Chris bangun dan sadar bahwa dia tertidur di ruang tamu dan tidak melihat Jerry di mana pun. Dia menyalakan ponselnya untuk melihat apakah ada balasan dari Alexa dan sayangnya, tidak ada. Dia berpikir apa Jerry mengerjainya lagi ya dengan memberi nomor orang lain. Awas saja pokoknya.
Tiba-tiba pintu apartemen ada yang membuka karena terdengar suara berisik di sana. Dia tahu hanya Jerry yang bisa membuka pintu itu karena mereka saling memiliki kartu akses apartemen masing-masing. Mereka dari kuliah tidak terpisahkan hingga saat ini. Lihat saja, sampai tempat kerja juga sama.
“Kamu baru bangun?”
“Iya, dan ke mana kamu semalam?”
“Hehe … aku pergi ke restoran karena menjemput kakakku.”
“Kakak dari Hongkong. Kamu tidak punya kakak, jujur dari mana?”
“Ah, kamu tuh kayak pacarku aja deh. Tapi ngomong-ngomong kenapa kita sulit banget ya dapat pacar.”
“Memang kamu butuh pacar?”
“Gak juga sih sebenarnya, hehe.”
“Tuh kan mengalihkan topik. Cepet jawab!” todong Chris sebelum lebih kesal.
“Kemarin setelah aku menelepon Dena dan kulihat kamu sedang tidur jadi aku ke apartemenku. Eh, 2 jam kemudian Dena menelepon lagi dan ternyata yang ngomong itu orang laki-laki. Dena ditemukan pingsan di kamar kosnya jadi aku datang menolongnya terlebih dahulu.”
“Jadi habis dari rumah sakit?”
“Iya, udah ah, aku mau mandi dulu. Tidak enak kalo tidak mandi setelah pulang dari rumah sakit.”
“Oke, trus itu bungkusan apa?”
“Itu bungkus bubur ayam buat sarapan tapi sarapannya nunggu aku selesai mandi. Sarapan bareng ya … jadi aku bawa dulu biar kamu tidak duluan.”
“Hmm,” Chris sambil memutar matanya melihat tingkah konyol Jerry.
Jerry meninggalkannya untuk mandi. Dia yang masih kecewa akhirnya memilih untuk ke dapur membuat minuman dan sedikit camilan yang cocok untuk menemani bubur ayam. Jerry kembali dengan rambut basah dan berganti baju dan sekarang gilirannya yang mandi biar sama-sama segar.
Saat ini mereka sedang menyantap bubur ayam dan camilan yang disiapkan dengan lahap. Setelah ini Jerry akan kembali ke rumah sakit karena tadi sudah ditelepon oleh pihak rumah sakit saat Chris mandi, karena Dena sudah sadar. Kalau untuk Chris yang sedang tidak ada kegiatan memilih untuk berada di apartemen saja.
***
Senin yang ditunggu Chris akhirnya tiba juga. Akhir minggu kemarin dia tidak berani lagi mengirim pesan ke nomor Alexa karena hingga saat ini pun tidak ada balasan sehingga dia memilih untuk diam saja. Hari ini toh dia juga akan bertemu Alexa dan bisa nanti ditanyakan langsung.
Saat ini, Alexa membawa 1 orang saja yaitu Bianca, untuk menemaninya ke FutureCorp untuk meeting pertama secara official. Agar akses ke data perusahaan lebih leluasa dan tidak ada larangan untuk mengakses data yang mungkin saja dienkripsi. Pukul 9 tepat dia sudah berada di bagian resepsionis dan sudah meminta untuk dihubungkan dengan Dena atau Melissa.
Setelah dijemput Melissa, mereka dibawa ke ruang meeting di lantai 3 dari 5 lantai yang ada dalam gedung tersebut. Ruang meeting yang dipilih adalah ruang yang kecil untuk digunakan 5 – 10orang. Sudah dipastikan ruang meeting saat ini sudah diperiksa tidak terdapat alat penyadap apapun dan setiap ruang meeting sudah ditambah alat kedap suara agar tidak bocor keluar.
Di dalam ruangan itu sudah terdapat tumpukan berkas-berkas yang banyak, sepertinya sudah sesuai permintaan oleh Alexa. Dia memeriksa tumpukan berkas dan beberapa kardus yang juga ada di sana. Untuk bagian kardus, berisi nota-nota invoice yang selama 5 tahun ke belakang. Ya, dia meminta laporan keuangan selama 5 tahun karena data lebih valid daripada 3 tahun. Bukti-bukti juga diharapkannya masih ada dan tidak ada yang hilang.
Saat sedang memeriksa tersebut, dia tidak sadar bahwa Chris sudah memasuki ruang meeting itu.
“Ehem …,” sapa Chris agar perhatian Alexa pindah ke dirinya.
Alexa melihat siapa yang berdeham dan agak terkejut ketika melihat Chris di sana dengan tampannya memakai jas yang terlihat sangat pas di badannya. Cukup Alexa, stop berpikir tentang dia, peringatnya dalam hati.
“Eh, maaf, Pak. Saya sudah mendahului memeriksa beberapa berkas. Oh iya, perkenalkan ini Bianca, rekan kerja saya.” Mereka bersalaman saling memperkenalkan diri.
Bianca yang melihat Chris tidak berkedip harus menunggu disentuh dulu baru sadar. Dia melihat ke arah Alexa dengan tatapan bersalah karena begitu berani melihat seintense itu setelah mengetahui histori dari cerita Alexa.
“Jadi, kamu langsung bekerja memeriksa laporan ini? Mengapa hanya membawa satu orang saja atau kamu membutuhkan dari orangku?”
“Tidak, Pak. Lebih efektif untuk saya bekerja dengan sedikit orang. Mungkin nanti akan membutuhkan orangnya bapak untuk menyusun laporan agar urut. Untuk sekarang masih belum.”
“Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu. Oh iya, Alexa saya mengingatkan sekali lagi untuk memanggil saya tanpa embel-embel.”
“Tapi ini di kantor, Pak, eh, Chris.”
“Nah, begitu dong. Jika diulangi lagi, saya minta kamu traktir saya.” Chris keluar dengan membawa senyuman lebar, membuat moodnya jadi lebih baik.
Bianca yang melihat interaksi itu tersenyum jahil dan memandang ke Alexa dengan curiga. Sepertinya ada sesuatu yang terlewat dan dia menagih Alexa untuk bercerita. Tentunya setelah mereka berada di luar jam kerja. Melissa menghampiri mereka ke ruangan dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu atau dibutuhkan.
“Tidak, Mel. Nanti saja jika sudah selesai jadi tinggal diurutkan berdasarkan waktu. Aku hanya ingin bertanya, di sini yang jual kopi di mana?”
“Owh, ingin titipkah? Saat ini aku keluar untuk membeli keinginan Chris.” Ketika Melissa menyebut nama Chris tanpa embel-embel, Alexa menduga-duga apakah ada hubungan di antara mereka. Secara mereka sekretaris dan bos, selalu bertemu setiap hari kerja. Stop, jangan berpikir yang tidak ada hubungannya denganmu. Kamu sudah dilupakan olehnya, sebuah pikiran jahat menyusup meracuni pikiran Alexa.
“Aku titip saja, Mel. Aku avocado coffee, dan kau, Bi?” melihat ke arah Bianca.
“Oh, aku mungkin lemon tea saja dan kalau boleh 2 sama camilan juga ya. Aku tidak bisa bekerja tanpa adanya camilan. Maaf ya, Mel, merepotkan.”
“Tidak apa-apa, biaya juga ditanggung perusahaan. Santai saja. Ya sudah, aku pamit.”
Bianca melihat Alexa memandangi Melissa sampai masuk ke dalam lift. Pelan-pelan Bianca mendekat karena ingin mengetahui perasaan di hati Alexa seperti apa terhadap Chris.
“Kamu kenapa melihat Melissa seperti itu? Cemburu?”
“Tidak, kok. Aku hanya penasaran dia siapanya Chris selain sekretarisnya. Apa pernah menjalin hubungan.”
“Lho, katanya kamu tidak peduli sama Chris. Kenapa sekarang jadi pengin tahu sih? Hayo,” Bianca semakin menggodanya.
“Ah, sudahlah. Lanjutkan bekerja, hmm ….”
***
Chris yang terlihat kembali ke ruangannya melihat Jerry yang menuju ruangannya juga.
“Kenapa mencariku, Jer?”
“Tidak, aku hanya ingin melaporkan bahwa saham kita saat ini stabil kembali.”
“Bagus, dong.”
“Iya, bagus. Tapi para investor itu masih ngotot untuk membereskan skandal itu.”
“Ya biarin sajalah. Toh, kita sudah nuruti mereka dengan panggil tim independent.”
“Ok.” Mereka pergi ke ruangan masing-masing karena Jerry sudah selesai urusan dengan Chris.
Chris yang masuk ke ruangannya kemudian memilih duduk di sofa dan berbaring karena kepalanya terasa sakit. Padahal rasa sakit ini sudah tidak muncul bertahun-tahun, mengapa sekarang muncul kembali. Pasti ada sebabnya, tapi sepertinya dia tidak melakukan apa-apa akhir-akhir ini.
Dia mencoba untuk memejamkan mata sebentar saja. Tak lama dia masuk ke dalam alam mimpi, dan gadis remaja SMP itu muncul lagi. Sekarang dia dalam versi lebih kecil, terlihat seperti masih berumur 5 atau 6 tahun. Adegan saat itu adalah gadis kecil itu jatuh ke sungai saat bermain dan Chris menyelamatkannya dari situ. Saat itu dia terlihat berumur 15 tahun. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana Chris tahu bahwa itu gadis yang sama dengan kilas balik sebelumnya padahal wajahnya masih buram?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Matilda
Sumpah baper! 😭
2023-07-31
1