Pak Herman memperingati pak Helmi tidak dengan omong kosong. Dia menunjukkan dengan membawa dua orang yang dibayarnya untuk menakut-nakuti pak Helmi saja. Agar tidak membongkar kejahatan yang telah dilakukan. Setelah itu pak Herman dan dua orang itu pergi dari rumah pak Helmi. Pak Helmi bernapas lega dan segera dia keluar. Tanpa sepengetahuan pak Helmi, ada yang mengikuti dia pergi.
Untungnya pak Helmi hanya pergi ke mall untuk mampir ke supermarket karena orang yang mengikuti itu adalah suruhan pak Herman. Yang disewa untuk melaporkan apa saja kegiatan pak Helmi dan apabila pak Helmi akan bertemu dengan Chris dan Jerry. Saat masih di mall, pak Helmi mampir untuk membeli ponsel baru dan nomor baru. Untuk nomor lamanya akan dia gunakan hanya ketika dia dihubungi oleh pak Herman. Yang dilihat oleh orang suruhan itu hanyalah pak Helmi membeli ponsel tidak dengan nomor.
Setelah itu dia kembali ke rumah dan mengunci pintu dan jendela agar tidak ada orang yang mengganggunya. Dia mengirim pesan untuk seseorang meminta untuk bertemu besok di tempat yang sudah ditentukannya.
Setelah mengetahui tidak adanya aktifitas yang penting dari rumah pak Helmi, maka orang suruh pak Herman pun pergi dari sana. Terlihat sosok pak Helmi di jendela yang sedang mengintip untuk membuktikan bahwa orang pak Herman mengawasi. Untuk besok pak Helmi harus melakukan mengelabui agar dia tidak diikuti dan tidak ketahuan dia sedang bertemu dengan siapa.
***
Dering notifikasi ponsel mengalihkan fokus Chris yang sedang melihat data pegawai FutureCorp setelah meminta pada HRD. Dilihatnya sebentar dan tidak dibuka karena ada pesan dari nomor baru. Dia masih penasaran dengan data beberapa pegawai sehingga diletakkan ponsel tersebut. Dia melanjutkan kegiatannya hingga malam dan sekarang dia mendapat hasil yang diinginkannya. Ternyata pak Herman adalah pegawai yang masuk melalui jalur koneksi dengan bantuan pak Anggara.
Kecurigaan Chris semakin kuat dengan adanya penemuan ini. Untuk pak Helmi ternyata dia masuk jalur penerimaan biasa, melalui skrining, tes dan interview tanpa orang dalam. Chris semakin yakin jika pak Helmi terpaksa ikut melakukan penggelapan karena terdengar dari rekaman bahwa pak Herman selalu saja memarahi dan ada nada bicara yang sedikit mengancam.
Setelah yakin dengan yang ditemukan, dia mengambil ponselnya dan memeriksa pesan dari nomor baru tersebut.
0822338****: Apakah saya besok bisa menemui bapak? Untuk lokasi besok siang sebelum makan siang saya kabari lagi.
Pesan tersebut hanya seperti itu dan membuat Chris merasa tidak perlu membalas. Dia memilih untuk menunggu besok siang apakah nomor tersebut akan mengirim pesan lagi. Dia memilih untuk mengisi daya baterai ponselnya dan dia berangkat tidur.
Keesokan paginya, Chris mendatangi Jerry di ruangannya untuk meminta pendapat masalah pesan nomor baru tersebut. Saat ini sudah pukul 11 siang sehingga dia menanti pesan baru untuk mengatur pertemuan di mana.
Jerry heran dengan Chris yang terlalu mudah mempercayai orang lain. “Kamu itu kenapa sih. Kalo itu orangnya ada niat jahat sama kamu, gimana?”
“Kan aku perginya mengajak kamu sekarang. Tunggu dia kirim pesan lagi. Aku kembali ke ruanganku dulu, ya.” Chris meninggalkan ruangan Jerry.
Di luar ketika bertemu dengan Melissa, dia berpesan, “Mel, hari ini ada kemungkinan aku akan makan siang di luar jadi mohon apa ada janji setelah makan siang?”
“Tidak ada, kosong hingga pukul 3 sore nanti akan ada pertemuan dengan pak Arya.”
“Oke, terima kasih.”
Sepeninggal Chris, Melissa kembali fokus dengan pekerjaan dan dia terlihat mengirim pesan dengan seseorang. Chris yang masih di kantor tidak sabar menunggu pesan dari nomor itu. Karena sudah hampir pukul 12 tidak ada pesan masuk. Ingin sekali rasanya dia membalas pesan itu agar dia tahu sebenarnya si pengirim pesan ini serius atau tidak.
Pukul 12.15 baru masuk pesan dari nomor yang sama. Chris segera membuka pesan tersebut dan bersiap-siap keluar.
0822338****: Maafkan saya karena sudah terlambat untuk mengirim pesan. Bisakah bapak sebelum pukul 1 siang sudah sampai di lokasi Sleepyhead Café? Karena saya merasa saat ini saya diikuti sehingga saya hanya bisa ke tempat-tempat umum.
Dibalasnya pesan itu karena dia merasa bahwa orang itu tidak berbohong dan membutuhkan pertolongannya.
Chris: Baiklah, kita bertemu di sana.
0822338****: nanti saya yang akan menghampiri anda.
Chris segera pergi keluar dan dia lupa untuk mengajak Jerry karena terlalu fokus dengan pesan orang itu untuk tiba sebelum pukul 1. Karena café itu dicapai dari sini memakan waktu 35 menit. Yang berarti Chris harus mempercepat lajunya.
Chris sampai empat menit sebelum pukul satu. Dia memesan kopi dan makanan kemudian memilih duduk di tempat yang agak terbuka agar orang tersebut mengetahui bahwa dia sudah datang. Lewat sepuluh menit dia menunggu dan makanan yang datang. Dia pelan-pelan memakan pesanannya sambil melihat siapa yang baru datang.
Tak lama, pak Helmi sudah tiba di café itu dan mencari keberadaan Chris. Dia masih lelah setelah menghindari orang suruhan pak Herman setelah mengelabui dengan memesan gojek di tempat dia makan. Kemudian dia tiba-tiba berganti baju dan menyamar dan memesan gojek lagi untuk sampai di café dengan janjian dengan Chris.
“Permisi, Pak.” Pak Helmi menghampiri Chris yang sedang makan.
“Jadi bapak yang mengirim pesan kepada saya?”
“Iya, Pak. Saya terpaksa menggunakan nomor lain karena saya takut jika ponsel lama saya diretas oleh pak Herman. Ini saya saja diikuti oleh suruhan pak Herman.”
“Kita pindah ke tempat lebih privat atau bagaimana Pak?”
“Boleh, Pak Chris. Saya lebih aman seperti itu.”
Mereka pun meninggalkan café dengan terburu-buru dan Chris segera melajukan mobilnya ke rumahnya yang selama orang jarang tahu. Karena dia lebih suka tinggal di apartemen daripada di rumah. Sesampainya di sana, dia mempersilakan pak Helmi masuk ke dalam rumahnya.
“Bapak mau dibuatkan kopi?”
“Boleh, Pak. Untuk makanan adanya hanya mie instan saja, Pak.”
“Tidak apa-apa, saya kopi saja.”
Pak Helmi duduk di ruang tamu sambil menunggu Chris kembali dari dapur. Chris membawa dua buah cangkir kopi dan snack untuk dihidangkan ke pak Helmi.
“Silakan, Pak.” Mempersilakan pak Helmi menikmati hidangannya. “Jadi, apa yang membuat Pak Helmi menemui saya.”
Pak Helmi menyesap kopinya sedikit kemudian membalas, “maafkan saya, Pak Chris untuk tindakan saya yang merugikan Perusahaan. Saya melakukan itu terpaksa karena pak Herman mengancam saya akan membunuh keluarga saya. Saat ini saya sudah menyuruh istri dan anak saya sembunyi agar mereka tidak dijadikan sebagai sandera oleh pak Herman.”
Pak Helmi mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan ceritanya, “saat ini juga pak Herman mengawasi saya agar saya tidak melaporkan dia atau menjadi saksi agar dia terbebas dari hukuman.”
“Masalahnya memang kami tidak jadi melaporkan kalian berdua.”
“Kenapa, Pak. Bukannya kemarin anda sudah di kantor polisi.”
“Teman saya menjadi korban kecelakaan akibat tertabrak karena dia kebetulan saat itu membawa berkas-berkas penting untuk penahanan kalian.”
“Jadi, maksud anda pak Herman dibalik kejadian itu?”
“Saya tidak tahu, Pak. Saya belum bisa membuktikan.” Chris tiba-tiba teringat masalah orang ketiga di rekaman yang diberikan. “Pak, saya ingin bertanya masalah rekaman anda, di situ saya mendengar ada suara orang yang berbeda. Bisakah saya tahu siapa dia?”
“Dia adalah Pak Anggara Priambodo, Pak. Dia yang sering menemui pak Herman untuk meminta istilahnya ‘setoran’ setiap bulannya rutin dikirimkan.”
“Pak Herman mengirimkan menggunakan rekening Perusahaan atau pribadi, Pak? Agar kami bisa mengumpulkan lebih banyak bukti untuk menangkap mereka.”
“Saya bersedia membantu tetapi bolehkah saya diperingan hukuman saat saya sudah dihukum? Saya melakukan itu semua demi melindungi keluarga saya.” Pak Helmi mengeluarkan sebuah map dari tasnya. “Ini adalah surat pernyataan yang dibuat oleh pak Herman agar saya selalu menurutinya.”
Chris mengambil alih map itu dan membukanya. Dia membacanya dan merasakan amarah yang ingin membunuh yang bernama Herman itu. Surat itu terlihat jelas bahwa pak Herman meminta untuk pak Helmi menurutinya dalam menjalankan prosedur Perusahaan yang diminta pak Herman. Apabila pak Helmi tidak melakukan maka akan terjadi sesuatu dengan keluarga pak Helmi. Surat itu juga menyatakan bahwa apabila ditemukan kecurangan oleh Perusahaan maka pak Helmi yang akan menanggung kesalahan itu sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments