Pagi ini Kanaya sudah rapi dengan rok plisket hitam panjang dan kemeja pres bodi berwarna krem. Dia mengikat sebagian rambutnya dan sebagian ia biarkan terurai. Tak lupa mengambil tas dan buket bunga. Yang ingin ia berikan kepasa sang kekasih. Tak lupa dia juga memberi kado kepada Dirga. Dia melangkah dengan semangat menuju ruang makan. Terlihat kedua orang tuannya yang telah siap juga.
Mereka ingin menghadiri wisuda Arga yang satu prodi dengan Dirga, Dito dan Andre. Arga juga sudah ganteng dan rapi dengan setelan jasnya. Dia berangkat terlebih dahulu karena menjemput sang kekasih. Kanaya dan kedua orang tuanya pun berangkat bersama. Sampai dikampus, sudah ada Dirga yang menunggu dengan senyum lebarnya.
"Duh Nay, pacar kamu kok bisa punya senyum semanis itu. Mana ganteng, pinter dan rajin banget." goda mami.
"Sama kaya papi ya mi." celoteh papi.
"Beda dong pi, mudaan Dirga."
"Kalian apaan sih, alhamdulillah dong Kanaya berarti nggak salah pilih. Hehehe,,," jawab Kanaya.
Dia keluar dari mobil dan langsung menghampiri Dirga. Kanaya memberikan buket bungan dan kado kepada Dirga. Yang menambah manis senyum sang kekasih.
"Repot-repot kamu, eh mi, pi... Silahkan. Tempat pendamping sebelah kanan." ucap Dirga kemudian.
Kanaya mengrenyitkan keningnya. Sedekat itukah Dirga dan orang tuanya. Dirga masuk menggandeng Kanaya. Dirga dan Kanaya berpisah karena tempat duduk mereka berbeda. Acara wisuda pun dimulai dan berakhir dengan lancar. Mami dan papinya berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Sedang Kanaya berjalan menghampiri empat sekawan dan Zaskia.
"Selamat ya buat kalian semua." ucap Kanaya.
"Gadis kecil belajar yang pinter, biar cepet lulus kaya kita-kita." celoteh Arga.
"Kak arga...." kesal Kanaya.
"Ups, sorry... Lupa kakak dek. Mau pulang bareng kakak apa mas pacar?" goda Arga.
"By..., kamu emang dasar ngeselin kaya gini ya. Godain Naya terus." bela Zaskia.
"Emang ngeselin, dari orok Arga ngeselin banget." tambah Dito.
"Naya kakak yang anter ya..." tawar Andre.
"Ini tambah bego banget, lo mau embat pacar sohib lo juga." sentil Dito.
"Yah.... Siapa tahu ada celah diantara mereka Dit." pasrah Andre.
"Gila kalian pada... Ayok sayang. Pulang, disini otak kamu jadi nggak sehat dengerin mereka berdua." kata Dirga.
Mereka tertawa terpingkal, ulah mereka selalu konyol. Arga pulang dengan Zaskia. Dirga menggandeng tangan Kanaya dan berjalan menuju parkiran. Dirga melajukan mobilnya menuju apartemennya. Terlihat wajah Dirga sedikit murung. Kanaya jadi merasa ada yang salah pada diri kekasihnya itu. Masuk kedalam unit Dirga langsung memeluk Kanaya begitu erat.
"Hei... Kenapa?" tanya Kanaya.
"Pengen peluk aja yang lama." jawab Dirga masih memeluk Kanaya.
Kanaya membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Dirga. Mungkin beban Dirga saat ini begitu berat. Tapi kenapa, sedangkan dia adalah lulusan terbaik. Kenapa seperti memiliki beban berat. Pertanyaan begitu banyak yang muncul dalam benak Kanaya. Mereka pun duduk disofa, yang masih dalam keheningan. Kanaya memberanikan diri bertanya.
"Kak Dirga anggap aku apa?" tanya Kanaya.
"Kenapa nanyanya gitu sayang? Kamu kan pacar aku calon istri aku." jawab Dirga masih menutupi bebannya.
"Lalu, kenapa ada masalah dipendem sendiri? Aku tahu kakak lagi nyembunyiin sesuatu dari aku." tanya Kanaya lembut.
"Bukan nyembunyiin sayang, cuma belum siap aja cerita. Takut malah jadi beban kamu juga."
"Kak, kita udah sama-sama dewasa ya... Kakak bisa kok membagi beban itu sama aku. Aku nggak papa, aku malah seneng, merasa aku ini orang terpenting kamu."
"Aduh gadis kecil ku udah dewasa beneran ya... Semakin pengen segera halal-in aja nih..."
"Kak Dirga aku nggak mau ya dibercandain."
"Iya iya maaf, kalau setelah ini aku jauh dari kamu gimana sayang?" tanya Dirga kembali bersedih.
"Emangnya kak Dirga mau kemana?"
"Kakak ada panggilan kerja tapi tidak disini. Di kota xxxx, yang jaraknya empat jam dari kota ini. Dan kita harus LDR, tapi kalau kamu nggak mau kakak cari yang masih satu kota sama kamu."
"Loh kenapa? Kan impian kak Dirga diriin perusahaan sendiri. Terus itu butuh modal dan mungkin ini batu loncatan untuk kakak. Jangan karena aku, mimpi mu terkubur dalam. Aku juga nggak bisa egoiskan menahan mu untuk tetap tinggal. Aku dukung kamu sayang." kata Kanaya meyakinkan Dirga dan memegang erat tangan Dirga.
"Kamu yakin? LDR itu nggak mudah loh sayang."
"Kak,, lakukan apa yang membuatmu bisa meraih cita-cita dan keinginan mu. Aku nggak mau jadi penghalang mu. Kita bisa kok telponan, vidio call dan masih banyak kok cara lain biar kita bisa berinteraksi jarak jauh."
Dirga tersenyum mendengar dukungan penuh dari kekasih kecilnya itu. Usia mereka terpaut empat tahun tapi pemikiran Kanaya sudah begitu dewasa. Dirga kembali memeluk Kanaya. Ada satu hal lagi yang membuat Dirga bersedih. Dia belum bisa mewujudkan janjinya untuk mengikat Kanaya dengan ikatan pertunangan. Karena saat ini kondisi keuangan Dirga begitu minim.
"Emb... Satu lagi sayang. Misal aku belum bisa menepati janji aku setelah wisuda ini kita belum tunangan nggak papa?"
Pertanyaan yang tiba-tiba membuat Kanaya tersedak. Karena saat ini dia sedang minum. Kanaya tidak menyangka jika pekataan Dirga waktu itu sungguh-sungguh. Ingin bertunangan dengannya setelah wisuda.
"Uhuk... Uhuk..." Kanaya terbatuk.
"Pelan-pelan minumnya..." kata Dirga sambil menepuk pelan punggung Kanaya.
"Kaget aja, ya aku pikir waktu itu hanya omongan aja kak. Ternyata seserius ini kak Dirga sama aku."
"Kanaya Putri Adinata, apa yang pernah aku ucapkan sama kamu. Itu niat tulus ku dan benar adanya bukan main-main. Kamu pertama dan terakhir." ucap Diga mengelus lembut pipi Kanaya.
"Aku bersyukur banget bisa dapat pacar eh calon suami kaya kak Dirga. Aku bakal nunggu kakak sampai siap dan aku bakal temenin kak Dirga dalam kondisi apa pun. Tapi Kak Dirga harus janji, kalau ada masalah atau apa kak Dirga harus cerita. Jangan dipendem sendiri kan ada aku."
"Iya sayang..."
Dirga mendaratkan kecupan dikening Kanaya. Setelah perbincangan yang cukup lama. Dirga mengantar Kanaya untuk pulang. Karena hari sudah semakin gelap. Kanaya sudah mandi, dan makan. Jadi sampai rumah tinggal istirahat saja. Sampai dirumah, Kanaya masuk. Dan sudah terlihat berbagai seserahan untuk lamaran kakaknya besok pagi. Kanaya tersenyum, dirumah lagi repot dia malah kelayapan.
"Jahat bener ya kamu Nay.."
"Ih... Kak Arga kebiasaan ngagetin." teriak Kanaya.
"Kemana aja? Kakaknya sibuk malah nggak bantuin." gerutu Arga.
"Ya kan ada telepon, kenapa nggak nelpon. Aku juga lupa hehehehe..."
"Cengengesan... Udah sana tidur. Besok awas kalau ngebo."
"Siap calon manten."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments