“Oh, iya. Tadi Alden nemuin gue di depan perpus.”
Afya meneguk ludah, menyahut—mencoba biasa saja, “Oh, ya? Ngapain?”
Tangan-tangan mereka masih sibuk membelah tumpukan puzzle ditemani suara gemuruh yang kerap bersahutan di luar.
“Nanyain status kita. Katanya gue disuruh jagain elo, adeknya.” Mendengar kata terakhir Miko, Afya berdecih, “Halah.”
“Upaya ngehindar lo keliatan jelas, Af, dia udah tau. Katanya dia nggak bakal gigit, ada banyak hal yang mau diomongin,” tutur Miko lagi, memasangkan potongan puzzel ke tempatnya. Afya terdiam, tangannya tak lagi mengacak tumpukan puzzle.
“Mau ngomongin apa lagi, coba, gue kan lagi mencoba berpaling. Kalo begitu terus, gimana berpalingnya,” gerutu gadis itu, Miko menatapnya sekilas, kembali mengubek-ubek—mencari potongan yang cocok.
“Nggak tau lah. Cerita lengkapnya aja gue nggak tau.”
Gadis itu mendesah, merebahkan badannya pada karpet bulu dengan tatapan pada langit-langit ruangan.
“Mungkin nanti bakal gue ceritain, kalo nggak males. Gue kadang kepalang sebel denger dia manggil gue ‘adek’. Keliatan banget nggak nganggep gue cewek,” gerutunya lagi. Miko mendengarkan.
“Singkatnya, gue dulu pergi nggak pamit. Trus pas tiba-tiba muncul, belum sempet ngasih penjelasan, gue malah kabur duluan.”
Miko akhirnya berhenti mengubek-ubek tumpukan puzzle, ganti menyandarkan punggungnya pada kaki sofa. “Nanti aja kalo gitu, setelah lo nggak kesel lagi dianggep adek sama dia.”
Afya hanya bergumam, memalingkan wajah ke samping—menatap hujan yang semakin deras. Lantas terkekeh pelan, “Apa gue bisa nyampe ke fase itu?”
Miko mendengus, menatap susunan puzzle yang baru seperempatnya. “Tujuan kita ‘kan, itu, Afya,” desahnya. Langit semakin gelap, angin berkesiur di luar.
“Oh, iya, Mik. Lo tau nggak kalo Kak Ken sama Kak Ayu itu tunangan?” Topik dibelok-paksakan oleh Afya, melenceng sedikit jauh.
“Masa?” Meski begitu Miko menanggapi dengan baik. Laki-laki itu sedikit tidak percaya sebab tidak ada chemistry yang keluar dari pasangan itu. Malah terlihat tidak terlalu akrab saat di ekskul.
Afya menegakkan punggungnya, kembali duduk, menatap Miko sedikit bersemangat. “Iya! Gue denger dari Sasha—lo tau, dia itu punya kuping spons, bisa nyerap apa aja. Nggak banyak yang tau, sih, di sekolah. Kayak rahasia banget gitu, kenapa coba? Padahal mereka, kalo diliat-liat, serasi juga.”
“Mereka pasti punya alesan lah, sebagai bagian dari sedikit orang yang tau fakta itu, kita harus ngedukung mereka kedepannya,” ujar Miko, mulai menguap. Suara hujan dn hawa dingin membuatnya lekas mengantuk.
Afya manggut-manggut. Kembali berceloteh, “Katanya mereka dijodohin, loh. Agak mencengangkan, padahal udah bukan jamannya lagi, kan? Tapi kalo gue jadi Kak Ayu, tetep bakal mau dijodohin sama Kak Ken, sih. Aura green flag-nya kerasa banget, menenangkan hati.”
“Mungkin udah tradisi? Lagipula, mereka dijodohin dari usia dini biar kedepannya terbiasa. Kayak gimana ya? Diikat sebelum ke mana-mana. Paham nggak maksud gue?”
Afya mengangguk, juga membenarkan. “Bisa jadi, sih. Kalo lo, Mik, misal dijodohin sama cewek modelan Kak Ayu, apa yang bakal lo lakuin?”
Lima-sepuluh menit, topik masih berputar pada Ayu dan Ken.
“Gue terima sepenuh hati lah. Gue jaga baik-baik, jangan sampe lepas,” jawab Miko mantap. Afya berdecih, “Kalo dapet cewek yang jelek?”
Miko mengernyit, gadis di depannya mulai melantur. “Jelek kan tergantung mata yang liat. Tiap orang, pasti beda. Lagipula, Af, kayak berumah tangga tuh nggak cukup modal tampang. Nggak bikin kenyang.” Mulut Afya tersumpal, membenarkan dalam hati.”
Miko menguap lagi. Ia meraih bantal sofa, lantas merebahkan tubuh di atas karpet bulu. Afya masih terdiam, menatap jendela yang basah karena hujan.
“Tapi, Mik, kalo jelek kan ....” Ucapannya hanya keluar setengah, sebab ketika menoleh, laki-laki yang awalnya ada di hadapannya kini menghilang. Afya lantas melongok sedikit maju, terlihatlah bahu laki-laki itu yang berangsur turun-naik.
Afya turut menguap. Lantas bangkit, melangkahkan kaki menuju ranjang. Meraih bantal dan selimut tebal dan menggeretnya ke sofa. Ia geser meja sedikit menjauh dari Miko dengan hati-hati—meskipun sedikit susah karena karpet bulu membuat mejanya sedikit macet. Ia taruh bantal yang ia bawa ke samping Miko—sedikit rendah, sejajar dengan dad bidang laki-laki itu—lantas ikut merebahkan diri. Merapat pada Miko dan segera menutupi tubuh mereka dengan selimut.
Dengan jarak yang dekat, ia bisa mendengar detak jantung Miko yang mengetuk teratur. Matanya mulai terpejam. Hingga semua menggelap.
***
Miko melenguh pelan, merenggangkan tubuhnya pada ruang terbatas. Perlahan membuka mata, menatap bingung pada selimut yang membungkus, lantas menjengit kaget saat ada gerkan pelan di dalam selimutnya. Ia angkat tepi selimutnya, pemandangan yang menyambut adalah Afya yang bergelung hangat dalam dekapan Miko, menyandar nyaman pada dadanya.
Miko gulirkan pandangan pada jendela—hujan telah berhenti. Namun langit sudah gelap, bersih tanpa awan, bahkan di tengah polusi cahaya, beberapa bintang bersinar dengan berani. Lalu beralih menatap jam dinding yang jarum pendeknya di angka 10 sedangkan jarum panjangnya berada di pertengahan antara 5 dan 6. Setengah 11 malam.
Miko mengeluh dalam hati, kalau begini ia tidak bisa pulang. Rumahnya masih terkunci dan gelap sebab tak ada yang menyalakan lampu. Ia menyingkap setengah selimut, bergerak ke atas sofa dengan pelan. Kakinya menyentuh ransel di ujung sofa. Lantas berangsur duduk, merenggangkan badan sebentar, lalu menunduk.
Laki-laki itu menyelipkan tangannya di antara leher dan belakang lutut, sedetik kemudian, Afya melayang dengan selimut yang masih membungkus. Dibawanya menuju ranjang, diletakkan perlahan agar kelopak sayu itu tidak terbuka. Selesai mengambil bantal yang tertinggal, laki-laki itu membuka pintu balkon. Tinggal di dalamnya dengan semilir angin malam yang menyejukkan.
Miko merogoh saku celananya, mengeluarkan sepuntung rokok dari kotak kemasan, lalu memantik api di ujungnya. Kepul awan-awan kecil segera keluar saat Miko mengembuskan napas. Menunduk, menatap jalanan yang tak kunjung sepi meski mendekati tengah malam. Larik cahaya-cahaya cepat dari kendaraan terlihat membentuk pola-pola tertentu.
“ ... Miko?” Mendengar suara lemah sedikit serak, Miko segera menoleh. Afya terbangun dengan sendirinya, melangkah mendekat pada Miko di balkon. Melihat itu Miko segera memilin nyala ujung rokok pada besi pembatas lantas mengemasnya kembali ke saku.
“Tidur lagi aja,” suruh Miko halus. Afya menggeleng, segera menyusupkan tangannya di sela-sela pinggang Miko, memeluk manja. Miko mengalah, ia melangkah masuk—meninggalkan balkon sebab anginnya terlalu dingin—masih dengan Afya di pelukannya.
“Sejak kapan lo ... eum—ngerokok?” Afya bertanya hati-hati.
“Agak lama udah, sih. Pas kelas 8 dulu, awalnya iseng aja nyoba, ternyata ketagihan walau nggak sampe candu berat. Gue kasih batesan ke diri gue masalah rokok, kok, nggak usah dipikirin.”
Afya bergumam tidak jelas. Mereka berhenti di samping ranjang.
“Bener alesannya cuma iseng?” tuding Afya, kembali merebahkan diri di ranjang. Sedangkan Miko mengisi sisi ranjang sebelahnya, menyandar pada kepala ranjang sambil memeluk bantal. Bibirnya terkatup.
Laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam. Lantas terkekeh rendah, “Iya, iseng ngerokok soalnya ada yang bilang kalo itu bisa ngeringanin beban pikiran. Eh, ternyata bener.”
“Semisal gue lagi cape, dibawa ngerokok tuh capenya berkurang. Ngeliat asapnya terbang sampe ilang ke bawa angin, seolah pikiran gue, masalah gue, rasa cape gue, ikut terbang bareng asapnya itu.”
Afya terdiam sejenak. Menatap Miko yang menatap lurus ke depan. “Kalo sekarang ... lo lagi cape sama sesuatu?”
Miko tidak menjawab, hanya menoleh, memberi Afya sebuah senyuman.
Afya ikut terdiam. Lantas melengos, menatap langit-langit kamar yang lengang.
Padahal Miko selalu membuatnya merasa lebik baik saat merasa dunia terlalu melelahkan untuknya. Namun sekarang, ia bahkan tidak tau harus berbuat apa untuk Miko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments