Aku berdiri, termangu menatap deretan gedung-gedung tinggi dengan kepadatan lalu lintas di bawahnya. Deru mobil sayup-sayup terdengar sampai lantai tiga gedung apartemen ini. Tak pernah sekalipun aku berharap bisa kembali ke kota ini.
Akibat terbayang-bayang perasaan bersalah yang menghantuiku sejak hari itu, membuatku takut untuk kembali. Enggan, walau ingin.
Hingga suara grasak-grusuk di belakangku mengalihkan atensi. Di sana, ada Mama dan Papa yang membantuku menata ruang apartemen yang akan ditempatiku. Benar, aku kembali pindah.
Kemarin.
Ruangan hening dengan tatapan mata yang saling menghindari ini seolah menjadi kecanggungan pertama yang kami alami. Beberapa kali terdengar deringan ponsel, saling bersaut-sautan tanpa ada yang ingin mengangkatnya.
"Afya, kamu harus ikut salah satu dari kami, kembali ke kota. Nanti Papa urus surat pindah sekolahnya," ujar Papa dengan raut yang cukup serius.
Kembali ke kota.
Kembali ... ke kota?
Ingatan tatkala aku meninggalkannya tanpa pamit serta menerka bagaimana kecewanya ia, membuatku seketika gemetar. Aku sungguh tidak sanggup bertemu dengannya, aku tidak sanggup melihat ia memandangku kecewa.
Namun, aku ingin menemuinya. Aku merindukannya. Agar kehampaan ini cepat menghilang.
Akan tetapi, aku takut. Aku terlampau takut hingga membuatku sulit bernapas. Ini kesempatanku untuk meluruskan semuanya. Namun, jika ia sudah tak lagi menganggapku penting, tak lagi memandangku dengan hangat, aku benar-benar tidak sanggup membayangkannya.
"A-aku di apartemen saja, tolong daftarkan aku di SMA Semanggi Empat."
Mereka tampak bingung, ah aku belum memberitahu mereka. "Aku loncat kelas, minggu lalu aku mengikuti ujian akhir," jelasku.
"Apa? Kamu serius? Kita seharusnya merayakan itu!" Mama berucap penuh semangat. Namun, sedetik kemudian rautnya berubah.
"Mama macam apa aku ini, prestasi putrinya saja baru tau. Maafkan Mama ya, Afya." Ia tersenyum hingga matanya menyipit. Senyum penuh penyesalan.
Sedang Papa hanya terdiam. Mungkin ikut merasakan apa yang Mama bilang.
"Bukan begitu, Ma, Afya lupa ngasih tau. Oh iya, kalau boleh carikan apartemen yang cukup dekat dengan sekolah. Boleh tidak, Ma? Pa?"
"Kamu yakin tidak mau tinggal dengan salah satu dari kami?" Papa kembali menegaskan.
"Engga, Pa. Biar adil, lagian Afya juga mau mandiri kok."
Akhirnya mereka menyetujuinya.
"Afya! Sini makan siang dulu." Suara Mama mengentaskanku dari lamunan.
"Iya, sebentar."
Aku mendudukkan pantatku di kursi depan Papa. Mulai menyendokkan nasi goreng dengan omelet.
"Ma, abis ini anterin Afya ke salon, ya." Mama nampak mengernyit.
"Aku mau memangkas rambutku, bisa 'kan?" Mereka sedikit kaget, karena mereka tau bahwa rambut sepinggangku ini adalah kebanggaanku. Aku sangat menyukai rambutku sendiri.
Sebenarnya, aku sendiri sudah lama ingin memotongnya. Namun, selalu ragu. Sebab, pria dengan dua thi lalat di dekat bibir bawahnya itu menyukai rambut panjangku.
"Afya dengan rambut pendek? Tidak-tidak, rambut panjang lebih cocok!"
Aku menghela napas berat kala ucapannya kembali terngiang. Maka dari itu, aku telah memantapkan hati untuk memotongnya. Agar, jika kami bertemu, ia tidak segera mengenaliku.
...***...
Aku mengerjabkan mataku tatkala suara alarm yang terdengar kencang memecah sunyi di pagi hari. Aku menggeliat pelan, menoleh ke arah kaca fullbody di dekat meja rias. Rambut sebahuku ini cukup menganggu penglihatan sebab masih tak terbiasa dilihat.
Setelah lima menit terdiam di atas kasur. Aku akhirnya beranjak menuju dinding kaca besar di sebelah kanan tempat tidur guna menggeser gorden berwarna pastel.
Hari ini adalah hari pertama masuk di sekolah baru. Entah kenapa aku merasa sedikit gugup.
Setelah selesai memakai seragam lengkap dengan atributnya, aku meraih hoodie kuning cerah, masker, dan earphone.
Lagu My Old Story - IU mulai mengalun. Aku memasang kupluk hoodie dan menarik talinya. Ah, aku terlihat aneh, tapi biarlah. Aku bergegas keluar.
Hari ini masih termasuk dalam masa pengenalan lingkungan sekolah. Jadi, belum ada kegiatan belajar-mengajar. Karena itulah tasku hanya terisi satu buku kosong dengan kotak pensil.
Karena jarak Semanggi Empat dengan apartemenku hanya sekitar setengah kilometer, aku memilih jalan kaki. Sembari menatap lalu lalang kendaraan yang mulai memadat. Beruntung aku hanya perlu menyebrang jalan satu kali saja.
Tak seberapa lama, setelah aku memasuki gerbang dengan plang besar bertuliskan SMA Semanggi Empat dengan logo sekolah di masing-masing pinggirnya, tiap pasang mata itu menatapku aneh.
Akhirnya aku melepas kuplukku, menampakkan rambut sebahu dengan gaya potong yang cukup unik. Sedikit merapikan rambutku sebentar sebelum akhirnya melanjutkan langkahku menuju mading. Aku hendak melihat kelasku.
Namun, kerumunan yang terlihat dari kejauhan itu membuatku ragu serta malas. Berdesakan, seakan dilumat gelombang oleh himpitan sana-sini, dan tenaga yang harus kukeluarkan juga akan bertambah.
Maka dari itu, saat aku melihat laki-laki berwajah lempeng dengan tanda kelas yang sama sepertiku, hendak menerobos ke arah kerumunan itu, aku segera mencegatnya.
"Permisi!" Laki-laki itu menoleh, menatap sekitarnya lalu menunjuk dirinya sendiri.
Aku mengangguk, "Anu, bisa minta tolong?"
Ia terlihat sedikit mengernyit bingung. Namun tak urung menyahut juga. "Apa?"
Aku menunjuk ke arah kerumunan itu, "Kalau kamu mau ke sana, carikan namaku juga, bisa tidak?"
Laki-laki ini melirik ke arah kerumunan itu sebentar, lalu kembali menatapku lempeng. "Bisa aja sih. Nama?"
Aku bersorak dalam hati, "Afya Calyta." Ia mengangguk dan segera berlari menyusup dengan lincah di antara kerumunan gila itu.
Tak lama, ia kembali dengan keringat dan rambut berantakan. Napasnya sedikit terengah-engah. "Afya Calyta, kelas 1-5. Letaknya di lantai satu, kelas nomor dua dari paling pojok."
"Iya, terima kasih. Eum, kamu di mana?"
"1-3, Miko. Salam kenal sebelumnya." Aku mengangguk dan pamit undur diri.
Aku berbelok di koridor pertama, yang langsung disambut oleh jejeran kelas senior yang sedang membagikan brosur dan formulir klub ekstrakurikuler. Aku tidak mengambil satupun. Mengikuti klub-klub seperti itu melelahkan.
Aku menghembuskan napas berat tatkala menatap kelasku yang masih jauh jika melewati koridor. Namun, bagaimana jika mengambil jalan memotong saja?
Melewati tengah lapangan basket outdoor yang lenggang. Hanya beberapa orang saja yang melintasinya. Tidak ada yang bermain basket juga.
Aku berjalan dengan santai. Lagu yang mengalir melalui kabel-kabel earphone kembali berubah bersamaan dengan tanganku yang menyusup di sela-sela saku.
Sejauh ini, belum ada tanda-tanda kemunculannya. Hari pertama sekolah kali ini, tidak buruk juga. Hanya saja ....
Ali-alisku menukik kesal saat serombongan klub-entah-apa-itu lewat di sampingku. Bukan apa, hanya saja aku terlihat seperti kurcaci di dekat para raksasa. Klub-entah-apa-itu rata-rata beranggotakan orang-orang yang tinggi-tinggi. Membuatku terlihat seperti anak SMP, walau faktanya memang iya.
Aku benci fakta bahwa aku pendek. Walau terakhir kali tinggi 154 sentimeter. Benar-benar!
Saat aku merutuk di dalam hati, seseorang menyenggolku dari belakang. Hampir saja aku terjatuh jika orang itu tidak memegang lenganku.
Wangi yang cukup familiar terhembus angin. Bersamaan dengan netraku yang menemukan mata hitam kelam dengan dua tahi lalat di bawah bibir—
"Aduh, maaf ya! Lo enggak papa?"
Mataku membelalak. Wajah rupawan yang selalu menjadi dambaan itu berdiri di hadapanku. Menatapku dengan pandangan menyesal.
Aku membisu. Tanganku sedikit bergetar. Tanpa sadar, mataku mulai berembun.
"A-ah, gue anter ke UKS aja ya, siapa tau ada yang luka. Maaf banget ya, gue gak sengaja," ucapnya sedikit panik.
Tangannya meraih kembali lenganku, hendak menarikku pergi. Namun, aku menyentaknya tanpa sadar. Berlari tanpa arah dengan degupan jantung yang menggila.
Dia ... belum mengenaliku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Fushito UwU
Menakjubkan!
2023-07-30
0
edu2820
Teruslah menulis dan mempersembahkan cerita yang menakjubkan ini, thor!
2023-07-30
0
Mehayo official
Membacanya membuat aku merasa ikut terlibat dalam setiap adegannya
2023-07-30
0