Setelah waktu 2 minggu yang dijanjikan oleh Chris berlalu, para investor dan eksekutif senior saat ini telah berkumpul untuk membahas laporan seperti apa yang akan dia berikan kepada mereka. Chris juga sudah mempersiapkan bukti-bukti yang akan membuat para investor tercengang. Dia ditemani Jerry segera menuju Future Hall untuk melakukan presentasi dari bukti-bukti yang ditemukan oleh tim IT dan audit independen.
Di hadapan mereka, Chris maju ke podium dan Jerry bertugas sebagai mediator untuk menjalankan slide yang akan dipresentasikan.
“Selamat pagi, semuanya. Di sini saya akan menjelaskan tentang adanya skandal tentang penggelapan dana di FutureCorp. Untuk masalah siapa yang mengupload berita itu tim IT masih belum mendapatkan identitas pengunggah. Karena pengunggah tersebut sangat ahli dalam menyembunyikan diri di dunia maya. Tim IT sebenarnya hampir mendapatkan identitas orang tersebut tetapi orang tersebut malah membobol salah satu keamanan FutureCorp dan memasukkan virus sehingga tim IT mengubah fokus untuk melindungi data dari virus tersebut daripada mengungkap identitas orang tersebut.”
Lanjutnya, “kemudian setelah saya diijinkan untuk melakukan audit dengan tim independen yang saya gunakan saat ini. Kami menemukan bahwa telah terjadi penggelapan dana sekitar 800 juta kurang lebih yang ditemukan selisihnya. Dari situ kami memilih untuk konsultasi terlebih dulu dengan tim Hukum apa yang harus dilakukan dengan penemuan tersebut. Mereka memberikan solusi untuk menemukan bukti dulu baru dari sana apakah akan diproses secara hukum atau tidak. Kemudian kita mendapatkan bukti dari invoice fisik yang ditemukan tim audit seperti yang terlihat dalam slide berikut.” Chris menatap Jerry untuk menggerakkan mouse ke slide berikutnya.
“Dapat dilihat perbedaan antara dua buah invoice fisik di layar. Pertama, invoice sebelah kiri tidak memiliki stempel dan tanda tangan manajer proyek tetapi terdapat tanda tangan langsung oleh manajer keuangan. Slide selanjutnya dapat dilihat bahwa terdapat selisih antara laporan keuangan bulanan dan catatan pembukuan per hari untuk nomor invoice fisik tersebut tidak ditemukan.”
“Berikut bisa dilihat di sini contoh invoice fisik yang saya bawa.” Sambil meletakkan satu bendel invoice fisik yang dipilih dan laporan keuangan serta catatan data pembukuan di komputer pak Helmi.
Para investor dan eksekutif senior berdiri dari kursi dan mengambil satu bendel invoice fisik tersebut untuk diperiksa keasliannya. Setelah menunggu sebentar, mereka memutuskan untuk berdiskusi hukuman apa yang akan diberikan kepada tersangka berdua, yaitu pak Herman dan pak Helmi. Dalam diskusi tersebut, memang masih ada yang membela kedua tersangka dengan alasan mereka juga meningkatkan penjualan selama mereka bekerja. Untuk yang kontra tentu saja tidak terima karena seharusnya uang Perusahaan digunakan untuk kebutuhan biaya produksi atau yang lain. Justru digunakan untuk pribadi kedua orang ini.
Chris meminta mereka fokus untuk mengambil kesempatan ini untuk memberikan peringatan dan sanksi. Dia mengajukan saran untuk kedua orang itu diberhentikan secara tidak terhormat dari Perusahaan dan akan dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Para investor mengutarakan pendapatnya dengan perbandingan 70:30 yang kontra dan pro.
Kemudian salah satu eksekutif senior, yang mempunyai pengaruh besar mengatakan, “lebih baik tidak dilaporkan ke pihak berwajib, Chris. Karena ini membawa nama baik Perusahaan.”
“Justru jika melakukan seperti itu, citra perusahaan akan semakin turun dan itu akan berakibat kepada turunnya saham. Karena publik akan berpendapat, mengapa mereka tetap membela orang yang merugikan Perusahaan.” Chris memperhatikan sekeliling dan dilihatnya beberapa orang investor mengangguk-angguk setuju. Entah itu setuju atau hanya mengangguk tidak paham.
Eksekutif senior tersebut bernama pak Anggara Priambodo masih membantah, “jika anda tetap akan melanjutkan kasus ini ke pihak berwajib maka anda akan menyesal!”
“Apakah ini termasuk ancaman, Pak Anggara?”
“Terserah anda, Christopher James!” Suara Anggara menggelegar sehingga mengejutkan beberapa orang di sana dan setelah itu dia pergi meninggalkan ruang rapat serta diikuti beberapa orang yang memang setia padanya.
Jika begini maka kecurigaan yang dipikirkan Chris adalah terbukti. Dia harus bisa mencari bukti lagi untuk menjerat pak Anggara. Sepeninggal pak Anggara, rapat kembali dilanjutkan dengan keputusan sementara kedua orang tersangka itu akan diberhentikan secara tidak hormat. Tak lama setelah itu mereka meninggalkan rapat.
Chris pun meminta Melissa untuk memanggil kepala tim HRD ke ruangannya. Di sana dia meminta dua buah surat pemecatan tidak hormat untuk pak Herman dan pak Helmi dan besok sudah harus siap. Lebih cepat lebih baik semua ini berlalu, citra Perusahaan kembali baik, pemikiran dalam batinnya.
***
Hari baru sudah tiba, Chris sudah mempersiapkan kata-kata perpisahan untuk pak Herman dan pak Helmi. Sebaliknya, merupakan hari kehancuran bagi pak Herman dan pak Helmi yang tidak mempunyai firasat apa-apa. Mereka berangkat ke kantor seperti biasa. Tidak merasa sebentar lagi ada yang akan menghantamnya.
Setelah sampai di kantor, Astrid sudah diberi pesan oleh Melissa untuk memberitahu pak Herman bahwa beliau dipanggil CEO. Pukul 9 tepat pak Herman menuju ruangan Christopher untuk menanyakan ada apa karena tidak biasanya berurusan langsung dengan CEO.
Di dalam ruangan, Melissa memberikan secangkir kopi panas untuk menghilangkan dahaga sambil menunggu CEO yang saat ini masih berada di lift.
“Maafkan pak Chris ya, Pak, beliau tadi terjebak macet, mungkin 5 menit lagi sudah sampai. Permisi.” Pamit Melissa meninggalkan pak Herman sendirian.
Selang berapa menit, Chris datang dengan tenang setelah dari divisi HRD untuk mengambil surat pemecatan. Dia pun bergegas masuk ke dalam ruangan.
“Maaf, Pak Herman. Saya tadi terjebak macet dan harus menghampiri beberapa divisi.”
“Iya, Pak. Tidak apa-apa, tadi sekretaris anda sudah menjelaskan. Kalau boleh tahu, ada apa Bapak memanggil saya kemari.”
“Ini surat tolong dibaca terlebih dahulu, Pak.” Menyodorkan surat dalam amplop tersebut.
Pak Herman mengambil dan membuka surat amplop tersebut. Belum selesai membaca, raut mukanya berubah merah dan marah, “apa maksudnya ini, Pak!” Sambil membanting kertas itu ke hadapan Chris.
“Sesuai yang Bapak baca. Bapak dipecat!” Tegas Chris menaikkan nada tinggi membalas pak Herman.
“Tetapi apa yang saya lakukan. Saya merasa tidak melakukan apa-apa!” Pak Herman masih berusaha menyangkal.
“Bapak sudah melakukan penggelapan dana Perusahaan selama menjabat sebagai Kepala Divisi Keuangan. Per hari ini, Bapak sudah efektif tidak bekerja. Silakan kemasi barang-barang anda dan tinggalkan Perusahaan ini.”
“Tapi tidak bisa begitu saja …,” pak Herman memelas.
“Satu lagi, Pak. Tunggu panggilan dari pihak berwajib.”
“APA!” teriak pak Herman tidak terima.
“Silakan Bapak keluar dari ruangan saya atau perlu saya panggilkan sekuriti?” tanya Chris datar tanpa ada rasa empati sama sekali. Begitulah Chris jika ada orang yang menyakitinya.
Pak Herman pun meninggalkan ruangan itu dengan tertunduk lesu. Dia menghampiri ruangannya dan menatap sekeliling ruangan, mengamati bahwa tidak akan ada lagi dia duduk di belakang meja besar itu. Menikmati kemewahan yang selama ini dia dapatkan dari hasil penggelapan dana tersebut. Dia segera mengemasi karena ternyata di pintu sudah terdapat 2 orang sekuriti yang dipanggil Chris untuk mengawal keluar pak Herman.
Kejadian itu disaksikan oleh Astrid, sang sekretaris karena selama ini yang dilihatnya pak Herman adalah orang baik. Karena Astrid sendiri baru bekerja selama satu tahun. Pak Helmi yang ikut ketar ketir melihat pak Herman pergi meninggalkan Perusahaan hanya menunggu nasibnya dipanggil oleh Chris. Saat itu dia teringat akan microSD yang disimpannya untuk bukti bahwa keterlibatannya adalah paksaan dari pak Herman. Bukan dia membela diri tetapi semuanya dia lakukan hanya untuk melindungi keluarganya dari kejahatan pak Herman dan komplotannya.
Setelah kepergian pak Herman dari kantor, giliran pak Helmi dipanggil oleh Christopher ke ruangannya. Pak Helmi pun mendatangi dengan rasa bersalah yang amat sangat dan itu terlihat dari raut wajahnya.
“Pak Helmi, anda tahu yang terjadi dengan pak Herman. Jadi, saya harap Bapak juga mengerti apa yang saya lakukan.” Chris sambil menyerahkan amplop tersebut.
Pak Helmi mengambil amplop tersebut tanpa membuka dan menyerahkan sesuatu yang mini diletakkan di meja Chris. Dia melihat apa yang diletakkan oleh pak Helmi dan menunggunya berbicara.
“Sekali lagi saya minta maaf, di dalam microSD ini terdapat beberapa rekaman pembicaraan saat bersama dengan pak Herman. Silakan digunakan sebagai bukti.” Pak Helmi pergi meninggalkan ruangan Chris.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments