Untung saja di belakangnya Jerry yang selalu siaga sehingga Chris tidak jatuh ke lantai. Jerry minta tolong kepada perawat yang berada di sana untuk membantu memapah badannya yang berat saat pingsan. Jerry membawa Chris ke ruang IGD karena di sana penanganan untuk hal yang darurat. Dokter jaga IGD memeriksa kondisinya dan hasilnya baik-baik saja. Hanya beban stress dan pikiran yang membuat dia kelelahan, juga efek dari kurang tidur semalam.
Dalam pingsannya, Chris bermimpi bertemu gadis remaja yang sebelumnya datang ke mimpinya. Kali ini bukan ingatan Chris tetapi dia diajak pergi ke suatu tempat yang indah. Tempat yang tergambar seperti di lukisan tetapi Chris lupa akan lukisan tersebut. Dia mengikuti gadis itu dan melihat gadis itu tertawa dan terlihat mirip seseorang. Dia diajak untuk bermain bersama dan tak lama, gadis itu seperti mengatakan sesuatu tetapi tidak terdengar oleh Chris.
Dia terbangun dan menyebut Alexa ketika sadar. Jerry yang menunggu di sampingnya terkejut ketika mendengarnya berteriak seperti itu.
“Hei, tenanglah. Kamu berada di tempat aman dan Alexa stabil selama kamu pingsan.”
“Berapa lama aku pingsan?”
“Sekitar 4 jam. Ada kemungkinan kamu kelelahan, kurang tidur dan juga stress dari pikiranmu itu,” jelas Jerry seperti yang dijelaskan dokter.
Chris yang saat itu ingin bangun tetapi dilarang oleh Jerry karena dia sedang diinfus karena hari ini dia kekurangan cairan. Itu juga yang menyebabkan pingsan dan dia boleh pergi setelah infusnya habis. Saat terbaring di ranjang, Chris memejamkan mata mengingat mimpinya. Dia berkonsentrasi mengingat gadis itu mengatakan apa. Tidak ingin merasakan pusing kembali, dia berhenti mengingat dan melihat Jerry.
“Apa?”
“Tidak, aku hanya ingin berterima kasih kepadamu sudah di sampingku saat aku pingsan.”
“Halah, kalo mau terima kasih itu kamu sharing apa aja yang membebani pikiranmu padaku dan menjaga kesehatanmu. Lain kali aku tidak akan mengajakmu minum.”
“Lha kok jadi bahas itu,” protes Chris.
“Iyalah, kan kamu dehidrasi gara-gara semalam juga minum alkohol.”
“Duh, kemarin itu pengecualian. Pikiranku lagi penat. Sejak jadi CEO hidupku tidak tenang ya.”
“Hei, ini tanda kamu lagi diuji Tuhan untuk naik level yang lebih baik. Semangat.”
“Terima kasih.”
“Buat apa sih dari tadi terima kasih terus.”
“Iya, tidak apa-apa. Hanya ingin saja. Selama ini sudah setia menemaniku.”
“Duh, aku masih doyan wanita ya!” kekeh Jerry agar suasana tidak sedih.
Pukul 5 sore, Bianca datang sesuai yang dijanjikan tetapi dia juga tidak bisa bertemu dengan Alexa. Alexa baru bisa dikunjungi besok karena sudah bisa dipindahkan ruang perawatan. Jerry yang menemui Bianca memberikan semua barang Alexa yang diambilnya di kantor polisi tadi. Dia menyuruh Bianca untuk pulang dulu dan besok baru kembali karena mereka berdua yang akan menjaga Alexa di rumah sakit.
Bianca pun setuju dan memilih untuk pulang ke rumahnya. Jerry hanya mengantarkan Bianca sampai di lobi rumah sakit. Dia kembali menemani Chris dan saat ini mengajak Chris untuk ke kantin untuk makan malam. Apalagi setelah temannya itu menerima infus sehingga dia merasa bertanggung jawab terhadap kondisinya.
***
Keesokan harinya, di rumah sakit, Alexa yang pagi tadi sudah sadar setelah operasinya dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Untuk biaya ditanggung oleh Chris karena dia merasa bertanggung jawab terhadap kecelakaan yang dialami. Alexa yang sadar merasakan sakit di tubuhnya karena obat biusnya sudah mulai menghilang dari tubuhnya. Dia terkejut karena dia menderita patah tulang akibat kecelakaan. Karena akan dibutuhkan waktu yang sedikit lama untuk sembuh.
Setelah Alexa sadar, Jerry memberi kabar pada Bianca agar datang ke rumah sakit. Saat ini Jerry pergi ke kantor polisi untuk menggantikan Chris yang lebih memilih untuk menemani Alexa di rumah sakit. Bianca pun masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Jerry sudah tiba di kantor polisi dan menemui detektif yang bertugas bernama Roy Wistama dan dia dibawa ke sebuah ruangan untuk diberi pertanyaan lanjutan mengenai laporan.
“Dengan Bapak Christopher?”
“Bukan, Pak. Saya Jerry, teman Bapak Christopher. Di sini mewakili karena Christopher masih berada di rumah sakit.”
“Oh begitu. Jadi begini Pak, untuk melanjutkan laporan tersebut, kemarin kan sudah diberikan bukti hanya berupa salinan. Kami membutuhkan bukti yang asli untuk memproses surat penahanan dan penangkapan terhadap terlapor.”
“Masalahnya, Pak. Bukti yang asli dan flashdisk tersebut hilang saat dibawa tim audit dalam perjalanan pulang dari kantor kami. Beliau mengalami kecelakaan dan bukti itu ikut menghilang.”
“Jadi, maksud Bapak, kecelakaan itu disengaja?”
“Iya, Pak. Memang untuk saat ini kami belum mempunyai bukti yang memperlihatkan bahwa kecelakaan itu disengaja tetapi kami yakin ini bukan suatu kebetulan. Karena audit kami itu sering pulang pergi dari kantor dan selama ini tidak terjadi apa-apa.”
“Baik, Pak. Saya akan koordinasi dengan petugas terkait dan memeriksa kecelakaan terlebih dahulu. Jadi, untuk laporan ini bagaimana?”
“Untuk sementara ditunda dulu, Pak. Karena saat ini tim audit tidak bisa mengulangi proses pencarian bukti dengan cepat. Laptop dan flashdisk diambil si pelaku tabrak lari.” Jerry berpikir sebentar, “nanti saya kabari Bapak untuk selanjutnya. Karena ini harus saya bicarakan dengan Bapak Chris.”
“Baik, Pak. Ditunggu kabarnya.”
Jerry pergi meninggalkan kantor polisi dengan rasa marah yang amat sangat. Ingin dia menghajar Herman sialan itu. Apa yang harus dia ceritakan pada Chris. Chris pasti akan tambah tertekan, Jerry akhirnya menelepon seseorang.
“Halo, Bi?”
“Iya, Jer,” ucap Bianca.
“Bi, kamu sudah di rumah sakit?”
“Masih di luar, mau masuk ke dalam.”
“Bisa tunggu di lobi rumah sakit. Aku sebentar lagi sampai, ada yang mau kutanyakan.”
“Oke.”
Jerry kemudian mempercepat laju mobil tetapi masih dalam batas kecepatan aman agar tidak terjadi kecelakaan juga. Sepuluh menit kemudian dia tiba dan mendatangi Bianca yang sudah bosan menunggu Jerry. Dia ingin cepat bertemu dengan Alexa.
“Bi, sudah makan siang?”
“Sudah sih, tadi. Mau bertanya apa?”
“Temani aku sambil makan ya.” Disertai lirikan tajam dari Bianca.
“Awas kalo ini sia-sia ya.”
Mereka berjalan bersisian dan memilih untuk makan bakso saja di depan rumah sakit. Dekat juga tanpa harus keluar menggunakan mobil. Setelah memesan, Jerry mengajak Bianca duduk di tempat yang tidak banyak orang.
“Jadi begini, kemarin saat aku mengambil barang Alexa di kantor polisi. Tidak ditemukan tumpukan berkas dan laptop Alexa. Bukti yang kita miliki saat ini hilang.”
“Apa! Jadi mereka sengaja mencelakai Alexa demi merebut bukti itu? Keterlaluan sekali!” rutuk Bianca.
“Iya. Maka dari itu aku belum bilang pada Chris jika laptop Alexa juga ikut diambil. Dia kemarin pingsan karena terlalu banyak pikiran. Aku belum memberitahunya karena itu.”
“Duh, kita di posisi yang serba salah. Jika Alexa sadar pasti dia akan mencari laptopnya.”
“Nah, masalah data yang kemarin sempat dipindahkan ke komputermu itu apakah masih ada?”
“Data di komputer masih ada tetapi data itu masih mentah dan kita harus mengulang pemeriksaan. Bukti invoice fisik yang diambil itu yang menjadi acuan kita mencari data.” Bianca mengingat sesuatu, “dan semua data hasil olahan ada pada laptop. Kita harus mulai dari awal lagi.”
“Tapi tidak ada bukti fisik sebagai pendukung bukti digital. Argh! Aku sungguh pusing.”
“Lebih baik kita cerita pada mereka dan lebih baik banyak kepala daripada berpikir sendiri.”
“Baiklah, aku habiskan baksoku dulu.”
Mereka berdua kembali ke kamar Alexa setelah menghabiskan bakso dan membayarnya. Raut wajah mereka terlihat kecewa dan bingung bagaimana harus menyampaikan kabar buruk ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments