baiklah, sepertinya topik makalah telah dipilih; semut. Dena benar, makhluk mungil itu ternyata menarik untuk dibahas.
“Oke. Tema udah dapet, sekarang, kapan dan di mana kita bakal ngerjain tugasnya?” lanjut Sasha, menatap bergilir pada teman-temannya yang bertukar pandang.
“Tempat gue aja, gimana?” Afya memberi usul.
“Nggak ngeganggu orang tua lo? Sekedar info, Sasha sama Rista pasti nyemilnya banyak,” cetus Dena, giliran ia mendapat cubitan di pipi, mengaduh sakit.
Afya menggeleng, “Santai, gue tinggal sendiri kok.”
“Boleh, tuh, boleh. Kapan ngerjainnya?” tanya Rista. Afya bilang dia ngikut yang lain saja.
“Langsung hari ini aja gimana? Af, lo ada laptop sama flashdisk?” usul Sasha lagi. Afya mengangguk, “Ada, kok.”
“Yang lain gimana? Setuju abis pulang sekolah?” Melihat dua temannya mengangguk, Sasha ikut mengangguk.
Jadwal dadakan telah ditentukan. Kerja kelompok di apart Afya, hari ini juga, sepulang sekolah.
“Eh, ganti baju dulu nggak sih?” Rista menceletuk.
“Mending ganti baju, sekalian pamit bener-bener sama ortu,” sahut Afya. Teman-temannya mengangguk setuju.
Lantas, selang beberapa menit saat topik berbelok pada konten sosmed yang makin nyeleneh, bel pulang berbunyi kencang. Menuai sorakan senang dari para siswa yang telah lelah belajar.
Afya berpisah dulu dengan ketiga temannya, berganti menghampiri Miko yang berjalan menuju kelas Afya.
“Mik, temenin beli cemilan ya, hari ini mau kerja kelompok di rumah gue,” pinta Afya. Miko mengangguk saja, ia tidak masalah.
“Kalo abis ini lo nggak ada kegiatan, temenin gue kerja kelompok aja,” celetuk gadis itu. Miko mendengung, berpikir, “Nggak ganggu? Nanti temen-temen lo malah nggak nyaman kalo ada gue,” sahutnya.
Afya menggeleng, “Mana ada, paling mereka kesenengan liat elo.”
Miko mengernyit, “Kesenengan kenapa?”
“Menurut mereka kan, elo tuh ganteng. Bikin melting gitu.”
“Lo nggak cemburu?” Demi mendengar pertanyaan Miko, Afya menghentikan langkahnya, Miko juga. Saling bertukar pandang di koridor yang sepi.
Lantas Afya tertawa garing. “Ahaha, apaan sih lo? Cemburu kenapa coba?” Ia melengos, melanjutkan langkah.
Miko mengendikkan bahu, “Kali aja lo cemburu gara-gara temen-temen lo demen sama tampang gue,” ujarnya.
“Biasa aja, sih. Kenapa? Mau berpaling ke mereka lo?”
“Nggak. Lo aja cukup.”
Astaga. Afya seketika tersedak ludah sendiri, terbatuk-batuk dengan keras. Miko dengan sigap menepuk-nepuk punggung atas Afya—sedikit kesusahan karena terhalang ransel. Ia mengeluarkan segelas akua cadangan dari ranselnya, lantas menyerahkannya pada Afya yang segera diteguk dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, leher Afya berhenti gatal, membuat gadis itu menghembuskan napas lega. Sedikit terengah-engah karena batuk tak henti tadi.
“Makanya hati-hati, ludah sendiri kok sampe kesedak, sih,” omel Miko, mengambil uluran gelas akua yang sudah kosong, membuangnya ke tempat sampah terdekat.
“Gara-gara lo juga, Miko,” ketus Afya, wajahnya sedikit bersemu. Cenderung menghindari bertatapan dengan Miko.
“Lah, gue ngapain?”
Afya mendengus, tidak menjawab. Sibuk menenangkan ribuan kepak kupu-kupu yang mendadak masuk ke perutnya. Mereka tidak tau, jauh sebelum mereka sadar, mereka lebih dulu menaruh hati pada satu sama lain.
...***...
Pada akhirnya Miko ditahan juga di apartemen Afya. Memisahkan diri di kamar sementara lokasi kerja kelompok berasa di ruang keluarga sekaligus ruang tamu yang terhubung dengan dapur. Teman-teman Afya kaget begitu menemukan Miko di apart Afya. Setelah perkenalan singkat, Miko pamit ke kamar Afya dengan alibi tidak ingin mengganggu.
Kini ia tiduran saja di ranjang, kemeja putihnya ia buka, menyisakan kaos putih dengan gambar wayang. Sesekali menggeser layar ponselnya ke atas, mengganti konten satu dengan konten lainnya di aplikasi dengan lambang musik itu. Sementara diluar sibuk bekerja, Miko hanyut di dalam ponselnya.
Hingga kesadarannya menipis, kantuk berat segera mendera. Ponselnya jatuh ke sisi ranjang, matanya mulai terpejam. Tak lama, hingar bingar Afya dan teman-temannya lenyap.
Saking nyamannya, ia terlelap. Mendengkur halus dengan raut damai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments